Monday, August 24, 2009

Merantau 2: It's Parody!!

Karena akhir-akhir ini lagi keranjingan hal-hal yang berkaitan dengan film Merantau. Jadilah kepikiran untuk buat fanfic-nya. Eh, tapi kepikiran pertama juga gara-gara ada yang buat tret tentang FF Merantau dan nyaranin buat pada bikin deh. Xixixi..

Yah, intinya mah. Gw teh jadi merasa ter-challenge untuk ngebuat juga. Dan inilah dia, hasilnya.. Hohoho..

------------------------

Merantau 2
It’s Parody!!


“Dalam tradisi pemerintah kami (Jakarta), dimana suatu hari beberapa warga yang terpilih harus mau di-transmigrasi-kan ke luar Jawa, agar jumlah penduduk menjadi merata kembali. Dan ketika kembali ke kampung halamannya bisa menjadi orang seutuhnya alias sukses. Pulanglah nak.. kalau sudah banyak duit!”


Terkisahlah Yuda, pemuda yang baru saja berusia 20 tahun. Dia tinggal di salah satu gang sempit yang ada di Jakarta. Tinggal bersama ibu dan kakaknya, yang dalam kesehariannya bekerja sebagai pemetik plastik bekas (baca: pemulung) dari TPA yang ada di dekat rumah mereka. Hal itulah yang membuat Yuda berencana untuk mengikuti program Transmigrasi pemerintah, agar kelak dirinya bisa mendapat sukses di perantauan sana.

“Yud, yakin kau mau meninggalkan Emak dan Abangmu di sini?” tanya ibunya. “Atau ibu ralat deh, yakin kau akan sukses setelah bertransmigrasi? Abangmu sendiri pernah melakukannya dan sekarang tak ada perubahan berarti dalam nasib kita.”

“Iya, Mak. Yuda yakin..” jawab Yuda singkat dengan ekspresi muka percaya diri. “Lagian, si Abang Yayan kan waktu itu transmigrasinya cuman ke RW sebelah. Ya, ga ada perubahan atuh!”

“Haha, benar juga ya.. Memangnya sekarang kau mau dikirim kemana?” tanya ibunya lagi, merasakan hal yang aneh saat mengucapkan kata ‘dikirim’ seakan Yuda itu barang sisa ekspor.

“Yuda mau pergi ke Sumatera, Mak. Ke Bukittinggi lebih tepatnya!”

“Bareng siapa?”

“Harusnya sih bareng Bang Yayan. Tapi dia udah trauma kayaknya. Jadi Yuda perginya ama orang-orang yang ikut program ini juga dah.”

“Kau juga pasti akan trauma nantinya..” tiba-tiba abang dari Yuda, Yayan, datang dan mengomentari perkataan Yuda. “Kehidupan di daerah Transmigrasi itu sangat keras, Bung! Nih, lihat saja, luka di tanganku ini.. Ini luka bekas program kemaren itu!”

Seharusnya Yuda dan Ibunya akan bersimpati saat melihat luka yang ditunjukkan oleh Yayan. Tapi pada kenyataannya mereka malah tersenyum dan berusaha menahan tawanya. Alhasil bukannya mulut yang keluar suara, melainkan pantatnya. Apa itu bisa dikategorikan sebagai ketawa terkentut-kentut?

“Lho, kenapa pada nahan ketawa begitu?” tanya Yayan heran, lebih heran lagi saat dia mencium bau tak sedap.

“Itu.. Anu.. itu kan..” Yuda terbata-bata dan tak mampu meneruskan lagi.

“Apa Yud?”

“Itu cuma gambar tato-hadiah dari permen karet seratusan perak, kan? Hahahaha..” jawab Yuda akhirnya, tawanya langsung meledak.

“Zzzz.. pantas saja salah tangan.” Yayan baru menyadari kesalahannya. “Nih, lihat tangan yang satu lagi. Ini baru bener!”

Yuda memperhatikan dengan serius luka yang ditunjukkan oleh kakaknya. Terdapat bekas goresan panjang yang membentang di lengan atas tangannya. Hebatnya lagi, luka itu bukan hanya ada satu, tetapi terdiri dari banyak goresan.

“Weks, sungguh bekas luka yang mengerikan!” komentar Yuda, tampak ketakutan. “Me-memangnya luka itu karena apa? Karena berkelahi dengan penduduk lokal kah? Atau berantem dengan preman?”

“Lebih parah dari itu!” Yayan berusaha mendramatisir keadaan. “Ini bekas luka garukanku! Habisnya di tempat tinggalku saat itu banyak nyamuk sih..”

Sekali lagi tawa Yuda meledak, ibunya sendiri sudah tak kuasa untuk menahan tawa, malahan sambil tertawa dia sempat menjitak anak sulung kesayangannya itu.

“Emak kan waktu itu sudah memberimu sarung, memangnya kau pakai buat apa?” tanya ibunya lagi, sambil tetap tertawa dan sesekali mencubiti pipi Yayan saking gemasnya.

“Sarungnya ga jadi dibawa, kata Emak belum lunas cicilannya!”

Yuda tertawa lagi. Kali ini sembari bergulingan di lantai, bahkan beberapa kali dia tertawa sambil berputar memeragakan joget freestyle.

“Jadi, kau masih yakin untuk pergi transmigrasi dan merantau ke Kampuang nan Jauah di Mato sonoh?”

“Yakin lha, Bang! Apalagi sekarang sarungnya sudah lunas, sehingga bisa kubawa dan kejadian yang pernah abang alami ga akan terjadi sama Yuda! Hehe..”

“Huu, ngeledek abang ya kamu!” seru Yayan, yang langsung mengeteki Yuda sampai adiknya pingsan. Baguslah, Yuda emang belum istirahat seharian ini karena waktunya tadi habis untuk beres-beres barang bawaannya dan sedikit latihan silat.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Usai berpamitan dengan keluarganya. Yuda melenggang dengan percaya diri menuju bus yang akan mengangkutnya ke kota tujuannya. Sambil menenteng sebuah tas kecil (pantes aja kemaren seharian dia ngurus barang bawaan, ternyata lamanya itu buat mikir barang apa yang harus dibawa biar muat di tas kecilnya), dia masuk ke dalam bus yang ternyata sudah banyak penumpangnya. Yuda pun memutuskan untuk duduk di bangku kedua dari belakang dan pastinya dekat dengan jendela. Mungkin dia ingat dengan pepatah ‘posisi menentukan prestasi’ dan dengan posisi duduknya di situ, dia tidak akan kesulitan mengerjakan soal jika memang ada tes untuk calon orang yang akan di-transmigrasi-kan. Tapi tentunya tidak ada hal seperti itu dan walaupun ada pastinya gak akan dilakukan di dalam bis.

Tak berapa lama bis pun berangkat. Meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta, kota yang begitu keras dan lebih jahat dari ibu tiri. Dalam bis, Yuda hanya terdiam memerhatikan setiap pemandangan yang ada di balik jendela, sambil sesekali berdecak kagum “rupanya begini ya rasanya naik bis!”

Kemudian setelah setengah perjalanan dia lewati, seseorang berjalan mendekat, dan duduk di sebelah Yuda.

“Hai, lo baru pertama kali merantau keluar Jakarta ya?” tanya si orang itu.

“Iya. Kok tahu?”

“Tahu-lah. Ketahuan sih dari mukanya!”

“Dari muka? Emang bisa kebaca?” Yuda penasaran.

“Iyah. Biasanya orang yang pertama kali merantau itu mukanya muka mesum. Pikirannya pasti ke arah yang nggak-nggak. Kayak ‘di sana gw mo ngintip cewek yang lagi pada mandi di sungai ah’. Iya kan?”

“I-iya, mas.” Jawab Yuda malu-malu.

“Hahah, tuh kan bener.” Ledek pria tadi. “Oh iya, nama gw Eric.”

“Saya Yuda.” Balas Yuda singkat.

“Ngomong-ngomong, nanti di Bukittinggi bakal ditempatkan dimana?”

“Kata yang nawarin program ini sih, nanti di sana disuruh ngurus kebun tomat.”

“Wah, ngurus tomat aja sih nggak bakalan cukup, bro!” kata Eric lagi. “Harus cari pekerjaan tambahan, kalau mau bawa hasil banyak buat emak lo di kampung!”

“Yang bener? Ngg, kalau gitu nanti di sana saya mau ngajarin silat sama anak-anak.”

“Ide yang bagus sih. Tapi di Bukittinggi itu udah banyak perguruan silat, silat harimau namanya. Gurunya juga udah banyak.”

“Ah, ya udah deh, saya bakal ngajarin harimau-nya aja langsung biar bisa silat! Belum ada kan yang ngajar?” ujar Yuda sembari memeletkan lidahnya.

“Hahaha, bisa aja lo! Well, asal lo tau aja, pas gw masih seumuran lo, gw juga berpikir seperti itu…”

“Kepikiran buat ngajar harimau? Hehe..” potong Yuda, sambil tersenyum. Lagian tadi kan dia hanya bercanda.

“Bukan lha.. Walaupun, yeah, gw juga bisa silat, tapi bukan soal itu pokoknyah.” Eric langsung membantah. “Gw berpikir kalau udah merantau, pasti enak. Terus pas balik ke kampung bawa duit banyak deh! Pada kenyataannya nggak begitu cuy, mau hidup di kota kek, mau di desa kek, tetep sama-sama susah! Apalagi buat cari yang mau ama gw.”

“Hoo.. Masih jomblo, Bang?” tanya Yuda, disambut anggukan lemah Eric. “Sampe sekarang?”

“Ho oh..” jawab Eric tak bersemangat.

Dan di menit-menit dan jam-jam berikutnya obrolan Yuda dan Eric adalah curhat Eric seputar cinta. Sampai tak terasa, bis mereka sudah sampai di suatu pedesaan yang berada di Bukittinggi.

“Okeh, Yud! Kita pisah di sini yak! Sampe ketemu lagi, salamelekom!” Eric mengucapkan salam, rupanya tujuan mereka berdua berlawanan arah.

“Kumsalam. Sampai ketemu lagi..” balas Yuda seraya melambaikan tangannya, diam-diam dia bersyukur karena siksaan mendengarkan curhatan Eric –yang tak laku-laku- akhirnya berakhir.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Yuda berjalan terseok-seok mencari tempat dimana dia akan tinggal. Dia akui pemandangan pedesaan di sana sangatlah indah, seandainya saja dia tidak sedang terburu-buru ingin buang air besar, dia pasti akan bersantai sejenak menikmati pemandangan itu. Tapi tentunya dia tidak melakukan itu, perutnya sudah benar-benar sakit, sehingga mau tak mau rumahnya harus segera ketemu. Beruntung, seorang penduduk lokal tahu dimana tempat yang ditunjukkan Yuda. Sehingga dengan semangat 45, Yuda berlari ke arah yang ditunjuk oleh penduduk tadi. Namun naas bagi Yuda, bukan rumah yang dia dapatkan, tetapi malah WC umum yang nangkring di atas sungai. Kayaknya penduduk tadi sadar kalau Yuda itu sedang kebelet, tapi jelas aja sih sadar, soalnya beberapa kali Yuda mengeluarkan gas pemanasan dari pantatnya. Ok, kalau begitu, Yuda bakal menyelesaikan urusan perutnya dulu, setelah itu mencari calon tempat tinggalnya lagi.

Setelah merasa segala kegundahan hatinya dia keluarkan, Yuda pun kembali ke tempat penduduk yang tadi dia tanyai. Dia kembali bertanya barangkali si bapak tahu dimana alamat yang tertera di secarik kertas yang ditunjukkannya. Tapi yang mengherankan, si bapak kembali menunjuk ke arah WC tadi. Malahan sekarang si bapak bersedia mengantar sampai ke tempat tersebut.

“Yakin, pak, ini tempatnya?” tanya Yuda.

“Iyo, ambo yakin ini tempatnyo!” jawab si Bapak dengan logat minangnya.

“Tapi kan seharusnya alamat yang ada di sini mengarah ke sebuah rumah. Bukannya ke WC kayak gini..” ujar Yuda masih tak percaya.

“Beberapa bulan lalu, memang ini masiah berbentuak rumah. Tapi desa ini terkena gempa besar, sehingga rumah itu rata dengan tanah.” Papar si Bapak. “Mangkanyo, sekarang penduduak sini menjadikan tempat ini sebagai toilet umum.”

Akhirnya Yuda percaya dengan penjelasan si bapak itu. Dengan lesu dia ucapkan terima kasih kepada bapak itu, lalu melangkahkan kakinya pergi tanpa tujuan yang jelas. Pikirannya pun kembali teringat dengan kata-kata Eric, apakah kesusahan hidupnya di desa sudah dimulai? Baru saja dia berpikir seperti itu, kemalangan sudah menimpanya lagi, hujan turun deras, dan Yuda masih berjalan tak jelas berharap menemukan masjid atau mungkin pesantren khusus perempuan (dasar, pervert! Xixixi..), sehingga dia bisa numpang berteduh. Tapi kenapa dia tidak menumpang di rumah si bapak tadi saja ya? Sungguh, Yuda benar-benar lupa. Tadi dirinya terlalu kalut memikirkan rumahnya yang hancur karena gempa. Untuk memutar balik, akan sangat membuang waktu, lagipula dia sudah berjalan sekitar 100 meter sejak tadi. Keputusan yang kurang bijak jika dia harus balik ke tempat semula.

