Fanfic: THE RAID
Sebagai pengenalan, tokoh-tokoh yang dipakai di fanfic ini adalah sebagai berikut:
Iko Uwais - Rama
Joe Taslim - Jaka
Pierre Gruno - Wahyu
Tegar Satrya - Bowo
Iang Darmawan - Gofar
Eka Rahmadia - Dagu
Verdi Solaiman - Budi
R. Iman Aji - Ari
Genre : Humor (karakter diusahakan tetap Canon, tapi.. :p )
Timeline : Seminggu sebelum Serbuan Maut!
Rating : PG
Disclaimer : Tokoh yang dipakai dari film the Raid keluaran PT Merantau Films.
Latihan a la Pasukan Serbuan Maut!!
“Halo, kenalin, nama gue Rama Bratayudha. Atau cukup panggil gue Rama ajah yah!” ujar Rama mengenalkan diri kepada teman setimnya yang baru di pasukan SWAT Mawar-Melati. Tetapi sepertinya tak ada yang menggubrisnya, yang lain tetap melakukan kegiatan masing-masing tanpa mempedulikan kehadiran Rama. Ada yang sedang menyemir sepatu, mengelap senjatanya, bahkan ada yang mengelap kepala teman mereka yang botak biar tetep kinclong!
Merasa didiamkan seperti itu, Rama pun jadi sewot, membanting tas bawaannya lalu berteriak, “Wooy! Pada merhatiin gue gak sih, udah capek-capek kenalan, kagak ada yang nanggepin!”
“Haduh, berisik amat sih lo!” kata salah seorang pasukan yang tadi sedang mengelap kepala temannya. “Lagian, emangnya kita butuh perkenalan lo apa? Nih, tadi pagi pak Komandan nyuruh kita nge-add lo di fb, jadi kita udah tau siapa elo sebenernya. Dan kita ngediemin lo juga karena elo duluan yang ngediemin kita, sampe sekarang akun kita belum ada yang di-aprup ama lo! Ckckck..”
“Eh, iyakah?” Rama merasa bersalah. “Ya udah, maaf deh bang.. err..”
“Dagu!”
“Iya, maaf ya bang Dagu dan semuanya, Handphone gue lobet pas tadi di jalan, jadi belum bisa fb-an dan nge-aprup kalian semua.. Hehe..” ucap Rama seraya menyalami tangan semua orang yang ada satu-per-satu. “Jadi, kita udah baikan kan? Gue udah diterima di tim ini kan?”
Suasana hening sejenak, kemudian tanpa dikomando, semua pun serentak berkata:
“TERIMA DULU PERTEMANAN KITA DI FB!!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Rama masih tertidur ketika tiba-tiba terdengar suara bising sirine sebagai tanda agar para pasukan bersiap-siap. Dengan malas-malasan, Rama mengusap bekas air liur yang di sekitar bibirnya, membuka matanya, kemudian bangun. Memaksakan diri, Rama pun mencuci mukanya di kamar mandi, lalu memakai seragam SWAT-nya.
“PASUKAN SIAAP!!” ujar salah seorang pria berbadan tegap dengan mata agak sipit yang baru masuk ke barak Rama dkk tepat setelah Rama memakai sepatu kanannya. Yeah, hanya sepatu kanan, sepatu kirinya belum dia pakai. Tetapi mendengar-aba-aba tadi, mau tak mau Rama harus dalam posisi berdiri tegap, tanpa mempedulikan kaki kirinya yang masih nyeker. Tapi Rama bukan satu-satunya pasukan yang belum siap, lihat saja tuh, si Bowo –teman setim Rama yang tidur di ranjang sebelahnya- bahkan masih belum pakai celana panjangnya, padahal sepatunya sudah dia pakai. Ada juga si Gofar, yang walaupun semua pakaian, celana, dan sepatu sudah lengkap dia pakai, tapi di kepalanya itu bukannya menggunakan helm, malah menggunakan bando pink yang ada kupu-kupu menclok di atasnya.
“Ckckck.. Mengecewakan!” kata pria tadi lagi, diam-diam Rama membaca nama yang tertera di atas saku bajunya, ‘Jaka T Fitrah’ ketika dia melewati Rama. “Gue sebagai Komandan di tim ini sangat kecewa dengan kedisiplinan kalian! Seharusnya setelah 5 menit dari bunyi sirine, kalian sudah harus siap sedia. Lha ini..” kata-kata Komandan Jaka menggantung, ketika dia melirik jam tangannya, “ Baru 2 menit aja, ga ada yang siap sama sekali..” diam sebentar, beliau mengecek jamnya lagi, lalu bergumam, “Eh, baru 2 menit ya.. Gue kecepetan dong! Pantesan belum pada siap..”
Semua pasukan berusaha mencuri dengar, apa yang digumamkan Komandan mereka, sampai si Komandan berbicara lagi..
“Pokoknya untuk saat ini, gue maafin ketidak-disiplinan kalian! Jadi, gue gak akan ngasih hukuman..” katanya, tanpa mau mengakui bahwa dia yang salah. “By the way, minggu depan, tim kita dapet surat perintah buat nyerbu satu gedung yang disinyalir sebagai markas dari salah satu gembong narkoba di negeri ini. Jadi, mulai hari ini sampai H-2 menuju penyerbuan, kalian bakal ngejalanin latihan supaya misi ini dapat berjalan dengan baik. Well, kalau gitu, gue tunggu kalian dengan pakaian dan peralatan lengkap di lapangan 5 menit dari sekarang! Ingat, 5 menit ya bukan 2 menit!”
-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-
Latihan hari pertama, dimulai dengan latihan menembak. Sebelum latihan, pasukan Rama dkk dibagi menjadi beberapa kelompok. Rama sendiri masuk ke dalam kelompok yang terdiri dari Bowo, Dagu, Ari, dan Budi. Untuk membuat semua pasukan bersemangat, Komandan Jaka pun bakal memberikan hadiah kepada tim atau kelompok yang berhasil memperoleh penilaian yang baik selama latihannya. Ah, sepertinya kelompok-kelompok yang sudah dibagi tadi akan tetep saling bersaing menjadi yang terbaik tanpa peduli ada hadiah atau tidak. Apalagi kali ini yang menawarkan hadiah adalah Komandan Jaka. Bukan apa-apa, kata Bowo yang udah agak lama dipimpin oleh beliau, hadiah dari Komandan Jaka selalu aneh-aneh. Sebagai contoh, beberapa bulan lalu ketika ada latihan serupa seperti ini, tim yang menang diberi hadiah satu set DVD film Rambo dari film pertama sampai ke-4. Eh, apa yang aneh kalau begitu ya? Selidik punya selidik, ternyata dvd film yang covernya memang bergambar Rambo tersebut malah berisi tentang film ketika Komandan Jaka ‘berperang’ melawan musuh dari kelurahan-kelurahan lain se-Jakarta dalam rangka lomba karambol.
Kembali ke Rama, kelompoknya pun kali ini bertekad untuk memenangkan persaingan dengan kelompok lain. Dimulai dengan sesi menembak ini, mereka yakin mereka bakal banyak menembak sasaran dengan mudah.
“Ram, awas ya, jangan sampai kita kalah gara-gara elo!” ancam Bowo yang dianggap paling senior di kelompok mereka.
“Tenang aja, bang! Soal tembak menembak mah.. Keciiiil!” Rama percaya diri.
“Jyaah, elo masih baru aja udah belagu. Gue yakin, nembak cewek aja elo gak becus, apalagi nembak ginian!” Dagu ikutan menceramahi.
“Walah, si abang Dagu gak tahu apa.. Soal tembak-menembak cewek mah masanya udah lewat, soalnya gue udah punya istri, bang. Malahan berkat hasil tembakan gue, istri gue udah bunting lagi tuh! Hehe..”
“Berarti level lo emang di atas Dagu, Ram. Soalnya sampe sekarang, Dagu malah masih jomblo! Hahaha..” kata Budi, disambut cemberutan dari Dagu.
“Whatever lha!” Bowo lagi yang bicara. “Pokoknya mau gimana pun, kalau tim kita kalah, elo yang bakal gue salahin, soalnya elo paling junior di sini, ngerti!”
“Tapi bang, saya juga kan masih ba..” Ari mencoba menyanggah tapi keburu dipotong oleh Bowo lagi.
“Baru apanya?” potong Bowo. “Elo kan gabung ke tim lebih cepat sejam daripada Rama, lagipula pertemanan FB kita ga dipending kayak waktu kita nge-add dia..”
Masih soal pertemanan FB? Batin Rama. Ya sudahlah, memang sudah takdirnya kali, dia harus jadi objek penderita di kelompoknya.
“Eh, ngomong-ngomong sekarang giliran kelompok kita maju lho!” ujar Rama mencoba mencairkan suasana. Yang langsung dijawab oleh Bowo dan Dagu dengan, “IYE TAUK!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Anggota kelompok diberi giliran untuk menembak masing-masing sasaran dari yang berjarak hanya 3 meter sampai yang paling jauh 10 meter. Sasaran tembak, sengaja dibuat menyerupai tubuh manusia. Sasaran paling utama adalah dada dan kepala. Setiap satu sasaran hanya boleh ditembak sebanyak 3 kali. Penilaian pun diperoleh dari hasil mereka menembak sasaran tersebut, semakin mendekati atau malah tepat sasaran nilai semakin bagus.
Dari kelompok Rama, Budi yang maju duluan. Tanpa ragu, dia menembak 5 sasaran dengan jarak paling dekat sampai paling jauh yang ada di hadapannya. Hasilnya tidak mengecewakan, dari total nilai maksimal 150 poin, Budi memperoleh nilai 112 (sebetulnya nilai aslinya 97, tapi tadi di belakang dia nyogok juri pake rokok sebatang). Selanjutnya Ari yang maju, sebagai yang paling muda, rupanya dia mahir juga. Kalau tidak percaya, lihat saja ke sasaran tembak yang sudah jadi korbannya, 90% dari sasaran, tertembak di bagian ‘kemaluan’-nya! Alhasil, saat Ari sudah menyelesaikan gilirannya, Dagu dan Bowo yang masih jomblo, hanya bisa melirik Ari seraya menutupi ‘barang berharga’ mereka dengan kedua tangan. Mungkin yang ada di benak mereka sekarang adalah ‘Gue gak mau berurusan ama dia, apalagi kudu baku tembak, bisa ma-de-su, masa depan suram! Gue kan belum nikah!’ Tapi, setelah dihitung oleh para Juri, nilai yang diperoleh Ari adalah 69, daerah ‘situ’ poinnya emang tidak terlalu besar sih.
Kini giliran Dagu. Hasil tembakannya random abis. Hampir semua pelurunya yang ditembaknya menyebar di beberapa bagian, dari ketiak, dada sebelah kiri, puser, leher, bahkan hampir mengenai kucing yang sedang kawin di bawah sasaran tembak dan tak lupa menembak dirinya sendiri, err, menembak bagian dagu maksudnya. Nilai yang didapat olehnya, 102.
Setelah itu Bowo yang beraksi. Tak perlu ditanyakan lagi soal kemampuannya, sebagai senior dia harus bisa memberi contoh yang baik kepada junior. Sebagai bukti, dia berhasil menembakkan pelurunya tepat di dada dan kepala pada semua sasaran tembak, kecuali sasaran tembak dan peluru terakhir yang meleset ke telinga kanan dari sasaran tembak (suatu pertanda?). Total nilai yang diperoleh adalah 144.
Dengan bangga dan sedikit belagu karena hasil yang diperolehnya bagus, Bowo mengambil sapu tangan di sakunya, mengelap keringat di dahinya sambil menunjuk ke arah Rama lalu memamerkan tangan dengan jempol mengarah ke bawah padanya, seperti mengisyaratkan: ‘thumb’s down for Rama!’. Namun secara tak sengaja dia menjatuhkan sapu tangannya tadi ke tanah. Sesaat, Bowo terlihat memberengut, tapi dia membiarkan sapu tangannya itu, dan memberikan kesempatan kepada Rama untuk maju.
Yak, akhirnya, giliran Rama yang siap untuk memamerkan kemampuan menembaknya. Tanpa kesulitan berarti, dia menembak sasaran pertama dengan tepat. Lanjut dengan sasaran kedua yang satu pelurunya meleset ke sekitar perut. Sasaran ketiga tampak begitu mudah, lagi-lagi semuanya tepat sasaran. Sampai di yang keempat, Rama mulai agak kesulitan, hasilnya dia mengenai pipi kiri, dada kanan, dan dada kiri. Terakhir, sasaran yang paling jauh, satu tembakan tepat mengenai, sedangkan dua tembakan lagi menembak udara kosong karena Rama terpeleset sapu tangan yang tadi dijatuhkan Bowo! Eh, ralat deh, peluru terakhir kena ranting buah mangga matang yang langsung jatuh ke tanah. Selidik punya selidik, ternyata di sapu tangan itu ada kulit pisangnya, sehingga Rama yang tak sengaja menginjaknya jadi kehilangan keseimbangan. Rama yang tahu siapa pemilik sapu tangan itu langsung melirik ke orangnya, tapi bukannya menunjukkan penyesalan, Bowo malah menunjukkan thumb’s down-nya lagi sambil tersenyum picik.
Namun tiba-tiba.. GEPLAK!! Belakang kepala Bowo dipukul telak oleh Budi.
“O’on, lo! Kelompok kita jadi ada di peringkat dua tuh, gara-gara beda cuma dua poin.. Kenapa si Rama dibuat kepeleset sih?”
“Buset, udah berani ya sekarang.. Mukul senior lo?”
“Eh, eh, maap bos! Kelepasan!” Budi langsung mengusap kepala seniornya itu, terlihat takut-takut. Kemudian dia berbisik pelan kepada Ari dan Rama yang baru datang ke tempat mereka. “Walaupun udah lama juga sih pengen mukul. Hehe..”
“Semua gara-gara Rama! Pake kepeleset segala!” Dagu kelihatan kesal.
Bowo mengangguk tanda setuju. “Iye, Ram. Gara-gara elo nih! Gue sebagai pencetak nilai tertinggi, jadi tersinggung! Nyape-nyapein gue aje..”
“Kata siapa bang Bowo pencetak nilai tertinggi?” timpal Rama kalem.
“Lha, emang iya kan? Emangnya siapa yang nilainya lebih tinggi dari gue?”
“Tanya juri aja noh!”
Sambil berkata itu, Rama menunjuk ke arah juri pengawas, Komandan Jaka dan Wahyu, yang terlihat sedang mojok berdua sambil memakan sesuatu.
Bowo dan Dagu yang penasaran langsung mendatangi para juri dan menanyakan berapa nilai Rama. Juri yang ditanya hanya menjawab singkat ‘150!’ kemudian mereka makan lagi. Oh, rupanya mereka sedang memakan buah mangga matang yang jatuh karena tembakan Rama. Makanya mau bagaimanapun hasil tembakan Rama, dengan mangga itu juri langsung memberikan nilai sempurna. Harap maklum ya, karena mangga itu memang sudah menjadi incaran Jaka dan Wahyu semenjak mereka latihan tadi pagi. Apalagi, istri Komandan Jaka ‘kan sedang hamil dan ngidam buah mangga. Sehingga mau tak mau, Komandan Jaka mewakili istrinya untuk memakan buah mangga itu.
“Gimana, bang? Siapa yang nilainya paling tinggi?” tanya Rama kepada Bowo dan Dagu. “Pokoknya, makasih ya bang, berkat sapu tangan keberuntungan punya abang! Hehe..”
Rama, Budi, dan Ari pun tersenyum senang melihat ekspresi dua senior mereka yang terlihat cemberut itu. Bowo dan Dagu kesal karena tidak bisa menumpahkan kesalahan kepada Rama. Mau menyalahkan Ari yang mendapat nilai paling kecil, mereka takut karena teringat hasil tembakannya.
“Ya udah, gue tunggu lo di latihan berikutnya! Buat kesalahan sedikit, gue pelintir idung lo!” ujar Bowo.
“Camkan, itu ya, Ciiin!” tambah Dagu.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Latihan hari berikutnya adalah latihan halang rintang. Mereka harus siap melewati berbagai rintangan seperti kolam lumpur yang hanya bisa dilewati dengan gelantungan, celah sempit yang hanya bisa dilalui dengan cara merangkak atau tiarap, lalu ada juga tembok setinggi 3 meter yang harus dipanjat menggunakan tali, sedangkan ketika turun mereka harus loncat ke kolam sedalam 2 meter lalu berenang ke tepian, terus ada lagi rintangan yang mengharuskan mereka mengendap-ngendap tanpa menimbulkan suara (NB: saat mereka lewat di depan kamar istri pak Komandan yang lagi tidur siang). Belum sampai di situ, masih ada rintangan untuk melewati ranjau darat yang terpasang di lapangan seluas lapangan tenis. Jika ada yang salah injak, ranjau darat itu akan meledak dan menyemburkan cat berwarna merah darah. Ada juga sih ranjau yang ketika diinjak tidak meledak, tapi malah membuat si penginjak misuh-misuh tak keruan sepanjang hari. Ranjau apakah itu? Simpel, itu ranjau ‘buatan’ hewan, hewan yang sering digunakan untuk membajak sawah. Ranjau itu adalah kotoran kerbau!
Di latihan ini, kelompok Rama dkk berhasil menempati urutan pertama. Setelah mereka meraih waktu tercepat dalam melewati semua rintangan yang ada. Namun sayang, mereka harus terkena pinalti, dikarenakan Dagu yang menginjak ranjau ‘buatan’ hewan itu. Alhasil, mereka lagi-lagi harus puas berada di peringkat kedua, di bawah kelompok Gofar.
“Waduh, Dagu! Kenapa lo bisa kena ranjau sih?!” kata Bowo naik pitam.
“Sori, bos! Gue gak sengaja, lagian kayaknya pas lari, bodi gue kesenggol ama Rama tuh. Makanya gue nginjek ranjau yang tadinya gue kira itu batu!”
Bowo yang merasa punya alasan untuk menyalahkan Rama langsung mendampratnya.
“Nah, kan. Gue bilang dari awal juga apa, elo emang biang masalah di sini. Dasar anak baru!”
Bibir Rama baru saja membuka bersiap untuk membantahnya, tetapi keduluan oleh Budi yang ngomong, “Tapi bos, si Rama ada di sebelah gue pas lari, berarti dia paling ujung. Sedangkan yang di tengah kan si Ari, tapi dia juga pas lari jauh dari Dagu..”
Ada saksi, Dagu pun tak bisa berkutik dan mengaku, “Okeh, okeh, tadi gue jauh dari kalian bertiga..”
“Kalau mereka betiga jauh dari lo, berarti yang paling deket tuh gue, terus jadinya gue yang lo salahin karena udah ngedorong lo, gitu?” Bowo langsung menyimpulkan.
“Ngg, nggak bos, nggak! Ngg, kayaknya tubuh gue emang ujug-ujug oleng sendiri.. Hehehe..”
“Ya udah, pokoknya laen kali, elo jangan ceroboh lagi!” tegas Bowo, walaupun dalam hatinya lagi-lagi dia merasa kecewa karena tidak bisa menyalahkan Rama.
“Paling-paling kalau ceroboh lagi, ntar bakal kena senggolan mesra lagi dari si bang Bowo.. Hihi..” ledek Rama agak berbisik kepada Dagu. Bibirnya pun merekah menampakkan senyuman, membuat Dagu yang dimarahi semakin terlihat kesal.
-=-=-=--=-=-=-=-=-
Hari ketiga, latihan yang diberikan oleh Komandan Jaka adalah latihan fisik, yaitu lari Marathon sejauh dua kelurahan. Yah, kalau di kota sih dua kelurahan tuh paling juga hanya sejauh 2 km, tetapi ini di desa, Bung! Kelurahan satu dengan kelurahan lain itu bisa sampai berjarak 2,5 km! Oh, well, ternyata hanya berbeda sedikit ya? Tidak juga, karena dalam jarak sejauh itu rintangannya lebih rumit. Mungkin kalau bisa digambarkan, perjalanannya bakal seperti lagu soundtrack dari kartun Ninja Hattori, dimana mereka harus ‘mendaki gunung lewati lembah’ belum lagi mereka juga harus siap menyeberangi sungai-sungai yang deras dan juga harus melewati hutan yang masih lebat. Bisa dibilang, latihan halang rintang kemarin itu bisa dihitung sebagai pemanasan dari latihan kali ini yang dijamin bakal lebih ekstrim!
