Saturday, May 18, 2019

Cerpen: Keluh Kesah

#cerpen

Keluh Kesah

“Ih, sebel banget sih!” ujar temanku saat dia masuk ke tempat peristirahatan kami.

“Kenapa?” tanyaku singkat.

“Ya itu, si bos!” gerutunya. “Ini udah ketiga kalinya dia make gua tau ga! Udah kayak minum obat aja. Mana ga pake info-info dulu lagi, maen narik gua, terus keluar masukin gitu deh..”

“Eit, tunggu-tunggu, too much information banget nih, stop di situ..” cegahku menghentikan ocehannya. “Tapi kan, bukannya kita memang dibayar untuk itu? Harusnya ga usah ngeluh dong?”

Matanya langsung mendelik.

“Iya, kita dibayar. Dan gua juga profesional dong, selalu siap layanin dia. Tapi ga sampe kayak gini juga lah. Kasar banget tau ga! Liat nih, rambut gua aja ampe berantakan ga keruan kayak gini. Duh, susah ini mah rapihinnya lagi!”

Bibirku menyunggingkan senyum melihat penampakannya.

“Yee, malah ngetawain..” sungutnya lagi. “Pokoknya gua nyesel udah ngambil kerjaan ini. Jijik banget deh. Apalagi tiap bersentuhan dengan bibirnya yang seringkali masih bau itu. Terus kecium banget setiap kita beradu, dia tuh emang ga pernah mandi dulu kayaknya! Ngeselin kan?”

“Yah, padahal cuma gitu doang atuh, sob. Masa udah ngeluh?”

“Gitu doang gimana? Elo mah enak jarang dipake. Mana ngerti keadaan gua sih!”

Mendengar jawabannya itu aku terkekeh, “Yakin? Terus lo mau jadi gua?”

Pandangan matanya menelisik setiap jengkal tubuhku, kemudian dia pun berkata, “Hmm, enggak deh.”

Yeah, sudah kuduga jawabannya akan seperti itu. Apalagi setelah dia melihat keadaanku yang carut marut meskipun jarang dipake.

“Terus.. Elo masih mau ngeluh ama pekerjaan lo, Sigi?”

“Hehe.. Ampun.. Kayaknya gua salah curhat ke elo ya. Soalnya pekerjaan lo emang lebih parah dari gua kayaknya..” sesalnya.

“Ya iyalah, gua mah sekali dipake udah bukan keluar masuk lewat depan lagi. Tapi lewat bawah, harus nyiumin lubang bawahnya pula. Iya kalo pas sekitar situnya bersih, lah ini seringnya masih ada sisa-sisa si ‘kuning’ yang nempel. Huek!”

Temanku hanya terdiam.

“Makanya seberat apapun kerjaan lo, harusnya lo bisa bersyukur, karena bakal ada yang pekerjaannya lebih ngenes lagi..”

“Iya juga ya.. Gua mah cuma sikat gigi, sedangkan elo sikat WC. Huft.. Oke dah, gua bakalan lebih nerima kerjaan gua dan bakal semangat lagi.”

“Nah, gitu dong.. Itu baru Sigi yang gua kenal..” setelah aku berkata seperti itu, pintu kamar terbuka, aku pun berbisik kepada Sigi.. “Sst, tuh si Bos kayaknya dateng lagi mau make lo, kayaknya dia lagi sakit gigi ya jadi rajin nyikatnya.. Cemungudh eea, pleen! Hehehe..”

Sekian


NB: Hanya cerpen iseng. Pis ah! Wekekeke

Tuesday, February 12, 2019

Cerpen: Tanggung

Genre: Komedi, Dewasa

Tanggung

Suara gemerisik kakiku terdengar saat aku melewati rumput di sebuah lapangan dalam perjalanan pulang setelah aku mencari makan. Yeah, perutku sangat kenyang sekali sekarang. Lumayan lah, tadi aku sudah dikasih makan gratis oleh seseorang yang ada di restoran itu. Meskipun akhirnya aku harus rela beberapa bagian tubuhku dipegang dan dielus-elus olehnya. Segampang dan semurahan itukah diriku, hanya demi makanan gratis? Ah, lagian baru digerayangi seperti itu sih, belum termasuk jual diri kan? Lagipula aku juga menikmati sensasi sentuhannya. Hmm, semoga saja aku bisa bertemu dengannya di lain waktu saat aku datang lagi ke tempat itu.

Ngomong-ngomong soal perut kenyang, tiba-tiba aku pun jadi teringat dengan nasib anak-anakku, si kembar tiga. Apa mereka sudah makan juga ya? Maafkan ibu kalian ini, karena telah menelantarkan kalian begitu saja. Bukannya aku tidak sayang kepada kalian, untuk mengurus diri sendiri saja susah begini, apalagi harus ketambahan mengurus kalian. Tapi aku yakin kalian baik-baik saja sekarang, karena aku membuang kalian di depan rumah besar itu. Aku tahu penghuni rumah itu hanya tinggal sendiri, jadi pasti dia akan menerima kalian dengan baik.