Beruntung, Yuda menemukan gua kecil yang memang tidak nyaman untuk ditinggali, namun cukup sebagai tempat beristirahat dan berteduh. Sesegera mungkin dia rebahkan tubuhnya yang sudah kecapekan di dalam gua itu, dan pada detik berikutnya dia sudah tertidur.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sinar matahari pagi menembus ke dalam gua, Yuda membuka matanya, menguap sebentar lalu tidur lagi. Dan ketika matahari sudah tepat berada di atas kepala, dia terbangun lagi, menggeliat sebentar kemudian berdiri. Beberapa saat kemudian terdengar suara dari perutnya, hmm, memang sedari pagi Yuda belum mengisi perutnya kan? Alhasil Yuda pun kembali berjalan ke arah perkampungan terdekat untuk mencari warung. Sesampainya di perkampungan, Yuda langsung mendapati sebuah warung yang agak ramai. Yuda pun segera masuk dan memesan makanan kepada si Abang penjaga warung.

“Mau beli apa, dek?” tanya si Abang.

“Saya mau pesan sate Padang dong, seporsi!” jawab Yuda, sambil mengelap iler yang tak sadar keluar dari mulutnya.

“Wah, nggak jual tuh, dek..”

Yuda mengerutkan dahi. Merasa heran, bagaimana mungkin di Warung makan Bukittinggi tidak dijual makanan khas kota mereka.

“Kalau rendang ada?”

“Nggak juga.”

“Dendeng balado?”

“Nggak ada.”

“Weh, kok ga jual makanan Padang sih?”

“Iya, soalnya ini toko bangunan, dek!” balas si Abang. Rupanya Yuda telah salah masuk! Warung makan yang dilihatnya sebelumnya ternyata berada tepat di sebelah toko bangunan itu. Jadilah, dengan menahan malu, Yuda memasang senyum getir kepada si abang penjaga toko, dan beringsut ke sebelah.

“Selamat siang, dek. Mau pesan apa?”

Sangat de javu, apakah Yuda salah masuk lagi?

“Err, ini beneran warung makan kan?” Yuda memastikan.

“Iya, dek. Mau pesan makanan apa?” tanya si Abang lagi.

“Fyuh, syukurlah, kali ini bener. Saya pesan sate Padang dong!”

“Maaf, dek, kami nggak menjual makanan itu..”

“Hah?” Yuda kembali merasa kejadian sebelumnya berulang. “Kalau rendang? Dendeng balado?”

“Ngga jual juga tuh.” Jawab si Abang singkat.

“Kenapa?” tanya Yuda, matanya berkaca-kaca, menahan kesabaran.

“Ini kan warung makan Sunda, jang. Ngga jual masakan Padang atuh jadinya. Hehe..”

Gosrak.. Yuda sampai terjatuh saking tak percaya. Sudah dua kali, dirinya dibuat malu.

“Ya udah, kalau gitu.. Mesen yang ada ajah, 6000eun yah..” ucap Yuda pasrah.

-=-=-=-=-=-=-=-=-

Mulut Yuda tak mau berhenti bergerak, tangannya juga. Rupanya dia sudah benar-benar lapar, sehingga dia makan begitu tergesa-gesa, seakan-akan kalau dia telat menyuap sedetik saja dia akan mati. Lambat laun, makanan di atas piringnya habis. Yuda pun segera mengalihkan perhatian pada tasnya untuk mengambil dompet. Namun sungguh mengejutkan, resleting tasnya sudah terbuka dan ada tangan kecil yang sedang memegang celana dalam cadangan milik Yuda.

“Hayo, mau apa?” bentak Yuda pada anak kecil itu, sambil mencoba menangkap tangannya. Sontak si anak terpekik kaget, tetapi rupanya dia lebih gesit dari Yuda, sehingga tangkapan Yuda meleset. Setelah itu anak kecil tadi berlari menjauh dari tempat kejadian perkara. Namun Yuda tak tinggal diam. Dengan sigap dia mengejar anak kecil tadi. “Pak, tunggu ya, saya kejar dia dulu. Kayaknya dia ngambil dompet saya!”

Si anak kecil berbelok ke kanan sesaat sebelum tangan Yuda menggapai lehernya. Tak berhenti sampai di situ, anak kecil tadi terus berlari melewati kebun-kebun serta celah sempit di antara tebing yang ada. Hal itu memang sangat merepotkan Yuda, tetapi Yuda juga tak mau menyerah. Bahkan sungai yang sedang ramai dengan nenek-nenek yang sedang mandi pun tak henti dia arungi hanya untuk mengejarnya. Akhirnya, setelah melakukan pengejaran selama kurang lebih 1 putaran sirkuit Sentul, tangan Yuda berhasil meraih belakang baju anak tersebut.

"Eit, dapet juga lo ama gw!" ujar Yuda terlihat puas.

"A-ampun, kak. Jangan pukul saya, saya ngga niat ngambil 'CD' kakak kok! Suer!" anak itu terlihat ketakutan melihat wajah Yuda. "Saya tadinya niat ngambil dompet kakak, eh, malah ini dulu yang keambil!"

"Ya ampun, jujur banget ni anak. Jadi pengen jitak.."

"Jangan kak! Nih, saya balikin deh.." kata anak itu, namun baru saja tangan Yuda digerakkan untuk mengambilnya, anak tadi sudah menyembunyikan 'CD' Yuda di belakang badannya. "Dengan satu syarat, Bos! Tuker sama dompetnya ya!"

"Bah, lebih baik gw pasrahin ‘cd’ gw, daripada dituker ama dompet." balas Yuda.

"Ya udah, kalau gak mau tuker ama dompet.. Tuker ama duitnya aja deh. Hehe.."

Anak kecil itu tertawa, berkebalikan dengan Yuda yang memasang tampang menyeramkan, dan menyiapkan tangannya untuk menjitak. Alhasil anak kecil yang ketakutan tadi cepat-cepat memberikan celana dalam itu kepada Yuda.

"Nah, itu baru anak baik.. Siapa namamu, nak? Saya Yuda."

"Sa-saya Adit, kak Yuda." jawab anak itu menyebutkan namanya sambil tetap menundukkan kepalanya.

"Hoo, Adit ya. Lain kali jangan nyopet lagi ya! Kan ada pepatahnya 'lebih baik ngepet, daripada nyopet!'" kata Yuda ngasal. "Eh, nggak deh. Dua-duanya sama-sama dosa. Hehe.. Ngomong-ngomong, makasih ya!"

"Makasih kenapa kak? Kan saya udah nyusahin kakak.." tanya Adit polos, plus curiga.

"Makasih, karena berkat kamu.. Kakak ga perlu bayar makanan di warung tadi."

"Hahaha, ternyata kakak sama kayak saya ya, nggak punya duit!"

Yuda ikut tertawa, kemudian menimpali, "Tapi biarpun ga punya duit, muka saya kan tetep ganteng!"

Aneh. Memang sungguh aneh. Yuda dan Adit baru bertemu sebentar, tapi sudah terasa seperti adik dan kakak yang sudah tinggal serumah bertahun-tahun.

"Hmm, kamu lapar? Ya udah, yuk buruan saya traktir deh. Asal kamu janji ga akan mencuri lagi!" ajak Yuda. "Oh iya, satu lagi, kamu harus berjanji untuk tidak makan di warung sunda barusan."

"Baik, kak. Tapi saya izin ke kakak perempuan saya dulu ya.." balas Adit, dijawab dengan anggukan singkat oleh Yuda.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Yuda terus mengikuti Adit ke tempat kakaknya bekerja. Katanya sih kakaknya itu bekerja di salah satu perkebunan milik penduduk setempat. Namun beberapa langkah sebelum Yuda dan Adit sampai di sana, mereka melihat seorang gadis, sedang diseret oleh dua orang bule dan satu orang penduduk lokal.

"Itu kan kakak!" seru Adit tiba-tiba. "Kak Astri!!"

Yuda dan Adit segera mengejar rombongan yang tadi dilihatnya. Sayang, mereka terlambat. Dua orang bule beserta Astri sudah keburu naik ke dalam mobil dan berangkat, meninggalkan si penduduk lokal.

"Uda Joni, kak Astri dibawa siapa, hah? Mau dibawa kemana dia?" gertak Adit kepada Joni.

"Haha.. Kakakmu dibawa oleh Pak Ratger dan Luc, karena kesalahannya sendiri! Err, nggak deh. Sebenarnya aku yang salah, aku tak sengaja membuat kebun mereka yang ada di sebelah kebunku mati. Karena aku menggunakan campuran kotoran kerbau dan minyak tanah sebagai pupuk di kebun tomatku. Tapi karena aku berkilah bahwa Astri-lah yang menyebar pupuk itu setiap harinya, mereka malah membawanya.. Haha.." papar Joni santai.

"Berani-beraninya, kau! Mengumpankan seorang gadis sebagai kambing hitamnya!" Yuda terlihat kesal.

"Weits, nyantai men! Masalahnya tanaman yang ada di kebun itu adalah..."

"Pohon jengkol? Pohon cabe? Pohon toge?" potong Yuda. "Semua itu kan cuma pohon, bisa ditanam lagi!"

"Haha, yeah, seandainya tanaman-tanaman itu yang ada di kebun sebelah, aku bakal langsung menggantinya.. Tapi pohon yang mati itu adalah pohon.. Ganja!"

"Lalu kenapa kau tidak melapor pada polisi saja kalau kau tahu itu kebun ganja?"

"Di sini jauh dari kantor polisi, Bang.. Lagian tiap bulan juga aku mendapat uang tutup mulut dari para bule itu."

"Beli aja solatip kalau mau nutupin mulut Uda Joni!" teriak Adit seraya menerjang ke arah Yuda. Menggantungkan tangan kecilnya ke lehernya.

"Zzzz.. kamu salah serang, Dit!" bisik Yuda, sabar.

"Ups, maaf, kak!" gumam Adit, sambil melepaskan jeratan tangan di leher Yuda. "Kalau begitu ulangi lagi.. Beli aja solatip kalau.."

Joni yang sudah membaca gerakan Adit sebelumnya, keburu menangkap anak kecil itu. Dia memegang Adit erat-erat, sambil menutup mulut anak itu.

"Berani-beraninya kau ya, mau menyerangku! Dasar anak tak tahu diuntung. Tahu nggak, kalau bukan karena aku, kakakmu itu nggak bakal bisa kenalan ama bule. Kalau bukan karena aku, kakakmu nggak akan dibawa mereka. Seharusnya kamu berterima kasih padaku!" kata Joni pada Adit, tetapi sepertinya ada yang salah dari perkataan itu, sehingga Adit yang mulutnya tak tertutup lagi segera meralatnya.

"Harusnya Uda bilangnya kayak gini, 'kalau bukan karena aku, kakakmu nggak akan bisa ngehidupin kamu..', begitu uda.." ujar Adit.

"Hoo, iya juga ya.. Sebodo ah, yang penting sekarang aku bebas dari hukuman para bule. Dan sekarang kamu.. Kamu akan menjadi pengganti dari kakakmu untuk bekerja di sini! Haha.." kata Joni sambil hendak membawa Adit.

"Lepasin si Adit!" seru Yuda. "Daripada bawa dia, mending bawa saya aja. Saya rela kok kerja di sini, asal dibayar mahal.."

"Haha, emang bisa apa kau? Orang kota perantauan mana mungkin bisa bekerja di sini! Lebih baik anak ini aja deh. Kalau kau tetep gak rela dan mau mengambil anak ini, silakan langkahi dulu mayatku!"

"Dengan senang hati!"

Bak.. Buk! Tuing.. Belegur! Goong.. Tretetet.. Buak! Wuush.. Beleguuur!!

Tubuh Joni terpelanting dan mendarat dengan mulus di pohon jati yang berada beberapa meter dari tempat sebelumnya dia berdiri. Tentu saja hal itu terjadi karena Yuda memeragakan silat pada Joni, agar orang tersebut jera. Adit bersyukur, salah satunya adalah karena dia telah diselamatkan oleh Yuda, hal lainnya karena dia senang Yuda tidak menggunakan jurus itu padanya dulu.

"Kemana para bule itu membawa Astri?!" bentak Yuda pada Joni, yang rupanya masih sadar. "Ayo jawab, sebelum bibirmu kujadikan sate!!"

"Di-dia.. Me-mereka.. Mereka membawa Astri ke dekat pelabuhan."

"Awas kalau kau bohong ya.. Kuping lo gw sumbangin ke tukang soto babat ntar!” ancam Yuda. “Adit, awasi dia.. Taliin kalau perlu. Kalau dia minta nafas buatan juga kasih aja. Kakak mau mengejar bule-bule itu dulu, keh!"

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Fufufu, sungguh tak kuduga, kau bisa mengalahkan semua anak buahku!” ucap Ratger, kepada pemuda di hadapannya. “Ternyata kau memiliki kemampuan bela diri yang bagus juga..!”

“Oh, Ratger. Ini bukan acara reality show pencarian bakat. Tak usah lah kau memuji-muji si sok pahlawan ini!” kata bule satu lagi, Luc.

“Hei, siapa bilang aku memuji dia. Aku kan hanya bilang dia bagus..” kilah Ratger.

“Itu kan termasuk memuji..” balas Luc lagi.

“Tapi aku tidak memuji dia secara keseluruhan kan?” Ratger masih tak mau kala.

“Belum. Mungkin sebentar lagi..” jawab Luc.

“Tapi…”

“Hei, hei! Gw didiemin di sini nih? Harusnya gw kan pemeran utamanya.. Gimana sih?” seru Yuda, merasa tidak dianggap.

“Ah, iya juga. Kita bahas lain waktu saja.” Ucap Ratger. “Kalau begitu, kembali pada si bocah ingusan. Jangan kira kau sudah mengalahkan semua anak buahku ya? Aku menyimpan yang terbaik untuk kau hadapi. Luc, panggil jawara kita kemari!”

“Kenapa ga manggil sendiri saja sih? Aku kan lagi medi-pedi dulu nih.” Luc mendumel sendiri, tapi akhirnya dia lakukan juga perintah Ratger.