“Guys, gue emang senior yang kurang bersahabat dengan kalian,” Bowo memulai kata-katanya, “tapi harus gue akui, kalian adalah tim terbaik yang pernah gue miliki. Jadi, gue harap kita jangan kalah lagi! So, di latian kali ini gue udah nyiapin ‘sesuatu’ buat kalian..”
“Bencana nih! Bang Bowo tiba-tiba jadi baik. Pasti ada udang di balik ‘sesuatu’!” cerocos Rama, ada nada sarkasme dalam kalimatnya.
“Sesuatu?” Dagu terlihat bingung. “Maksudnya?”
“Gue udah nyiapin minuman buat kalian, minuman yang gue yakin bisa ngebuat kalian kuat sampai tujuan, bahkan bisa jadi yang tercepat!”
“Nah, kan udang di balik sesuatunya mulai keliatan..” singgung Rama lagi. “Tapi kan bang, kata Komandan Jaka, kita gak boleh make doping atau minuman penambah stamina kan!”
“Iya, itu kalau doping atau minuman penambah stamina, Rama sotooy!” komentar Bowo, sembari menekankan nada suaranya di kata terakhir. “Minuman dari gue ini kan bukan minuman kayak gitu, ini cuma air putih biasa yang dido’ain terus dikasih campuran sesuatu ama dukun Jarkom semalem. Buru nih, ambil seorang sebotol.. Terus minum ampe abis!”
Budi, Ari, dan Dagu yang memang sedang haus langsung menerima minuman dari Bowo dan menenggak sampai habis, sedangkan Rama malah menolak tawaran.
“Sori de mori aja ya, bang! Kemaren aja pas latihan halang rintang, kita bisa jadi yang paling cepet tanpa bantuan minuman apapun. Jadi gue gak mau tuh minum-minuman gak jelas kayak gitu!”
“Bujuug, ini orang lama-lama nyebelin ya.. Buruan minum!”
“Lha, abang sendiri kenapa ga minum? Kita kan berlima, tapi botolnya cuma 4. Ya udah, buat abang aja deh yang itu..”
“Gue gak minum, soalnya.. Ah, gak penting deh, ngapain juga gue jawab pertanyaan lo!” Bowo mencoba berkilah dari pertanyaan Rama. Rama sendiri tahu, pasti ada yang tak beres dengan minuman itu. Hanya saja, dia tak tahu apa. “Pokoknya kalo lo sampe bikin tim kita kalah lagi, karena kesongongan lo, tunggu aja ntar..”
“Sip, bang.. Tunggu aja terus ya, gue mah mau lari duluan aja kalo gitu..”
Rama yang selalu menjadi objek penderita, tetap santai menghadapi seniornya itu. Setelah peluit tanda timnya harus maju, dia pun segera berlari bersama dengan Ari, Budi, dan Dagu. Sementara Bowo masih berdiri mematung, seraya memasang tampang geram kepada Rama. Tetapi Bowo tak terlalu lama juga sih diamnya, karena sesaat kemudian kepalanya ditoyor oleh Komandan Jaka yang menyuruhnya maju juga.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Rama, Budi, Ari, Dagu, dan Bowo sudah mulai kelelahan ketika mereka telah berlari sejauh satu setengah kilometer. Bagaimana mungkin mereka tidak lelah, di satu kilomter pertama mereka harus melewati beberapa anak sungai dan berlari menanjak ke atas bukit. Sesampainya di bukit pun mereka tak bisa beristirahat terlalu lama. Selain karena mereka tak ingin terkejar oleh kelompok lain, mereka juga harus mengejar tukang es doger yang lewat di depan mereka. Masalahnya, si tukang es doger ini bukannya berhenti ketika dipanggil oleh Rama cs, dia malah tetap nyelonong terus. Oh, ternyata bukan karena sengaja si tukang es maen nyelonong, pada kenyataannya dia tak bisa menahan laju sepeda gerobaknya yang memang sedang berada di jalan menurun. Remnya blong gitu lho!
Kejar-kejaran pun terjadi, setelah melalui berbagai rintangan saat pengejaran, seperti jalan berbatu, jalan berlumpur, bahkan jalan berpolisi tidur (padahal jalannya di hutan lho)! Mereka akhirnya bisa menghentikan sepeda si tukang es doger. Rama cs pun beristirahat sebentar, memesan es dogernya, kemudian mengobrol dengan si tukang es.
“Bang, kok bisa sih jualan di hutan sepi kayak gini?” tanya Rama.
“Oh, tentu bisa, dek.. Percaya atau nggak, jualan di sini malah lebih untung daripada jualan di kampung-kampung lho!”
“KOK BISA??” tanya mereka berlima berbarengan.
“Lha kan, kalau di kampung, satu porsi es doger paling juga saya jual dua ribu perak doang. Kalau di sini satu porsinya seratus ribu!”
“Emangnya ada yang beli?” sekarang si Ari yang bertanya.
“Jarang yang beli, tapi ada aja lha. Nih, contohnya adek-adek berlima lagi beli es doger seharga seratus ribu saya..”
Ngeek.. Mendengar harga minuman yang mereka pesan begitu mahal, mereka pun mundur menjauh dari tukang es. Sementara si tukang es masih sibuk menyiapkan es untuk mereka.
“Eh, cuy! Duit di kantong gue cuman ada gopek nih –bekas kerokan pula- , gimana bisa bayar es seharga cepek ceng gitu?!” ucap Dagu dengan ekspresi lemas, semua ucapannya tampak jujur.
“Gue sih ada goceng..” kata Budi.
“Nih, kalo gue serebu tinggal selembar-lembarnya!” kata Ari seraya menunjukkan uang di tangannya.
“Elo punya berapa duit, Ram?” Bowo bertanya kepada Rama. “Jangan bilang elo gak ada duit ya, kan elo yang udah nyetop si abang tukang es, jadi elo yang kudu tanggung jawab!”
Diteriaki Bowo, Rama malah senyum-senyum, sejurus kemudian kedua tangannya mengeluarkan isi dari kantongnya yang menandakan bahwa isi kantong itu kosong melompong.
“Udah gue duga! Walaupun elo keliatannya ga suka gue, ternyata elo ngefans juga ya ama gue, buktinya isi kantong kita sama!” kata Bowo sambil bernarsis sedikit. “Terus sekarang kita kudu ngapain nih?”
“Gue ada ide..” sambil berkata ini, Rama melirik kepada Ari dan Budi. “Bagaimana kalau kita.. KABUUUUUURR..!!”
Dengan secepat kilat, Rama beserta Ari dan Budi langsung mengeluarkan jurus langkah seribu, meninggalkan Bowo dan Dagu yang masih bengong karena belum connect dengan rencana Rama. Setelah diteriaki oleh tukang es doger yang tak rela kehilangan pelanggan, Bowo dan Dagu pun segera ikutan berlari.
“TUNGGUUUU.. Cerita tadi cuma becanda doang kok! Aslinya emang dua rebu perak. Kok pada percaya sih?” usaha terakhir dari tukang es merayu Rama cs, tapi sayang, mereka sudah berpuluh, beratus, bahkan beribu-ribu langkah darinya. Moral dari cerita tukang es: kalau kalian tidak bakat ngegaring, jangan pernah bercanda sama orang lain, karena mereka akan menganggapnya serius!
Berkat kejadian ketemu tukang es, kelompok Rama berhasil sampai di finish duluan. Lebih cepat satu jam dari kelompok-kelompok lain di belakangnya. Sungguh ajaib memang. Sekarang kelompok mereka memimpin perolehan nilai sementara dari kelompok lain.
Mereka tampak lega sekali. Terutama Bowo yang merasa bangga setelah melihat minuman Ki Jarwo yang dia berikan kepada teman-temannya ternyata manjur. Bowo juga lega, karena teman-teman yang meminum minuman itu tak tahu, bahwa campuran yang diberikan Ki Jarwo ke air putih itu adalah peresan air keringat dari kaos kutang beliau!
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Latihan hari terakhir, seharusnya menjadi latihan tersulit bagi semua pasukan SWAT Mawar-Melati. Tapi ternyata tidak. Di latihan terakhir, mereka hanya disuruh mengupas bawang merah sebanyak-banyaknya dalam waktu 30 menit! Rencananya di latihan terakhir ini bakal jadi latihan sparing antar kelompok. Tapi ternyata, Komandan Jaka yang lagi-lagi kudu mengikuti istrinya yang sedang ngidam jualan bawang goreng sebanyaknya. Tak tahulah benar atau tidaknya alasan Komandan Jaka itu, yang pasti hasil penjualan bawang goreng itu bakalan digunakan untuk mengoperasi plastik wajah pasukan SWAT yang paling jelek. So sweet sekali bukan? Well, itu pun kalau penjualannya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Hehehe..
“Bersiap.. MULAI” teriak Komandan Jaka, diikuti satu tembakan pistol oleh Komandan Wahyu, menandakan latihan ini dimulai. “Ayo cepet potong bawangnya! Umpama-in bawang goreng itu sebagai musuh kalian! Bayangin si bawang sebagai orang yang pernah ngerebut permen kalian ketika masih kecil, pernah ngentutin kalian tepat di depan idung, bayangin kalo si bawang sering ngeledekin mata kalian sipit, atau dia suka nakut-nakutin kalian dengan hal yang kalian benci atau si bawang itu adalah orang yang pernah nolak cinta kalian! Iris saja dia, iris orang itu!”
Walaupun terdengar seperti curhat colongan, kata-kata penyemangat dari Komandan Jaka rupanya berhasil. Ketika mendengar permen yang direbut, Ari terlihat makin menggebu-gebu. Bawang sebagai tukang kentut, membuat Bowo semakin berapi-api. Mata sipit? Budi yang terlihat makin panas. Sering nakutin? Dalam benak Rama tiba-tiba tergambar seonggok kerupuk, bergidik sejenak, kemudian dia iris-iris bawang di tangannya dengan penuh dendam kesumat. Namun, ketika mendengar orang yang menolak cinta, Dagu-lah yang paling merasakan efeknya. Tetapi bukannya tambah semangat seperti yang lain, dia malah menangis!
“Dagu, nape lo nangis?” Bowo terlihat khawatir.
“Ng-nggak, bos.. Gara-gara bawang kayaknya.. Hiks.. Hiks..”
“Ya udah, pokoknya cepetan, jangan lelet..”
Tiga puluh menit, benar-benar seperti waktu yang lama bagi mereka yang mengikuti latihan ini. Masalahnya efek perih dari bawang merah yang dikupas baru terasa sepuluh menit dari komando Komandan Jaka. Beliau sendiri sudah tidak menyemangati pasukannya lagi. Yang dilakukannya sekarang malah menonton kembali video saat dia menjadi kontestan dalam lomba coverboy untuk mading di salah satu RW di daerahnya.
Latihan kali ini pun walaupun terlihat sebagai latihan paling ringan diantara latihan sebelumnya, ternyata malah yang paling memakan korban! Sudah berpuluh jari yang berdarah akibat mereka kehilangan konsen ketika mengupas bawang. Bahkan ada yang kepalanya berdarah juga gara-gara latihan ini! Eh, salah deh.. Kepala berdarah itu sih karena ada salah seorang pasukan yang ngupas bawang sambil mencet jerawat di jidatnya, alhasil pas jerawat sukses dipencet, berdarahlah ia..
“SELESAI!!” teriak Komandan Jaka ketika stopwatch-nya telah sampai ke menit 30.
Dia pun segera mengecek satu per satu kelompok dimulai dari kelompok Gofar yang berada paling ujung sampai terakhir ke kelompok Rama. Akhirnya, setelah memeriksa dan menimbang hasil bawang yang dikupas dari setiap kelompok, Komandan Jaka pun mengumumkan kelompok mana yang paling banyak mengupas bawangnya.
“Dengan berat hati, gue umumin bahwa yang berhasil ngupas bawang merah paling banyak adalah kelompok..” semua orang menahan napas, tegang.. “Bowo cs!”
Rama dan kawan-kawan pun langsung riuh merayakan kemenangan mereka. Jadi, sudah pasti mereka yang memimpin perolehan tertinggi dari seluruh latihan yang ada.
“So, udah keliatan kan kelompok mana yang menang dari semua latihan? Kalo gitu, secara resmi gue manggil kelima anggota kelompok itu untuk memberikan hadiah spesial sesuai janji gue waktu itu!”
Rama, Budi, Ari, Bowo, dan Dagu pun maju ke depan. Komandan Jaka dan Wahyu menyalami mereka satu per satu. Kemudian Komandan Jaka mengambil sebuah goodie bag yang telah disiapkan di mejanya kepada mereka berlima.
“Silakan dilihat isinya..”
Sambil takut-takut, Bowo melirik isi dari tas itu.
“He? Cuma pulpen?”
“Cuma, kata lo? Itu lima pulpen yang ada di goodie bag yang lo pegang semuanya adalah pulpen bersejarah!” Komandan Jaka merasa tersinggung. “Yang warna merah, pernah dipake gue pas ujian untuk jadi SATPAM di salah satu hotel yang ternyata gagal. Yang warna ungu, pernah gue pake buat garuk pantat sama ngupil. Terus yang ijo, pernah dipinjem ama mantan cewek gue pas SMA. Yang item, adalah pulpen termahal yang pernah gue beli –dua rebu perak cuy! Terakhir, warna silver yang paling berharga, pernah gue pake pas minta tanda tangan ama bintang film action kedemenan gue - Joe Taslim! Nah, bersejarah semua kan! Udah, sekarang bagiin satu-satu..”
Rama tersenyum. Ternyata apa yang digambarkan oleh Bowo soal hadiah aneh dari Komandan Jaka, benar adanya. Overall, Rama sangat senang. Selain karena kelompoknya berhasil menjadi pemenang, dia pun merasa dia bakalan betah berada di tim SWAT Mawar-Melati ini. Semoga saja, di misi nanti tak ada kendala berarti dan semua tim bisa pulang dalam keadaan utuh.
“Oi, Rama!” panggil Komandan Jaka, saat melihat Rama menerima pulpen berwarna silver. “Jaga baik-baik pulpen itu ya, pulpen itu juga pernah gue pake pas minta tanda tangan Iko Uwais lho!”
“Siap, Dan!!” tegas Rama. “Tapi ngomong-ngomong, Iko Uwais itu siapa ya?”
Tamat
NB:
- Kalau gak salah, pangkat Jaka tuh harusnya cuma letnan ya? Tapi gak apa-apa deh, saya ganti jadi Komandan biar lebih kerenan dikit.
- Gak kerasa ya, ternyata tulisannya bisa sampe 4000an kata. Ini teh padahal belum termasuk deleted scenes. :))
- Semoga ceritanya menghibur ya, kalau ga menghibur, jangan protes juga.. Hihihi.. *dilemparin granat*
- Jangan lupa saksikan film The Raid mulai tanggal 23 Maret 2012 di bioskop kesayangan Anda!
Link FFN
Wednesday, March 7, 2012
Saturday, January 28, 2012
Petualangan Mike - a Linkin Park Parody
Merupakan lanjutan dari:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150321495631941
http://wewwkereen.blogspot.com/2011/09/fanfic-linkin-park-parody.html
Jadi baca dulu yang sebelumnya ya biar nyambung ^^
------------
Petualangan Mike
Eh, eh, kalian udah tau kan ama si Mike yang sukses dengan band Linkin Park yang didiriin (kelamaan duduk, jadi didiriin.. Hihi..) ama dia? Itu lho, band terkenal yang baru aja ngadain konser di Gelora Bung Karjo yang ada di pinggir Kali Ciliwung deket rumah dia di Taman Lengkeng. Pasalnya, konser itu tuh merupakan kombek (penulis orang sunda sih jadi ga bisa nulis ‘come back’ *digeplak*) mereka ke Indonesia, khususnya Bogor, setelah melanglang buana di luar negeri. Makanya konser itu tuh jadinya megah banget.. nget.. nget.. Dari sepuluh lagu yang mereka nyanyikan, tak ada satupun lagu yang nggak diikutin penontonnya. Bahkan satu lagu khusus yang baru aja dinyanyiin perdana di konser itu pun tetap dinyanyiin bareng ama semua! Ok, ok, terdengar lebay memang, masalahnya gimana mereka ga nyanyiin bareng, orang teksnya ketulis di layar gede yang dipasang di sayap kiri dan kanan panggung. Hihihi..
Nah, setelah konser itu tuh band Linkin Park bakalan liburan dulu deh. Hmm, sebenernya Mike sih ga mau libur konser, karena seperti yang kita ketahui dia tuh musik mania banget. Buat dia, tiada hari tanpa nyalurin bakat musik, makanya hari ini dia tuh berencana untuk ngamen ke seluruh kota Bogor seharian! Tenang aja, guys, uang hasil ngamennya dijamin bakal disumbangin buat penulis yang lagi kere ini nih.. *Bletak* Iya, iya, ralat deh.. Hasil ngamen bakal disumbangin ke Masjid di kampungnya yang keropaknya baru aja kemalingan (yang baca langsung ngelirik penulis *selepet satu per satu* hmm, gw emang kere, tapi ga akan ngerampok cuy!). Yak, kembali ke Mike yang lagi sibuk siap-siap untuk ngejalanin rencananya itu. Ngg, sebenernya tanpa persiapan juga sih, orang dia ngamennya cuman bermodalkan gitar ukulele dan wig panjang bule doang kok. Nah lho, kok ada wignya? Tentu aja sodara-sodara, si Mike ini pake wig supaya dia ga dikenalin ama orang lain, jadinya kan ntar hasil ngamennya aseli dari bakat musiknya, bukan dari ketenarannya. Ceileeh, sok iye ye? Heheh..
Bai de wei, si Mike juga tadinya ngajak temen-temennya buat ikut sih.. Tapi mau gimana lagi, ternyata di hari libur konser band LP ini, temen-temen se-bandnya itu punya kesibukan masing-masing juga. Ada si Jo yang lagi nostalgia maenin cobeknya buat ngulek pecel favorit warga kampung, si Chester yang lagi ngajarin sinden ke anak-anak asuhnya, ada juga si Rob yang seneng banget bisa maen rebana lagi ama geng rohis mesjidnya, sedangkan si Dave beneran sibuk buat ngedesain bass betot terbaru agar lebih nyaman digunain para waria, dan pastinya ada si Brad yang paling sibuk diantara anggota band lainnya, karena dari siang sampe sore ga boleh ada yang ganggu dia soalnya kegiatan dia tak lain dan tak bukan adalah.. TIDUR! Hihihi.. Nah, kan makanya setelah mendengar temen-temennya sibuk, alhasil si Mike cuma bisa berangkat sendiri deh.
Dengan bekal bismillah, Mike melangkahkan kakinya menuju jalan raya yang penuh dengan marabahaya serta tipu daya dengan segala upaya (sok nge-rima). Namun tak perlu menunggu beberapa lama, Mike telah mendapatkan angkutan umum pertama sebagai target untuk ngamennya. Yak, setelah menaiki angkutan itu Mike langsung menyanyikan satu lagu terbaru hasil eksperimennya yang berjudul ‘Vegetables MIX’ atau kalau ditranslet ke bahasa Endonesa jadi diartiin sebagai gado-gado alias pecel mun basa Sunda mah (nb: lagu terinspirasi dari kegiatan Jo di kampung). Hihi.. Lagu itu terus didendangkan tanpa henti, sampai tak terasa Mike sudah menempuh hampir nol meter perjalanan! Rrr, nol meter? Ga maju-maju dong? Ada apakah gerangan? Apa angkutan umumnya ngetem? Well, Selidik punya selidik, bukan salah di angkutannya ternyata, karena rupanya angkutan yang dinaikin Mike adalah kuda-kudaan keliling yang biasa dinaikin ama balita-balita. Dan sekarang si kuda-kudaan tuh emang lagi mangkal di situ. Tapi untunglah, walaupun Mike salah milih angkutan, dia tetep dapet hasil juga dari ngamen di situ. Dia dikasih dua rebu perak ama si Amang yang bawa kendaraan, karena katanya, si Mike teh udah mau ngegantiin radio tape-nya yang lagi rusak yang biasa dipake buat nyetel lagu anak-anak. Hihihi.. Sip, awal yang bagus, pikir Mike, dan dengan semangat 45 dia segera meluncur untuk mencari target selanjutnya.