Euh, tiba-tiba saja aku berjalan sempoyongan, mataku pun tiba-tiba gelap, dan kepalaku juga terasa pusing. Seperti yang kuduga, memori soal tragedi pemerkosaan di malam itu bangkit lagi. Beginilah, setiap kali aku teringat dengan anak-anakku, aku juga akan ingat tragedi itu. Masalahnya ayah mereka-yang entah siapa- itulah pelaku pemerkosaku. Dan setiap kali aku mencoba mengingat rupanya, pasti badanku tiba-tiba lemah seperti ini. Karena otakku sepertinya jadi berpikir keras untuk membangkitkan memorinya. Tapi sayang, saat itu sangat gelap, sehingga yang kuingat darinya hanya bau tubuhnya dan betapa beringasnya dia saat menyetubuhiku (harus kuakui, aku sedikit menikmatinya).

Ish, sudah ah. Ngapain juga kubangkitkan lagi ingatan itu. Mendingan sekarang aku harus segera kembali ke peraduanku sebelum gelap tiba. Entah ini hanya perasaanku saja, tapi kenapa aku merasa suasana perkampungan terasa sangat sepi ya saat ini, padahal matahari sore masih belum terbenam.

Suasana dingin tiba-tiba hinggap di tubuhku, aku pun langsung mempercepat langkahku. Degup jantungku terasa makin berpacu. Ada apa ini? Feeling-ku mulai berasa tak enak dan mendeteksi akan ada bahaya. Semoga sih tidak ada kejadian apa-apa, tapi tahu sendiri kan, feeling wanita biasanya selalu benar.

Sresek.. Sresek.. 

Telingaku menangkap suara dari arah belakang. Apa ada yang mengikutiku? Kutengokkan kepalaku ke arah suara itu, tidak ada siapa-siapa. Ya sudahlah jalan lagi saja. Eh tapi, siapa itu yang ada di depan?

“Mau kemana sih, buru-buru amat?” ucap cowok yang mencegatku.

“Minggir! Mau apa kau?” bentakku, mencoba memberanikan diri.

Namun bukannya takut, dia malah mendekat dan berkata, “Sudah lupa?”

DEG. Bau tubuh ini! Di-dia, jangan-jangan...

Aku pun langsung menghindar ketika dia mulai ada gelagat akan menyergapku. Setelah itu aku berlari sekuat tenaga melewati perkebunan hingga akhirnya aku sampai di pemukiman padat.

“TOLOONG!” teriakku, tapi sepertinya tak ada yang datang. “Tolong, ada yang mau memerkosaku!! To..”

Teriakanku tiba-tiba terpotong. Ternyata dia berhasil menangkapku. “Hey, jadi kau masih ingat ya? Terus kenapa mesti teriak minta tolong? Perasaan waktu itu kau diam saja, pasti genjotanku nikmat kan? Ga ketagihan?”

Uh, dasar pejantan mesum, pikirku. Kukerahkan tenaga terakhirku untuk bisa lepas dari cengkramannya, dan berhasil. Aku kembali berlari, melewati gang-gang sempit yang ada. Mudah-mudahan dia kesasar dan tidak menemukanku.

Ups, aku salah. Ternyata malah aku yang kesasar. Aku terjebak di gang buntu yang diapit oleh dua rumah kecil. Saat aku berbalik, ternyata dia sudah ada di mulut gang. Wajahnya menyeringai, sepertinya tahu kalau mangsanya sudah tak berdaya.

Dia pun langsung menerkamku dengan sekuat tenaga. Aku terjatuh. Setelah itu tubuhku diposisikan tengkurap olehnya, lalu dia cengkeram bagian pundakku, agar aku tidak memberontak. Tapi bagaimana bisa melawan, gerak sedikit saja, cakarnya terasa menggoresku, saking kuat tenaga genggamannya. Kemudian dia singkap apapun yang menghalangi lubang miss v-ku. Dan akhirnya dia tusukkan kemaluannya dari belakang. Kurasakan penisnya yang kecil namun keras itu masuk ke   dalam tubuhku.

“Oh.. Ah..” napasku mulai menderu. “To.. long.. Hen.. tikan!” Kata-kataku terpotong di setiap genjotannya.

Tapi dia tak peduli, bahkan dia malah jadi lebih beringas. “Yakin? Paling awalnya saja kau berontak, setelah itu pasti kau menikmati, seperti waktu dulu..”

“Ah.. Oh.. Pelan-pelan... Dong! Ah.. Enak..”

“Tuh kan. Haha! Sudah jangan berisik, nanti ada yang dengar!”

“Abisan.. Enak.. Mas.. Ouh..”

Kurasakan gerakan maju mundurnya semakin cepat. Tubuhku pun jadi menggelinjang dibuatnya. Merasakan tubuhku bergerak, dia pun menggigit leherku dengan manja, agar aku kembali diam. Hmm, gigitannya bikin geli tapi nikmat..