Tak perlu menunggu lama, Luc sudah kembali, dan dia tak sendiri. Di belakangnya muncul seseorang yang sungguh tak diduga oleh Yuda. Yep, dia adalah Eric!

“Eric, kau sudah tahu apa tugasmu..” titah Ratger singkat.

“Apaan tuh bos?” tanya Eric polos.

Ratger langsung memukul jidatnya dengan refleks, diikuti oleh Luc.

“Aw, kau kan punya jidat sendiri. Kenapa malah ikut-ikutan memukul jidatku?!” bentak Ratger. “Kau juga, Eric! Kau kan tahu tugasmu itu menjadi bodyguard kami!”

Eric mengangguk, seakan telah mengerti. Tapi setelah itu dia bertanya kembali.

“Emangnya bos lagi dalam bahaya? Kayaknya di sini ga ada siapa-siapa, cuma bos Ratger ama Luc..”

Mendengar perkataan Eric, kedua bule itu langsung memerhatikan daerah sekitarnya. Dan memang benar, di situ sekitar mereka mendadak menjadi sepi. Dimana Yuda yang barusan sudah ada di depan mereka? Ah, ternyata Yuda tetap ada, tapi sedang tidur di tanah, saking capeknya dan kemungkinan karena lama menunggu, ga kebagian dialog.

“Waduh, kok tiba-tiba sepi begini?” tanya Ratger heran. “Dimana musuh kita tadi ya?”

“Noh, ada di sana..” Luc yang menjawab. “Eric, bangunin dia gih. Abis itu kamu lawan!”

Eric mendekat ke seonggok tubuh manusia yang berada di depannya. Dia guncang-guncangkan tubuh itu, sampai orang tersebut sadar. Dan betapa kagetnya Eric, saat mengetahui orang yang dia bangunkan adalah Yuda!

“Ya oloh, ini teh Yuda?” Eric masih tak percaya.

“Eh, ini bang Eric kan?” Yuda yang baru saja membuka matanya pun ikut bertanya.

“Ya ampun, Ciin! Akhirnya kita bisa ketemu lagi ya. Gimanah? Udah sukses ngajarin silat sama harimau yang ada di sini?”

“Wah, belum lha bang. Lagian belum sempet ketemu harimau, saya malah ketemu bule gembong narkoba. Dan sekarang malah mau ngebunuh saya ama perempuan itu,” jawab Yuda panjang lebar, sambil menunjuk ke kontainer tempat Astri sembunyi di belakangnya.

“Yang bener, Yud? Mana bulenya.. Sinih, biar gw hajar!”

“Ya bulenya itu, bos bang Eric..”

Mendengar jawaban Yuda, Eric langsung menelan ludahnya. Dia sadar, kini dirinya berada di dua pilihan.. memilih teman atau pekerjaanmya. Lalu apakah yang akan dipilih olehnya?

“OII, Eric! Kenapa kamu malah ngobrol ama bocah tengik itu? Lagian kalau ngobrol, ngajak-ngajak napa!” teriak Ratger.

“Iya neh, mencurigakan. Awas ya, kalian kalau gosipin kita dan bilang kita pasangan hombreng!” Luc ikutan berteriak.

Eric berdiri, diikuti oleh Yuda. Pandangan mata Eric terlihat serius. Yuda jadi bertanya-tanya, apakah gerangan yang ada dalam pikirannya.

“Yud, maafin gw ya..” Eric berbicara dengan pelan. “Gw…”

“Kenapa bang? Abang terpaksa harus lawan saya gituh? Ga apa-apa kok bang. Saya tahu gimana sulitnya mencari uang.”

“Zzz, bukan soal itu.. Gw minta maaf karna gw udah kentut. Emangnya ga kecium ya..” ujar Eric. “Ah, ga usah dipikirin deh. Sekarang buruan kita lawan para begundal itu.”

“Itu baru abangku.. Ntar kalau masalah ini udah kelar, saya bantuin abang cari jodoh deh! Hehe..”

“Sip,” balas Eric singkat. Setelah itu mereka berdua memasang kuda-kuda tanda siap bertanding, tak lupa mereka memasang prajurit, ratu, raja, dan bentengnya. Euh, ini teh mau bertanding beneran apa bertanding catur sih? Pastinya bertanding silat beneran lha ya, yang tadi sih supaya melebaykan suasana saja. Hehe..

“Huh, rupanya kau mau berkhianat ya..” ucap Ratger. “Baiklah kalau itu maumu, tak ada pilihan lain, kami sendirilah yang akan mengalahkan kalian. Ayo, Luc. Kita serang mereka, jangan mau kalah!”

“Haha, aku sih udah siap-siap dari tadi. Nih, ampe udah pake baju olahraga segala. Ayo buruan lha, kita serbu!” jawab Luc.

Dan detik serta menit berikutnya, terjadi pertarungan terdahsyat sepanjang sejarah Bukittinggi. Walaupun pertarungan itu bukan untuk memperebutkan piala bergilir dari kecamatan. Yuda dan Eric mengeluarkan setiap jurus silat pamungkasnya sedangkan Ratger dan Luc mengeluarkan jurus boxing mematikan mereka. Lalu siapakah yang akan menjadi pemenang dari pertarungan ini?

Gosraaak.. Glutuk-glutuk.. BUMM.. Ckiit.. Jederr.. Go Go Gadget.. Ctar.. Wush..

Tiba-tiba dua orang terpelanting dari arena pertarungan. Menabrak satu buah kontainer yang langsung penyok, setelah menerima serangan mendadak dari kedua tubuh itu. Keduanya pun pingsan, tak sadarkan diri.

“Yes, kita menang juga, Yud!” seru Eric gembira.

“Iya, betul. Mati mereka kena skak mat kita..” kata Yuda yang tak kalah gembira. Tapi beneran kan mereka bukan main catur? (hihi, masih dibahas). “Berarti sekarang kita laporkan saja pada polisi setempat, selebihnya biar mereka yang urus!”

“Yoyoy. Hayu atuh kita pergi..”

-=-=-=-=-=-=-=-

1 minggu kemudian.

Yuda sedang duduk nyantai di salah satu halte yang berada di Bukittinggi. Menunggu bis yang harusnya sudah tiba 20 menit yang lalu. Mungkin memang sudah menjadi hal yang lumrah di Indonesia soal jam karet ini. Tapi tetap saja, menunggu adalah hal yang paling membosankan. Brum, bruum, blegedegedeg.. Terdengar suara mesin kendaraan dari kejauhan, akhirnya bis yang ditunggu itu datanglah sudah.

Bis tersebut berhenti di halte, beberapa penumpang turun dari dalam bis. Yuda segera mencari-cari orang yang dari tadi ditunggunya. Ah, itu dia. Ketemu! Ibu dan kakak Yuda berada di kerumunan paling belakang dari para penumpang. Tentu saja sebagai yang budiman, Yuda menghampiri mereka dan memberi tanda tangannya, ups, dan menyalami mereka.

“Jadi, mana rumah kau, Yud?” tanya ibunda Yuda.

“Sabar mak, baru juga nyampe. Nanya kabar anaknya dulu aja napah..” jawab Yuda agak ketus.

“Hihi, mungkin emak ga nanya kabar kau soalnya udah tahu kalau kau tuh tetep gila dari dulu juga.” Timpal bang Yayan.

Pura-pura tidak mendengarkan perkataan abangnya, Yuda berkata, “Ayo dah, kita ke rumah sekarang..”

Terlihat dari jauh, rumah gadang megah yang dikelilingi dengan oleh kebun tomat serta sayuran lainnya. Tentu saja Ibu Yuda dan Abang Yayan yang melihatnya, sontak tersenyum. Mereka berdua tak percaya, bagaimana mungkin Yuda yang baru saja seminggu merantau sudah punya rumah semegah itu.

“Yud, benar ini rumah kau?” tanya ibunya, ketika mereka sudah berada tepat di depan pintu rumah tersebut.

“Iya, Mak. Ayuk, masuk..” ajak Yuda seraya membukakan pintu. Wajah ibunya menunjukkan rasa senang dan terlihat air matanya pun berkaca-kaca. “Nah, mari saya kenalkan kepada keluarga saya di sini –dan selanjutnya akan menjadi keluarga emak dan abang Yayan juga- mereka tinggal di rumah ini juga. Ada bang Eric, yang paling tua berdiri paling kanan. Sebelahnya ada Astri, yang akhirnya mau menerima pinangan bang Eric. Terakhir ada Adit, adik Astri yang bandelnya mirip bang Yayan pas masih kecil.”

“Wah, pantas saja rumah ini besar ya. Ternyata banyak juga yang tinggal di sini. Hehe..” canda bang Yayan. “Jadi, bagaimana ceritanya baru seminggu pergi ke Sumatera sudah punya kebun yang luas ama rumah gede?”

Yuda tersenyum sebentar, kemudian menceritakan setiap kisah yang dialaminya selama perantauannya kepada ibu dan abangnya. Tak semuanya diceritakan juga sih, ada beberapa yang Yuda sembunyikan, seperti saat dia tidak membayar makanan. Lalu, setelah selesai menceritakan semua, Yuda pun berkata, “Karena kami telah menangkap gembong narkoba kelas atas, maka Gubernur Sumatera Barat memberikan rumah beserta kebun yang dulunya kebun ganja ini kepada kami semua. Dan..”

“Dan apa?” bang Yayan penasaran.

“Dan oleh karena itu, Yuda manggil emak dan abang ke sini. Buat ngebantu ngurusin kebun yang super luas ini. Hehehe..”

“Hee? Jadi itu alasan kau manggil kita ke sini?” Abang Yayan memekik. “Abang kira kau sudah benar-benar sukses, sehingga emak dan abang datang ke sini cuma buat santai dan nikmatin hidup aja.”

“Ya, kalau udah sukses mah, Yuda yang bakalan pulang ke sana. Kan ada tuh quote kata-kata emak di atas.” Kata Yuda beralasan.

“Huu, dasar Yuda..!! Kalau tahu gini, abang lebih setuju ama ending yang ada di filmnya dah..” teriak Yayan, lalu memiting Yuda dan menjitakinya. Semua yang melihat pun tertawa.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Dan begitulah, akhirnya keluarga baru itu pun hidup sederhana dan bahagia (pas lagi bahagia mah) selama-lamanya.

Tamat

Wednesday, August 12, 2009

Review Film Merantau

Bercerita tentang Yuda yang beranjak dewasa dan menurut kebudayaan Minang dia harus pergi Merantau untuk menemukan jati dirinya. Walaupun ibunya berat untuk melepasnya. Yuda memilih kota Jakarta dan berniat untuk mengajar Silat Harimau sesampainya di sana. Tapi apa mau dikata, ternyata kehidupan di Jakarta gak seperti yang ada dalam bayangannya, begitu keras, begitu sulit, apalagi setelah tahu rumah yang seharusnya ditempati olehnya sedang direnovasi. Alhasil Yuda harus hidup luntang-luntung ga jelas, bahkan tidur pun di gorong-gorong di tempat proyekan gedung.

Nasib pun mempertemukan Yuda dengan Adit, anak yatim piatu yang hendak mencopet dompetnya. Yuda yang menyadari hal itu mengejar Adit sampai akhirnya dia menangkapnya. Dari sini pula Yuda akhirnya bertemu dengan Astri (penari di salah satu klub) yang sedang diperas oleh mucik*ri nya, Johni. Oh ya, Astri adalah kakak Adit. Yuda pun tak tinggal diam, dia memberi pelajaran pada Johni. Tapi apa yang terjadi? Bukannya berterima kasih, Astri malah menganggap Yuda sebagai pahlawan kesiangan dan menambah beban hidupnya.


Setelah itu takdirnya mempertemukan dirinya kembali dengan Erik, teman perantauan yang dia kenal selama perjalanan ke Jakarta. Dia mengajak Yuda untuk ikut dengannya, menawarkan pekerjaan yang mungkin cocok untuknya. Yuda yang tak tahu apa-apa ikut saja, tapi setelah melihat pekerjaan apa yang dimaksud oleh Erik, Yuda menolak. Dia tetap teguh pada prinsipnya bahwa Silat bukan digunakan untuk menyakiti orang lain.

Berikutnya, film memperkenalkan kepada Ratger dan Luc, sindikat penjual wanita dari Eropa. Dan, Hey, Astri pun menjadi korbannya. Tapi beruntung saat Astri dibawa ke klub, Yuda melihatnya. Tentu saja Yuda melawan orang-orang yang membawa Astri, dan dari sini action terus berjalan hingga akhir. Apakah Yuda akan berhasil menyelamatkan Astri? Apa mereka akan hidup aman selamanya setelah kabur dari sindikat itu? Bagaimana nasib Yuda setelahnya? Yang pasti, endingnya bakal membuat kamu shock sesaat. ^^

Yah, kira-kira garis besar ceritanya seperti itu. Dari awal ampe pertengahan film emang diperbanyak dramanya dulu, untuk memperkenalkan tokoh-tokoh, serta memperdalam karakternya. Walaupun di awal film juga udah ada sih adegan action yang dijadikan pemanasannya. Tapi nggak ngebuat awal film ini ngebosenin kok. Bahkan makin memperkuat alasan kenapa si Yuda benar-benar teguh dengan prinsipnya.