Angkutan kedua telah datang. Sebelum naik angkutan tadi, Mike celingak-celinguk dulu, dia mau ngecek kendaraan itu, daripada salah lagi kan? Hmm, kendaraannya beroda empat, sopirnya satu, penumpangnya banyak, terus kenalpotnya satu, siplah beneran angkot ini mah! Hup, Mike yang udah ga sabar buat beraksi langsung loncat aja ama tuh angkutan umum dan ngegenjreng gitarnya seraya mulai menyanyikan lagu ‘Santai’-nya bang Haji Rhoma Irama yang dia remake menjadi berbahasa Inggris. Sontak saja, semua penumpang yang mendengarkan langsung ikutan joged, tak terkecuali sang sopir yang cuman bisa goyangin jempolnya doang (ya kalo goyang semua bisa bahaya cuy, bisa nyelonong rumah orang kali tuh angkotnya). Kurang lebih lima menit, lagu pun selesai dinyanyiin, tanpa sadar Mike membuka wignya dan menyimpan dalam posisi terbalik di tangannya dan mulai dia iderin ke semua penumpang untuk minta imbalan. Tapi kayaknya ga ada yang ngasih dia sepeser pun, ya udah deh dia pake lagi wig-nya, dan ups, dia pun baru sadar kalau barusan identitasnya bisa aja terbongkar. Beruntung, dalam angkot itu kayaknya ga ada yang ngenalin dia, jadi aman-aman aja dah. Maklum, penumpangnya udah emak-emak dan abah-abah semua.
“Dek, pokoknya kita mah ga mau ngasih duit sebelum mas nyanyiin lima lagu lagih!” ucap salah seorang penumpang yang keliatan paling muda, keliatannya doang, aslinya mah di atas 60an kali. Heuheu.. *ditimpuk penumpang tadi*
“Iyah, dek, nyanyi lagi yah? Nanti sayah juga ngasih uang deuh ke adek, nih kalo si adek gak percaya mah di-DP dulu sekarang dua ratus perak!” kata si Emak yang duduk paling pojok.
“Umi juga pengen denger suara adek lagi ih, daripada tiap hari denger suara ‘pales’ suami umi melulu.. Buruan atuh dek, nih ku umi mah dibayarnya langsung segepok!” ujar si Umi yang ada paling deket ama Mike. Ngomong-ngomong, segepok sih segepok, tapi sayangnya yang segepok itu bukan duit melainkan pisang. Hehehe..
“Nyanyi.. Nyanyi.. Nyanyi..!!”
Tiba-tiba secara serentak, semua penumpang meneriakkan kata itu, well, jadilah Mike tak punya pilihan lain selain bernyanyi lagi.
-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-
Setengah jam sudah Mike nyanyi di angkot itu, dan saking menghayati setiap lagu yang dinyanyikannya, dia tak menyadari jikalau para penumpang yang baik nan budiman sudah pergi ke alam bak.. er, ke alam mimpi. Bahkan suara ngorok para penumpang pun hanya dianggap sebagai pengiring lagu bagi Mike kali ye..
“Adek pengamen,” sahut pak sopir angkot sok sopan, “mau ampe kapan nyanyinya teh? Itu penumpang saya udah pada tidur lho!”
Nah, baru sadar deh si Mike-nya. Akhirnya dia cuma bisa merhatiin penumpang satu per satu sambil masang muka cengonya. Mungkin di dalam hatinya dia sedang membatin seperti ini, ‘Anjrit, jangan-jangan pas berangkat tadi gue lupa sikat gigi, jadinya mereka pada pingsan setelah gue nyanyi!’ *penulis ditimpuk gitar ukulele ama Mike* Huh, dasar si Mike, dia minta penulis buat ngedit suara batinnya nih, karena kata dia yang dia omongin dalam hatinya yang bener tuh kayak gini, ‘Anjrit, ternyata para penumpang bisa tidur saking terlena ama suara gue ya! Selain karena mulut gue yang masih bau..’ *gubraks*
“Oi, dek, kok pertanyaan akang sopir kagak dijawab?”
“Eh, iya kang, turun di sinih ajah..”
“Ya udah, gih lompat!” kata pak sopir semena-mena karena sambil ngomong gitu, kecepetan angkotnya kagak dia turunin.
“Gimana bisa lompat atuh kang, pelanin dikit lha angkotnya..”
“Boleh-boleh, tapi.. Wani piroo??”
Bletak.. Aw.. Mike yang tak percaya ama omongan pak sopir langsung nepok palanya, tapi kenapa beksonnya ‘Bletak.. Aw..’ ya? Oh, iya, si Mike kan masih pegang ukulele, jadilah dia nepok palanya bukan dengan tangan kosong tapi pake ukulelenya. Benjol-benjol dah tuh pala. Heuheu..
“Ya udah, kang, nih saya kasih uang dari si emak itu ama pisang segepoknya si umi.. Buru pelanin angkotnya!”
“Nah gitu dong.. Kan lumayan tuh, dua ratusannya bisa dipake buat ngerok, pisangnya bisa dimakan orok saya besok-besok.. Sok atuh turun, sook..” kata pak sopir sok-sokan nyaingin penulis buat bikin rima. Angkotnya kini dibuat berjalan perlahan.
Hupla.. Mike melompat dari angkot tadi dan mendapati dirinya tengah berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota Bogor. Dimana lagi kalau bukan di pasar Bogor. Emang sih sebenernya ada pasar yang lebih gede dari pasar Bogor, tapi karena hampir semua angkot di Bogor tuh halte utamanya di sini, ya anggep aja ini pasar terbesar. Btw, tahukah kalian kalau orang-orang luar Bogor suka bingung kalo para sopir angkot neriakin tujuan angkotnya ke Bogor, padahal emang mereka udah ada di Bogor kan? For your info aja, yang dimaksud para sopir jurusan Bogor itu ya pasar Bogor tadi, makanya jangan heran lagi ya kalo kalian main ke Bogor (penulis ngitungin udah ada berapa kata Bogor yang ketulis di paragraf ini *dijitak Mike yang ga seneng dianggurin*).
Mau gak mau, Mike tersenyum karena dia pikir tempat ini pas banget buat dia ngamen. Kalau diistilahin mah pasar ini teh bisa dibilang ‘lahan basah’ kali ya. Benarkah demikian? Ok daripada berlama-lama, Mike pun segera beraksi menggelar lapak di pinggir jalan dengan membuka jaketnya sebagai tempat orang-orang lempar anak, eh, lempar duit. Setelah lapaknya kelar diberesin, Mike segera bernyanyi dan tak perlu waktu berapa lama, orang-orang sudah mengerumuni lapaknya. Di atas jaket yang dia gelar pun sudah mulai terlihat beberapa pecahan uang yang berserakan. Beneran ‘lahan basah’ ternyata yah atau benarkah demikian? Sambil tetep nyanyi, diem-diem Mike ngelirik ke jaketnya, dia pun terperangah kaget saat menyadari kalau di atas jaketnya itu selain ada uang receh beberapa ratus perak, ada juga lima keping jengkol muda yang begitu menggoda. Baik banget ya orang yang ngasih tuh jengkol. Gimana gak baik coba? Jengkol kan sedang langka di Bogor, harganya pasti lagi mahal. Bisa dibilang satu keping jengkol bisa setara dengan satu gram emas kali tuh.. *lebay max*
Mulut Mike terus bergerak ngikutin lirik lagu yang dinyanyiin. Sekarang udah lagu yang ketiga dan semakin banyak aja orang yang ngerumunin lapaknya. Well, makin banyak penonton bukan berarti hasil yang diperoleh pun makin banyak. Dari sepenglihatan Mike, duit yang nambah cuma sekitar 1500an rupiah euy. Malahan ada juga orang yang bukannya ngasih malah ngambil dua keping jengkol yang berharga itu (dalam benak Mike pun terbesit pikiran kalo yang ngambil jengkolnya pasti sekarang lagi ngelus, peluk, cium jengkolnya sambil beberapa kali ngomong ‘My precious!’ *digetok Smeagol si Gollum*). Terus, jadinya tempat ini bukan lahan ‘basah’ dong ya? Soalnya hasil yang didapat ga gitu banyak gitu lho. Yah, tak apalah, dapet berapapun Mike bakal tetep bersyukur. Seenggaknya masih ada yang menghargai karya pemusik jalanan.
“SATPOL PEPEEE!! TRAMTIIB!!” teriak kakek-kakek penjual cinderamata di sebelah lapak Mike tiba-tiba. Si kakek keliatan panik bener, liat aja tuh apa yang dilakuin dia sekarang begitu ngeliat ada satpol pp ama Trantib yang mau inspeksi dadakan. Saking paniknya, si kakek sampe kerajinan ngeberesin lapak dagangan dia, sama beresin lapak Mike juga! Ajegile, semua jerih payah Mike jadi ludes seketika dah. Hebatnya, belum sempet Mike bereaksi, si kakek tadi udah lari kencang ke arah berlawanan dari arah kedatangan mobil yang bertuliskan satpol pp di sisinya. Dalam hati Mike hanya bisa membatin, ‘itu kakek dulunya mantan atlet catur kali ya, sampe bisa lari sekenceng itu..’ *ga nyambung*
“Dek, lari, dek!” suruh si ibu yang tadi ngunjungin lapak Mike. “Mereka juga nangkepin pengamen juga lho!”
“He? Iyakah?”
“Cepet lari!!”
Mike nganggukin kepalanya, kemudian tanpa perlu aba-aba lagi dia pun berlari. Lari menjauh dari si ibu-ibu dan mendekat ke arah mobil satpol PP. Nah, lho! Salah arah Mike! Ya ampun, si Mike teh masih ngambek kali ya ama penulis, dibilang salah arah larinya masih tetep aja dia lari ke arah situ. Alhasil, salah satu petugas berhasil dengan mudah nangkep Mike yang akhirnya cuma bisa gelinjangan gak keruan dalam pelukan sang petugas yang bernama Adit. Si Mike pun digiring ke mobil satpol pp dan dinaikkan ke dalamnya.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
“Eh, Brad, si Mike masih belon balik juga dari LP Cilitak?” Tanya Jo, yang dijawab dengan ‘Yep’ singkat oleh Brad. “Euleuh, dua hari lagi kan kita teh harus mulai konser keliling dunia lagi!”
“Iyah tuh, gara-gara ketangkep Trantib waktu itu sih ya.. Kalo gini mah, gimana mau latian!” si Dave nimbrung.
“Udah ga apa-apa, jarang-jarang kan si Mike dapet pembelajaran kayak gitu.. Insya Allah positip buat kita juga nantinya..” Chester mencoba berpositip tingking. “Lagian ente mah Dave, sok ngatain si Mike, sendirinya tiap mau latian teh kedapetan lagi tidur melulu!”
“Bener, bener! Kalau nggak dibangunin sama si Hanipah mah ga akan mau bangun kali tuh! Hahahaha..” ledek Ro’uf, eh, Rob. Ngomong-ngomong Hanipah yang disebut ama Rob tadi tuh fans beratnya si Dave. Well, ketika penulis nyebut fans BERAT, maka itu bukan kiasan, alias begitulah adanya. Hanipah emang berbodi super big! Hehehehe.. *di-Smack Down Hanipah*
Kembali ke Mike, memang, semenjak kegiatan ngamennya seminggu lalu, Mike belum juga pulang ke base camp mereka uy! Tapi untung sih, belum sampe tiga kali lebaran tiga kali puasa, baru semingguan doang. Hehehe.. Hmm, emangnya ngapain aja sih dia di LP Cilitak? Apa dia ditahan alias dikerangkeng gara-gara ketangkep Trantib? Harusnya sih begonoh, tapi usut punya usut, si Mike cuma didata doang ama petugas dan dilepasin lagih pas kejadian ntuh. Nah, terus LP yang dimaksud temen-temen si Mike di percakapan di atas apa atuh? Lembaga Pemasyarakatan kan? Tentu aja bukan, karena yang dimaksud LP di situ, apalagi kalau bukan Linkin Park! *backsound: krik.. krik.. krik..*
Jadi, begini cerita benernya. Beberapa waktu setelah insiden Trantib, Mike pun berpikir bahwa sungguh ga enak banget ketika kita mengekspresikan diri, kita kudu dikejar-kejar ama aparat. Emangnya kita berbuat salah apa? Banci bukan, malak kagak, nyopet pun nggak, kentut doang yang kadang-kadang.. So, Mike pun mutusin buat ngebuat suatu wadah untuk mereka para pemusik jalanan agar bisa aman dan nyaman dalam mengekspresikan diri mereka, dan itulah cikal bakal dari markas LP yang terletak di kampung Cilitak. Insya Allah, sesekali mereka pun bisa dapet job undangan nyanyi atau perprom (baca: perform, biasalah namanya juga orang sunda *ngeles*) musik dari warga sekitar. Beberapa hari lalu aja ada yang diundang jadi pengiring musik di acara perpisahan murid PAUD kampung Situ Oke! Kan lumayan tuh, selain bisa ngeekspresiin diri, mereka pun bisa dapet penghasilan juga. Ujung-ujungnya mereka setor juga ke Mike, lumayan kan Mike dapet jatah! *Bletak*
Dari situlah, Mike mulai lebih sering berada di LP Cilitak. Selain untuk mencoba ngajarin gimana biar numbuhin brewok yang seksoy, dia juga ngajarin gimana supaya mereka bisa lebih kreatip dalam bermusik. Liat aja, suatu saat, pasti beberapa anak dari rumah singgahnya ini bakal ikut terkenal juga kayak Mike (diem-diem, Mike nyuruh beberapa anak buat ngelipsing lagu India, terus aplot pidionya di yutup).
Sip lah Mike, pokoknya mah kita semua ngedukung setiap niatanmu untuk terus memajukan blantika musik dunia. Tapi inget tuh, bandnya tetep jangan dilupain, masa mau konser tapi belum latian-latian juga. Betul ga kawan-kawan? GAAA!!
Selesai
NB :
- Harusnya dirilis ketika di ultahnya pak Adit di bulan Nov, tapi karena penulisnya waktu itu webe, jadi ketunda-tunda mulu inih tulisan. Wekeke.. Btw, lumayan kan pak, namanya kesebut! *kabuur*
- Endingnya terlalu terburu-buru n garing ya? Sengaja! Daripada punya utang mulu ke nama yang disebut di atas! *kabur lebih jauh* =))
- Mike, ngomong-ngomong kalau ada konser LP, jangan lupa kasih penulis tiket gratisannya ya, ikutan kuis di twitter dan fb gagal mulu sih! Hehehe..
- Last but not least, semoga terhibur! :)
Link di Note FB
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150321495631941
http://wewwkereen.blogspot.com/2011/09/fanfic-linkin-park-parody.html
Jadi baca dulu yang sebelumnya ya biar nyambung ^^
------------
Petualangan Mike
Eh, eh, kalian udah tau kan ama si Mike yang sukses dengan band Linkin Park yang didiriin (kelamaan duduk, jadi didiriin.. Hihi..) ama dia? Itu lho, band terkenal yang baru aja ngadain konser di Gelora Bung Karjo yang ada di pinggir Kali Ciliwung deket rumah dia di Taman Lengkeng. Pasalnya, konser itu tuh merupakan kombek (penulis orang sunda sih jadi ga bisa nulis ‘come back’ *digeplak*) mereka ke Indonesia, khususnya Bogor, setelah melanglang buana di luar negeri. Makanya konser itu tuh jadinya megah banget.. nget.. nget.. Dari sepuluh lagu yang mereka nyanyikan, tak ada satupun lagu yang nggak diikutin penontonnya. Bahkan satu lagu khusus yang baru aja dinyanyiin perdana di konser itu pun tetap dinyanyiin bareng ama semua! Ok, ok, terdengar lebay memang, masalahnya gimana mereka ga nyanyiin bareng, orang teksnya ketulis di layar gede yang dipasang di sayap kiri dan kanan panggung. Hihihi..
Nah, setelah konser itu tuh band Linkin Park bakalan liburan dulu deh. Hmm, sebenernya Mike sih ga mau libur konser, karena seperti yang kita ketahui dia tuh musik mania banget. Buat dia, tiada hari tanpa nyalurin bakat musik, makanya hari ini dia tuh berencana untuk ngamen ke seluruh kota Bogor seharian! Tenang aja, guys, uang hasil ngamennya dijamin bakal disumbangin buat penulis yang lagi kere ini nih.. *Bletak* Iya, iya, ralat deh.. Hasil ngamen bakal disumbangin ke Masjid di kampungnya yang keropaknya baru aja kemalingan (yang baca langsung ngelirik penulis *selepet satu per satu* hmm, gw emang kere, tapi ga akan ngerampok cuy!). Yak, kembali ke Mike yang lagi sibuk siap-siap untuk ngejalanin rencananya itu. Ngg, sebenernya tanpa persiapan juga sih, orang dia ngamennya cuman bermodalkan gitar ukulele dan wig panjang bule doang kok. Nah lho, kok ada wignya? Tentu aja sodara-sodara, si Mike ini pake wig supaya dia ga dikenalin ama orang lain, jadinya kan ntar hasil ngamennya aseli dari bakat musiknya, bukan dari ketenarannya. Ceileeh, sok iye ye? Heheh..
Bai de wei, si Mike juga tadinya ngajak temen-temennya buat ikut sih.. Tapi mau gimana lagi, ternyata di hari libur konser band LP ini, temen-temen se-bandnya itu punya kesibukan masing-masing juga. Ada si Jo yang lagi nostalgia maenin cobeknya buat ngulek pecel favorit warga kampung, si Chester yang lagi ngajarin sinden ke anak-anak asuhnya, ada juga si Rob yang seneng banget bisa maen rebana lagi ama geng rohis mesjidnya, sedangkan si Dave beneran sibuk buat ngedesain bass betot terbaru agar lebih nyaman digunain para waria, dan pastinya ada si Brad yang paling sibuk diantara anggota band lainnya, karena dari siang sampe sore ga boleh ada yang ganggu dia soalnya kegiatan dia tak lain dan tak bukan adalah.. TIDUR! Hihihi.. Nah, kan makanya setelah mendengar temen-temennya sibuk, alhasil si Mike cuma bisa berangkat sendiri deh.
Dengan bekal bismillah, Mike melangkahkan kakinya menuju jalan raya yang penuh dengan marabahaya serta tipu daya dengan segala upaya (sok nge-rima). Namun tak perlu menunggu beberapa lama, Mike telah mendapatkan angkutan umum pertama sebagai target untuk ngamennya. Yak, setelah menaiki angkutan itu Mike langsung menyanyikan satu lagu terbaru hasil eksperimennya yang berjudul ‘Vegetables MIX’ atau kalau ditranslet ke bahasa Endonesa jadi diartiin sebagai gado-gado alias pecel mun basa Sunda mah (nb: lagu terinspirasi dari kegiatan Jo di kampung). Hihi.. Lagu itu terus didendangkan tanpa henti, sampai tak terasa Mike sudah menempuh hampir nol meter perjalanan! Rrr, nol meter? Ga maju-maju dong? Ada apakah gerangan? Apa angkutan umumnya ngetem? Well, Selidik punya selidik, bukan salah di angkutannya ternyata, karena rupanya angkutan yang dinaikin Mike adalah kuda-kudaan keliling yang biasa dinaikin ama balita-balita. Dan sekarang si kuda-kudaan tuh emang lagi mangkal di situ. Tapi untunglah, walaupun Mike salah milih angkutan, dia tetep dapet hasil juga dari ngamen di situ. Dia dikasih dua rebu perak ama si Amang yang bawa kendaraan, karena katanya, si Mike teh udah mau ngegantiin radio tape-nya yang lagi rusak yang biasa dipake buat nyetel lagu anak-anak. Hihihi.. Sip, awal yang bagus, pikir Mike, dan dengan semangat 45 dia segera meluncur untuk mencari target selanjutnya.