“Ah... Ah.. Ah...” Kali ini napasnya yang menderu, sepertinya dia akan orgasme.

Tapi sebelum dia keluarkan cairan kehidupannya, tiba-tiba saja dari dalam rumah di sebelah gang, ada air menyembur keluar dari jendelanya. Kami yang masih dalam posisi indehoy tak bisa menghindar, sehingga  tubuh kami pun jadi kebasahan. 

“WOY, KUCING-KUCING SIALAN.. KALO KAWIN JANGAN SEBELAH RUMAH GUE! SANA GIH DI KEBON, BERISIK AJE! UDAH SANE MINGGAT, GUE SEBLOK AIR LAGI NIH!”

Huft, dasar manusia bedebah! Mengganggu kenikmatan kami saja. Akhirnya terpaksa kami sudahi perkimpoian ini. Padahal kan lagi tanggung! Dengan perasaan kesal, aku pun melenggang keluar dari gang itu, meninggalkan si pejantan  yang sepertinya masih syok dan pusing karena si dedeknya tidak jadi muntah. Yang penting sekarang aku sudah tahu penampakannya, ternyata dia memang mirip anakku, yang kebanyakan berwarna belang putih dan kuning. Lain kali kita lakukan sampai selesai ya, mas!

Tamat

NB: Semoga ga pada illfeel ya pas tahu siapa sebenernya si sudut pandang pertama. Peace ah! Hehe..

855 kata

Monday, January 14, 2019

Fanfic: Keluarga Pinus (Cerita Parodi dari Film Keluarga Cemara)

Keluarga Pinus

Genre : Komedi, Parodi, Keluarga
Jumlah kata: 1.900 kata

Keluarga Pinus:
Harta Yang Paling Berharga adalah Keluarga

“Abah bakal datang ke acara lomba tari alay, eh, cheerleadernya Endang kok!”

“Bener, ya, Bah! Janji?”

“Iya, Abah janji..”

Begitulah dialog yang sebenernya udah bosen Endang denger dari mulut Abah yang selalu janji mau dateng ke acara penting anak-anaknya. Tapi apa daya, Abah yang sekarang lagi mengurus perusahaan yang dirintisnya bareng kakak dari Emak selalu saja sibuk. Ketebak deh endingnya, dia malah ga bisa dateng ke acara tersebut. Udah kayak caleg aja ya? Janji aja dulu, ngewujudin mah urusan belakangan. Padahal kan sekarang tuh Endang-yang merupakan putri pertama Abah dan Emak- sedang dalam usia remaja. Jadi wajar aja kalau dia tuh butuh perhatian banget dari kedua orang tuanya. Lagian kan kalau Abah bisa dateng, lumayan beseknya nambah satu *emak mode: on*.

Hari-H Lomba

“Teh Endaaaang! Yuhuuuu..” teriak sang adik yang terpaut lima tahun dari Endang, Pipin, dari bangku penonton. “Teh Endang kereeeeen!”

Endang yang lagi nampilin tarian cheerleader ‘lalalayeyeye-kucek-kucek-jemur-jemur’ pun nengok ke arah sumber suara. Dia tersenyum ke arah Pipin serta Emak yang ada di sebelahnya. Kemudian matanya mencari-cari sosok Abahnya. Huft, Abah jahat! Kenapa ga dateng sih? Padahal Endang kan udah ngincer kue sus yang ada di beseknya, batin Endang.

-=-=-=-=-=-

“Yak, saatnya pengumuman.. Juara pertama untuk lomba tarian alay, eh maaf, tarian Cheerleader adalah..... TIM DAHSYAT!” seru Mamang Emsi di atas panggung. “Silakan maju dan terima hadiahnya untuk pemenang..”

“Horeee, teteh menang!” seru Pipin langsung meluk kakaknya. “Cepet, teh, naik ke panggung..”

“Hiks, iya, makasih ya, Pin..” ucap Endang, sambil terisak saking senangnya bisa menangin lomba, plus saking sedihnya liat Pipin begitu nikmatin kue sus dari beseknya. Soalnya besek untuk peserta lomba mah isinya beda, ga ada kue susnya.

“Teteh, tunggu!” panggil Emak, saat Endang mau naik ke atas panggung.

Oh iya, tadi kan Endang belum meluk Emak ya, pikir Endang.

Tapi sesaat sebelum Endang memeluknya, Emak malah ngomong, “Ish, masa mau naik ke panggung malah mau buka sepatu, untung keburu Emak panggil, ga usah atuh, emangnya mau masuk ke Masjid?”

“Eh iya, Mak, maaf kebiasaan. Saking senengnya jadi rada telmi (telat mikir) nih! Hehe..” Balas Endang malu-malu.

“Ya udah, sana naik..” kata Emak lagi. “Terus nih, kue sus emak.. Emak mah tau, Endang teh ngincer ini dari tadi, harusnya sih emang jatah Abah yang diambil. Jadi Emak wakilin aja deh ya. Moga di lain waktu Abah bisa dateng..”