Soal aktingnya juga ga meragukan lha. Walaupun ga usah begitu heran ama acting dari pendatang baru yang terlihat kaku. Well, mereka hanya perlu pengalaman lebih kok. Lihat saja, Christine Hakim yang walaupun hanya kebagian sedikit scene, bisa membuat kita kagum ama penjiwannya. Bener-bener bisa lihat sosok ibu yang sangat sayang ama anaknya. Donny Alamsyah sendiri, bisa lha untuk mewakili sang kakak. Sisca Jesica pun cukup pas memerankan penari klub yang terjebak dalam situasi buruk. Alex Abbad yang berperan sebagai mucikari juga lagi-lagi terlihat pas. Dan yang paling menarik adalah Mads Koudal sebagai Villain dari film ini. Karismanya benar-benar terasa. Tak terkecuali Laurent Buson yang memerankan adiknya. Lalu ada Adit yang diperankan cukup baik oleh Yusuf Aulia, yah, emang masih terlihat belum natural sih. Tapi scene-scene yang ada dia bisa bikin orang ketawa lho. Terakhir, tentu saja si pemeran utama, Iko Uwais. Aktingnya sebagai Yudha patut diberi jempolan. Ada beberapa dialog yang kaku sih, tapi seperti dibilang di awal paragraph kalau dia hanya butuh pengalaman lebih saja.

Soal adegan fighting. Awesome, cuy! Adegannya dibuat cepat dan begitu realistis. Pastinya jangan ragukan lagi aksi dari Iko Uwais yang pernah menjuarai pencak silat dan merupakan murid dari perguruan 3 berantai. Pokoknya dari pertengahan ampe akhir bakal membuat kalian kagum deh. Beberapa scene fighting favorit:

- Ketika Erik mengalahkan pria badan gede pas dia ikutan tes untuk jadi bodyguard.

- Kejar-kejaran di atas apartemen. Yang dah liat trailernya atau nonton pasti tahu kenapa. Hihi..

- Fighting di dalam lift. Wow, di ruang sempit kayak gitu masih bisa ngeluarin jurus-jurus silat yang dahsyat uy.

- Tarung di tempat container.

- Adegan si Yuda narik handuk orang. Wakaka.. Kocak bagian ini. Taktik yang bagus!

- Scene fighting terakhir. Yuda (silat) melawan Ratger (tinju) dan Luc (Wushu). Kalau ga salah tangkep aliran bela dirinya ya. Hihi..

Dan, tentunya sebuah film bakal terasa hambar tanpa scoring-nya. Untunglah scoring di film ini begitu membantu dalam setiap scene. Terutama ketika adegan fighting. Membuat para penontonnya semakin tegang dan menahan napas. Kayaknya scoring dari film ini juga ada campuran cita rasa barat ama minang deh.

Kekurangan film ini cuma di darahnya yang agak berlebihan (dan di beberapa scene terlihat berwarna pink), bagian wardrobe yang membuat Yuda selalu terlihat rapid an bersih, padahal dia udah memakai baju itu setiap harinya selama di Jakarta. Dan masih ada adegan kurang penting yang seharusnya bisa di-cut.

Overall, salut deh buat sutradaranya Gareth Evans, yang walaupun orang Inggris tapi mau buat film Indonesia yang keren seperti ini. Semoga film ini juga bisa menjadi penanda kebangkitan film Action lagi di jajaran film lokal. Lagian bosen kan kalau kita disuguhi film Horor dan Komedi Esek-esek yang gak jelas? Ayo Sineas Indonesia, jangan mau kalah semangatnya ama orang luar! Apalagi setelah ini, kita tahu bakal ada film Merah Putih yang ide awalnya juga tercetus dari orang luar. Well, tapi untuk kru masih mendominasi orang Indonesia-nya sih. Buat bang Iko, jangan kapok maen Film lagi ya.. I love u Full.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. << gaya mbah Surip (Alm.).

Nilai: 8,5/10

Sangat Recommended!

NB: Sori kalau penilaian gw terlalu Overrated, abisan gw emang terlalu excited ama film ini sih. Hihi..

----------------------------------------


Bahasanya rada beda ama bahasa blog gw biasanya ya? Soalnya selain dipos di sini, bakal dipos juga di Exodiac.com sih cuman di sana nick-nya jadi Misterious Man. Dan tadinya juga ga niat bikin review film ini, malah tadinya mau ngepos yang lain di blog. Wekeke..

Wednesday, July 22, 2009

Review Film Harry Potter 6

Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, tanggal 19 Juli 2009, akhirnya kesampean juga tuh untuk nonton Harpot and the Half Blood Prince. Setelah sebelumnya gagal, karena yang dititipin untuk beli tiket malah kelupaan beli tiketnya. Wakaka.. Jadilah pas hari Minggu kemaren itu gw beli tiketnya pas bioskopnya baru buka, supaya dapet bangku teratas. Eh, eh, bentar.. Ini teh mau review film apa curhat pas nonton? (dua-duanya sih.. xixixi..) Ya udah, daripada kebanyakan OOT, mari kita mulai reviewnya..

SPOILER ALERT!
Film yang menceritakan tahun ke-6 Harry di Hogwarts ini dibuka dengan adegan... Errr.. Err.. Gw telat masuk uy jadi ga tau dibukanya dengan adegan apa. Kata orang sih adegan Bella dkk nyulik Ollivander ama bikin jembatan runtuh. Yah, kayaknya harus nonton ulang neh biar bisa liat. Setelah itu diperlihatkan Harry dan Dumbledore yang kencan bareng, ups, yang pergi ke suatu tempat untuk merekrut guru baru. Saya suka banget adegan di sini saat barang-barang kembali ke tempat semula, dan ditutup dengan salah satu kristal rambut dengan bunyi 'Ting'. Abis itu berlanjut ke scene Unbreakable Vow. Muka Snape emang ga kebaca ya, baik atau jahatnya. Keren.. Keren.. Berlanjut lagi ke scene the Burrow, dimana Harry kayaknya mulai tertarik ama Mrs Weasley, eh, Ginny Weasley deng.. Heuheu.. Adegan mereka ngelongokin kepala dari loteng kocak! Dan berlanjut lagi.. berlanjut lagi.. dan lagi.. (kasian yang belon nonton kalo dibocorin semuah.. hihi).

Yah, pokoknya saya cukup puas lha nonton film ini. Beda dengan temen saya yang katanya kecewa abis gara-gara beda banget ama novel. Tapi novel ama pelem emang beda rasa dan penyampainnya kan? Soalnya dari semenjak film pertama difilmin emang banyak banget yang beda. Contohnya aja Death Eaters yang harusnya ga bisa terbang, jadi bisa! Biasalah pelem mah rada mikirin sisi komersilnya juga. Hoho..

Oh ya, kenapa saya puas ama film ini? Karena, akting para pemain kayaknya mengalami peningkatan, tinggal Bonnie Wright yang maen sebagai Ginny sih yang rada kudu diasah. Saya paling suka sama si Luna di sini, ah, sejak penampilan perdananya di Harpot 5 juga saya dah suka ama akting dia sih, bener-bener kayak Luna di buku menjadi nyata pisan uy. Akting pemain barunya kayak Slughorn ama Lavender cukup mewakili karakter mereka. Pada cocok lha semuanya.

Kalau soal cerita, emang sih ada beberapa yang bikin aneh. Kayak tentang Malfoy yang nyelundupin DE ke Hogwarts. Eh, malah pas dah di Hogwarts DE nya malah ga ngelakuin apa-apa. Tapi saya berasumsi, kali aja DE itu tadinya emang niatnya buat bantu Malfoy naklukin Kepsek, tapi seperti kita tahu ternyata sang Kepsek udah pasrah tak berdaya (Btw, Dumbly yang lepas topi jadi mirip banget ma Gandalf ya? wekeke..). Cuman sayang sekali ya, endingnya terlalu cepat.

Oh iya salah satu yang mendominasi di film ini itu cerita drama percintaannya uy (di bukunya juga memang mendominasi sih). Kocak aja ngeliatin dilema percintaan Hermione-Ron-Lavender. Sebenernya emang udah keliatan semenjak film ke-3 kalau Ron ama Hermie itu sebenernya saling suka, tapi dua-duanya pada malu-malu. Haha.. Satu lagi sih yang mendominasi, Bodor bin Humornya! Ampun dah si Ron, kocak mulu scene dia-nya. Fred dan George yang muncul bentaran juga cukup bisa ngehibur. Dan tentu saja Scene paling keren di film ini yaitu Quidditch ama scene Dumbly-Harry di Gua. Quidditch yang walaupun muncul bentar dan fokus pada kiper Ron bener-bener ngehibur, untung dah di film ini ditayangin lagi, soalnya di 2 film sebelumnya gak ada tuh adegan Quidditch, dan pastinya 2 film ke depan juga ga akan ada adegan Quidditch-nya. Walaupun tetep ada adegan sapu terbangnya. *dibekep sebelum bocorin cerita lengkapnya*

Okeh, overall cukup terpuaskanlah ama film ini. Meskipun masih ada kekurangan-kekurangannya. Dan mari berdoa moga-moga pelem selanjutnya lebih keren dah!

Btw, buat yang belum membaca bukunya, saya bocorkan beberapa scene penting yang tidak dimasukan ke film, diantaranya:
1. Penampakan Perdana Menteri Inggris Muggle karena di awal buku diterangkan kalau ada masalah yang disebabkan oleh kalangan penyihir, maka Menteri Sihir akan datang ke tempatnya.
2. Rufus Scrimgeour yang menggantikan posisi Cornelius Fudge sebagai Menteri Sihir. << Rufus baru akan muncul di film ke-7
3. Tidak adanya Bill Weasley dan Fleur yang seharusnya di awal film berada di The Burrow, kediaman keluarga Weasley. Mereka juga muncul di film ke-7.
4. Adegan Battle di Menara Astromoni, Death Eaters vs Dumbledore’s Army. << gak ada karena produser tidak mau penonton merasakan pengulangan scene pada saat nanti battle terakhir di film ke-7.
5. Pemakaman Dumbledore. Yeah, di novel emang scene ini yang menjadi penutup novelnya. << Kabarnya malah jadi scene pembuka film ke-7 part 1.

Tuesday, July 14, 2009

Parodi Di balik Iklan Capres-Cawapres

Hello! Ketemu lagi nih ama blogger terkeren, idola kalian semua yang pernah eksis. hehe.. Gimana neh kabar pembaca sekalian umat? Pada rindu kan ama tulisan gw. Sori uy, dah lama ga apdet blog inih. Abisan gw sibuk show kemana-mana sih. Hohoho.. Btw, kemaren pada ikutan nyontreng di Pilpres gak? Jujur, gw sendiri nggak, soalnya seperti diuraikan di atas, gw orang sibuk *disiram kuah baso* Hidup GolGan! Heuheu..

Eh iya, mungkin kalian teh sebelumnya udah liat kampanye-kampanye para capres n cawapres yang terus ditayangin di tipi-tipi kreditan kalian. Kekeke.. Tapi kalian belum tau kan gimana proses atau pencarian ide untuk membuat iklan-iklan kampanye tersebut? So, stay tuned di sinih, pokoknya mah baca terus ampe mata kalian siwer..

Pertama-tama kita mulai dari capres n cawapres no. urut 1 kita.. Megawati Soekarn*putra *digetok bu Mga: "Gw kan dah ganti kelamin!"* Ah, iya sori.. harusnya Soek*rnoputri.. ^^ dan Prabow* Sugianti!! *digetok jg ama pak Prabow*: "Jangan sebarin nama malem gw, Oi!" Ya, ya.. gw ganti jadi Sugianto deh.. Beginilah kira-kira dialog mereka:

MS: Eh, Bow(panggilan akrabnya pak Prabow*), masa kampanye kan bentar lagih, mo bikin iklan kayak gimana nih?
PS: Iya nih, Mey (panggilan bu Mga), kita bikin apa ya?
MS: Yah, dia malah nanya balik. Ya udah atuh, kita bikin iklan yang marodiin lagu "Pilih Keju atau Singkong" kita ganti kata-katanya jadi "Pilih Aqyu atau kingkong" (sambil nunjuk ke si Bow)
PS: Weks, ga bisa, ga bisa.. Gw kesinggung soalnya. Hiks.. Mending kita bikin iklan kayak layanan operator ituh.. yang ketik reg spasi apalah gituh.. Nah, nanti kita bikin kayak gini ajah.. "Pilihlah kami dengan mengetik: Reg (spasi) Ki Joko Bowo dijamin Indonesia akan makmur, semakmur-makmurnya!". Gimana?
MS: Lha, itu juga ga bisa dong. Nama ku di situ mana? Lagian jangan plesetin nama Ki Joko Bodo ah, ntar yang ada bisa kena santet lho! Yah, walaupun gw akuin wajah lo cocok buat jadi dukun.
PS: Trus mo bikin apa?
MS: Gw dapet ide! Kita gabungin aja nama kita, Bow! Jadi kan nama Mga Soekarn0putri ama Prab*wo.. digabung jadi Mega Sukro! Pasti banyak yang suka tuh, apalagi kalo pas kampanye kita sekalian bagi-bagi sukronya. Hehe..
PS: Boleh juga. Tapi ga enak banget akhirannya.. masak singkatan nama gw cuma dimasukin dikit sih, Mey!
Trus mereka bedua pada diem, sampe kedengeran suara..
NN: Panggilan kepada pemilik motor Mega Pro, untuk segera meminggirkan motornya karena bodinya merusak pemandangan. Sekali lagi diulangi, Panggilan kepada pemilik motor Mega Pro, motornya buat gw aja yah? Hehe.. *langsung kedengeran suara jitakan, kayaknya dari bosnyah si pemberi pengumuman*

PS: Nah, nah, lo denger panggilan tadi kan?
MS: Iyah denger, emangnya gw budek? (rada bisik2 si PS bilang: "Emang!") Memangnya itu motor lo?
PS: Zzzz.. bukan lha. Gw kan ke sini naek sapu lidi terbang. Yang dimaksud gw tuh soal namanya.. Mega Pro - M3ga-Prab*wo!
MS: Wow, cucok, Bow! Gw suka nama ituh.. Bungkus dah!
PS: Sip.. Tapi inget jangan ngutang ya..
MS: Yeeey!!