Angkutan kedua telah datang. Sebelum naik angkutan tadi, Mike celingak-celinguk dulu, dia mau ngecek kendaraan itu, daripada salah lagi kan? Hmm, kendaraannya beroda empat, sopirnya satu, penumpangnya banyak, terus kenalpotnya satu, siplah beneran angkot ini mah! Hup, Mike yang udah ga sabar buat beraksi langsung loncat aja ama tuh angkutan umum dan ngegenjreng gitarnya seraya mulai menyanyikan lagu ‘Santai’-nya bang Haji Rhoma Irama yang dia remake menjadi berbahasa Inggris. Sontak saja, semua penumpang yang mendengarkan langsung ikutan joged, tak terkecuali sang sopir yang cuman bisa goyangin jempolnya doang (ya kalo goyang semua bisa bahaya cuy, bisa nyelonong rumah orang kali tuh angkotnya). Kurang lebih lima menit, lagu pun selesai dinyanyiin, tanpa sadar Mike membuka wignya dan menyimpan dalam posisi terbalik di tangannya dan mulai dia iderin ke semua penumpang untuk minta imbalan. Tapi kayaknya ga ada yang ngasih dia sepeser pun, ya udah deh dia pake lagi wig-nya, dan ups, dia pun baru sadar kalau barusan identitasnya bisa aja terbongkar. Beruntung, dalam angkot itu kayaknya ga ada yang ngenalin dia, jadi aman-aman aja dah. Maklum, penumpangnya udah emak-emak dan abah-abah semua.
“Dek, pokoknya kita mah ga mau ngasih duit sebelum mas nyanyiin lima lagu lagih!” ucap salah seorang penumpang yang keliatan paling muda, keliatannya doang, aslinya mah di atas 60an kali. Heuheu.. *ditimpuk penumpang tadi*
“Iyah, dek, nyanyi lagi yah? Nanti sayah juga ngasih uang deuh ke adek, nih kalo si adek gak percaya mah di-DP dulu sekarang dua ratus perak!” kata si Emak yang duduk paling pojok.
“Umi juga pengen denger suara adek lagi ih, daripada tiap hari denger suara ‘pales’ suami umi melulu.. Buruan atuh dek, nih ku umi mah dibayarnya langsung segepok!” ujar si Umi yang ada paling deket ama Mike. Ngomong-ngomong, segepok sih segepok, tapi sayangnya yang segepok itu bukan duit melainkan pisang. Hehehe..
“Nyanyi.. Nyanyi.. Nyanyi..!!”
Tiba-tiba secara serentak, semua penumpang meneriakkan kata itu, well, jadilah Mike tak punya pilihan lain selain bernyanyi lagi.
-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-
Setengah jam sudah Mike nyanyi di angkot itu, dan saking menghayati setiap lagu yang dinyanyikannya, dia tak menyadari jikalau para penumpang yang baik nan budiman sudah pergi ke alam bak.. er, ke alam mimpi. Bahkan suara ngorok para penumpang pun hanya dianggap sebagai pengiring lagu bagi Mike kali ye..
“Adek pengamen,” sahut pak sopir angkot sok sopan, “mau ampe kapan nyanyinya teh? Itu penumpang saya udah pada tidur lho!”
Nah, baru sadar deh si Mike-nya. Akhirnya dia cuma bisa merhatiin penumpang satu per satu sambil masang muka cengonya. Mungkin di dalam hatinya dia sedang membatin seperti ini, ‘Anjrit, jangan-jangan pas berangkat tadi gue lupa sikat gigi, jadinya mereka pada pingsan setelah gue nyanyi!’ *penulis ditimpuk gitar ukulele ama Mike* Huh, dasar si Mike, dia minta penulis buat ngedit suara batinnya nih, karena kata dia yang dia omongin dalam hatinya yang bener tuh kayak gini, ‘Anjrit, ternyata para penumpang bisa tidur saking terlena ama suara gue ya! Selain karena mulut gue yang masih bau..’ *gubraks*
“Oi, dek, kok pertanyaan akang sopir kagak dijawab?”
“Eh, iya kang, turun di sinih ajah..”
“Ya udah, gih lompat!” kata pak sopir semena-mena karena sambil ngomong gitu, kecepetan angkotnya kagak dia turunin.
“Gimana bisa lompat atuh kang, pelanin dikit lha angkotnya..”
“Boleh-boleh, tapi.. Wani piroo??”
Bletak.. Aw.. Mike yang tak percaya ama omongan pak sopir langsung nepok palanya, tapi kenapa beksonnya ‘Bletak.. Aw..’ ya? Oh, iya, si Mike kan masih pegang ukulele, jadilah dia nepok palanya bukan dengan tangan kosong tapi pake ukulelenya. Benjol-benjol dah tuh pala. Heuheu..
“Ya udah, kang, nih saya kasih uang dari si emak itu ama pisang segepoknya si umi.. Buru pelanin angkotnya!”
“Nah gitu dong.. Kan lumayan tuh, dua ratusannya bisa dipake buat ngerok, pisangnya bisa dimakan orok saya besok-besok.. Sok atuh turun, sook..” kata pak sopir sok-sokan nyaingin penulis buat bikin rima. Angkotnya kini dibuat berjalan perlahan.
Hupla.. Mike melompat dari angkot tadi dan mendapati dirinya tengah berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota Bogor. Dimana lagi kalau bukan di pasar Bogor. Emang sih sebenernya ada pasar yang lebih gede dari pasar Bogor, tapi karena hampir semua angkot di Bogor tuh halte utamanya di sini, ya anggep aja ini pasar terbesar. Btw, tahukah kalian kalau orang-orang luar Bogor suka bingung kalo para sopir angkot neriakin tujuan angkotnya ke Bogor, padahal emang mereka udah ada di Bogor kan? For your info aja, yang dimaksud para sopir jurusan Bogor itu ya pasar Bogor tadi, makanya jangan heran lagi ya kalo kalian main ke Bogor (penulis ngitungin udah ada berapa kata Bogor yang ketulis di paragraf ini *dijitak Mike yang ga seneng dianggurin*).
Mau gak mau, Mike tersenyum karena dia pikir tempat ini pas banget buat dia ngamen. Kalau diistilahin mah pasar ini teh bisa dibilang ‘lahan basah’ kali ya. Benarkah demikian? Ok daripada berlama-lama, Mike pun segera beraksi menggelar lapak di pinggir jalan dengan membuka jaketnya sebagai tempat orang-orang lempar anak, eh, lempar duit. Setelah lapaknya kelar diberesin, Mike segera bernyanyi dan tak perlu waktu berapa lama, orang-orang sudah mengerumuni lapaknya. Di atas jaket yang dia gelar pun sudah mulai terlihat beberapa pecahan uang yang berserakan. Beneran ‘lahan basah’ ternyata yah atau benarkah demikian? Sambil tetep nyanyi, diem-diem Mike ngelirik ke jaketnya, dia pun terperangah kaget saat menyadari kalau di atas jaketnya itu selain ada uang receh beberapa ratus perak, ada juga lima keping jengkol muda yang begitu menggoda. Baik banget ya orang yang ngasih tuh jengkol. Gimana gak baik coba? Jengkol kan sedang langka di Bogor, harganya pasti lagi mahal. Bisa dibilang satu keping jengkol bisa setara dengan satu gram emas kali tuh.. *lebay max*
Mulut Mike terus bergerak ngikutin lirik lagu yang dinyanyiin. Sekarang udah lagu yang ketiga dan semakin banyak aja orang yang ngerumunin lapaknya. Well, makin banyak penonton bukan berarti hasil yang diperoleh pun makin banyak. Dari sepenglihatan Mike, duit yang nambah cuma sekitar 1500an rupiah euy. Malahan ada juga orang yang bukannya ngasih malah ngambil dua keping jengkol yang berharga itu (dalam benak Mike pun terbesit pikiran kalo yang ngambil jengkolnya pasti sekarang lagi ngelus, peluk, cium jengkolnya sambil beberapa kali ngomong ‘My precious!’ *digetok Smeagol si Gollum*). Terus, jadinya tempat ini bukan lahan ‘basah’ dong ya? Soalnya hasil yang didapat ga gitu banyak gitu lho. Yah, tak apalah, dapet berapapun Mike bakal tetep bersyukur. Seenggaknya masih ada yang menghargai karya pemusik jalanan.
“SATPOL PEPEEE!! TRAMTIIB!!” teriak kakek-kakek penjual cinderamata di sebelah lapak Mike tiba-tiba. Si kakek keliatan panik bener, liat aja tuh apa yang dilakuin dia sekarang begitu ngeliat ada satpol pp ama Trantib yang mau inspeksi dadakan. Saking paniknya, si kakek sampe kerajinan ngeberesin lapak dagangan dia, sama beresin lapak Mike juga! Ajegile, semua jerih payah Mike jadi ludes seketika dah. Hebatnya, belum sempet Mike bereaksi, si kakek tadi udah lari kencang ke arah berlawanan dari arah kedatangan mobil yang bertuliskan satpol pp di sisinya. Dalam hati Mike hanya bisa membatin, ‘itu kakek dulunya mantan atlet catur kali ya, sampe bisa lari sekenceng itu..’ *ga nyambung*
“Dek, lari, dek!” suruh si ibu yang tadi ngunjungin lapak Mike. “Mereka juga nangkepin pengamen juga lho!”
“He? Iyakah?”
“Cepet lari!!”
Mike nganggukin kepalanya, kemudian tanpa perlu aba-aba lagi dia pun berlari. Lari menjauh dari si ibu-ibu dan mendekat ke arah mobil satpol PP. Nah, lho! Salah arah Mike! Ya ampun, si Mike teh masih ngambek kali ya ama penulis, dibilang salah arah larinya masih tetep aja dia lari ke arah situ. Alhasil, salah satu petugas berhasil dengan mudah nangkep Mike yang akhirnya cuma bisa gelinjangan gak keruan dalam pelukan sang petugas yang bernama Adit. Si Mike pun digiring ke mobil satpol pp dan dinaikkan ke dalamnya.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
“Eh, Brad, si Mike masih belon balik juga dari LP Cilitak?” Tanya Jo, yang dijawab dengan ‘Yep’ singkat oleh Brad. “Euleuh, dua hari lagi kan kita teh harus mulai konser keliling dunia lagi!”
“Iyah tuh, gara-gara ketangkep Trantib waktu itu sih ya.. Kalo gini mah, gimana mau latian!” si Dave nimbrung.
“Udah ga apa-apa, jarang-jarang kan si Mike dapet pembelajaran kayak gitu.. Insya Allah positip buat kita juga nantinya..” Chester mencoba berpositip tingking. “Lagian ente mah Dave, sok ngatain si Mike, sendirinya tiap mau latian teh kedapetan lagi tidur melulu!”
“Bener, bener! Kalau nggak dibangunin sama si Hanipah mah ga akan mau bangun kali tuh! Hahahaha..” ledek Ro’uf, eh, Rob. Ngomong-ngomong Hanipah yang disebut ama Rob tadi tuh fans beratnya si Dave. Well, ketika penulis nyebut fans BERAT, maka itu bukan kiasan, alias begitulah adanya. Hanipah emang berbodi super big! Hehehehe.. *di-Smack Down Hanipah*
Kembali ke Mike, memang, semenjak kegiatan ngamennya seminggu lalu, Mike belum juga pulang ke base camp mereka uy! Tapi untung sih, belum sampe tiga kali lebaran tiga kali puasa, baru semingguan doang. Hehehe.. Hmm, emangnya ngapain aja sih dia di LP Cilitak? Apa dia ditahan alias dikerangkeng gara-gara ketangkep Trantib? Harusnya sih begonoh, tapi usut punya usut, si Mike cuma didata doang ama petugas dan dilepasin lagih pas kejadian ntuh. Nah, terus LP yang dimaksud temen-temen si Mike di percakapan di atas apa atuh? Lembaga Pemasyarakatan kan? Tentu aja bukan, karena yang dimaksud LP di situ, apalagi kalau bukan Linkin Park! *backsound: krik.. krik.. krik..*
Jadi, begini cerita benernya. Beberapa waktu setelah insiden Trantib, Mike pun berpikir bahwa sungguh ga enak banget ketika kita mengekspresikan diri, kita kudu dikejar-kejar ama aparat. Emangnya kita berbuat salah apa? Banci bukan, malak kagak, nyopet pun nggak, kentut doang yang kadang-kadang.. So, Mike pun mutusin buat ngebuat suatu wadah untuk mereka para pemusik jalanan agar bisa aman dan nyaman dalam mengekspresikan diri mereka, dan itulah cikal bakal dari markas LP yang terletak di kampung Cilitak. Insya Allah, sesekali mereka pun bisa dapet job undangan nyanyi atau perprom (baca: perform, biasalah namanya juga orang sunda *ngeles*) musik dari warga sekitar. Beberapa hari lalu aja ada yang diundang jadi pengiring musik di acara perpisahan murid PAUD kampung Situ Oke! Kan lumayan tuh, selain bisa ngeekspresiin diri, mereka pun bisa dapet penghasilan juga. Ujung-ujungnya mereka setor juga ke Mike, lumayan kan Mike dapet jatah! *Bletak*
Dari situlah, Mike mulai lebih sering berada di LP Cilitak. Selain untuk mencoba ngajarin gimana biar numbuhin brewok yang seksoy, dia juga ngajarin gimana supaya mereka bisa lebih kreatip dalam bermusik. Liat aja, suatu saat, pasti beberapa anak dari rumah singgahnya ini bakal ikut terkenal juga kayak Mike (diem-diem, Mike nyuruh beberapa anak buat ngelipsing lagu India, terus aplot pidionya di yutup).
Sip lah Mike, pokoknya mah kita semua ngedukung setiap niatanmu untuk terus memajukan blantika musik dunia. Tapi inget tuh, bandnya tetep jangan dilupain, masa mau konser tapi belum latian-latian juga. Betul ga kawan-kawan? GAAA!!
Selesai
NB :
- Harusnya dirilis ketika di ultahnya pak Adit di bulan Nov, tapi karena penulisnya waktu itu webe, jadi ketunda-tunda mulu inih tulisan. Wekeke.. Btw, lumayan kan pak, namanya kesebut! *kabuur*
- Endingnya terlalu terburu-buru n garing ya? Sengaja! Daripada punya utang mulu ke nama yang disebut di atas! *kabur lebih jauh* =))
- Mike, ngomong-ngomong kalau ada konser LP, jangan lupa kasih penulis tiket gratisannya ya, ikutan kuis di twitter dan fb gagal mulu sih! Hehehe..
- Last but not least, semoga terhibur! :)
Link di Note FB
Sunday, November 27, 2011
Report Screening The Raid at INAFFF 2011
Fyuh, ketika gw nulis ini report, gw tuh baru aja nyampe dari acara perhelatan akbar masa kini yang tak lain dan tak bukan adalah.. JENGJENG.. Acara SeaGames 201!! Eh, tapi tunggu dulu, di seagames mah mana mungkin nayangin The Raid yah? Kalo gitu diralat deh, acara itu tak lain dan tak bukan adalah INAFFF 2011. Hehe.. *ditimpukin yang baca karna ngegaring*. Well, film The Raid yang udah terkenal lebih dulu di luar negeri setelah penayangan di festival-festival film sonoh itu juga jadi Closing di inafff 2011 lho. Makanya jangan heran, ketika akhirnya banyak orang tak sabar untuk menonton film ini. Apalagi, gak kayak biasanya, inafff nyediain sedikit tiket untuk dijual buat khalayak umum. Tapi, bukan gw namanya kalo ga dapet undangan dari inafff buat dateng di closingnya ini. Karena, yah, kalian tahu sendiri lha ya, aktor-aktor di the Raid kan kebanyakan merupakan murid didikan gw. Jadi.. ya gw pasti diundang kan? *digaplok aktor2* Tentunya selain tujuan utama gw untuk nonton film The Raid, tujuan lainnya adalah gath dengan para ‘Perantau’ alias mereka yang doyan ama film-film produksi Merantau Films, dan perlu digaris bawahi, sekalian jumpa fans dengan mereka, karena katanya sih mereka juga pada ngefans ke gw. Hehehe..
Ngomong-ngomong, ngereportnya enaknya dari mana ya? Hmm, oke deh, gw mulai aja dari ketika kaki gw dan asisten gw (Adit) baru saja menapakkan di Blitz Megaplex Grand Indonesia pada tanggal 20 November 2011 tadi. Gw with Adit tuh nyampe Blitz sekitar jam setengah empatan dari situ gw mulai smsin satu per satu para perantau dan nanya mereka ada dimana. Gimana sih mereka? Artis kedemenannya dateng, bukannya disambut malah pada mencar dimana tauk. :p Kriing, tiba-tiba hape gw bunyi, oh, telepon dari Narpati! Gw angkat tuh telepon dan gw jawab dengan mesra, dan dia pun juga sepertinya merespon dengan rasa yang sama *apasih, kok jadi maho detected* :)) Dia bilang dia juga udah ada di dalem Blitz. Ok, akhirnya tanpa harus bersusah payah, gw berhasil menemukan dia yang sedang terdiam termangu sambil menopang dagu *lebay*. Pokoknya gw nemuin dia di saat yang tepat deh, soalnya gw yakin sepuluh detik lagi gw ga nyapa dia, dia pasti udah kerasukan jin gara-gara kelamaan ngelamun. Hihi.. Sambil nunggu yang laen, kita juga mulai ngobrol ngalor ngidul, dari slash film yang tampil di layar dalam blitz, yang ada tulisan coming soon-nya sampe ngebahas gimana cara gw ngilangin jerawat membandel yang tumbuh di pantat (itu jerawat apa bisul!). Eh, tapi kayaknya obrolan gw harus berakhir dulu, karena fans perantau yang laen mulai berdatangan, ada Miss Pitong yang dateng bawa sepanduk gede bertuliskan ‘I Heart U Abay’ *dirajam* Iya, iya, tulisannya The Raid with Perantau deh :P, terus abis itu ada tanteh Ika yang langsung nyeletingin jaketnya karena ga biasa di gedung ber-AC, ada juga Mas Bayu dan pasangannya Mba Dra yang bawa kaos The Raid sebanyak 2 lusin yang dia jait sendiri, maklum aja, Mas Bayu itu kan ada keturunan dari Ibu Fatmawati yang dulu jait bendera merah putih pertama itu lho *biar kerasa keren* *bohong tingkat dewa* Eh, gak lama muncul bu Panco, yang baru pertama kali diijinin ngebolang ke Jakarta sendirian. Untung aja acaranya hari Minggu ya, pan, jadinya ga usah mangkir dari tempat kerja lagi kayak inafff 2009.. *digetok panco*
Ga perlu perantau lengkap untuk mulai berisik, karena dengan kehadiran kita bertujuh aja udah bikin Blitz heboh. Soalnya kita udah mulai foto-foto, ngobral-ngobrol, ngomongin siapa lagi yang belum dateng, dll. Gw sendiri pas asik-asiknya sempet terkesiap saat ngeliat Joko Anwar salah satu sutradara kenamaan yang pernah bikin film Janji Joni yang diperanin kakak sepupu gw Nicholas Saputra. Ya udin, gw dan narpati langsung nyamperin tuh orang. Kaget juga euy, ternyata Joko Anwar kenal gw, eh, tapi ngga juga deh, soalnya dia kira gw tuh Iko. Mungkin saking miripnya kita kali ya, ampe Joko Anwar pun terkecoh. Namanya juga kembar gitu lho! Huahaha.. Sayang uy, kita ga sempet ngobrol banyak pas ketemu, karena dia langsung masuk audi 8 untuk nonton film inafff yang laen. Ga lama setelah kepergian Joko Anwar, tim Perantau mulai bagi-bagiin kaos The Raid. Tanpa merhatiin orang-orang sekitar yang pada mupeng ama bajunya, ibu pitong mulai ngabsen nama-nama di bukunya beserta ukuran bajunya. Pas bagi-bagi baju ini sempet ada debat panas juga lho, tentang ukuran baju tanteh Ika apakah L, XL, atau tripel XL . Ukuran manakah yang menang? Tunggu aja di episode selanjutnya ya! Hehe.. *dikemplang* Setelah acara pembagian baju, kita mulai bertransformasi dengan kaos yang sama, kaos kebanggaan. Dari situ mulai foto-foto narsis, walaupun gw akui, gw yang paling sering di foto mereka, huh, dasar fans!