Endang mengangguk, matanya berkaca-kaca, “Makasih, Emak!”

-=-=-=-=-=-=-=-=-

Beberapa hari setelah acara lomba, Endang masih males untuk ngobrol sama Abah. Meskipun dia sadar bahwa Abahnya ga bisa dateng ya untuk cari uang demi keluarga. Tapi atuhlah, janji mana lagi yang bakalan Abah dustakan. Mikir itu bikin hati Endang makin sedih pokoknya. Hingga suatu pagi, Abah berkesempatan untuk nganterin Endang dan Pipin ke sekolah, naik mobil pribadinya.

“Dang, besok teh Endang ulang tahun yang ke-14 ya?” tanya Abah memulai pembicaraan.

“Iya, Bah,” jawab Endang singkat, ceritanya masih ngambek.

“Asyiik, mau dirayain gede-gedean ya?” tebak Pipin, bikin tetehnya ge-er sampai perasaan ngambeknya rada mencair.

“Enggak kok, sederhana aja..” kilah Abah (terdengar Endang melenguh, kecewa). “Besok Abah suruh Emak buat bikin nasi kuning buat disebar ke tetangga. Terus kita rayain berempat sambil potong kue ulang tahun ya..”

“Wah segitu mah udah uyuhan (lumayan) atuh, Bah!” timpal Pipin.

“Tapi, emangnya Abah ga sibuk?” kali ini Endang yang bertanya.

“Enggak kok, Abah janji bakal datang!”

Tuh kan, janji lagi, janji lagi.. batin Endang.

-=-=-=-=-=-=-=-

Keesokan harinya..

“Teteh, selamat ulang tahun yah..” ucap Emak kepada Endang. Endang pun mencium tangan dan pipi Emaknya.

“Teh Endang, hepi bersdei..” sekarang Pipin yang ngucapin, rada maksa sok enggres gitu.

“Iya, Pin! Nuhun..” Endang berterima kasih. “Betewe, Mak, Abah mana? Katanya janji bakalan rayain ultah Endang berempat?”

Emak terhenyak, ketika akhirnya dia harus menghadapi pertanyaan itu. Mulutnya berkedut, seakan ragu mau ngucapin sesuatu. Sampai akhirnya dia pun bersuara, “Kayaknya Abah ga akan bisa nemenin kita. Mungkin ada urusan mendadak.”

“Tapi, mak.. Abah kan udah janji..”

“Iya, Pipin juga denger pas Abah ngomong janjinya!”

“He eh, kenapa atuh Mak? Kenapa ampe ga bisa dateng? Tadi Abah nge-WA katanya OTW, terus OTW kemana atuh itu?”  cerocos Endang sambil menangis, dia ga bisa ngebendung kemarahannya lagi.

“Ih, teteh jangan nangis atuh. Pipin kan jadi ikut sedih juga..” Pipin ikut-ikutan nangis. “Kalo gini mah, Pipin ga mau jadi orang dewasa ah. Kerjaannya bohongin terus sih. Terus kemaren juga Pipin liat teh Endang disuruh-suruh ke warung melulu. Keenakan pisan atuh ya orang dewasa teh. Eh, tapi kalo dipikir-pikir Pipin malah jadi kepingin dewasa atuh bisa nyuruh-nyuruh orang lain.”

Tadinya Emak mau ketawa begitu ngedenger kepolosan Pipin, tapi ga enak sama tetehnya yang lagi nangis betulan.

“Sabar atuh, teh.. Emak juga ga tau sih kenapa Abah sampe belum dateng. Tapi Emak yakin, pasti ada alesannya..” Emak mencoba nenangin Endang. “Tapi sebelumnya Emak juga udah nge-WA dan jawabannya pun OTW. Kemana atuh ya si Abah?”

“Jangan-jangan...”

“Jangan-jangan apa, Pin?” Emak penasaran.

“OTW-nya berarti ‘Ok, tungguan we’ (Ok, tungguin aja)!”

“Hadeuuuh,” lagi-lagi Emak hanya bisa geleng-geleng kepala ngedenger kepolosan si Pipin, sambil tetap mencoba nenangin Endang dengan mengelus-elus punggung putrinya.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar dari depan rumah mereka.

“Abaaaah!” teriak Pipin sambil lari ke depan dan bukain pintu. “Eh, ternyata bukan Abah euy. Maaf ya, kita ga ngasih sumbangan kalo ga ada izin dari RT.”

Kali ini Emak ga bisa nahan senyumnya, ketika ngedenger putri bungsunya niruin gayanya pas nolak orang yang minta sumbangan. Tapi emangnya siapa yang datang ya? Batin Emak terus nyamperin ke depan rumah. Dan betapa kagetnya Emak, ketika tau yang dateng ternyata adalah...