Dengan itu disahkanlah kata-kata itu sebagai slogan kampanye mereka.

Okey, kalo gitu kita lanjut ke pasangan nomor 2, yaitu pasangan pak SB-Yey dan Budie-Oh no! Dan kira-kira beginilah percakapan mereka:

SB: But (panggilan akrab sby ke budiono), kita mo bikin iklan apa neh, kampanye ntar.
BDN: Iya neh, Pak Sus (udah manggil pak tapi sus juga.. wekeke), pokoknya iklannya jangan kalah ama yang laen yah..
SB: Tul. Kalo gw sih usulin bikin iklan yang nyanyi-nyanyi gitu. Lo tau sendiri kan, gw suka nyanyi.. Kemaren ajah ikutan Idola Cilik tapi gagal di audisi pertama.
BDN: Ya, ya, ga ngeraguin skill lo deh. Trus kalo mo nyanyi, mo pake lagu apa?
SB: Gw suka tuh lagunya Mbah Surip. Eh, tapi kan harusnya sebelum kampanya lagu ini lom begitu terkenal ya.. Hihihi..
BDN: Jaah, padahal gw juga suka. Ya udah, kalo gitu pake lagu-lagu lawas yang terkenal aja deh, kayak lagu Michael Jackson gituh..
SB: Set dah, tega bener lo! Sebagus-bagusnya suara gw juga ga akan mungkin lah nyamain suaranya Jacko, gw juga ga mungkin bisa joget-joget kayak dia gitu lho!
BD: Kan itu cuma contoh Pak Sus.. Sok atuh mending pak Sus aja yang usul..
SB: Ok, gw usulin lagu 'Abang Tukang Bakso' nya Melisa. "Bambang-Budiono, mari-mari sinih. Pimpin Endonesa..!" Enak banget noh lagunya!
BD: Enak sih enak, tapi jadi berasa tukang bakso beneran neh. Huhu.. Hmm, gini aje deh.
SB: Apa?
BDN: Kita makan dulu, ntar dilanjut lagih..
SB: *gubrak* Emang ada makanan apa?
BDN: Nih, gw cuman punya Indomie sebungkus, tenang, ntar gw bagi dua kok.
SB: AHAA!! Boleh juga tuh!
BDN: Ya iyya lha boleh, gw kan baik hati.
SB: Bukan elo, But! Tapi Indomie, yes, Indomie! Kita bakal pake lagu itu aja gimana...
BDN: Ya, ya.. terserah lo deh.. Yang pasti sekarang gw laper. Ya udah minggir dulu, set dah, dari tadi lo duduk di atas kompor ya! *si SBY ngebatin: 'Jah, baru nyadar tuh si BDN'*

So, terpilihlah lagu iklan mie instan itu untuk diplesetkan menjadi iklan kampanye mereka berdua. And, guess what! Yang nyanyi iklan itu tidak jadi SBYey, karena dikhawatirkan korban tewas akibat kurang gizi bakal bertambah karena mendengar suaranya.

Then, lanjut ke pasangan ke-3, pasangan JKR - Kiranti..
*langsung dijitak mereka: "Emangnya gw pengarang Harpot apah?"*
*di belakangnya kedengeran juga: "Emangnya gw minuman biar lancar dateng bulan?"
Ah, baiklah.. Jk dan Wirant*. T_T

Apa yang mereka diskusikan? Lets Cekidot..

J: Wir, mo bikin iklan apa buat kita ntar?
W: Ga usah bikin iklan deh. Emang duitnya ada?
J: Ya ada donx. Gw kan pengusaha sukses. Banyak duitnya. Makanya ntar bikin iklannya yang banyak.
W: Ya udah, bikin ajah.. Lebih cepat lebih baik..
J: Ah, keren tuh slogan buatan lo. Udah deh itu ajah..
W: ??? (backsound: krik.. krik.. krik..)

Itulah percakapan mereka yang menjadi paling garing diantara semua. Tapi beneran lho, iklannya banyak banget! Tob dah!

-----------------

Gimana semua? Sekarang udah tau cerita dibalik pembuatan iklan kampanye mereka kan? So, kemaren yang pada nyontreng udah milih siapa? Moga-moga ga nyesel ya ama pilihannya. Hehe.. Okeh, gw cabut dulu.. Piss yo, semuah!

Saturday, May 23, 2009

Rambu-rambu Lalu Lintas

Seperti kita tahu, rambu-rambu lalu lintas sangat berguna sekali dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak? Tanpa lalu lintas, polisi ga akan bisa nilang dan dapet duit tilepan kan? Yeah, itu salah satu contohnya dan masih banyak hal lain yang berguna dari rambu lalin itu.

Ok, gw rasa cukup kata pembukanya, sekarang mari kita masuk ke pembahasannya, apakah kalian mengenal setiap rambu yang terpampang? Kalau jawabnya tidak semua, berarti lo normal. Soalnya gw juga kayak gitu. Wekeke.. Nah, kalau gitu mari kita mengenal rambu-rambu lalin itu lagi yo!

Siapa sih yang ga tau tanda yang begitu familiar dan hampir terlihat di setiap jalan yang ramai dikunjungi? Yep, tanda ini berarti Dilarang Pipis!! Atau malah jika daerahnya lebih ekstrim, tanda itu bisa berubah makna menjadi Dilarang 'Poop' atau buang air besar sembarangan. Untung saja tanda ini ada, kalau tidak, kita bakal nyaingin kucing dalam hal be'ol sembarangan nih.



Dilarang Nunjuk ke Bawah!! Wew, beneran dah. Gw sendiri kaget ngeliat tanda ini. Pemerintah mana yang begitu tega ngatur warganya sampai sebegitu ekstrim. Tapi kayaknya, rules ini masih nyambung ama yang di atas. Fungsinya jelas, supaya yang udah kepalang 'Poop' ga malu saat 'ampas'-nya ditunjuk-tunjuk orang. Wakaka..




Dari tulisan yang ada di rambu itu, udah jelas kalau artinya adalah STOP alias Berhenti! Eh, tapi dari kesederhanaan tanda tersebut, menyimpan bahaya lho! Soalnya kalau kita ngeliat tanda itu, kita kudu diem-stop-berhenti ga gerak-gerak selamanya. Ya, berdoa aja kita ga ngeliat tanda ini okeh!



Dilarang masuk tanpa Underwear! Itulah bunyi dari tanda tersebut. Sering digunakan di acara-acara resmi atau semi-resmi. Tetapi, walaupun aturan ini ketat, kita tetap harus bersyukur, karena para polisi/security tidak akan memeriksa daleman kita untuk mengecek apakah kita sudah memakai atau belum.




Hati-hati Copet! Ah, kayaknya ga usah dijelasin lebih lanjut lagi soal arti dari tanda ini. Pokoknya kalau liat tanda ini, amankan barang-barang berharga anda, jangan sampai kehabisan ya! Halah..



Hati-hati pengendaranya sedang mabuk! Tanda ini merupakan improvisasi dari polisi yang katanya capek kalau nilang orang mabuk. Jadi, ke depannya kalau orang mabuk mau nyetir, mereka kudu masang tanda ini di mobilnya, jadi polisi tahu dan ga heran lagi kenapa mobil yang dikendarain belak-belok ga jelas. Sungguh kreatif polantas kita! Hihi..


Terakhir..


Pasti udah tahu kan tanda ini? Yep, tanda ini berarti Dilarang Syirik ama yang punya blog ini ya! Ya, gw tau gw keren dan banyak yang ngefans.. Tapi gw yakin kalian juga bisa ngikutin jejak gw kok.. Wekeke... *digebukin pembaca*



*bengep-bengep sambil berusaha tetep nulis kesimpulan*
Sip lha, akhirnya beres juga ya pelajaran kita hari ini. Semoga kalian semua bisa lebih aware dan selalu membaca rambu lalu lintas dan mematuhinya, keh! See ya at next post!!

Wednesday, March 25, 2009

Tualait

Yak, untuk semua penggemar Twilight, semoga terhibur dengan fanfic di bawah ini ya. Jujur, ini fanfic gw yang pertama (atau mungkin yang terakhir.. *dilirik tajam fans Twilight*) untuk fandom Twilight. Jadi, mohon maaf jika ada salah kata. Bagaimanapun gw ini manusia (yang sangat keren). Hehehe..

Sok atuh dibaca ajah..

-------------------------------------------------------------------
TUALAIT
(A Twilight Parody)


Pertama, Edward adalah manusia nyamuk.... Kedua, ada bagian dalam dirinya, dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu, yang haus akan darahku, apalagi ketika aku menungging. Dan yang ketiga, aku jatuh cinta padanya dengan syarat seperangkat alat sholat dibayar tunai.


-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Aku baru saja sampai di Bogor, tempat dimana curah hujan lebih banyak daripada kota lainnya. Sehingga sinar matahari akan terlihat pada jam-jam tertentu saja, siang-siang tentu saja bakal terlihat, sedangkan malam, jangan ngarep deh! Entah mengapa aku memilih tinggal di kota kecil ini. Tapi jelas, aku tak akan tinggal dengan Rini, ibuku, yang baru saja menikah lagi dengan Phili―lebih senang jika dipanggil Upil―sales suatu produk di pabrik yang ada di Jakarta. Yeah, Jakarta. Aku pasti akan merindukan hawa panasnya, merindukan suasana saat ngungsi karena banjir, rindu dengan kemacetannya, dan dengan premannya yang bejibun. Eh, tapi pikir-pikir setelah dibaca ulang, aku tidak jadi rindu ama Jakarta deh. Hehehe….

Pokoknya sekarang aku tinggal di tempat Charli (nama asli Sujana, gara-gara ngefans dengan ST12 jadi pake panggilan itu), kepala hansip di kampung Cikiruh yang berada di kaki Gunung Salak. Untung Gunung Salak sering menyikat kakinya, jempolnya jadi gak bau dan penduduk Cikiruh yang berjumlah 101 Dalmation setengah jiwa bisa betah tinggal.

“Jadi, Bela, ini kamarmu,” kata Charli setelah tiba di depan kamar yang berada di lantai satu, “Aku tak mengubahnya sedikitpun semenjak liburan terakhirmu.”

“Trims, Charli!”

“Yah, sebenernya bukannya tidak mau mengubah, tapi karena aku malas membereskannya... hehe....”

Ok, satu hal tentang Charli, dia memang tidak pernah berbasa-basi. Dan mataku pun membelalak, ketika sadar kenapa Charli berkata begitu. Kamarku benar-benar berantakan. Aku jadi ngeri memikirkan seperti apa diriku saat masih kecil. Aku memang terakhir kali berkunjung ke sini waktu berumur sekitar empat atau lima tahun.

“Tenang saja, aku pasti akan membereskannya kok. Di Jakarta kan aku sekolah di Sekolah Kejuruan Pembantu Rumah Tangga,” jawabku sambil memutar bola mata Charli, ups, bola mataku.

Charli mengangguk, lalu membuka mulutnya dan berkata, “Setelah selesai beres-beres, kau turun ke bawah ya, aku punya hadiah untukmu.”

Hadiah dari Charli? Aku mendelik ke arahnya. Biasanya kalau tidak poster ST12, hadiah darinya itu video rekaman Charli saat dia konser di organ tunggal yang suka ada di acara kawinan.

“Bukan, hadiahnya tidak berhubungan dengan ST12!” seru Charli seperti bisa membaca pikiranku. “Ketahuan sih kalau kau sedang curiga, mulutmu tambah maju beberapa meter, dan matamu mendelik seperti aktris-aktris sinetron kita..” Wajahku memerah, yeah, Charli memang tidak pandai berbasa-basi. “Ah, pokoknya kutunggu kau di bawah, okeh?”

Aku mengangguk sekali, memperhatikan Charli keluar dari kamarku, setelah itu kembali melihat keadaan kamarku yang bagaikan sarang tikus. Bahkan mungkin sarang tikus saja lebih rapi dari ini, lihat saja bagaimana rapinya sarang si Jerry dari kartun Tom & Jerry kalau tidak percaya. Kugerakkan saja tanganku ke saku belakang celanaku untuk mengambil tongkat sihirku. Kemudian kugerak-gerakkan tongkat itu agar semua benda yang berserakan itu merapikan diri sendiri. Namun… akhirnya aku sadar, ini bukan fanfic Harry Potter, ini FF Tualait.. (backsound: kriik... kriik... kriik...). Tersadar kembali ke realita, kubereskan saja semuanya dengan tenagaku sendiri sambil tetap ngarep kalau ini adalah FF Harpot.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Ini hari pertamaku ke sekolah baruku, SMA Cikiruh I yang berada tak jauh dari rumahku. Well, tentu saja kisaran jauh-dekat di kota dan di desa itu berbeda. Dan dekat menurut standar desa sini adalah sekitar 1-2 km dan jika ditempuh jalan kaki bisa sampai sejam, setengah jam kalau sambil ngesot (jangan tanya kenapa ngesot bisa lebih cepet!). Oleh karena itu, Charli memberiku hadiah mobil, ya, kalau kau sebut itu mobil. Karena pada nyatanya itu adalah kendaraan yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil kebun/sawah, berbentuk seperti traktor beroda tiga hanya saja memiliki bak di belakangnya. Benda itu akan mengeluarkan suara berisik jika kunyalakan, dan karena suara berisik yang mirip gonggongan itu, tadi ada anjing kampung yang mengejar-ngejarku karena mengira aku membawa anjing betina.

Grok gok gok... Dem dem demm dem demm...