Waktu menunjukkan pukul enam. Setelah Shalat Maghrib berjamaah di Mushola KECIL yang ada di mall super GEDE di Jakarta itu, tim Perantau udah pada berkumpul di depan Audi 2, tempat dimana pemutaran The Raid untuk para invitations diadain. Wow, ternyata udah ada perantau laennya juga euy. Ada Nita yang keliatannya makin sipit aja setelah lama ga keliatan, trus Alpin yang ga kalah sipit ama Nita, terus ada Alna yang keliatan girang banget, Mas Tisno yang mukanya agak rapian dikit (abis disisir kali ya mukanya), ditambah bang Ahmad plus istri yang rela ninggalin Gibran anak mereka demi liat scene dia ditusuk yang cuma sepersekian detik di film itu.. hihi.. Nah, selain para Perantau yang emang udah sering kumpul di atas itu, kita juga kedatengan beberapa muka baru juga. Kayak Unira yang imut-imut chubby yang kalo orang liat jadi pengen nyubit dia pake tang, trus ada Alfian yang rambut depannya kek perosotan kutu, Musa yang abis keujanan dari Bogor, sisanya Unknowing, gw ga kenal, sorry! Kita belum sempet kenalan sih ya, karena kalian malu-malu ama gw yang super seleb ini! Haha.. Oh iya, kita kan punya janji buat nelpon bro Ismail Takumi ketika ngumpul. Jadilah si pitong ngeluarin hapenya dan mulai nelepon beliau, telepon digilir dari satu orang ke orang laennya, sampe tiba di tangan gw, telepon mati! Ya ampun, apa takumi pingsan ya setelah mendengar suara idolanya? Heuheu
Yosh, tim perusuh udah berkumpul banyak, sekarang tinggal mencari mangsa. Dimulai dari... Nah, ada Verdi Solaiman with his father tuh, om Hengki Solaiman, serbuuu! Ga perlu disuruh, si Pitong ngeluarin buku sakti Perantau, langsung minta tanda tangan mereka. Mas Verdi tanda tangan sih ga masalah, tapi pas om Hengki yang emang udah berumur, gw kira dia bakalan ngasih cap jempol doang karena ga bisa ttd, eh ternyata bisa juga ya tanda tangannya *dijitak* Target tanda tangan selanjutnya sih mudah, ada brother Godfred yang nantinya bakal bikin takut plus bikin ketawa seantero audi 2, terus ada mas Yandi yang di trailer terlihat porno (pake kutang doang-red), ada juga mas bro Imam Aji yang wajah tampannya kecipratan dari gw. Hohoho.. Selanjutnya beberapa kru lain juga ikutan tanda tangan di situ, dan pastinya Perantau pun ikut tanda tangan juga. Walaupun gw yakin, itu sih alasan mereka buat minta tanda tangan gw, emang ya fans sekarang tuh banyak yang suka malu-malu. Ckckck.. Abis itu mata gw berkeliling lagi, ngedapetin satu makhluk hitam berambut panjang dan bermuka garang ada di dekat loket Blitz, siapa lagi kalau bukan Kang Yayan Ruhian! *kang yayan said: “Deskripsinya jangan terlalu jujur napa!” sambil njewerin kuping gw* Yang belum tau kang Yayan tuh, dia di Merantau meranin Erik, yang tarung ama Yuda di lift itu lho! Kalau di The Raid sih si akang maen jadi Anjing Gila alias mad dog (kalo gw lempar tulang bakal dikejar gak ya, halah). Seneng banget deh ketemu si akang, dan pastinya si akang lebih seneng lagi ketemu gw. Secara kita tuh bagaikan master dan muridnya. Jangan tanya siapa masternya, karena pasti gw lha ya! Haha.. Err, master silat lidah sih, kalo silat beneran mah tetep dia masternya. :P Eh, pas gw dan yang laen asik bercengkrama ama kang Yayan, ada seseorang berbaju oranye ngelewat, dia-lah Joe Taslim yang jadi Komandan Jaka di The Raid. Ya udah dah tuh, gw towel dia, dan dia pun langsung noleh. Tiba-tiba mata kami yang saling bertemu pun menghasilkan percikan cinta yang begitu kuat. Kami saling mendekatkan kepala kami, lalu dia pun berbisik, “Mas cucok banget deh, mau dong eyke foto bareng ama yey!” Yes, another victim of me. Hahaha.. *dihajar massa, ngerusak imej orang* Antrian di depan audi 2 semakin panjang, kita yang belum puas gangguin pemain The Raid harus ikutan ngantri supaya dapet tempat duduk strategis. Huh, sayang banget, padahal gw belum ketemu kembaran gw. Tak apalah, mungkin dia lagi diwawancara di tempat khusus oleh beebrapa media. Gw cuma bisa menghela nafas, akhirnya dia merasakan kesibukan seleb kayak gw juga. Capek kan ngelayanin fans ama media? :))
Di dalem studio, kita cuma bisa dapet bangku di paling kiri, karena yang laennya beneran udah penuh berisi. Salah kita juga sih pake telat ngantri. Yah, walaupun sebetulnya gw bisa tinggal ngomong ke panitia pengen duduk di barisan VIP, tapi demi kesolidaritasan gw dengan anak perantau, gw tetep duduk di bangku itu. Lagipula bangku di situ bikin hoki juga kok, tuh buktinya Mas Bayu dapet voucher senilai 150rb di bawah bangkunya, sedangkan Pitong dipanggil sebagai Perantau terbaik dan mendapatkan Vest yang dipake untuk syuting The Raid, dan gw hanya mendapatkan kecupan jauh dari Babule, tapi gw rasa itu udah cukup melebihi dari hadiah apapun di muka bumi ini *dilempar pisau ama mbak Maya Evans*. Dan tak berapa lama, film pun dimulai..
Review film
Film dibuka dengan adegan Rama yang lagi latian dan harus ninggalin istrinya yang lagi hamil untuk sebuah misi. Kemudian dilanjut ke adegan sadis dari Tama pimpinan gembong narkoba. Selanjutnya adegan pun beralih ke tim Swat yang siap nyerbu sarang mereka. Setelah itu? Aksi.. Aksi.. dan Aksi.. Sumpah lha, nonton film ini tuh beneran ajib banget. Pastinya buat mereka yang doyan aksi muncrat-muncratan darah (yang syukurlah ga lebay), sadisme tingkat dewa, bela diri yang yahut, serta sinematografi ciamik, bakalan terpuaskan di film ini. Pokoknya ga akan puas ditonton sekali deh. Well, tadinya gw kira adegan kematian paling sadis tuh cuma ada di Final Destination Series, karena nyatanya di film ini cara kematiannya lebih sadis dari itu. Ada yang ditusuk *crot* ditembak *crot* bahkan jatuh dari ketinggian *brokocot*. Makanya ga jarang para penonton ikutan bersorak sorai dan bertepuk tangan ketika sang jagoan berhasil ngalahin musuh-musuhnya –sementara waktu-. Dari segi aksi udah OK, sekarang gimana dari segi akting? Ga kalah OK lha meen! Terutama untuk om Ray Sahetapy as Tama yang setiap muncul berhasil bikin orang sebel, lalu siapalagi kalo bukan tokoh Mad Dog! Dialognya di lift bareng Andi bikin ngakak banget! Huahaha.. Ada juga tokoh stunt dari Papua yang berhasil mencuri perhatian karena selain mimiknya yang seram yang cukup mompa adrenalin di salah satu adegan, dia juga berhasil mengundang tawa karena logat Papua-nya yang khas. Hehe.. Tokoh yang lain juga ok-ok lha, dari Pemeran utama, pendukung, stunt, aktingnya pas. Cuma di beberapa adegan, dialog yang diucapin suka ga jelas. Jadi gw baca subtitle english di bawahnya deh. Ga sia-sia gw makan peyem ampir tiap hari, baca sub english pun jadi tiada berarti. *apasih* Btw, yang udah nonton, pada nyadar gak hayoo, ada beberapa bloopers atau adegan yang kurang teredit rapi di filmnya? Contohnya saat Andi (Donny Alamsyah) berantem, beberapa kali gw liat dia pake stuntman, yah emang ga gitu kentara sih, tapi ama gw jelas keliatan lha ya. Soalnya sebagai aktor yang sejajaran ama dia, gw udah kenal dia luar dalem, dari postur tubuhnya sampai gaya tarungnya *sok iye*, jadi pas dia diganti stunt, keliatan dah. Trus di beberapa adegan juga keliatan bantalan di dada atau punggung merekanya uy. Yes, tentu aja itu untuk safety mereka pas ngebuat film. Dan mungkin cuma gw yang merhatiin kesalahan-kesalahan kecil itu. Hihi.. Terakhir, soal scoring, wah Aria Prayogi ama Fajar Yuskemal emang keren abis lha. Dari Merantau gw udah suka ama scoring buatan mereka, dan untuk film ini mereka bikin yang sama-sama ajib gitu lho. Pokoknya tiap adegan tegang, berkat bantuan si scoring adegan tegangnya makin berasa! Oh iya, salah satu scene plus efek sound yang paling gw suka tuh pas Bowo yang diperanin Tegar Satrya kena tembak di kupingnya, dan mendadak sound effect ngeluarin suara berdenging, sehingga kita yang nonton jadi ikut ngerasain kuping kena tembak itu dah. Well Done, Aria – Fajar! Jadi penasaran juga ama Scoring buatan Mike Shinoda dan Joe Trapanese, apakah bisa menyaingi mereka?
So, kayak dulu gw pernah pos di twitter gw @thehulkjr, point film ini tuh: Aksi – 9, Cerita – 6, Scoring – 8, Overall: 8/10.
-----
Back to gath, film udah selesai tepuk tangan langsung riuh membahana, bahkan hampir semua penonton ngasih standing ovation. Abis itu para penonton mulai menyelamati para pemain dan kru The Raid, sedangkan kita, Perantau, malah merhatiin layar credit title dan akhirnya mendapati tulisan ‘Thanks to Perantau Fans’. Yippie, seneng banget kan tuh, kita diakui? Siapa dulu dong.. Gw gitu lho! *ga nyambung* Yang laen mulai pada keluar dari studio, sedangkan kita, mulai narsis di depan layar bioskop sambil membentangkan spanduk the Raid with Perantau yang dibawa mrs Pitong. Ok, audi mulai sepi, kita pun bergegas keluar. Di luar rame banget, untungnya gw berinisiatif bawa topeng buat nyamar, jadinya ga ada yang ngenalin gw dan narik-narik gw untuk minta foto bareng atau minta tanda tangan atau minta cap bibir, cap belahan pantat dan cap-cap lainnya. And then Perantau mulai menyisir area mencari para pemain dan kru The Raid. Dan tak perlu bersusah payah, kita mulai dapet mangsa satu per satu. Semuanya kena foto bareng dah! Gareth Evans, Mas Toro, Iko, kang Yayan, Donny Alamsyah, Joe Taslim, Tegar Satrya, Imam Aji,. Verdi – Hengki Solaiman, Yandi, Eka, and of course mr Godfred. Dan tak ketinggalan, gw berhasil mendapat mangsa yang super nikmat walaupun bukan pemaen or kru the Raid, dia-lah Sherina. Gw seneng Sherina masih kenal ama gw, karena tahu gak sih, dulu pas kita masih kecil, Sherina tuh temen gw pas maen Barbie-barbie-an. :p
Hmm, waktu nunjukin pukul 11, pengennya sih kita masih ada di situ dan masih bercengkrama satu sama lain. Tapi kita pun ingat masih banyak yang harus kita lakukan di esok hari. Kudu kerja, meen! Atau kuliah.. :D Perantau pun gugur satu per satu. Nita yang pulang naek Taksi (katanya dia kudu mecahin celengannya dulu buat bisa naek taksi khusus malem ini), ada Mas Bayu, Mba Dra, Pitong dan tanteh Ika yang serombongan naek mobil Mba Dra, ada mas Tisno n Alpin yang entah naek apa, tapi diliat dari tampang mereka sih kayaknya naek motor. Maklum, tampang tukang ojek. Wekeke.. Terakhir, ada gw, Adit, Narpati, Alfian, Musa, dan Alna yang balik bareng. Diceritain gak yah detailnya? Ah, ga usah deh, pokoknya yang pasti kita sampe dengan selamat. Hahaha.. *penonton kecewa* dan begitulah para pembaca budiman, report dari gath Perantau tgl 20 Nov itu. Semoga berkenan di hati para pembaca sekalian. Inget, jangan ada yang kesinggung ama tulisan di atas yah, mohon maap deh kalo ada yang kesinggung, cuma maksud menghibur sajah.. Okeh, that’s all, so.. See you again, Perantau!!
Ngomong-ngomong, ngereportnya enaknya dari mana ya? Hmm, oke deh, gw mulai aja dari ketika kaki gw dan asisten gw (Adit) baru saja menapakkan di Blitz Megaplex Grand Indonesia pada tanggal 20 November 2011 tadi. Gw with Adit tuh nyampe Blitz sekitar jam setengah empatan dari situ gw mulai smsin satu per satu para perantau dan nanya mereka ada dimana. Gimana sih mereka? Artis kedemenannya dateng, bukannya disambut malah pada mencar dimana tauk. :p Kriing, tiba-tiba hape gw bunyi, oh, telepon dari Narpati! Gw angkat tuh telepon dan gw jawab dengan mesra, dan dia pun juga sepertinya merespon dengan rasa yang sama *apasih, kok jadi maho detected* :)) Dia bilang dia juga udah ada di dalem Blitz. Ok, akhirnya tanpa harus bersusah payah, gw berhasil menemukan dia yang sedang terdiam termangu sambil menopang dagu *lebay*. Pokoknya gw nemuin dia di saat yang tepat deh, soalnya gw yakin sepuluh detik lagi gw ga nyapa dia, dia pasti udah kerasukan jin gara-gara kelamaan ngelamun. Hihi.. Sambil nunggu yang laen, kita juga mulai ngobrol ngalor ngidul, dari slash film yang tampil di layar dalam blitz, yang ada tulisan coming soon-nya sampe ngebahas gimana cara gw ngilangin jerawat membandel yang tumbuh di pantat (itu jerawat apa bisul!). Eh, tapi kayaknya obrolan gw harus berakhir dulu, karena fans perantau yang laen mulai berdatangan, ada Miss Pitong yang dateng bawa sepanduk gede bertuliskan ‘I Heart U Abay’ *dirajam* Iya, iya, tulisannya The Raid with Perantau deh :P, terus abis itu ada tanteh Ika yang langsung nyeletingin jaketnya karena ga biasa di gedung ber-AC, ada juga Mas Bayu dan pasangannya Mba Dra yang bawa kaos The Raid sebanyak 2 lusin yang dia jait sendiri, maklum aja, Mas Bayu itu kan ada keturunan dari Ibu Fatmawati yang dulu jait bendera merah putih pertama itu lho *biar kerasa keren* *bohong tingkat dewa* Eh, gak lama muncul bu Panco, yang baru pertama kali diijinin ngebolang ke Jakarta sendirian. Untung aja acaranya hari Minggu ya, pan, jadinya ga usah mangkir dari tempat kerja lagi kayak inafff 2009.. *digetok panco*
Ga perlu perantau lengkap untuk mulai berisik, karena dengan kehadiran kita bertujuh aja udah bikin Blitz heboh. Soalnya kita udah mulai foto-foto, ngobral-ngobrol, ngomongin siapa lagi yang belum dateng, dll. Gw sendiri pas asik-asiknya sempet terkesiap saat ngeliat Joko Anwar salah satu sutradara kenamaan yang pernah bikin film Janji Joni yang diperanin kakak sepupu gw Nicholas Saputra. Ya udin, gw dan narpati langsung nyamperin tuh orang. Kaget juga euy, ternyata Joko Anwar kenal gw, eh, tapi ngga juga deh, soalnya dia kira gw tuh Iko. Mungkin saking miripnya kita kali ya, ampe Joko Anwar pun terkecoh. Namanya juga kembar gitu lho! Huahaha.. Sayang uy, kita ga sempet ngobrol banyak pas ketemu, karena dia langsung masuk audi 8 untuk nonton film inafff yang laen. Ga lama setelah kepergian Joko Anwar, tim Perantau mulai bagi-bagiin kaos The Raid. Tanpa merhatiin orang-orang sekitar yang pada mupeng ama bajunya, ibu pitong mulai ngabsen nama-nama di bukunya beserta ukuran bajunya. Pas bagi-bagi baju ini sempet ada debat panas juga lho, tentang ukuran baju tanteh Ika apakah L, XL, atau tripel XL . Ukuran manakah yang menang? Tunggu aja di episode selanjutnya ya! Hehe.. *dikemplang* Setelah acara pembagian baju, kita mulai bertransformasi dengan kaos yang sama, kaos kebanggaan. Dari situ mulai foto-foto narsis, walaupun gw akui, gw yang paling sering di foto mereka, huh, dasar fans!
Waktu menunjukkan pukul enam. Setelah Shalat Maghrib berjamaah di Mushola KECIL yang ada di mall super GEDE di Jakarta itu, tim Perantau udah pada berkumpul di depan Audi 2, tempat dimana pemutaran The Raid untuk para invitations diadain. Wow, ternyata udah ada perantau laennya juga euy. Ada Nita yang keliatannya makin sipit aja setelah lama ga keliatan, trus Alpin yang ga kalah sipit ama Nita, terus ada Alna yang keliatan girang banget, Mas Tisno yang mukanya agak rapian dikit (abis disisir kali ya mukanya), ditambah bang Ahmad plus istri yang rela ninggalin Gibran anak mereka demi liat scene dia ditusuk yang cuma sepersekian detik di film itu.. hihi.. Nah, selain para Perantau yang emang udah sering kumpul di atas itu, kita juga kedatengan beberapa muka baru juga. Kayak Unira yang imut-imut chubby yang kalo orang liat jadi pengen nyubit dia pake tang, trus ada Alfian yang rambut depannya kek perosotan kutu, Musa yang abis keujanan dari Bogor, sisanya Unknowing, gw ga kenal, sorry! Kita belum sempet kenalan sih ya, karena kalian malu-malu ama gw yang super seleb ini! Haha.. Oh iya, kita kan punya janji buat nelpon bro Ismail Takumi ketika ngumpul. Jadilah si pitong ngeluarin hapenya dan mulai nelepon beliau, telepon digilir dari satu orang ke orang laennya, sampe tiba di tangan gw, telepon mati! Ya ampun, apa takumi pingsan ya setelah mendengar suara idolanya? Heuheu
Yosh, tim perusuh udah berkumpul banyak, sekarang tinggal mencari mangsa. Dimulai dari... Nah, ada Verdi Solaiman with his father tuh, om Hengki Solaiman, serbuuu! Ga perlu disuruh, si Pitong ngeluarin buku sakti Perantau, langsung minta tanda tangan mereka. Mas Verdi tanda tangan sih ga masalah, tapi pas om Hengki yang emang udah berumur, gw kira dia bakalan ngasih cap jempol doang karena ga bisa ttd, eh ternyata bisa juga ya tanda tangannya *dijitak* Target tanda tangan selanjutnya sih mudah, ada brother Godfred yang nantinya bakal bikin takut plus bikin ketawa seantero audi 2, terus ada mas Yandi yang di trailer terlihat porno (pake kutang doang-red), ada juga mas bro Imam Aji yang wajah tampannya kecipratan dari gw. Hohoho.. Selanjutnya beberapa kru lain juga ikutan tanda tangan di situ, dan pastinya Perantau pun ikut tanda tangan juga. Walaupun gw yakin, itu sih alasan mereka buat minta tanda tangan gw, emang ya fans sekarang tuh banyak yang suka malu-malu. Ckckck.. Abis itu mata gw berkeliling lagi, ngedapetin satu makhluk hitam berambut panjang dan bermuka garang ada di dekat loket Blitz, siapa lagi kalau bukan Kang Yayan Ruhian! *kang yayan said: “Deskripsinya jangan terlalu jujur napa!” sambil njewerin kuping gw* Yang belum tau kang Yayan tuh, dia di Merantau meranin Erik, yang tarung ama Yuda di lift itu lho! Kalau di The Raid sih si akang maen jadi Anjing Gila alias mad dog (kalo gw lempar tulang bakal dikejar gak ya, halah). Seneng banget deh ketemu si akang, dan pastinya si akang lebih seneng lagi ketemu gw. Secara kita tuh bagaikan master dan muridnya. Jangan tanya siapa masternya, karena pasti gw lha ya! Haha.. Err, master silat lidah sih, kalo silat beneran mah tetep dia masternya. :P Eh, pas gw dan yang laen asik bercengkrama ama kang Yayan, ada seseorang berbaju oranye ngelewat, dia-lah Joe Taslim yang jadi Komandan Jaka di The Raid. Ya udah dah tuh, gw towel dia, dan dia pun langsung noleh. Tiba-tiba mata kami yang saling bertemu pun menghasilkan percikan cinta yang begitu kuat. Kami saling mendekatkan kepala kami, lalu dia pun berbisik, “Mas cucok banget deh, mau dong eyke foto bareng ama yey!” Yes, another victim of me. Hahaha.. *dihajar massa, ngerusak imej orang* Antrian di depan audi 2 semakin panjang, kita yang belum puas gangguin pemain The Raid harus ikutan ngantri supaya dapet tempat duduk strategis. Huh, sayang banget, padahal gw belum ketemu kembaran gw. Tak apalah, mungkin dia lagi diwawancara di tempat khusus oleh beebrapa media. Gw cuma bisa menghela nafas, akhirnya dia merasakan kesibukan seleb kayak gw juga. Capek kan ngelayanin fans ama media? :))
Di dalem studio, kita cuma bisa dapet bangku di paling kiri, karena yang laennya beneran udah penuh berisi. Salah kita juga sih pake telat ngantri. Yah, walaupun sebetulnya gw bisa tinggal ngomong ke panitia pengen duduk di barisan VIP, tapi demi kesolidaritasan gw dengan anak perantau, gw tetep duduk di bangku itu. Lagipula bangku di situ bikin hoki juga kok, tuh buktinya Mas Bayu dapet voucher senilai 150rb di bawah bangkunya, sedangkan Pitong dipanggil sebagai Perantau terbaik dan mendapatkan Vest yang dipake untuk syuting The Raid, dan gw hanya mendapatkan kecupan jauh dari Babule, tapi gw rasa itu udah cukup melebihi dari hadiah apapun di muka bumi ini *dilempar pisau ama mbak Maya Evans*. Dan tak berapa lama, film pun dimulai..