“Ya ampun, Pipin! Ini mah uwa kamu atuh, Uwa Ujang! Masa dikira mau minta sumbangan?” pekik Emak kaget sambil mencubit gemes pipi anaknya. “Tapi wajar sih, kamu ga ngenalin, ini si uwa meni pake kacamata item, terus pake topi juga, udah kayak mau kabur dari kejaran debt collector. Emang ada apa atuh ke sini, kang?”

“Akang ke sini teh mau nginfoin soal  Abah, tapi eneng jangan ngambek ya,” Uwa Ujang mastiin dulu, nunggu Emak ngangguk, terus ngelanjutin, “sebenernya Abah...”

“Kenapa Abah? Abah selingkuh? Punya simpenan? Apa udah nikah siri? Dimana? Kapan? Ama siapa?” Emak mulai panik.

“Ish, korban sinetron pisan! Bukan atuh! Makanya dengerin akang dulu..”

“I-iya, kang, maaf..”

“Jadi gini, sebenernya harta yang digunain buat invest di perusahaan yang dirintis akang sama Abah itu dari hasil akang muja (pesugihan). Biasanya kan pesugihannya minta kepala kerbau, tapi entah kenapa kemaren-kemaren teh mintanya anak perempuan yang masih perawan gitu..”

“Lha, apa hubungannya ama si Abah? Jadi si Abah sekarang ga dateng tuh nyari perawan? Terus perawannya buat dinikahin?”

“Eta si eneng, meni kudu skenario selingkuh wae?!” Uwa Ujang ga percaya.

“Iya, wa, kerjaan si Emak mah emang nonton sinetron ajab-ajaban tea sih..” ucap Endang yang kini udah nimbrung, kayaknya udah berhenti nangis.

“Ya udah, nih dilanjutin.. Jadi si pesugihan itu minta kepala perawan untuk tumbalnya. Tapi karena akang ga punya anak, merit aja belum kan, entah dari mana, si dukun yang jadi tempat pesugihan akang tau kalo akang punya ponakan! Yeah, dia pengen Endang jadi tumbalnya!”

“Terus hubungannya ama Abah apa?” Emak masih penasaran.

“Eh, si Emak.. Anaknya mau jadi tumbal, yang dikhawatirin tetep si Abah wae..” Endang ga percaya.

“Nah, pas akang kasih tau soal ini ke si Abah beberapa hari lalu-kalo ga salah pas dia mo ngehadirin acara lomba tari alay, eh, cheerleader itu-, dia marah dong. Dan ga percaya kalo modal perusahaan dari uang haram, sampe akang diceramahin panjang lebar kali tinggi! Huft.”  Uwa Ujang menarik napas sebentar.

“Terus si Abah langsung minta alamat dukunnya. Pas udah dikasih tau, dia langsung meluncur. Besoknya dia bilang, si pesugihan ga mau ganti tumbal, tapi Abah berhasil ngulur waktu sampe Endang ultah katanya.. Tapi kayaknya tadi si Abah pamitan pengen ke dukun itu lagi, terus katanya mau gantiin Endang jadi tumbalnya..”

Emak dan Endang langsung membuka mulut saking ga percaya. Sedangkan Pipin, “Jadi Abah juga masih perawan dong ya? Makanya mau jadi tumbal juga. Tapi, ngomong-ngomong tumbal itu apaan sih?”

Bener-bener masih polos Pisan si Pipin. Tapi Emak bersyukur, seenggaknya dia ga perlu tau alesan asli kalo Abahnya ga akan balik lagi untuk waktu lama. Endang juga merasa bersalah, karena ternyata alesan si Abah mangkir dari janji selama ini teh ternyata karena untuk kepentingan dirinya juga. Bahkan sekarang.. Mungkin Endang ga akan liat Abah lagi.

“Terus kenapa bukan akang aja yang ngegantiin! Kan ini semua gara-gara akang!” Akhirnya emosi Emak tersulut. “Puas sekarang, akang, puas? Sok-sokan pake ilmu hitam segala. Puas hah? Udah sekarang pergi sana. Kirain teh ke sini mau bawa kabar gembira atau bawa makanan enak gitu! HUH!”

Emak pun mendorong Uwa Ujang keluar dan menutup pintu rumahnya, Setelah itu dia peluk kedua anaknya sambil menangis. Endang yang merasa itu salahnya pun ikutan nangis. Sedangkan Pipin masih bingung soal arti tumbal itu apa.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Keesokan paginya..

“Endang, Pipin.. Cik geura bangun.. Mentang-mentang hari libur ya! Eh, tapi Emak juga baru bangun sih..” kata Emak sambil membuka gorden kamar. Wajahnya masih keliatan sedih, mengingat cerita yang kemarin.

“Hoahem! Selamat pagi, Emak..” ucap Pipin saat matanya perlahan terbuka. “Selamat pagi, teteh!:”

“Pagi, Pin, Emak..” balas Endang. “Mak, Abah udah pulang?”

Emak diam saja.

“Jadi yang kemaren itu bukan mimpi ya?” Endang mengucek-ngucek matanya. “Hiks, berarti Abah udah...”

“Udah apa?” Terdengar suara dari luar kamar.