Begitulah suara mobilku saat aku mematikan mesinnya setelah kuparkir di halaman sekolah. Murid-murid lain memperhatikanku, seakan aku telah mencuri masing-masing upil mereka. Aku hanya bisa mengacuhkan mereka dan berjalan terus sambil menunduk. Saat itulah aku sadar, kaos kakiku berbeda warna trus kayaknya aku sudah menginjak batu hipu (translate to Indo: batu empuk) alias kotoran kerbau. Huah, pantas mereka memperhatikanku.

“Hai, kau Bela kan? Yang berasal dari Jakarta trus punya kebiasaan ngorok dan garuk-garuk pantat pas lagi tidur?” tanya seseorang padaku, entah darimana dia mengenalku, tapi dari kampung kecil yang penduduknya sedikit berita kepindahanku pasti dengan mudah menyebar.

“Iya aku Bela,” jawabku singkat.

“Kenalkan! Saya Erik!”

“Oke, salam kenal. Kalau begitu, aku pergi ke kelasku dulu, ok!”

“Tap―tapi...”

“Sampai ketemu lagi,” potongku seraya terus berjalan meninggalkan dia.

“Hei, Bela! Aku baru mau memberitahu kalau kelasmu itu ke arah sini, kalau ke sana sih sama saja kau mau keluar sekolah dan pulang lagi ke rumah -_-!” kata Erik yang berhasil menyusulku. Duh, membuatku malu saja, untung ini hari pertamaku. Tapi demi menjaga imej, aku pun beralasan, “Oh, terima kasih, Erik! Sebenarnya aku sudah tahu di mana kelasku, aku cuma mau ambil barang yang ketinggalan di kendaraanku kok... hehe...”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Selamat pagi, anak-anak!”

“Selamat pagi, Pak Guru!”

“Hari ini kita kedatangan murid baru dari kota Jakarta...”

“Was... wes... wos... bla... bla... bla... bret... bret... plung...” seluruh kelas langsung berisik setelah Pak Guru memberitahukan berita tadi.

“Ya, sepertinya kalian sudah tahu kalau murid baru ini bernama Bela Suan, eh, bener gak namanya teh? Salah yah. Siapa teh yang bener?”

“Bela Sujana, Pak!” jawabku tegas.

“Nah, iya itu.. Pokoknya selamat datang ya. Dan kau bisa duduk di sebelah bangku Eed,” kata Pak Guru, menunjuk bangku paling belakang yang berada di pojok kanan. Dimana di sana sudah ada seonggok manusia berkulit pucat, bernama Eed tadi. “Eed itu pindahan dari luar kota juga lho, sama kayak Bela. Jadi seharusnya kalian akan cocok...”

Aku tersenyum malu-malu. Sejak kecil kalau disinggung soal cowok pasti selalu begitu. Yah, kali aja dengan senyum begitu, ada cowok yang kepincut (atau malah ngejauhin ya?).

“Yak, silakan duduk kalau begitu...”

Instruksi dari Pak Guru langsung saja kuturuti. Ya jelaslah, siapa sih orang yang mau berdiri terus tanpa duduk? (backsound: orang bisulan di pantat). Sesampainya di kursi yang tadi ditunjuk oleh Pak Guru, langsung kuhenyakkan tubuhku di atasnya. Kupandangi sebentar teman sebangkuku yang baru, dan entah kenapa si Eed teh malah ngejauh. Oh iya, bekas nginjek kotoran kebonya kan belum dicuci yah tadi. Huhuhu... pantes aja.

Berikutnya, Pak Guru segera memulai pelajarannya, pelajaran Biologi. Tentang cara menanam padi yang baik dan benar. Dari sini aku jadi tahu, kalau posisi pantat saat menanam padi sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman itu kelak. Sambil terus mendengarkan penjelasan Pak Guru, mataku diam-diam melirik kepada makhluk di sebelahku, yang entah kenapa langsung memalingkan wajahnya. Sesaat aku sempat melihat matanya yang hitam pekat. Eh, kayaknya ga usah lebay deh, semua mata orang Indonesia kan hitam ya? Ngg, tapi dia pindahan dari luar kan? Darimana ya?

Ting... Ting... Bel istirahat berbunyi. Tapi benarkah itu bel istirahat? Soalnya suaranya kentara sekali adalah mangkok yang dipukul sendok.

“Yak, tak terasa bel tanda istirahat sudah berbunyi,” kata Pak Guru, kemudian menatapku yang mungkin menampakkan wajah konyol karena kebingungan, “Bagi yang belum tahu, bel listrik kita sudah tak berbunyi―listrik sudah dicabut―jadilah menggunakan cara manual a la tukang bakso. Oke, kalau begitu, sampai ketemu di pelajaran berikutnya!”

Ya ampun, kalau saja di dunia nyata bisa memasang emoticon sweatdrop pasti akan kupasang sekarang juga. Memang sih hal tersebut kreatif, setidaknya mereka tidak memukuli jidat pak guru yang lebar itu, yang kuyakin bakalan mengeluarkan suara ‘goong’ jika itu memang terjadi. Tak usah dipikirkan lah, yang penting sekarang aku harus pergi ke kantin untuk mengisi perutku dengan makanan.

Di kantin, yang terletak di belakang sekolah suasananya sungguh adem. Berani jamin deh, makan bakso yang panas di sini bakal terasa sedang menyeruput es buah, saking ademnya. Dan itulah yang sedang kulakukan sekarang, menyeruput bakso. Kemudian, ketika aku menyimpan mangkok-ku di atas meja lagi, tiba-tiba sudah ada dua orang yang mengapitku, dan dua orang yang duduk di seberangku.

“Kami boleh gabung kan?” tanya salah satu dari mereka, oh iya, itu kan si Erik yang tadi pagi ngajak kenalan. Aku hanya tersenyum, menyatakan ‘iya’ atau kalau lengkapnya ‘iya deh, asal tahan dengan bau sepatuku’. Ups, benar juga, aku masih belum mencuci sepatuku juga.

“Hai, Bela... Aku Mike,” kata seorang lagi, “Nama asliku Acim sih, tapi temen-temen semua memanggilku Mike...” Dia diam sebentar, kemudian melanjutkan, “harus kupaksa dulu sih supaya manggil itu...”

“Kalau sayah Jesika, sok panggil ajah sayah Ikah nyah?” sekarang yang cewek yang berbicara. “Inih si Angela, iyah bener, bacanya tuh A-nge-la, bukan En-jela kayak nama pemaen pelem di tipi... Atau bisa panggil dia si Ela,” katanya lagi menunjuk pada perempuan berkacamata di sebelahnya.

“Salam kenal semuanya, senang bisa berkenalan dengan kalian, apalagi kalau kalian bersedia membayarkan baksoku ini. Hehe...” jawabku, disambut teriakan merdu dari mereka berempat, “KITA KIRA, KAMUH YANG BAKAL TRAKTIR TAUK!!” lagi-lagi membuatku ingin memasang emot sweatdrop. Lalu suasana tiba-tiba menjadi hening, dan tanpa dikomando, semua tertawa terbahak-bahak. Hahaha... Akhirnya aku menyadari kenapa RSJ bisa banyak pasiennya sekarang ini. Tetapi aku senang, karena setelah itu, kami semua bisa mengobrol dan bersenda gurau seperti teman lama. Eh, ralat deh, mereka doang yang ngobrol, aku sih cuman ikut ngakaknya ajah. Hehehe...

Whuuss... Tiba-tiba angin berhembus dari arah timur, sekelompok geng masuk ke kantin dengan cara jalan yang anggun, atau kalau diperhatikan seperti terbang. Ketika mereka melewati mejaku, aku dengar suara bising yang sepertinya sudah tak asing lagi, seperti suara ngorok atau sesuatu gitu. Dan betapa kagetnya diriku karena si Eed ada di dalam geng itu, akhirnya dengan refleks aku bertanya, “Hei, mereka itu siapa sih? Kok kayak sekumpulan geng gitu?”

“Kikikiki...” si Ikah ngikik dulu sebelum menjawab, “mereka ituh keluarga Pulen, anak angkat Kang Lile yang bekerja di puskesmas deket-deket sinih. Ibu angkatnya, Ceu Ameh, terkenal suka bikin nasi yang pulen. Anak-anaknya tuh suka bawa nasi bekel dari ibunya ituh, terus anak-anaknya teh pasti selalu menolak makanan lain selain nasi pulen ituh. Makanyah semua pada manggil mereka keluarga Pulen!”

“Oh, begitu ternyata. Ngg, terus mereka itu pindahan dari mana sih? Soalnya kata Pak Guru kan si Eed, pindahan juga sepertiku...” tanyaku masih penasaran.

“Pindahan dari desa sebelah kayaknya,” si Angela baru ngomong. “Lihat sajah, mereka mah ganteng-ganteng dan cantik-cantik, hanya saja...”

“Hanya saja apa?” tanyaku belum mengerti, dijawab oleh Acim, eh, Mike dengan mengarahkan telunjuknya ke daerah bibir. Akhirnya aku pun sadar, mereka semua memiliki kesamaan, gigi mereka sama-sama tonggos!! So seksi! Aku memang suka orang dengan penampakan unik seperti itu. “Ngg, trims, Mike sudah memberitahu... Trus, trus... kalau nama mereka masing-masing siapa saja?”

“Sekarang biar aku yang menjawab,” si Erik yang bersuara, dia mendekat ke arahku dan berbisik pelan-pelan, “Yang bertubuh dan bergigi paling besar, itu si Mamet. Trus yang perempuan, rambutnya kriwil-kriwil kayak mie, itu si neng Eros. Yang perempuan satu lagi, yang rambutnya pendek, namanya neng Elis. Laki-laki di sebelahnya si Enjes. Terakhir mah pasti tahu, ituh si Eed, yang sebangku ama Bela..”

Unik... Unik... dan Unik... Itu yang ada di pikiranku sekarang. Penampakan serta nama mereka yang unik membuatku semakin tertarik saja.

“Eh, Bela, jangan mikir untuk deketin mereka deh...” sekarang si Mike lagi yang ngomong. “Suka ada dengung suara yang aneh kalau deket-deket mereka. Makanya jarang ada yang mau deketin mereka.”

Aku mengangguk setuju. Soalnya memang tadi juga aku sudah mendengar dengungan itu kan? Tapi aku tetep penasaran ah. Lagipula cerita tualait mah emang kudu kayak begonoh atuh. :P

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Kubereskan semua alat tulis dari atas mejaku. Kulirik Eed sebentar, aneh, dengungannya tak terdengar. Apa hanya terdengar jika sedang berjalan saja ya? Ya, sepertinya begitu. Kulirik lagi dia, dia memandangku balik. Aku kaget, langsung kutundukkan kepalaku. Kalau aku tak salah lihat, tadi warna matanya berubah, bukan hitam lagi! Oh iya, sekarang kan sudah siang, sinar matahari lebih memperjelas matanya, mata orang Indonesia kan aslinya memang coklat. Sekali lagi, jangan lebay plis!

Setelah semua perkakas tulisku tersimpan aman dalam tas, aku pun segera beranjak pergi meninggalkan Eed yang sepertinya masih memandangiku. Dan tiba-tiba tangannya meraih pergelangan tanganku.

“Bela, jangan pergi dulu. Kita belum berkenalan secara resmi kan?” jawabnya dengan suara sopan. Yang entah mengapa membuatku berdebar-debar, apalagi jika melihat bibirnya itu. “Namaku Edwart, panggil saja Eed!”

“Ah, yah... Aku Bela. Salam kenal kalau begitu,” balasku, melepaskan tangannya, kemudian berlari keluar kelas dengan wajah yang terasa panas. Apakah ini perasaan cinta? Atau wajahku sudah dari sananya begini?

Lalu sesampainya di luar, aku langsung berlari menuju tempat di mana aku memarkir kendaraanku. Wah, rupanya di luar sedang hujan rintik-rintik ditambah kabut. Aku harus hati-hati nih agar tidak terpeleset, jalannya pasti licin banget. Apalagi ditambah dengan ranjau-ranjau darat yang bertebaran. Jadilah aku memperlambat jalanku, biar lambat asal cepat kan? Halah.

Setelah aku menemukan mobilku itu, aku menoleh sebentar ke belakang dan melihat si Eed sedang ada di gerbang sekolah, memperhatikanku dari jauh. Kulempar pandanganku lagi ke depan, berusaha berkonsentrasi membuka kunci gembok pintu mobilku. Tetapi hal berikutnya yang terjadi membuatku terdiam membeku di tempat, ada sapi ngamuk yang datang ke arahku! Aku benar-benar terdiam, tak bisa apa-apa hanya pasrah menunggu saat sapi itu menyerudukku dengan hidungnya yang seksi. Sapi itu semakin mendekat, jarak kami hanya tinggal beberapa jengkal, dan tiba-tiba terdengar suara dengung familiar seiring lewatnya seseorang di depanku. Rupanya orang itu adalah Eed, dia menghadang sapi ngamuk tadi, dan tebak, berhasil! Ternyata sapi tadi itu hanya kebelet mau buang air besar, tetapi malu untuk ‘poop’ di depan orang banyak, si Eed yang menyadari hal itu memberi topeng pada sapi itu, dan keluarlah segala kegundahan Sang Sapi.

Lalu setelah itu semua orang mengerumuniku, beberapa orang juga memberi selamat kepada si Sapi yang telah melewati kesulitannya. Herannya, si Eed sudah menghilang, tak ada di sampingku lagi.

“Bela, kau tak apa-apa? Untung saja sapi itu tidak jadi menyerudukmu ya?” tanya si Mike, terlihat khawatir.

“Tapi, tadi si Eed yang...”

“Iyah, rupanyah sapi ini teh cuma ingin B-A-B saja yah? Hihihi... Lucu juga!” potong si Ikah.

“Untunglah, kau masih bisa selamat!” ujar si Erik, bukan padaku melainkan pada si Sapi. Si Angela langsung menoyor kepalanya.