Review film
Film dibuka dengan adegan Rama yang lagi latian dan harus ninggalin istrinya yang lagi hamil untuk sebuah misi. Kemudian dilanjut ke adegan sadis dari Tama pimpinan gembong narkoba. Selanjutnya adegan pun beralih ke tim Swat yang siap nyerbu sarang mereka. Setelah itu? Aksi.. Aksi.. dan Aksi.. Sumpah lha, nonton film ini tuh beneran ajib banget. Pastinya buat mereka yang doyan aksi muncrat-muncratan darah (yang syukurlah ga lebay), sadisme tingkat dewa, bela diri yang yahut, serta sinematografi ciamik, bakalan terpuaskan di film ini. Pokoknya ga akan puas ditonton sekali deh. Well, tadinya gw kira adegan kematian paling sadis tuh cuma ada di Final Destination Series, karena nyatanya di film ini cara kematiannya lebih sadis dari itu. Ada yang ditusuk *crot* ditembak *crot* bahkan jatuh dari ketinggian *brokocot*. Makanya ga jarang para penonton ikutan bersorak sorai dan bertepuk tangan ketika sang jagoan berhasil ngalahin musuh-musuhnya –sementara waktu-. Dari segi aksi udah OK, sekarang gimana dari segi akting? Ga kalah OK lha meen! Terutama untuk om Ray Sahetapy as Tama yang setiap muncul berhasil bikin orang sebel, lalu siapalagi kalo bukan tokoh Mad Dog! Dialognya di lift bareng Andi bikin ngakak banget! Huahaha.. Ada juga tokoh stunt dari Papua yang berhasil mencuri perhatian karena selain mimiknya yang seram yang cukup mompa adrenalin di salah satu adegan, dia juga berhasil mengundang tawa karena logat Papua-nya yang khas. Hehe.. Tokoh yang lain juga ok-ok lha, dari Pemeran utama, pendukung, stunt, aktingnya pas. Cuma di beberapa adegan, dialog yang diucapin suka ga jelas. Jadi gw baca subtitle english di bawahnya deh. Ga sia-sia gw makan peyem ampir tiap hari, baca sub english pun jadi tiada berarti. *apasih* Btw, yang udah nonton, pada nyadar gak hayoo, ada beberapa bloopers atau adegan yang kurang teredit rapi di filmnya? Contohnya saat Andi (Donny Alamsyah) berantem, beberapa kali gw liat dia pake stuntman, yah emang ga gitu kentara sih, tapi ama gw jelas keliatan lha ya. Soalnya sebagai aktor yang sejajaran ama dia, gw udah kenal dia luar dalem, dari postur tubuhnya sampai gaya tarungnya *sok iye*, jadi pas dia diganti stunt, keliatan dah. Trus di beberapa adegan juga keliatan bantalan di dada atau punggung merekanya uy. Yes, tentu aja itu untuk safety mereka pas ngebuat film. Dan mungkin cuma gw yang merhatiin kesalahan-kesalahan kecil itu. Hihi.. Terakhir, soal scoring, wah Aria Prayogi ama Fajar Yuskemal emang keren abis lha. Dari Merantau gw udah suka ama scoring buatan mereka, dan untuk film ini mereka bikin yang sama-sama ajib gitu lho. Pokoknya tiap adegan tegang, berkat bantuan si scoring adegan tegangnya makin berasa! Oh iya, salah satu scene plus efek sound yang paling gw suka tuh pas Bowo yang diperanin Tegar Satrya kena tembak di kupingnya, dan mendadak sound effect ngeluarin suara berdenging, sehingga kita yang nonton jadi ikut ngerasain kuping kena tembak itu dah. Well Done, Aria – Fajar! Jadi penasaran juga ama Scoring buatan Mike Shinoda dan Joe Trapanese, apakah bisa menyaingi mereka?
So, kayak dulu gw pernah pos di twitter gw @thehulkjr, point film ini tuh: Aksi – 9, Cerita – 6, Scoring – 8, Overall: 8/10.
-----
Back to gath, film udah selesai tepuk tangan langsung riuh membahana, bahkan hampir semua penonton ngasih standing ovation. Abis itu para penonton mulai menyelamati para pemain dan kru The Raid, sedangkan kita, Perantau, malah merhatiin layar credit title dan akhirnya mendapati tulisan ‘Thanks to Perantau Fans’. Yippie, seneng banget kan tuh, kita diakui? Siapa dulu dong.. Gw gitu lho! *ga nyambung* Yang laen mulai pada keluar dari studio, sedangkan kita, mulai narsis di depan layar bioskop sambil membentangkan spanduk the Raid with Perantau yang dibawa mrs Pitong. Ok, audi mulai sepi, kita pun bergegas keluar. Di luar rame banget, untungnya gw berinisiatif bawa topeng buat nyamar, jadinya ga ada yang ngenalin gw dan narik-narik gw untuk minta foto bareng atau minta tanda tangan atau minta cap bibir, cap belahan pantat dan cap-cap lainnya. And then Perantau mulai menyisir area mencari para pemain dan kru The Raid. Dan tak perlu bersusah payah, kita mulai dapet mangsa satu per satu. Semuanya kena foto bareng dah! Gareth Evans, Mas Toro, Iko, kang Yayan, Donny Alamsyah, Joe Taslim, Tegar Satrya, Imam Aji,. Verdi – Hengki Solaiman, Yandi, Eka, and of course mr Godfred. Dan tak ketinggalan, gw berhasil mendapat mangsa yang super nikmat walaupun bukan pemaen or kru the Raid, dia-lah Sherina. Gw seneng Sherina masih kenal ama gw, karena tahu gak sih, dulu pas kita masih kecil, Sherina tuh temen gw pas maen Barbie-barbie-an. :p
Hmm, waktu nunjukin pukul 11, pengennya sih kita masih ada di situ dan masih bercengkrama satu sama lain. Tapi kita pun ingat masih banyak yang harus kita lakukan di esok hari. Kudu kerja, meen! Atau kuliah.. :D Perantau pun gugur satu per satu. Nita yang pulang naek Taksi (katanya dia kudu mecahin celengannya dulu buat bisa naek taksi khusus malem ini), ada Mas Bayu, Mba Dra, Pitong dan tanteh Ika yang serombongan naek mobil Mba Dra, ada mas Tisno n Alpin yang entah naek apa, tapi diliat dari tampang mereka sih kayaknya naek motor. Maklum, tampang tukang ojek. Wekeke.. Terakhir, ada gw, Adit, Narpati, Alfian, Musa, dan Alna yang balik bareng. Diceritain gak yah detailnya? Ah, ga usah deh, pokoknya yang pasti kita sampe dengan selamat. Hahaha.. *penonton kecewa* dan begitulah para pembaca budiman, report dari gath Perantau tgl 20 Nov itu. Semoga berkenan di hati para pembaca sekalian. Inget, jangan ada yang kesinggung ama tulisan di atas yah, mohon maap deh kalo ada yang kesinggung, cuma maksud menghibur sajah.. Okeh, that’s all, so.. See you again, Perantau!!
Label:
iko uwais,
Mike Shinoda,
review,
serbuan maut,
The Raid
Saturday, September 17, 2011
Fanfic LINKIN PARK - a Parody
Story of Linkin Park
Awal Mula Terbentuk Band
Di suatu desa terpencil di daerah Bogor, tinggallah seorang pria yang memiliki bakat seni tinggi. Dialah Jatmiko, yang merupakan keturunan dari Jawa dan Sunda. Tapi dalam kisahnya kali ini beliau pengen dipanggil dengan sebutan Mike aja katanya. Maklum demi jaga imej. Hehe.. Oh, well, kayaknya udah cukup perkenalannya, pokoknya yang pasti si Jatmi-, eh, si Mike teh orangnya asik, kreatip, dan inopatip. Contohnya aja pas kemaren ada pentas seni pas 17 Agustusan di daerahnya, dia ikut tampil dengan membawakan lagu qosidahan favoritnya, ‘Perdamaian’. Terus pernah juga pas dia lagi butuh duit, dia bawa gitar dari rumahnya dan langsung aja melesat pergi ke jalanan. Eh, pulang-pulang bawa duit lumayan banyak deh! Selidik punya selidik gitar itu ternyata dia pake, err, bukan dipake ngamen sih, tapi buat dijual. Kreatip kan dia? Ng, btw, katanya cukup perkenalannya, tapi malah cerita panjang lagi ya? Hihi.. So, daripada kelamaan, let the story begins..
Suatu pagi, Mike sedang berada di teras rumahnya sambil memainkan jenggot seupritnya, eh, memainkan gitar pinjaman dari temannya. Rupa-rupanya dirinya sedang mencoba menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Wah, pada belum tau yah? Si Mike ini kan emang punya cita-cita punya grup band yang terkenal seantero jagad dunia dan akhirat. Makanya dia doyan buat lagu sendiri. Lagu sendiri ciptaannya pun udah banyak sih, tinggal nyari anggota aja gitu lho. Tuh-tuh, si Mike mulai garuk-garuk kepalanya, itu tandanya dia udah menyelesaikan eksperimen dengan lagu barunya. Biasanya setelah kebiasaan itu, dia bakal muter-muter desa untuk mencari inspirasi (walaupun sebagian besar inspirasinya datang saat dia sedang B-A-B.. Hihi) dan jika beruntung mendapatkan anggota band pertamanya.
Mike berjalan menyusuri desa yang saat itu sedang panas-panasnya, sampai tiba-tiba dia melihat kerumunan di salah satu rumah. Langsung saja tanpa menunda rasa penasarannya, Mike mendatangi rumah itu dan mendapati seorang pemuda seumurannya sedang mengulek bumbu kacang di atas cobek, pantas saja orang-orang kumpul di rumah ini. Karena selain untuk membeli pecel atau gado-gado di situ, juga karena si pemuda tersebut mengulek dengan suatu ritme yang pas, sehingga nadanya mungkin pas untuk dipakai untuk ‘Ajep-ajep’! This is it.. Ini dia! Mike tersenyum. Akhirnya dia menemukan calon member band pertamanya. Tak perlu berapa lama baginya untuk mengajak Johan alias Joe untuk bergabung, karena Joe pun ternyata memiliki cita-cita yang sama dengan Mike. Dan sudah diputuskan, Joe memegang alat musik turn table, tapi karena masih belum ada modal, dia baru dibeliin Hape mainan yang bakal bunyi macem-macem tiap dipencet salah satu angkanya.
Hari demi hari mereka lalui dengan latihan, walaupun pastinya ga begitu sukses juga karena masih banyak posisi yang kurang, drummer, gitaris, bassis, dan vokalis (Mike sendiri lebih milih jadi rapper-nya)! Beruntung sekali Mike selalu tak kehilangan ide, karena keesokan harinya dia mengadakan audisi untuk mengisi sisa posisi yang kosong itu. Tak banyak peserta yang datang memenuhi panggilan audisi, yang hadir hanya 4 orang. Alhasil, tanpa audisi mereka pun lolos masuk ke dalam band Mike.
Mereka adalah Ro’uf dengan nama beken Rob yang mengisi posisi drummer, perlu diketahui, aslinya dia itu pemukul rebana lho di pengajian yang sama dengan Mike, tapi berhubung dia ada bakat pukul memukul, jadilah dengan mudah dia belajar maen drum juga. Anggota berikutnya adalah Brad atau nama panjangnya Bradja Musti, dia ini megang alat musik gitar. Ah, ga aneh juga sih kenapa dia kepilih, wong pas audisi itu sebenernya dia ga niatan datang untuk gabung band kok, melainkan buat nagih gitar kepunyaannya yang dipinjem ama Mike, tapi karena Mike ingin balas budi, diajaklah si Brad itu. Berikutnya ada Dapit (beneran ini lho nama yang ketulis di akte kelahirannya!) yang kepengen banget dipanggil dengan nama Dave, yang jadi pemain bassis di band ini. Mike memang tak salah pilh, pasalnya si Dave inilah yang suka membuat alat musik bass betot buat waria-waria yang ngamen. Hihihi.. Yang terakhir dan terpenting, sang vokalis yang diisi oleh Cepi Sutrisna yang disingkat jadi Chester. Kabarnya sih suaranya memang paling merdu di daerah Mike. Gimana nggak? Dia jadi pemenang lomba sinden se-kelurahan lho! Padahal dia satu-satunya peserta cowok.
Mike benar-benar senang. Setidaknya cita-citanya untuk membuat band telah tercapai, tinggal ngebuat band ini terkenal aja. Dan sebuah band yang siap untuk terkenal harus mempunyai nama. Diputuskanlah bahwa band mereka akan diberi nama: Taman Lengkeng. Kediaman mereka emang terkenal dengan perkebunan lengkengnya sih. Btw, nama Taman Lengkeng juga ga bertahan lama sih, karena setelah mereka go international dengan single mereka ‘In the End’ yang berduet dengan Nining Meida ‘Es Lilin’, namanya berubah menjadi Linkin Park (harusnya Taman Lengkeng ditranslet jadi Lengkeng Park, tapi karena ejaan Inggris agak susah ngeja huruf ‘Ng’ jadi diilangin deh huruf ‘G’ nya!). Well, sukses terus ya buat Mike dan kawan-kawan, semoga makin terkenal, dan jangan lupain kebudayaan sundanya. :D
THE END
Catatan Penulis: Fic ini dibuat hanya untuk iseng belaka, sekaligus rekuesan dari pecinta Mike Shinoda, Mr Silova :D Jadi buat para penggemar Linkin Park, jangan pada ngambek yah kalo misalkan di fic yang bergenre humor-parodi ini idola kalian jadi lebih keren daripada aselinya. Hehe.. *ditimpukin*
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150321495631941
Awal Mula Terbentuk Band
Di suatu desa terpencil di daerah Bogor, tinggallah seorang pria yang memiliki bakat seni tinggi. Dialah Jatmiko, yang merupakan keturunan dari Jawa dan Sunda. Tapi dalam kisahnya kali ini beliau pengen dipanggil dengan sebutan Mike aja katanya. Maklum demi jaga imej. Hehe.. Oh, well, kayaknya udah cukup perkenalannya, pokoknya yang pasti si Jatmi-, eh, si Mike teh orangnya asik, kreatip, dan inopatip. Contohnya aja pas kemaren ada pentas seni pas 17 Agustusan di daerahnya, dia ikut tampil dengan membawakan lagu qosidahan favoritnya, ‘Perdamaian’. Terus pernah juga pas dia lagi butuh duit, dia bawa gitar dari rumahnya dan langsung aja melesat pergi ke jalanan. Eh, pulang-pulang bawa duit lumayan banyak deh! Selidik punya selidik gitar itu ternyata dia pake, err, bukan dipake ngamen sih, tapi buat dijual. Kreatip kan dia? Ng, btw, katanya cukup perkenalannya, tapi malah cerita panjang lagi ya? Hihi.. So, daripada kelamaan, let the story begins..
Suatu pagi, Mike sedang berada di teras rumahnya sambil memainkan jenggot seupritnya, eh, memainkan gitar pinjaman dari temannya. Rupa-rupanya dirinya sedang mencoba menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Wah, pada belum tau yah? Si Mike ini kan emang punya cita-cita punya grup band yang terkenal seantero jagad dunia dan akhirat. Makanya dia doyan buat lagu sendiri. Lagu sendiri ciptaannya pun udah banyak sih, tinggal nyari anggota aja gitu lho. Tuh-tuh, si Mike mulai garuk-garuk kepalanya, itu tandanya dia udah menyelesaikan eksperimen dengan lagu barunya. Biasanya setelah kebiasaan itu, dia bakal muter-muter desa untuk mencari inspirasi (walaupun sebagian besar inspirasinya datang saat dia sedang B-A-B.. Hihi) dan jika beruntung mendapatkan anggota band pertamanya.
Mike berjalan menyusuri desa yang saat itu sedang panas-panasnya, sampai tiba-tiba dia melihat kerumunan di salah satu rumah. Langsung saja tanpa menunda rasa penasarannya, Mike mendatangi rumah itu dan mendapati seorang pemuda seumurannya sedang mengulek bumbu kacang di atas cobek, pantas saja orang-orang kumpul di rumah ini. Karena selain untuk membeli pecel atau gado-gado di situ, juga karena si pemuda tersebut mengulek dengan suatu ritme yang pas, sehingga nadanya mungkin pas untuk dipakai untuk ‘Ajep-ajep’! This is it.. Ini dia! Mike tersenyum. Akhirnya dia menemukan calon member band pertamanya. Tak perlu berapa lama baginya untuk mengajak Johan alias Joe untuk bergabung, karena Joe pun ternyata memiliki cita-cita yang sama dengan Mike. Dan sudah diputuskan, Joe memegang alat musik turn table, tapi karena masih belum ada modal, dia baru dibeliin Hape mainan yang bakal bunyi macem-macem tiap dipencet salah satu angkanya.
Hari demi hari mereka lalui dengan latihan, walaupun pastinya ga begitu sukses juga karena masih banyak posisi yang kurang, drummer, gitaris, bassis, dan vokalis (Mike sendiri lebih milih jadi rapper-nya)! Beruntung sekali Mike selalu tak kehilangan ide, karena keesokan harinya dia mengadakan audisi untuk mengisi sisa posisi yang kosong itu. Tak banyak peserta yang datang memenuhi panggilan audisi, yang hadir hanya 4 orang. Alhasil, tanpa audisi mereka pun lolos masuk ke dalam band Mike.
Mereka adalah Ro’uf dengan nama beken Rob yang mengisi posisi drummer, perlu diketahui, aslinya dia itu pemukul rebana lho di pengajian yang sama dengan Mike, tapi berhubung dia ada bakat pukul memukul, jadilah dengan mudah dia belajar maen drum juga. Anggota berikutnya adalah Brad atau nama panjangnya Bradja Musti, dia ini megang alat musik gitar. Ah, ga aneh juga sih kenapa dia kepilih, wong pas audisi itu sebenernya dia ga niatan datang untuk gabung band kok, melainkan buat nagih gitar kepunyaannya yang dipinjem ama Mike, tapi karena Mike ingin balas budi, diajaklah si Brad itu. Berikutnya ada Dapit (beneran ini lho nama yang ketulis di akte kelahirannya!) yang kepengen banget dipanggil dengan nama Dave, yang jadi pemain bassis di band ini. Mike memang tak salah pilh, pasalnya si Dave inilah yang suka membuat alat musik bass betot buat waria-waria yang ngamen. Hihihi.. Yang terakhir dan terpenting, sang vokalis yang diisi oleh Cepi Sutrisna yang disingkat jadi Chester. Kabarnya sih suaranya memang paling merdu di daerah Mike. Gimana nggak? Dia jadi pemenang lomba sinden se-kelurahan lho! Padahal dia satu-satunya peserta cowok.