“ABAAAAH!” seru Emak, Endang, dan Pipin barengan.

Abah pun masuk ke dalam kamar. Senyum hangat merekah dari bibirnya. Dia pun segera dipeluk oleh Emak, Endang, dan Pipin.

“Abah kapan pulang?”

“Abah udah pulang dari semalem kok, Mak, pas kalian udah pada tidur. Tuh, Abah tidur di kamar Endang soalnya kalian pan tidur bareng.”

“Alhamdulillah atuh, kirain Abah udah jadi..”

“Jadi tumbal, Mak?” potong Abah. “Enggak kok.. Gak jadi.”

“Beneran, bah? Yeeey!” Pipin bersorak, meskipun masih saja bertanya, “Emang tumbal itu apaan?”

“Kok bisa, Bah?” tanya Emak penasaran, ga meduliin pertanyaan Pipin.

“Jadi, pas kemaren Abah samperin dukunnya, tadinya dia bersikukuh kalo butuh tumbal perawan. Abah sih udah nawarin jadi penggantinya berkali-kali, dan dia juga nolak berkali-kali..”

“Terus?” kata Emak dan Endang bersamaan.

“Akhirnya dia menyerah dan minta syarat lain. Dia ingin harta kekayaan yang dihasilin dari pesugihan segera dibalikin.. Ya udah, Abah sanggupin, jadinya aset perusahaan, rumah, mobil, dan harta kekayaan kita semua yang di sini bakalan diambil. Lagian ini kan dari hasil uang haram. Sayangnya..”

“Sayangnya apa, Bah? Ih, jangan dipotong-potong gitu atuh cerita teh..” tanya Emak yang emang haus drama.

“Sayangnya ada satu syarat lagi, yaitu sang pemuja, Uwa Ujang, juga bakal dikorbanin buat si pesugihannya..”

“Alhamdulillah..” ucap Emak reflek.

“Kok Alhamdulillah, Mak? Itu teh kan kakak Emak..”

“Astaghfirullah, innalillahi!” ralat Emak.

“Terus sekarang gimana? Berarti kita udah ga punya tempat tinggal dong?” tanya Endang khawatir.

“Hmm, untungnya Abah punya rumah peninggalan orang tua Abah dulu di kampung. Jadi, wayahna (mau gak mau) kita mesti tinggal di sana deh.. Kalian ga keberatan kan?”

“Ga keberatan atuh, Bah.. Yang penting kan kita masih bisa bareng-bareng..” jawab Emak.

“Iya.. Endang juga ga apa-apa. Seenggaknya nama Endang jadi sesuai ama tempat tinggalnya,” kata Endang. “Terus makasih ya, Bah, udah mau coba gantiin teteh..”

“Yeeey, tinggal di kampung aki-nini! Pipin bisa berenang di paritnya tiap hari!”

Abah tersenyum lagi, tapi kemudian wajahnya jadi murung, “Maafin Abah yah.. Kita jadi jatuh miskin..”

“Ish, ish, ish.. Abah..” Pipin bergaya sok keren. “Inget film Keluarga Cemara yang kita nonton kemarin atuh, karena harta yang paling berharga adalah keluarga!”

“Wah, hebat ya, Pipin bisa apal, padahal kan selama filmnya dia teh tidur!” ledek Endang.

Semua pun tertawa. Tanpa memikirkan hal buruk yang sudah terjadi. Tanpa memikirkan harta kekayaan yang hilang. Karena memang..

Harta yang paling berharga adalah Keluarga!

Tamat
 

Sunday, December 23, 2018

5 Alasan Memilih Es Krim Aice: Es Krim Aice Juara!

Panas? Hadapi dengan Es Krim Aice aja..
5 Alasan Memilih Es Krim Aice: Es Krim Aice Juara!

Dahulu kala, ketika musim kemarau melanda, kerongkongan yang kering ini pun meronta, menginginkan sebuah keademan yang hakiki untuk dirasakan. Tiba-tiba seekor adik pun menyarankan untuk membeli es krim yang pada saat itu baru gw denger merk-nya. Yep, dialah es krim Aice! Sempet bingung juga, dimana gw bisa beli es krim dengan merk seperti ini. Tapi ternyata es krimnya mudah banget didapet euy. Tinggal cari warung atau toko yang majang plang logo Aice di depannya, maka sudah dipastikan di dalam freezer di warung atau toko tersebut akan terisi penuh dengan es krim berpenampakan menggoda. Dengan kestrategisan dan kemudahan buat kita untuk ngedapetin es krim ini menjadi salah satu dari 5 alasan memilih es krim Aice(1).