“Ngomong-ngomong, tak adakah yang melihat si Eed? Kan tadi dia yang menyelamatkanku!” akhirnya aku punya kesempatan bicara.

“Eed? Ada juga sapi ini eek... hehe... Nggak, Bel! Kita ga ngeliat dia kok, dari tadi hanya kamu dan sapi ini di sini...” jawab Mike, terlihat jujur.

Duh, apakah kepalaku terbentur sesuatu ya? Sehingga berhalusinasi si Eed sudah menyelamatkanku. Tapi tadi itu nyata! Itu pasti si Eed! Dengungannya, mulut seksinya, aku yakin tadi itu dia! Aku pun melirik ke arah gerbang sekolah, berusaha mencari-cari di mana gerangan sang penyelamatku itu. Tetapi dia memang tidak ada, bahkan keluarganya pun sudah tidak ada. Uh, pokoknya akan kuselidiki lagi nanti!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Keesokan harinya, aku datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Berniat untuk menunggu gerombolan si Pulen datang dengan mobil mereka, mobil Mitsubishi Colt, jenis mobil yang termasuk mewah di sini. Jelas sekali, aku harus meminta penjelasan tentang kejadian kemarin. Agar aku tidak disangka gila oleh orang yang tidak percaya dengan cerita Eed yang menyelamatkanku.

Ckiitt. Suara decit ban itu keluar dari mobil Colt keluarga Pulen. Rupanya mereka juga datang pagi sekali, ya jelaslah ya, kan masuk sekolahnya juga jam 7. Pasti semua juga dateng pagi-pagi. Langsung saja kudatangi mobil mereka. Namun betapa kagetnya diriku, karena yang keluar dari mobil itu banyak sekali. Ah, itu kan mobil angkot, pantes aja atuh yang keluarnya banyak.. Akhirnya aku pun harus menerima pandangan aneh dari orang-orang yang turun dari angkot tadi. Kutundukkan kepalaku untuk menghindari kontak mata dengan mereka, dan betapa bodohnya aku saat menyadari kalau baju yang kupakai masih baju kimono untuk tidur. Mungkin saking terburu-burunya datang ke sini kali ya. Duh, jadi malu! Kemaren, kaus kaki beda sebelah, sekarang salah baju, besok apa lagi? Huhu…

Ckiit... duar... glundung-glundung... dugg...

Nah, nah, bunyi apa pula itu sekarang? Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah suara tersebut. Dan mendapati mobil Colt yang terguling-guling dahulu sebelum terparkir sempurna. Hebatnya lagi, orang yang keluar dari mobil adalah keluarga Pulen. Rupanya cara mengenali kedatangan mereka seperti itu ya? Benar-benar unik, membuatku tambah suka kepada orang yang menyupirnya. Yap, supirnya si Eed pastinya. Ups, aku harus kembali ke misi semula. Kudatangi saja si Eed, kupegang tangannya yang, ngg, terasa dingin seperti ada angin yang meniup dari belakang.

“Eed, mengaku saja! Kau kan yang kemarin menyelamatkanku?” tanyaku langsung pada pokok masalah.

“Eh? Kapan? Kemarin, setelah bel sekolah, aku langsung pulang lho!” jawabnya.

“Tak mungkin, aku melihatmu di depan gerbang sebelum si Sapi itu menyerang. Dan saat berikutnya kau berada di depanku dan menghentikan serangan binatang tersebut!”

“Mana mungkin ada orang yang berlari secepat itu kan?”

“Ada, dan itu adalah kau! Itu juga pasti bukan berlari, melainkan terbang!” balasku lagi sambil mengutarakan teori bodohku.

“Bagaimana kau...”

“Benar kan?” potongku cepat. “Aku tahu kalau kau adalah... manusia nyamuk!”

“Haha, teori bodoh apa pula itu? Jadi, apa buktinya?” tanya Eed lagi, yang membuatku heran, dia itu bukannya takut identitasnya terbuka malahan terlihat senang.

“Satu. Gigimu itu lho! Pasti itu sengat yang digunakan untuk menghisap darah!”

“Lalu...” kata Eed masih tenang.

“Dua. Setiap kau dan keluargamu lewat, pasti terdengar suara dengungan! Aku tahu, itu suara bising yang biasanya keluar dari nyamuk-nyamuk nakal yang sukanya mencuri ketimun! Halah...” aku diam sebentar untuk menarik nafas, “Tiga. Cara jalanmu itu kalau diperhatikan, tidak menapak ke tanah. Kemarin pun terbukti, kau yang tadinya ada di gerbang bisa tiba-tiba ada di depanku. Itu pasti karena terbang, menggunakan sayapmu yang berisik itu, yang aku yakin ada di kedua ketiakmu! Buktinya, tanganmu selalu dingin, pasti karena selalu tertiup angin dari ketiakmu itu! Terakhir, waktu aku pertama kali duduk denganmu, kau pasti tertarik dengan bauku―bukan bau kotoran yang kuinjak itu―dan ingin segera menjauh, agar tidak membunuhku kan?”

Eed bertepuk tangan sambil tersenyum. Sedangkan keluarganya terlihat kuatir, kecuali Mamet dan Elis.

“Impulsif!” kata Eed (yang langsung dibisiki oleh Elis “Impresif, Ed!”) sambil tetap bertepuk tangan. “Yah, very impul, eh, impressive!”

“Jadi...?”

“Ya, semua teorimu itu benar adanya, Bela! Aku dan keluargaku memang manusia nyamuk... Tetapi kami hanya menghisap darah hewan kok, sumpa dee!”

“Eh, kau juga menghisap darah? Bukannya hanya nyamuk betina yang menghisap darah?” aku jadi kebingungan.

“Itu rumor! Kami, yang jantan, juga meminum darah kok,” jawabnya.

“Lalu, kau juga bisa keluar di siang hari, biasanya kan nyamuk keluarnya malam-malam...”

“Itu juga rumor. Ng, lagipula kami ini nyamuk Aedes Aegypti, yang memang suka terbang siang-siang juga... Yah, asalkan tidak terkena sinar matahari saja, kalau tidak identitas kami segera ketahuan oleh semua orang..”

“Oh, pantas saja kau memilih tempat ini, tempat yang sering hujan, sering berkabut pula, dan banyak hewan liar di hutannya.”

“Ya, Bela, kau benar lagi...”

“Trus... Memangnya apa yang terjadi kalau kau terkena sinar matahari? Matikah?”

“Bukan... err, nanti biar kutunjukkan saja ketika bel istirahat. Pada jam itu matahari pasti sudah cukup menyengat...”

“Oke...” kataku singkat.

-=-=-=--=-=-=-=-=-

Bel istirahat terasa sangat lama di saat aku sedang membutuhkannya. Membuatku berpikir untuk benar-benar memukul jidat Pak Guru yang lebar. Atau gigi Eed juga bisa berbunyi nyaring ya kalau kupukul? Aku tersenyum sambil melirik ke arah Eed yang balas tersenyum juga, memamerkan gigi tonggosnya.

Teng... Teng... Teng... Wow, akhirnya bel berbunyi juga. Tapi kok bunyinya beda dengan yang kemaren ya? Selidik punya selidik, ternyata mangkok yang sekarang dipakai untuk bunyiin bel kreditannya belum lunas tuh. Hihihi...

Set... Aku memandang Eed lagi, dia mengangguk. Kami pun segera keluar dari kelas, bahkan keluar sekolah. Eed memberi komando kepadaku agar aku naik ke punggungnya. Tadinya aku menolak, tapi tak apalah, kalau ada apa-apa kan bisa diberi nafas buatan oleh si Eed. Hup, aku meloncat ke punggungnya, dia pun segera melesat terbang di antara pepohonan di hutan yang berada di belakang sekolah. Entah kemana dia akan pergi membawaku, soalnya sisa perjalanan itu aku tertidur, abis enak sih anginnya adem, jadi bikin ngantuk.


“Bela, kita sudah sampai,” bisik Eed di telingaku, pelan-pelan kubuka mataku.

“Di mana kita?”

“Di atas pu’un paling tinggi di hutan ini, sehingga matahari bisa menerpa kulitku, dan tak akan ada orang yang melihat selain kita..”

“Oh, di atas pohon... APPPAH? DI ATAS POHON!! POHON APA?!” aku berteriak-teriak panik.

“Aduh, maaf. Kau takut ketinggian ya?” tanya Eed begitu perhatian.

“Bukan, bukan begitu. Aku alergi dengan pohon toge, nanti aku bisa gatal-gatal!”

“Ya ampun, pohon toge mana ada yang bisa dinaekin, Say?” kata Eed masih sabar.

“Hehe, iya juga ya... Ya map...” kataku sambil memeletkan lidah padanya. “Udah atuh mana janjimu?”

Eed mengangguk pelan. Kemudian membuka jaketnya, kemudian membuka kancing kemejanya. Apa dia mau nari striptis? Tentu saja bukan, karena ketika sinar matahari menerpa lengan dan dadanya, warna kulitnya menjadi belang-belang hitam-putih. Pantas saja Eed tidak mau terkena sinar matahari.

“Nah, sekarang kau sadar kan mengapa aku menghindari tempat yang sering disorot sinar matahari?”

Aku mengangguk, lalu menjawab, “Iya. Tentu kau tak ingin disebut oleh orang-orang sebagai pria berhidung belang.. Tapi aku yakin kau bukan pria seperti itu!”

“Hahaha... Bela... Bela... Aku ini nyamuk Aedes, ingat? Dan nyamuk itu memang belang-belang hitam-putih kalau kau lupa. Tapi terima kasih sudah membelaku,” ucap Eed langsung mengecup dahiku. “Ah, maaf. Seharusnya tidak boleh begini. Aku tidak boleh mencintaimu...”

“Kenapa? Apa karena kau mengetahui kalau bulu ketiakku ini belum dicukur?”

Duh, bodoh! Kenapa aku bertanya hal sebodoh itu. Terang saja Eed langsung tertawa terbahak-bahak.

“Haha, kau ini lucu Bela! Tentu saja bukan karena itu, aku...” Eed diam sebentar, mencoba mingkem untuk membasahi giginya yang kering. “Aku takut, diriku tergoda untuk meminum darahmu. Euh, apalagi ketika kau menungging, rasanya ingin segera kusedot saja darahmu itu! Apa kau takut, Bela?”

“Harusnya sih aku takut, tapi tidak, aku malah bersyukur jika kau melakukan itu...” jawabku, dengan nada sedikit bergetar.

“Kenapa? Atau kau mau aku menyedot darahmu sekarang juga?”

Tiba-tiba, mulut Eed sudah berada di dekat leherku.

“Aku tak takut kau menghisap di bagian pantatku, karena memang aku sedang bisulan (mungkin karma karena sebelumnya aku menyinggung orang bisulan... hiks). Makanya kubilang aku akan bersyukur kalau kau menghisapnya!”

GUBRAK... Gosrak. Tuing... Jelegur!! Eed terjatuh saking kagetnya mendengar jawabanku. Aku langsung melongokkan kepalaku ke bawah untuk melihat bagaimana keadaannya. Kemudian aku bernafas lega saat mendengar suara tawa dari bawah semak-semak.

“HAHAHA... Ya ampun, Bela! Baru pertama kali ini aku menemukan wanita lucu sepertimu, tadinya aku ingin kau menjauhiku. Tapi setelah ini aku ingin agar kita selalu bersama deh!” ucap Eed yang ternyata sudah berada di sampingku lagi. Akupun tersenyum lega mendengarnya. “Kau mau jadi kekasihku kan, Bel?”

Wajahku memerah lagi. Mungkin kalau disandingkan dengan golek si Cepot bakalan bisa menyaingi warna mukanya. Eh, tapi tadi aku langsung dapat email dari si Cepot, katanya dia ga mau mukanya disama-samain dengan mukaku. Bisa ngerusak imej katanya. Emang mukaku seancur itu apa? (backsound: Emang!)

“Tentu saja, Eed... Aku mau,” kataku malu-malu.

Eed langsung tersenyum ke arahku. Mencium dahiku lagi (kali ini meninggalkan bekas berbentuk gigi), kemudian memelukku.

“Ok, kalau begitu, kita kembali ke sekolah yuk...” ajak Eed.

Hup. Aku menaiki punggung Eed lagi. Senang karena semua misteri terungkap. Senang karena Eed menembakku. Dan tentunya senang karena aku bisa bepergian dengan Eed terus. Tanganku memeluk Eed lebih erat. Bahkan kalau boleh, aku tak ingin melepasnya barang sedetikpun. Pokoknya, Eed, ai lap yu so mat!

―――

Beta-note: Arrrgghh... Kau merusak Imej Edward Cullenku yang sempurna, TIDAAAAAAKKK...!! *lempar puluhan shuriken ke arah author nista dengan mata berapi-api*

NB : Thanks yah buat Lily Suan yang rela jadi beta readernya.
*kaboer dari fans tualait*

Tuesday, March 17, 2009

Liburan kemaren (tanggal 7-9 Maret), gw jalan-jalan ke Bandung. Ngg, alesannya sih nganterin adek yang lagi mo ngadain baksos di sana. Ya udah, gw sih mau-mau aja nganterin, lagian di sana sekalian bisa temu fans gw yang emang ada di Bandung. Eh, tapi postingan ini bukan mau nyeritain jumpa fans itu kok. Tapi mau bahas beberapa pengetahuan gw tentang perjalanan ke Bandung ini. Soalnya bisa dibilang ini perjalanan perdana gw sendiri yang paling jauh. Jahaha..