Mike benar-benar senang. Setidaknya cita-citanya untuk membuat band telah tercapai, tinggal ngebuat band ini terkenal aja. Dan sebuah band yang siap untuk terkenal harus mempunyai nama. Diputuskanlah bahwa band mereka akan diberi nama: Taman Lengkeng. Kediaman mereka emang terkenal dengan perkebunan lengkengnya sih. Btw, nama Taman Lengkeng juga ga bertahan lama sih, karena setelah mereka go international dengan single mereka ‘In the End’ yang berduet dengan Nining Meida ‘Es Lilin’, namanya berubah menjadi Linkin Park (harusnya Taman Lengkeng ditranslet jadi Lengkeng Park, tapi karena ejaan Inggris agak susah ngeja huruf ‘Ng’ jadi diilangin deh huruf ‘G’ nya!). Well, sukses terus ya buat Mike dan kawan-kawan, semoga makin terkenal, dan jangan lupain kebudayaan sundanya. :D
THE END
Catatan Penulis: Fic ini dibuat hanya untuk iseng belaka, sekaligus rekuesan dari pecinta Mike Shinoda, Mr Silova :D Jadi buat para penggemar Linkin Park, jangan pada ngambek yah kalo misalkan di fic yang bergenre humor-parodi ini idola kalian jadi lebih keren daripada aselinya. Hehe.. *ditimpukin*
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150321495631941
Monday, July 18, 2011
FF Harpot: They Want Harry Potter!
Pertama-tama, jangan terlalu anggap serius FF ini ya. Anggap aja ini sebagai racauan sang penulis yang lagi stress karena *piiip* disensor karena itu adanya di ending FF. Hehe..
Oh iya, Ambudaff jadi cameo nih di ff ini (Cuma disebut sekali.. wakaka..), sebagai bentuk terima kasih sekaligus penghormatan sebagai pecinta harpot tertua di dunia.. *lebay (but real)*
Okeh, silakan dibaca.. :D
They Want Harry Potter!
Seberkas cahaya putih perak meluncur di tengah udara, melesak ke dalam kerumunan para penyihir yang sedang berpesta –di Pernikahan Keluarga Weasley- sekaligus melepas penat sesaat, setelah beberapa minggu belakangan ini hidup mereka digelayuti rasa tak nyaman karena teror dari para pengikut pangeran kegelapan yang terus meluas. Cahaya tadi –patronus yang berbentuk menyerupai hewan berkaki empat, lynx- masih berputar-putar di dalam tenda tempat para penyihir berada, berusaha mencari perhatian terlebih dahulu. Setelah itu, moncongnya terbuka, mengeluarkan suara berat yang familiar bagi Harry, Ron, Hermione, dan mungkin beberapa anggota Orde Phoenix yang hadir. Karena suara itu adalah suara Kingsley Shacklebolt..
"KEMENTERIAN TELAH JATUH.." Begitulah kata-kata pertama yang diucapkannya. "Rufus Scrimgeour telah wafat!"
Spontan saja, semua undangan langsung panik. Mereka berhamburan keluar, berpegangan dengan orang terdekatnya dan berdisapparate. Sementara itu, Harry beserta kedua temannya dan beberapa anggota Orde masih berada di tempat. Mata mereka tertuju kepada seseorang yang masih saja melahap makanan di piringnya di waktu yang serba panik ini. Orang itu bertubuh tegap, setegap orang-orang militer dari dunia muggle, rambutnya panjang sebahu dan berantakan seperti surai singa, mukanya tegas bahkan dalam keadaan sedang makan banyak, dia adalah RUFUS SCRIMGEOUR!
"Mr Scrimgeour!" pekik Mrs Weasley. "Kau berada di sini? Kau masih HIDUP?"
Mr Scrimgeour hanya mengangguk singkat dan melanjutkan acara makan-makannya.
"Bloody Hell, Rufus mana dong yang dimaksud oleh Kingsley?" Tanya Ron.
Beberapa hari sebelumnya di Malfoy's Manor
"Aku tak percaya, kalian telah gagal menangkap Potter untukku lagi!" cecar Voldemort kepada semua pelahap maut yang ada di salah satu ruangan Kediaman Malfoy itu.
"Tapi, Lord, setidaknya kita telah berhasil membunuh Mad-Eye," ujar Dolohov berusaha membela diri.
"Masa bodoh soal Mad-Eye! Dan siapapun atau berapapun yang kalian bunuh di malam itu, tetap saja tak bisa membuat misi ini dikatakan berhasil, jika Potter masih hidup! I just want Harry Potter!" Voldemort semakin geram, matanya semakin menyala merah, tentu saja yang bisa dilakukan oleh para Pelahap Maut saat ini adalah hanya mendengarkan omelan dari sang Pangeran Kegelapan mereka itu.
"Ngomong-ngomong soal Harry Potter," ucap Snape, semua langsung mata tertuju padanya, "Ada beberapa orang yang sangat menginginkan bocah itu, sama seperti anda dan semua orang di sini menginginkannya!"
"Hmm, siapa mereka, Severus?" Voldemort kelihatan tertarik.
"Tap-tapi, Lord! Jangan percaya pada Severus lagi, aku yakin dia yang membocorkan serangan mendadak kita kepada anggota Orde!" sergah Yaxley.
"Diam kau, Yaxley! Lagipula, apa kau sudah lupa, bahwa Severus-lah yang memberitahu kita soal rencana pemberangkatan Potter yang lebih awal!" gertak Voldemort. "Ayo, Severus, lanjutkan!"
Snape mendelik sebentar ke arah Yaxley, kemudian berkata, "Mereka mungkin bakal jadi orang-orang yang berguna untuk kita, nantinya.." Snape berhenti sejenak, "Mereka adalah.."
Hari-H
"IMPEDIMENTA!" teriakan salah seorang pelahap maut berambut pirang menggema di salah satu bilik ruangan bercat putih dan dengan segala furnitur serba mewah. "Itu penjaga terakhir yang telah kita lumpuhkan. Sama sekali tak ada perlawanan, hanya segini bentuk pertahanan dari Kementrian?"
"Jangan sombong dulu, Lucius!" ujar Snape sambil mengibaskan jubahnya. "Mereka bisa saja melawan dengan benda aneh yang memuntahkan besi berkecepatan tinggi padamu, kalau saja kita tidak menyerang secara tiba-tiba!"
"Dan, Ooh, rupanya KAU yang membuat orang-orang di sini tidak bisa memihak kepada kami, kepada Pangeran Kegelapan, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan Harry Potter seperti yang mereka inginkan?" hardik Bellatrix Lestrange kepada seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi.
"Lalu apa yang kita lakukan selanjutnya? Kita bunuh saja?" tanya Lucius, takut salah langkah lagi.
"Menurut titah Pangeran Kegelapan, kita harus menawan atau membunuh siapa saja yang menghalangi keinginan siapa saja yang mengincar Harry Potter!" Bellatrix yang menjawab.
"Tidak perlu seperti itu, untuk yang satu", sergah Snape. "Cukup serahkan saja semuanya padaku, IMPERIO!"
Cahaya putih perak lainnya kembali datang dan berputar-putar di tenda yang berada di halaman rumah keluarga Weasley yang kini hanya bersisa beberapa orang saja di dalamnya. Cahaya tadi terus berputar sampai akhirnya kembali membuka moncongnya dan bersuara, "Maaf, ralat! Kementrian INDONESIA telah runtuh oleh Pelahap Maut!"
Cahaya tersebut buyar, kemudian datang lagi yang lainnya.
"Siapa saja pembuat onar dan menghalangi niat para warga di sana yang menginginkan Potter, tewas!"
Selang beberapa detik setelah yang tadi buyar, datang yang ketiga, "Oh iya, Kementrian Sihir juga udah jatuh deng! Hati-hati sebentar lagi para pelahap maut bakal nyerang ke situ. Btw, Rufus nya lagi di situ kan? Dia ga apa-apa kan?"
Semua kepala menghadap ke arah Rufus sekali lagi. Dan mereka dikagetkan dengan fakta bahwa Rufus ternyata sudah terdiam kaku alias meninggal, gara-gara kehabisan nafas karena tersedak ceker ayam kalkun saat makan terburu-buru.
Sementara itu di Indonesia...
"Harry Potter dipastikan akan tayang di Indonesia setelah dikeluarkannya surat keputusan dari Menteri Keuangan. Hal ini benar-benar suatu kabar gembira bagi para penggemar Harry Potter. Padahal di hari sebelumnya Menteri Keuangan merasa belum bisa mengeluarkan surat tersebut dikarenakan beberapa distributor terkait masih terjerat hutang pajak! Semoga saja dengan Surat keputusan ini, sang bocah yang bertahan hidup akan segera berkunjung di bioskop-bioskop kesayangan anda.." Papar penyiar berita salah satu stasiun tv swasta di negeri yang memang rakyatnya benar-benar sedang menginginkan Harry Potter itu.
Well, kebetulan sekali Snape yang masih berada di Indonesia (karena masih mengendalikan sang Menteri) merasa sangat senang karena misinya dapat terselesaikan. Walaupun memang ada sedikit penyesalan di hatinya sih, karena Lucius, Bella dan beberapa pelahap maut lainnya yang ikut malah membunuhi orang-orang yang dianggap sebagai pembuat masalah (yang berhutang) sehingga warga Indonesia tidak bisa mendapatkan Harry Potter. Tapi Snape bersyukur, karena dengan ini Voldemort akan semakin percaya padanya, setelah keberhasilan misi ini, walaupun memang yang dimaksud dengan warga di sini menginginkan Harry Potter adalah bukan menginginkan Harry Potter dibunuh, tetapi #IndonesiaWantsHarryPotter untuk menyaksikan kisahnya yang terakhir. Memang terbilang nekat sih, seandainya saja Snape tidak jago berakting jadi agen ganda pasti semua bakalan gagal dari awal.
Trek.. Snape mendorong HP miliknya, membuka salah satu jejaring sosial yang membuatnya nekat melaksanakan misi gila ini. Membuka list mention miliknya, mengklik reply di postingan yang teratas kemudian mengetikkan.. 'ambudaff misi sdh selesai, sebentar lg kalian sudah dpt menyaksikan Harry Potter, menyaksikanku juga! Trims sdh mnjadi fans terberatku!'
Tamat –Mari Bersilang Jari–
NB:
Nah, akhirnya tahu kan kenapa di kata pembuka dibilangin supaya nganggep FF ini sebagai racauan sajah. Hehehe.. thehulkjr Yes, we want you, and we want see how Snape die in the movie.. #plaak #IndonesiaWantsHarryPotter wakakaka..
Btw, kalau misal setelah sebulan semenjak FF ini rilis masih belum ada juga filmnya, gw bakalan siapin sekuelnya.. Mari meracau kembali! lol
Link FFN
Link FB
Oh iya, Ambudaff jadi cameo nih di ff ini (Cuma disebut sekali.. wakaka..), sebagai bentuk terima kasih sekaligus penghormatan sebagai pecinta harpot tertua di dunia.. *lebay (but real)*
Okeh, silakan dibaca.. :D
They Want Harry Potter!
Seberkas cahaya putih perak meluncur di tengah udara, melesak ke dalam kerumunan para penyihir yang sedang berpesta –di Pernikahan Keluarga Weasley- sekaligus melepas penat sesaat, setelah beberapa minggu belakangan ini hidup mereka digelayuti rasa tak nyaman karena teror dari para pengikut pangeran kegelapan yang terus meluas. Cahaya tadi –patronus yang berbentuk menyerupai hewan berkaki empat, lynx- masih berputar-putar di dalam tenda tempat para penyihir berada, berusaha mencari perhatian terlebih dahulu. Setelah itu, moncongnya terbuka, mengeluarkan suara berat yang familiar bagi Harry, Ron, Hermione, dan mungkin beberapa anggota Orde Phoenix yang hadir. Karena suara itu adalah suara Kingsley Shacklebolt..
"KEMENTERIAN TELAH JATUH.." Begitulah kata-kata pertama yang diucapkannya. "Rufus Scrimgeour telah wafat!"
Spontan saja, semua undangan langsung panik. Mereka berhamburan keluar, berpegangan dengan orang terdekatnya dan berdisapparate. Sementara itu, Harry beserta kedua temannya dan beberapa anggota Orde masih berada di tempat. Mata mereka tertuju kepada seseorang yang masih saja melahap makanan di piringnya di waktu yang serba panik ini. Orang itu bertubuh tegap, setegap orang-orang militer dari dunia muggle, rambutnya panjang sebahu dan berantakan seperti surai singa, mukanya tegas bahkan dalam keadaan sedang makan banyak, dia adalah RUFUS SCRIMGEOUR!
"Mr Scrimgeour!" pekik Mrs Weasley. "Kau berada di sini? Kau masih HIDUP?"
Mr Scrimgeour hanya mengangguk singkat dan melanjutkan acara makan-makannya.
"Bloody Hell, Rufus mana dong yang dimaksud oleh Kingsley?" Tanya Ron.
Beberapa hari sebelumnya di Malfoy's Manor
"Aku tak percaya, kalian telah gagal menangkap Potter untukku lagi!" cecar Voldemort kepada semua pelahap maut yang ada di salah satu ruangan Kediaman Malfoy itu.
"Tapi, Lord, setidaknya kita telah berhasil membunuh Mad-Eye," ujar Dolohov berusaha membela diri.
"Masa bodoh soal Mad-Eye! Dan siapapun atau berapapun yang kalian bunuh di malam itu, tetap saja tak bisa membuat misi ini dikatakan berhasil, jika Potter masih hidup! I just want Harry Potter!" Voldemort semakin geram, matanya semakin menyala merah, tentu saja yang bisa dilakukan oleh para Pelahap Maut saat ini adalah hanya mendengarkan omelan dari sang Pangeran Kegelapan mereka itu.
"Ngomong-ngomong soal Harry Potter," ucap Snape, semua langsung mata tertuju padanya, "Ada beberapa orang yang sangat menginginkan bocah itu, sama seperti anda dan semua orang di sini menginginkannya!"
"Hmm, siapa mereka, Severus?" Voldemort kelihatan tertarik.
"Tap-tapi, Lord! Jangan percaya pada Severus lagi, aku yakin dia yang membocorkan serangan mendadak kita kepada anggota Orde!" sergah Yaxley.
"Diam kau, Yaxley! Lagipula, apa kau sudah lupa, bahwa Severus-lah yang memberitahu kita soal rencana pemberangkatan Potter yang lebih awal!" gertak Voldemort. "Ayo, Severus, lanjutkan!"
Snape mendelik sebentar ke arah Yaxley, kemudian berkata, "Mereka mungkin bakal jadi orang-orang yang berguna untuk kita, nantinya.." Snape berhenti sejenak, "Mereka adalah.."
Hari-H
"IMPEDIMENTA!" teriakan salah seorang pelahap maut berambut pirang menggema di salah satu bilik ruangan bercat putih dan dengan segala furnitur serba mewah. "Itu penjaga terakhir yang telah kita lumpuhkan. Sama sekali tak ada perlawanan, hanya segini bentuk pertahanan dari Kementrian?"
"Jangan sombong dulu, Lucius!" ujar Snape sambil mengibaskan jubahnya. "Mereka bisa saja melawan dengan benda aneh yang memuntahkan besi berkecepatan tinggi padamu, kalau saja kita tidak menyerang secara tiba-tiba!"
"Dan, Ooh, rupanya KAU yang membuat orang-orang di sini tidak bisa memihak kepada kami, kepada Pangeran Kegelapan, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan Harry Potter seperti yang mereka inginkan?" hardik Bellatrix Lestrange kepada seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi.
"Lalu apa yang kita lakukan selanjutnya? Kita bunuh saja?" tanya Lucius, takut salah langkah lagi.
"Menurut titah Pangeran Kegelapan, kita harus menawan atau membunuh siapa saja yang menghalangi keinginan siapa saja yang mengincar Harry Potter!" Bellatrix yang menjawab.
"Tidak perlu seperti itu, untuk yang satu", sergah Snape. "Cukup serahkan saja semuanya padaku, IMPERIO!"
Cahaya putih perak lainnya kembali datang dan berputar-putar di tenda yang berada di halaman rumah keluarga Weasley yang kini hanya bersisa beberapa orang saja di dalamnya. Cahaya tadi terus berputar sampai akhirnya kembali membuka moncongnya dan bersuara, "Maaf, ralat! Kementrian INDONESIA telah runtuh oleh Pelahap Maut!"
Cahaya tersebut buyar, kemudian datang lagi yang lainnya.
"Siapa saja pembuat onar dan menghalangi niat para warga di sana yang menginginkan Potter, tewas!"
Selang beberapa detik setelah yang tadi buyar, datang yang ketiga, "Oh iya, Kementrian Sihir juga udah jatuh deng! Hati-hati sebentar lagi para pelahap maut bakal nyerang ke situ. Btw, Rufus nya lagi di situ kan? Dia ga apa-apa kan?"
Semua kepala menghadap ke arah Rufus sekali lagi. Dan mereka dikagetkan dengan fakta bahwa Rufus ternyata sudah terdiam kaku alias meninggal, gara-gara kehabisan nafas karena tersedak ceker ayam kalkun saat makan terburu-buru.
Sementara itu di Indonesia...
"Harry Potter dipastikan akan tayang di Indonesia setelah dikeluarkannya surat keputusan dari Menteri Keuangan. Hal ini benar-benar suatu kabar gembira bagi para penggemar Harry Potter. Padahal di hari sebelumnya Menteri Keuangan merasa belum bisa mengeluarkan surat tersebut dikarenakan beberapa distributor terkait masih terjerat hutang pajak! Semoga saja dengan Surat keputusan ini, sang bocah yang bertahan hidup akan segera berkunjung di bioskop-bioskop kesayangan anda.." Papar penyiar berita salah satu stasiun tv swasta di negeri yang memang rakyatnya benar-benar sedang menginginkan Harry Potter itu.
Well, kebetulan sekali Snape yang masih berada di Indonesia (karena masih mengendalikan sang Menteri) merasa sangat senang karena misinya dapat terselesaikan. Walaupun memang ada sedikit penyesalan di hatinya sih, karena Lucius, Bella dan beberapa pelahap maut lainnya yang ikut malah membunuhi orang-orang yang dianggap sebagai pembuat masalah (yang berhutang) sehingga warga Indonesia tidak bisa mendapatkan Harry Potter. Tapi Snape bersyukur, karena dengan ini Voldemort akan semakin percaya padanya, setelah keberhasilan misi ini, walaupun memang yang dimaksud dengan warga di sini menginginkan Harry Potter adalah bukan menginginkan Harry Potter dibunuh, tetapi #IndonesiaWantsHarryPotter untuk menyaksikan kisahnya yang terakhir. Memang terbilang nekat sih, seandainya saja Snape tidak jago berakting jadi agen ganda pasti semua bakalan gagal dari awal.
Trek.. Snape mendorong HP miliknya, membuka salah satu jejaring sosial yang membuatnya nekat melaksanakan misi gila ini. Membuka list mention miliknya, mengklik reply di postingan yang teratas kemudian mengetikkan.. 'ambudaff misi sdh selesai, sebentar lg kalian sudah dpt menyaksikan Harry Potter, menyaksikanku juga! Trims sdh mnjadi fans terberatku!'
Tamat –Mari Bersilang Jari–
NB:
Nah, akhirnya tahu kan kenapa di kata pembuka dibilangin supaya nganggep FF ini sebagai racauan sajah. Hehehe.. thehulkjr Yes, we want you, and we want see how Snape die in the movie.. #plaak #IndonesiaWantsHarryPotter wakakaka..
Btw, kalau misal setelah sebulan semenjak FF ini rilis masih belum ada juga filmnya, gw bakalan siapin sekuelnya.. Mari meracau kembali! lol
Link FFN
Link FB
Thursday, June 23, 2011
Nyu Mun
First of All, ini adalah sekuel dari Tualait yang sebelumnya pernah menggebrak dunia perfanfic-an *narsis*. So, yang belum baca Tualait, dibaca dulu ye..