Dan ketika gw mulai mupeng dengan penampakan para es krim, tanpa terasa kerongkongan ini pun langsung menelan ludah, saking ga sabarnya untuk segera merasakan kesegaran saat menelannya. Hmm, tapi mau nyobain rasa apa ya? Kata sang adik mah, semua rasanya enak, sehingga dia pun ga bisa ngasih saran mana yang paling direkomendasikan. Dari yang rasa buah-buahan kayak semangka, melon, mangga, durian, stroberi, nanas, bahkan jagung semuanya sangat menggoda selera. Ada juga pula rasa-rasa seperti cokelat, susu, taro,dan kopi. Belum lagi pengemasan-pengemasannya yang unik, dari sekedar es krim cup, bentuk yang mirip potongan buah aslinya, bentuk obor api, bahkan bentuk mochi! Hmm, ok lah, berarti penampakan dan pengemasan es krim ini juga masuk ke 5 alasan memilih es krim Aice juga(2). Dan tentunya varian rasa beragam juga masuk ke daftar itu(3).

Es krim Aice cocok buat jadi teman piknik
Cocok juga buat jadi teman bermain

Balik lagi ke kegalauan gw untuk milih salah satu es krim Aice yang bakal gw beli. Abisan, mau varian rasa apapun harganya juga murah-murah bin terjangkau pisan! Gw pun merenung sejenak sambil mencoba mengintip isi dompet. Hmm, akhirnya daripada bingung, borong beberapa rasa aja kali ya. Lagian ga bakalan sampe bikin dompetnya jebol kok, saking murahnya harga si es krim Aice ini *tiba-tiba belagu*. Tapi seriusan, dari beberapa es krim Aice yang gw ambil, bisa ditebus dengan nominal yang terhitung sangat murah. Kalo gini mah, selain bisa buat konsumsi pribadi, bisa buat bagi-bagi ke keluarga kita juga deh. So pasti, harga murah dan terjangkau ini juga termasuk ke 5 alasan memilih es krim Aice(4).
Es krim Aice Mango Slush, serasa metik langsung dari pohonnya

Yummie, Es Krim Aice semangka-nya bikin ngiler kan?
Hati udah seneng dong, ketika es krim Aice sudah di tangan. Sekarang saatnya mencoba es krim Aice ini. Eh tapi pas sampai di rumah, saudara dan ponakan  yang ngeliat es krim ini langsung pada nyerbu. Kayaknya mereka lagi pengen lepas dahaga juga di cuaca yang panas kayak sekarang. Ya udah deh, daripada ribut es krimnya dibagiin aja, dan untungnya setelah dibagi gw masih kebagian satu varian rasa, yaitu es krim Aice Obor. Langsung aja gw buka kemasannya dengan penuh semangat.

Es krim Aice Obor: Oborkan semangatmu!

Tapi sebelum gw ngerasain es krimnya, tiba-tiba keingetan soal udah ada label halal belum ya untuk es krim Aice ini? Ah, pas cek kemasannya ternyata udah ada logo halal dari MUI. Masih ga percaya, gw pun googling soal status halalnya ini, dan hebatnya lagi, gw nemuin kalo es krim Aice dapet Anugrah Halal Award 2017 untuk kategori Produk Halal Pendatang Baru Terbaik. Ajib kan tuh! Ga salah kalau soal status kehalalan  ini gw hitung sebagai salah satu dari 5 alasan memilih es krim Aice juga(5). Ya udah deh, daripada es krimnya keburu mencair, sekarang mah tinggal leup aja ah...

Wuooh, pas pertama ngerasain es krim Aice Obor ini, kerongkongan yang dari tadi kerasa kering langsung seger seketika. Rasa kopi yang dibalut lapisan cokelatnya tuh ngeblend abis! Akhirnya saking nikmatin si es krim ini, ga kerasa tiba-tiba udah abis aja. Mata pun lirak-lirik ke arah saudara dan ponakan yang masih khusyu’ nikmatin dan jilatin es krim Aice rasa lainnya. Dengan sigap, gw pun nyobain es krim yang ada di tangan mereka. Ah, kesemuanya emang enak dan bikin nagih!

Kayaknya udah fix dah, gw bakalan jadi pelanggan setia es krim Aice dan pastinya bakalan merekomendasikan es krim ini ke keluarga atau teman juga. Pokoknya, es krim Aice juara!

#AiceIceCreamBlog #HaveAnAiceDay
 



Thursday, November 8, 2018

Ini Dia 5 Wahana Paling Ekstrim di Jungleland Bogor

Geng Woles pas maen ke Jungleland Sentul, Bogor

Geng, tau gak sih, selain terkenal dengan wisata kuliner atau wisata alamnya, Bogor juga punya wisata theme park lho! *yang baca pada jawab: "Udah tauk keleus"*. Taman hiburan yang ada di daerah Sentul ini tentu aja tak lain dan tak bukan adalah Jungleland Adventure Theme Park. Btw, jangan ketuker ama The Jungle yang ada di Bogor Nirwana Residence ya, soalnya itu mah wahana Water Park alias kolam renang bukan taman hiburan kayak Dufan (Dunia Fantasi) Ancol.