Inilah beberapa pengetahuan yang gw peroleh selama perjalanan atau liburan ke sana:

1. Perjalanan Bogor-Bandung naek bis via Sukabumi memakan waktu kurang lebih 8 jam. Mungkin saat itu gw emang kurang beruntung, coz liburan panjang pastinya bikin beberapa ruas jalan macet kan? Mungkin kalau hari biasa mah cepet kali yah. Oh hu uh, faktor supir juga cukup ngaruh. Soalnya kata penumpang laen, biasanya kalau supir jago bisa lebih cepet lho!


2. Tiket Bis Ekonomi (yang katanya AC) adalah 25rebu. Aduh, beneran dah, ngomongnya AC tapi tetep we pake AG (angin gelebug) alias kudu buka jendela biar adem.

3. Ternyata penumpang bis yang ga dikenal banyak yang extrovert uy. Yah, intinya mereka tuh doyan ngajak ngobrol ke kita. Cerita tentang ini-itu, padahal ama gw dikomennya cuma pendek-pendek kayak 'iya', 'sumuhun', 'hu uh', 'trims dah fans', dan komen pendek lainnya. Oh iya, sekalian ngucapin maap ya yang jadi penumpang sebangku gw waktu ntu, sering gw diemin. Hihihi.. *ditakol*

4. Angkot di Bandung warna-warni uy! Beda banget ama di Bogor. Di sini mah cuman 2 warna Biru ama Ijo doang. Tapi untuk angkot kota warna-warni bagian bawahnya aja sih. Nah, di Bandung mah ada yang ijo, merah, putih, biru, dll. Bisa nguntungin sih, walaupun jadi kurang seragam. Soalnya takutnya ntar ada mobil orang warna merah atau lain juga disangka angkot lagih. heuheu..

5. Kalau mau berangkat ke suatu tempat, misal waktu itu gw ke Bonbin, butuh angkot A, sedangkan pulangnya kudu Angkot B. Jadi berangkat ama pulang kudu beda angkot. Tapi ga semua tempat gitu kali ya. :P

6. Nyambung ke nomor 5, jadi rute angkotnya tuh muter-muter. Padahal bisa lewat jalan lurus, tapi malah muter dulu. Huhuuu.. Makanya berangkat ama pulang kemungkinan kudu beda angkot.

7. Wah, binatang di Kebon Binatang Bandung pada kerempeng yah? Kandang-kandangnya juga kecil. Jadi kesian ama sodara-sodara kita ituh.. *backsound: Kita? Lo aja kali ama Monkey!*

8. Jadi ITB tuh itu ya.. << komen ga penting..

9. Angkot di Bandung kalo abis jam 9++ sepi ya? Kemaren teh untung dianterin salah satu fans ke tempat yang rame angkotnya. Atau mungkin gw kurang sabar nunggu aja kali ya? Jahaha..

10. Hoo.. UPI ama Darut Tauhid tuh ini ya.. << tetep ga penting..

11. Gw baru tahu nama lain Stasiun Bandung adalah Stasiun Holland. Komen gw: Ketahuan banget bekas dijajah Belanda-nya. Jahahaha... *digebugin warga Bandung*

12. Tiket Kereta Parahyangan Bisnis Bandung-Gambir Rp 25rebu lho! Tapi kemaren ga dapet duduk, tiket duduknya dah abis dipesen orang. Huks.. Huks.. *meper ingus ke penjaga loket*

13. Di dalem kereta Parahyangan ternyata masih ada penjualnya. Sama kayak kereta Ekonomi Jabodetabek donx! Tapi bedanya pakaian mereka rapi dan harganya mahal! Masa nasgor seuprit harganya 15k (bersyukur ga jadi beli). Eh, terus ada penyewaan busa juga ya, jadi yang ga dapet tempat duduk bisa duduk di busa itu. Tapi berhubung gw clever (baca: pelit ga mau bayar mahal) jadi mendingan beli koran aja 1000 perak, jadi alas buat tempat duduk dah. Hohohoho.. Btw, kocak uy liat pedagang korannya! Jahaha..

14. Perjalanan Bandung-Gambir, berangkat Pukul 8:45 sampai pukul 11:55 jadi berapa jam tuh? Ya, sekitar 3 jam lebih lha ya.. Lebih cepet dari naek bis ternyata. Kalau tau dari kemaren mah berangkatnya pake ini jugak. Tapi tunggu dulu, perjalanan belum selese, kita kudu naek kereta dari Gambir ke Bogor yang makan waktu sekitar 1 jam lebih. Jadi total perjalanannya 4-5 jam-an kali ya..

15. Kereta Parahyangan ga berenti di stasiun Manggarai! *nangis darah* Padahal dah nunggu-nunggu biar turun di Manggarai. Soalnya kan kalau turun di situ, jadi bisa langsung nerusin naek kereta Ekonomi. Kalau di Gambir mah kudu naek kereta Ekspres pakuan dah.. Atau kalau mau naek Eko jalan dulu ke stasiun Juanda. Hihihi..


Okelah, itu ajah mungkin beberapa pengetahuan dari liburan gw ke Bandung. Ternyata banyaknya komen udik gw ya. Jahaha.. Biarin ah, udik itu adalah sebagian dari Iman << Hadits ngarang, jangan dipercaya. Kalau ada duit, mungkin laen kali jalan-jalan lagi dah ke sana.. Atau anak Bandung ada yang mau bayarin ongkos gw? Hohoho.. *ngarep no jutsu*

Monday, February 16, 2009

Kejuuuu... (Cheese, maksudnya.. halah)

Nah, sering denger kata-kata yang jadi judul postingan ini kan? Yo ih, kata-kata ntu tuh biasa dipake kalo kita (atau gw yang model ini) foto-foto. Jadi biar lebih gampang senyum, ya, ucapin kata-kata itu tuh. Asal jangan bener-bener ngucapin kata 'Kejuuu..' yang ada mulut itu bukannya senyum, tapi malah monyong. Wekeke..

So, kenapa sih orang keren ini nulis judul itu? Ya jelaslah, coz di kalangan para fans semua *pada muntah*, gw terkenal sebagai orang yang murah senyum, kan? (bukaan..! halah). Jadi, sekarang gw mau bikin sejenis penelitian tentang sifat-sifat orang dari senyum yang dipamerkan, kepada orang atau alam sekitarnya.

Ok, tanpa banyak cingcong, lets get started:


- Senyum ketika bertemu teman: Orang ramah.
- Senyum ketika ketemu tiang listrik: Orang gila.
- Senyum pas udah ngelahirin: Orang Bahagia.
- Senyum pas ngeden lagi boker: Orang yang lebih bahagia dari yang di atas.
- Senyum ke orang ya ga kenal: Orang SKSD.
- Senyum pas ngaca: Orang narsis.
- Senyum liat cewek: Orang mesum.
- Senyum pas ditolak cewek: Orang stress.
- Senyum pas nolak cewek: Orang yang mencurigakan.
- Senyum pas ketemu fans: Orang Baik << gw banget..
- Senyum ke orang tua: Pasti dia lagi ada maksud (ada udang di balik semuah.. halah).
- Senyum abis kentut: Orang innocent.
- Senyum abis dipuji: Orang Bangga.
- Senyum Sambil liat monitor: Orang tukang chatting.
- Senyum setelah garuk-garuk: Orang kutuan - seneng dapet kutu.
- Senyum pas dipukul: Orang Kebal - Geli-geli gitu bagi dia mah.
- Senyum pas difoto: Jelas banget ini mah, model kayak gw.
- Senyum liat orang lain sial: Orang tegaan.
- Senyum sambil bengong: Orang tukang ngekhayal.
- Senyum pas makanan dateng: Orang lagi laper.
- Senyum ketika dikasi uang: Orang matre.
- Senyum lagi kesusahan: Orang sabar.
- Senyum walaupun gigi ompong: Orang Pede.
- dll.

Itu tuh sebagian hasil dari penelitian gw yang gak penting soal senyum yang dilakukan pada saat-saat tertentu. Ayo, kalian termasuk yang mana aja? Kayaknya semuanya yah? Wakaka...

"Senyum adalah ibadah."

Wednesday, December 31, 2008

Met tahun baru yak...

~INTRO mode: On~
Bulan ini merupakan bulan paling sibuk uy. Gimana nggak? Gw yang seleb dan banyak yang ngefans ini setiap minggu selalu ada acara mulu. Minggu pertama, acara temu kangen ama anak-anak Bogorgakure dari forum IAF. Minggu kedua, bintang tamu di acara Ulang tahun IH. Minggu ketiga, jumpa fans -anak-anak Gryffindor dari forum HPI. Terakhir, gw diculik ama anak-anak IH lagi, rupanya mereka belum puas buat ngewawancara gw kayaknya. Hahaha.. *yang baca pada muntah*

Yah, begitulah. Apapun buat fans bakalan gw lakuin deh.. Mau minta gw untuk peluk Dian Sastro, gw terima dengan senang hati. Mau nyuruh gw cium Sandra Dewi, bakalan gw laksanain langsung. Asal jangan suruh gw untuk medi-pedi jempol gw sendiri ajah, ga akan sanggup. Halah-halah..

Btw, sekarang kan tanggal 31 Des ya? Weks, hari terakhir di tahun 2008 donx. Pantes aja, fans semua pada pengen ngabisin waktu ama gw mulu..
*tiba-tiba semua pada ngejauhin*
*ngais-ngais tanah yang ada eek kucingnya*
~INTRO mode: Off~

Hmm, ya sudah.. Di postingan sekarang gw kasih tips untuk ngerayain tahun baruan biar lebih meriah deh.. Nih, tipsnya:

1. Belilah terompet pada tempatnya. Yap, gw saranin kalian beli terompet di tukang terompet yah. Jangan beli di tukang sayur. Nanti yang ada bukannya dikasih terompet, malah dikasih terong-pet. halah.. Trus, pas beli terompet juga.. Kalo bisa mah pilih terompet yang tahan lama. Jadi, ntar tuh terompetnya pas udah selese acara taon baruan, bisa kita simpen dan bakal kita pake lagi buat taon baruan tahun depannya lagi deh. Malah, kalo lo bakat jadi pedagang, lo bisa jual lagi tuh terompet pas tahun baruan ntar juga. Beuh, very clever idea kan? Eh iya, kalau kalian beneran mo ngelakuin itu, jangan lupa untuk menghapus sidik jigong yang tersisa di ujung terompet tempat kita niup yah..

Ngg, tips tambahan deh. Seandainya kita ga sanggup beli terompet yang tiba-tiba mahal harganya pas tahun baru, mendingan kita beli peluit aja. Lumayan kan tuh udah murah, kita bisa ngelaksanain side job juga jadi tukang parkir.. Hehehe..

2. Belilah ketupat sebagai bekal. Tuh, bukan lebaran doanx yang kudu nyiapin ketupat. Taun baruan pun kita butuh beli makanan ntu. Kenapa? Soalnya kita tahun baruan itu bakal begadang kan? Nah, kalo begadang malem-malem pasti kita laper. So, dengan adanya ketupat kita bisa ngeganjel rasa laper kita gitu lho. Apalagi kalau misalnya ketupat itu kita makan dengan berbagai petasan khas tahun baru. Dijamin lebih enak daripada ketupat lebaran yang cuma dimakan ama opor ayam doanx deh. Coba aja dah.. Nantikan sensasi enaknya saat kita boker.. Soalnya pas itunya keluar, bakalan ada efek kembang api yang lebih meriah daripada petasan pada umumnya.

3. Rayakan dengan orang-orang terdekat. Ngg, maksud dari orang-orang terdekat tuh, bukan orang yang kita kenal atau apalah gitu. Tapi orang-orang yang ada di deket kita, malah kalau kita ga kenal lebih bagus. Soalnya, kan misal pas lagi rame-rame, kita deket-deketin dia, trus pas acara kembang api misalnya, semua mata kan tertuju ke atas, pas itulah kita bisa pura-pura takjub atau takut terus ngedeket ma orang tadi. Kita grepe-grepe deh tasnya atau kantong celananya. Kan enak tuh, minimal dapet dompet.. Oh iya ada yang lupa, kalau bisa pas ngelakuin itu buat wajah kita semencurigakan mungkin. Wih, dijamin abis itu tahun baruan kita bakal lebih heboh. Soalnya kita kan pasti ketahuan orang dan abis itu langsung dikejer-kejer ma rakyat sekampung.. Gimana ga heboh coba? *kaboer dari yang baca*

4. Jangan keluar rumah deh pas tahun baruan. Yang ini sih ga usah gw kasih alesan ya? Soalnya kan udah jelas tuh dari poin nomor tiga, kalau kita sekarang ini lagi jadi buronan. So, mendingan diem di rumah dan rasakan ketegangannya. *kaboer lebih jaoeh*

5. Jangan lupa pake aksesoris yang keren-keren. Well, yang gw maksud di sini tuh, aksesoris kayak Wig atau rambut palsu. Kita bisa pake warna sesuai selera. Kalau perlu pake deh tuh kembang goyang kayak ondel-ondel, yang buat kita jadi kembang api.. Yang pasti bakalan buat orang laen ga kenal kita deh. Jadi sebenernya tips ini untuk mencegah tips nomor 4 yang ga boleh keluar rumah karena kita jadi buronan gitu lho. Hihihi.. *Pembaca mendesah: "Jaah, masih nyambung ma nomor sebelumnya tho!"*


Ah, kayaknya tipsnya mulai ngaco, pemirsa! Jadi, gw sudahi saja tips kali ini. Dan untuk yang mau coba tips di atas, resiko tanggung sendiri yah. Penulis mah ga mau disalahin gara-gara kalian ngelakuinnya setelah baca di sini.
*tiba-tiba kantong celana kayak ada yang bergerak-gerak*
*lirik ke belakang*
HUAAA... ternyata udah ada yang nyobain tips nomor 3!!
COPEEEETTTT!!
*ditereakin: "SYUKUUUUR!!"*