Nah, berhubung di tahun ini gw udah tiga kali nyambangin taman hiburan itu, jadinya kepikiran buat ngelist 5 wahana paling ekstrim di Jungleland versi gw deh. Pengennya sih ngelist wahana ekstrim di Dufan juga, tapi yang ini dulu aja lah, biar ga kecampur gitu. Hoho.. Okelah, tanpa berlama-lama mari kita simak Top Five Wahana Ter-ekstrimnya.. Cekidot!

5. Wahana Mega Drop
Mega Drop (Sumber: Jungleland.co.id)
Wahana ini sebenernya hampir mirip ama Histeria di Dufan, bedanya untuk versi ini naeknya pelan-pelan terus dijatohin lumayan kenceng dah, dan terus begitu ampe durasi 2,5 menit. Sebenernya lebih suka versi Dufan sih dimana pas dari bawah, kita bakal diketapel ke atas untuk kemudian dijatohin. Tapi si Mega Drop juga ga kacangan juga lah. Dijatohinnya pun lumayan tinggi lho, dari ketinggian 38 meter. Makanya buat yang ga suka ketinggian, dijamin puyeng deh kepalanya. Tips paling aman pas naek ini sih, pas nyampe atas jangan pernah liat ke bawah, tapi liat pemandangan sekitar, dan pastinya kudu siapin mental kalian, kalo perlu baca ayat kursi n doa dulu biar lebih yakin. Wekeke..


4. Wahana Snake Coaster
Snake Coaster (Sumber: Jungleland.co.id)

Inget banget dah pas kunjungan pertama gw ke Jungleland, wahana ini masih dalam maintenance dan belum dibuka. Padahal udah mupeng banget liat trek Roller Coasternya yang meliak-liuk dan liat kecepatan keretanya pas lagi test drive (katanya ampe 65 km/jam lho!). Beruntung, pas kunjungan berikutnya, gw pun bisa ngerasain naek wahana Snake Coaster ini. Ternyata emang ajib banget, mana luncuran tuh tajem banget dan kecepatannya emang ajib pisan. Meskipun treknya ga ampe diputer kayak Halilintar-nya Dufan, tapi dijamin bikin jantung makin cenat-cenut deh pas dibawa belak-belok ngikutin treknya. Huhu...

3.Wahana Disk'O
Disk'O (Sumber: Jungleland.co.id)
Ini nih, salah satu wahana ngeselin dan awalnya gw remehin pas sebelum naik. Abisan keliatannya tuh naik turunnya pelan bingit gitu dah, lebih pelan dari Kora-kora-nya Dufan. Padahal mah pas udah naik, sensasi naik turunnya lebih kerasa pisan, mana udah mah naik turun, si piringannya pun diputer pula. Terus bagian ujung treknya itu kan kayak putus, alhasil tiap si piringannya naik, pikiran teh jadi takut kalo si wahananya labas dari treknya euy. Hahaha.. Sayang, pas kunjungan terakhir ke Jungleland, wahananya lagi maintenance, padahal mau nyobain sensasi adrenalinnya lagi. Hiks..

2. Wahana Air Race
Air Race (Sumber: Jungleland.co.id)
Pas baru masuk Jungleland, wahana yang pertama keliatan pasti aja wahana ini. Jadinya wahana ini tuh selalu jadi pembuka gw untuk dinaikin sebelum wahana lain. Wahananya sih simpel ya, kita bakal diputer 360 derajat ke depan dan ke samping. Pokoknya bikin kepala di kaki, kaki di kepala lah pas diputernya. Wekeke.. Saran aja sih, pas naik ini pilih nomor air craft yang muternya pelan biar ga kerasa ekstrim pisan muternya. Eh, tapi kadang yang pelan ini suka slow mode pas muternya dan kadang pas kapalnya kebalik, suka stuck dulu. *tips yang menyesatkan* Hahaha..


1. Wahana Discovery
Discovery (Sumber: Jungleland.co.id)
And number 1 goes to..... *sfx: Jreng.. Jreeng..* Wahana Discovery! Yeah, wahana ini tuh bisa dibilang kayak campuran Kora-kora dan Disk'O sebelumnya. Bentuknya itu kayak bandul gitu lah, jadinya sambil digoyang ampe kemiringan 102 derajat dan ketinggian 20 meteran lebih, tempat duduknya pun lagi-lagi diputer. Huft, kalo dipikir-pikir wahana Jungleland mayoritas emang doyan diputer-puter ya. Tapi emang itu yang jadi ciri khas dan pembeda dibanding wahana di Dufan sih. Hehe.. Yeah, balik lagi ke si Discovery, wahana ini emang sukses bikin jantung melengos pisan lha. Mana pas kunjungan terakhir kemaren, wahana ini berhasil bikin beberapa orang yang naik ampe nangis. Eh itu mah sebenernya gara-gara gw teriak "Lagi.. Lagi..!" sementara yang nangis teriak: "Udah.. Udaaaah!". Wakakaka..


-=-=-=-=-

Yak, itulah daftar 5 wahana paling ekstrim di Jungleland versi gw.. Kalo versi kalian apa? Cus lah cobain satu per satu.. XD