Link Tualait:
FB: http://www.facebook.com/note.php?note_id=60537026940
FFN : http://www.fanfiction.net/s/4950701/1/Tualait
Blog : http://wewwkereen.blogspot.com/2009/03/tualait.html
Nyu Mun
Aku merenung di depan jendela. Bukan sedang memikirkan harga bahan pokok yang kian melambung, bukan pula sedang memikirkan bisul di pantatku yang dari ff Tualait belum pecah-pecah. Aku di sini sedang memikirkan kekasihku tercinta, Eed sayang. Sudah dua hari ini dia tidak sekolah dan berkunjung ke rumahku. Katanya sih dia sedang berburu untuk menghilangkan dahaganya akan darah. Eit, tapi inget, dia tidak akan mau menghisap darah dari manusia. Alasannya, pertama, Eed tuh manusia nyamuk yang baik hati. Kedua, katanya sih darah manusia pada gak enak, kadang ada yang bau anyir, ada yang bau jengkol, pokoknya gimana amalnya aja lha.
Kutatap lagi semak-semak di bawah jendelaku yang sedari tadi bergerak sendiri, berharap itu Eed yang sedang mengendap-ngendap kayak maling. Tetapi, walaupun dilihat gimanapun, semak-semak tadi emang gerak sendiri karena angin, bukan oleh yang lain. Aku pun mendesah, bukan lewat mulut tapi lewat lubang pantatku (untung saja jendela terbuka, hehe..) dan bertanya-tanya kapankah kekasihku yang memiliki mulut seksi itu tiba?
Lalu kupandangi langit yang berbeda dari biasanya. Yap, malam ini sungguh cerah. Bintang-bintang yang biasanya bersembunyi di balik awan, kini berani menampakkan diri. Mau tak mau, aku mengharapkan ada bintang jatuh sehingga aku bisa meminta sebuah permintaan sederhana, yaitu datangkanlah Eed sekarang sambil bawa perhiasan sebanyak-banyaknya. Sederhana sekali kan? Apalagi aku tahu sekecil apapun permintaan itu biasanya akan terkabul. Kemarin saja aku lihat tetanggaku yang meminta kepada anaknya untuk memijitinya langsung terkabul!! Eh, tapi apa hubungannya dengan bintang jatuh ya? *blushing*
Ah, sudahlah daripada mulai berpikiran ngaco, lebih baik aku tidur saja. Barangkali saat tidur pun, aku bakal memimpikan pujaan hatiku itu. Yep, mudah-mudahan itu terjadi!
Langsung saja kunaiki kasur empukku dan kuhenyakkan tubuhku di atasnya. Kemudian kututupi tubuhku dengan sarung (selimutnya masih dijemur, kemaren ngompol sih) agar tidak kedinginan dan sembari mendengarkan lagu Ridho Rhoma – Menunggumu, lambat laun mataku pun tertutup.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Ngungg… ngung… Suara dengung itu. Suara apa ya? Oh, iya, suara dengung Eed. Ya, itu pasti dia! Kupaksakan untuk membuka mataku yang masih belekan, dan wajahku langsung tertunduk lesu setelah mendapat kenyataan bahwa suara dengung itu memang suara nyamuk aseli. Bukan suara dengung dari Eed. Hufft, padahal baru jam setengah tujuh pagi nih, tidurnya jadi keganggu deh! Eh, tunggu, tunggu.. JAM SETENGAH TUJUH? Sekolah kan jam tujuh! Akhirnya tanpa dikomando aku langsung berlari ke kamar mandi. Ah, sungguh sial sekali. Ternyata di kamar mandi masih ada Charli. Apalagi seingatku Charli hanya akan keluar dari sana kalau dia sudah menyanyikan lagu ST12 sebanyak 7 album, padahal album yang keluar aja baru 3. Hiks, gimana dong? Hmm, ya udah deh, daripada telat aku terpaksa ga mandi dulu. Cukup cuci muka pake segelas air, terus kumur-kumur sedikit supaya mulut ga bau. Walaupun ga yakin juga sih, soalnya semalem baru makan dengan menu teri-jengki.
Kupakai baju yang wajar, kaos kaki dan sepatu juga kupastikan sewarna. Ok, persiapan sekolah selesai, saatnya berangkat sekolah dan berharap aku bisa mendapati sinar pantulan dari gigi Eed. Mari berdoa saja, semoga dia benar-benar sudah masuk sekolah.
Aku melangkah ke meja makan, tak ada siapa-siapa hanya seonggok pisang goreng dan segelas bandrek susu untuk sarapanku. Rupanya Charli sudah berangkat duluan, katanya sih dia mau patroli, beberapa hari belakangan ini ada kasus orang hilang melulu. Makanya kata Charli, aku tidak boleh pulang terlalu malam. Eh, eh, perasaan ada yang aneh, Charli kan sudah berangkat, terus yang di kamar mandi tadi siapa dong? Dengan rasa penasaran kubuka pintu kamar mandi yang sedari tadi menutup dan tentu saja aku tak mendapati apa-apa di dalamnya. Selain seonggok pisang goreng yang ditinggalkan Charli. Ups, berarti tadi Charli cuma B-A-B dan saking buru-burunya lupa menyiram. Huh, ga di meja makan, ga di kamar mandi, sama-sama ninggalin pisang goreng. Tapi enakan yang mana ya? Hehe..
Kulirik jam tanganku dan melihat sudah pukul 7 kurang sepuluh menit. Tak ada waktu untuk mandi. So, kuputuskan untuk langsung berangkat saja. Dan betapa kagetnya aku, saat kulangkahkan kaki keluar dari rumah. Mobil colt beserta pemiliknya sudah berada di depan.
“Pagi, Bela!?” sapa Eed seraya menunjukkan senyum terindah dari moncongnya.
“EED! Kenapa tak bilang kau akan datang hari ini? Tahu gitu aku akan mandi dulu!”
“Begitu juga sudah cantik kok!” puji Eed. Dia selalu bisa merayu dan membuatku tersipu malu.
“Iya kah? Tapi tak ada yang aneh kan? Pakaianku? Celanaku? Kaos kakiku?” tanyaku. Aku benar-benar trauma, karena setiap datang ke sekolah selalu saja ada yang salah dengan yang kupakai.
“Tidak ada. Benar-benar PERPEK! Sempurna!” lagi-lagi dia memuji, hebat sekali dengan giginya yang maju, dia bisa mengucapkan huruf ‘P’ dengan fasih. “Ngomong-ngomong, kau mau pergi kemana?”
“Ckckck, mentang-mentang dua hari bolos, langsung tidak ingat sekolah, eh?” jawabku seraya mencubit tangan Eed yang dingin.
“Sekolah? Sekarang hari Minggu, Bela-ku sayang!”
“HEE?? Pantesan pakaianku ga ada yang aneh. Ternyata sekarang libur!”
“Hahaha.. Itu yang aku suka darimu, kepolosanmu!”
“Sekali lagi menertawakanku, akan kucabut semua gigimu biar nanti bisa kupajang di tembok kamarku!”
“Yee, ngarep. Mentang-mentang gigiku seksi!” ujar Eed narsis. “Lalu apa kau tak ingat hari ini ada momen apa? Karena itulah yang menjadi alasan aku datang ke sini menjemputmu!”
Hari ini momen apa? Aku mencoba mengingat-ingat. Tapi tetap saja aku tak tahu. Walhasil aku hanya menjawab Eed dengan menggelengkan kepalaku.
“Beneran tak tahu?” Tanya Eed lagi. “Memangnya di rumahmu tak ada kalender?”
“Ada sih. Cuma kalender yang bulan sekarang sudah kurobek untuk dijadikan pembungkus kado buat Angela yang ultah seminggu lalu. Habis, mau beli kertas kado juga warungnya jauh!”
“Hihi, ada-ada saja. Hari ini ulang tahunmu, sayangku! Selamat ya!” ucap Eed sambil mengelus pipiku dan membersihkan beberapa belek di mataku. “Makanya aku menjemputmu, keluargaku mengadakan pesta kecil-kecilan di rumahku!”
“Asyiik, mau maen jaelangkung-jaelangkungan ya!”
“Pesta kecil itu untukmu. Bukan untuk mengundang jaelangkung!”
“Oh,” ucapku sedikit kecewa. “Baiklah, kita berangkat saja yuk!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Rumah keluarga Pulen. Baru pertama kali ini aku berkunjung ke rumah Eed. Rumahnya sendiri terletak jauh ke dalam hutan Gunung Salak. Sehingga jangan berpikiran untuk mencapai tempat ini dengan jalan kaki deh, takut nyasar. Jalannya gelap pula, sinar mentari pun benar-benar terhalang pohon-pohon besar di sekitarnya.
“Rumahmu jauh sekali ya!” komentarku saat pertama kali menginjakkan kaki di bangunan bercat putih yang dikelilingi pagar tinggi itu.
“Dekat kok. Tuh, rumahmu kelihatan dari sini. Rumah kita kan cuma berbeda dua blok saja!” jawab Eed.
“Lha? Tadi kenapa serasa jauh banget atuh. Kalau deket begini, berarti jalan kaki juga bisa? Deskripsi di awal paragraf di atas salah dong!”
“Iya, kita bisa jalan kaki. Tapi seorang putri harus diantar oleh kereta kencana kan?”
Saat Eed berkata itu, pantatku langsung memerah. Err, pipiku maksudnya, bukan pantat. *getok pala sendiri*
“Dan jalan untuk mobil memang cuma bisa lewat jalan yang tadi kita lalui itu.” Eed melanjutkan. “Pokoknya, selamat datang di kerajaanku ya! Yuk, masuk!”
Aku benar-benar merasa seperti putri saat ini. Apalagi saat aku masuk ke dalam rumah, sedang disetel lagu ‘Saya si Putri, si Putri Sinden Panggung’ oh, sungguh pas sekali. Aku suka menjadi pemeran utama cerita ini.
“Selamat datang, Bela!” sambut Ceu Ameh, ibu angkat Eed, sambil memelukku. Parasnya cantik sekali. Giginya pun berbinar-binar indah saking hangatnya beliau menerimaku. Melihatnya pun membuatku jadi pengen tahu rahasia nasi pulen buatannya.
“Ayo masuk, Bela. Tak usah sungkan-sungkan!” Kang Lile ikut menyambutku.
Wiih, kang Lile emang tampan. Aku yakin kalau dia masuk dunia entertainment, pasti dia bakal jadi pelawak paling terkenal se-Indonesia, mengalahkan Narji, Mastur, Mandra, dan keluarga ‘maju' lainnya. Bisa dibilang, hanya Eed yang mampu menyainginya.
“Oh iya, Bela. Maaf ya kalau sajian di meja makan nanti tidak sesuai seleramu. Kami kan sudah lama tak makan!” kata Ceu Ameh. Aku pun melirik ke meja makan dan, wow, serba masakan Sunda. I like it! Namun demi menjaga imej, aku hanya tersenyum kepada Ceu Ameh (tanpa kerasa iler keluar dari mulutku, untung Eed segera mengelapnya).
“Hai Bela. Aku sudah memperkirakan kau akan datang ke sini tepat pada jam dan menit sekarang!” kali ini Elis yang ngomong.
“Wow, kau bisa melihat masa depan?” tanyaku dengan ekspresi takjub.
“Nggak lha. Tadi si Eed sms. Nih!” jawabnya seraya menunjukkan isi sms dari Eed. Padahal udah takjub-takjub dikira bisa ngeramal, taunya nggak.
“Eh, ngomong-ngomong kau kedinginan tidak, Bela? Atau terlalu gerah? Nanti biar kusuruh Njes untuk mengatur suasana di sini kalau kau mau!” Elis nyerocos kayak sales lagi nawarin barang.
“Njes bisa merubah suasana di sini? Atau bahkan suasana hatiku juga? Dia punya kekuatan mejik ya?”
Aduh, bodohnya aku karena sudah bertanya seperti itu, karena jawabannya sudah barang tentu..
“Tidak, Bela! Kau kebanyakan baca novel yang jadi korban parodi FF ini sih ya?” ternyata Mamet yang menjawab, dia baru saja keluar dari kamarnya bersama neng Eros. “Itu tuh, si Njes kan yang megang remote AC ruangan ini. Makanya kalau kepanasan atau kedinginan, ngomong ke dia ya! Hehe.. Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun, coy!”
Mamet mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Langsung saja kusambut tangannya. Tapi tak terlalu lama, karena kulihat neng Eros mendelik tajam ke arahku a la sinetron di negeri ini.
“Ok, karena semuanya sudah berkumpul di ruangan ini, kalau begitu mari kita mulai acaranya,” Eed mulai berlagak seperti host-host reality show di tipi. “Kita mulai dengan acara buka kado! Kepada Miss Bela Sujana, dipersilakan untuk menuju ruang eksekusi..”
Aku yang tak sadar atau memang tak memperhatikan dari awal ya. Karena tiba-tiba saja kado-kado ultahku dari keluarga Pulen sudah berada di meja kecil di dekat meja makan. Membuatku berpikir, kenapa acaranya bukan makan dulu! Padahal aku lebih tertarik pada masakan Sunda yang tersaji di meja makan itu. Ada semur jengkol, lauk japuh, ikan asin, sayur asem, sayur paria, tahu-tempe, sambel terasi, dan tanpa ketinggalan lalapnya. Uh, makin membuatku ngiler saja. Ok, kalau begitu kado-kado itu kubuka dengan cepat saja, agar sesi acara segera berlanjut. Aku pun mempercepat langkahku menuju meja itu. Namun malang nian nasibku, kakiku terpeleset, aku pun terjatuh dengan pantat yang mendarat duluan. Dan SPLASH!
Ekspresi wajah keluarga Pulen tiba-tiba berubah semua setelah aku terjatuh tadi. Terutama Njes. Ada apa gerangan? Aku pun meraba pantatku yang terasa sakit dan baru menyadari kalau.. BISULKU PECAH! Gawat! Pantas saja keluarga Pulen langsung memasang mupeng alias muka pengen. Mereka pasti tergoda untuk mengisap darahku. Bau darahku pasti sekarang menguar di penciuman mereka (err, tadi juga aku tak sengaja kentut sih, kecium juga gak ya?).
Benar saja. Tiba-tiba Njes dalam posisi siap menyerangku.
“Bela, Awas!” teriak Eed yang segera melindungiku saat Njes benar-benar akan menyergapku. Eed yang takut aku kenapa-kenapa langsung menghadang Njes dan mendorongku sampai terlempar jauh. Yeah, jauh sekali, sampai aku mendarat di depan rumahku (rumah kami terpaut dua blok, ingat?). Hebatnya, aku tidak apa-apa. Paling cuma besot-besot di tangan, kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki. Eh, banyak juga ternyata lukanya ya. Kupaksakan diriku untuk bangun. Dan saat aku sudah berdiri, Eed sudah berada di depanku.
“Kau tak apa-apa, Bela?” Tanya Eed khawatir.
“A-aku..”
“Kenapa, Bela? Apa yang sakit? Katakan saja padaku..”
“Aku senang sekali, bisul yang sudah lama menggangguku telah tiada! Terima kasih sudah melemparku ya! Hehe..”
Eed menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ya ampun, harusnya aku tahu aku tak perlu terlalu khawatir padamu. Dasar Bela!”
“Ngg, terus bagaimana keadaan Njes sekarang?” tanyaku serius.
“Oh, Njes ya. Tenang saja, Bela. Ternyata tadi itu hanya salah paham saja, sebetulnya dia tidak berniat menyerangmu.”
“Lalu?”
“Dia mendekat ke arahmu hanya untuk mengecek kado darinya yang kau duduki. Dan kau tahu kado itu berisi apa?”
“Sabun mandi 3 batang?” tebakku. Soalnya ketika masih kecil, kalau ada temanku yang ulang tahun, ibuku selalu membelikan itu untuk kadonya.
“Isinya tiket Disneyland ke Hong Kong!” ujar Eed tanpa mempedulikan tebakanku tadi.
Wow, tiket Disneyland! Ke Dufan aja belum pernah apalagi Disneyland. Njes baik sekali mau memberiku kado itu.
“Terus tiketnya tidak rusak kan?” aku harap-harap cemas.
“Tiketnya sih masih ada,” Eed diam sejenak, “tapi jumlahnya berkurang satu, karena sobek! Maafkan aku, Bela!”
“Lho, kok minta maaf? Kan tiketnya masih ada, aku pergi sendiri juga ga apa-apa deh!” kata-kataku terlihat ngarep sekali ya.
“Tidak, Bela. Justru kebalikannya, kau yang tidak bisa pergi. Tiketnya seharusnya berjumlah 7, sekarang tinggal 6. Dan setelah dirapatkan, diperoleh keputusan bahwa hanya keluarga Pulen yang bakal berangkat.” Eed menjelaskan dengan detail. “Maaf ya, Bela. Aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Masalahnya aku juga beneran pengen ngeliat Mickey Mouse dan Winnie the Pooh versi aslinya sih.”
Tak mungkin. Disneyland-ku. Disneyland-ku yang sudah di depan mata. Dadaku tiba-tiba sesak, aku susah bernapas, hmm, si Eed saking tegangnya kentut kayaknya nih. Bau!
“Ok, Bela. Sekali lagi aku minta maaf ya. Aku harus pergi dulu, pesawat akan berangkat nanti sore! Sampai ketemu! Seandainya saja tiket ke-7 tidak rusak, hiks!”
Usai berkata seperti itu, Eed segara melayang pergi ke dalam rumahnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara deru mesin mobil dinyalakan, lalu bunyi decit ban tanda mobil sudah melaju. Mereka telah pergi. Mereka berangkat ke Disneyland! Sedangkan aku.. Aku hanya terdiam di tempatku. Tak bisa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya aku mendongak karena teringat sesuatu. Aku pun berteriak, “EEEEDDD, JANGAN DULU PERGI! KITA KAN BELUM MASUK SESI MAKAN-MAKAAAN!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
“BELA, bangun.. Bela! Apa kau bermimpi buruk!“
Suara itu memaksaku untuk terbangun. Suara Charli. Bahkan ketika sedang membangunkan orang, suaranya pun dibuat ngebass abis, bawa gitar segala lagih! Dasar ST setia.
“Ada apa sih, Charli?” tanyaku setengah menggerutu. “Ini kan baru jam 5 pagi!”
“Aku tak akan membangunkanmu, jika saja kau tidak teriak-teriak dalam tidurmu! Apa kau bermimpi buruk? Ini pasti ada hubungannya dengan cowok bergigi unik favoritmu itu!”
“Mimpi buruk? Kebalikannya!” sanggahku langsung manyun. “Aku tadi sedang bermimpi naek rollercoaster di Disneyland, makanya aku senang sampai teriak-teriak. Charli sih bangunin!”
“So, bukan karena sakit hati karena ditinggal kan?”
“Bukan lha, ngapain teriak-teriak gara-gara ditinggal cowok. Tinggal nyari lagi yang giginya mancung! Hehe..”
“Ya sudah, bangun gih. Biar ga telat sekolah. Mobilmu kan masih di bengkel! Kudu jalan kaki ke sekolah dah tuh!”
Tentu saja aku tak bisa membantah lagi. Aku pun bangun-gosok gigi dan cuci muka-sarapan-boker-itungin satu per satu yang keluar-ketiduran sebentar di wc-cebok- mandi -berangkat sekolah. Di sekolah pun aku hanya masuk kelas-bengong mikirin Eed-bengong mikirin Disneyland-istirahat-makan-masuk kelas-izin ke toilet-duduk di kloset-ketiduran sebentar-bangun-masuk kelas-bengong lagi-pulang. Dan seterusnya, dan seterusnya, Kegiatan sehari-hariku sekarang hanya itu. Semua berkat tiketku yang rusak! Dan hari-hari tanpa Eed? Benar-benar sepi! Eed dimanakah kau berada? Apakah kau sedang memikirkanku juga?
Tiit.. Tiitt.. Hape-ku berbunyi. Kurogoh kantong orang yang di depanku, ups, kurogoh kantungku dan kukeluarkan hape buatan Cina milikku. Ada MMS dari Eed. Kubuka MMS itu dan terpampanglah foto Eed sedang berpose dengan karakter Winnie the Pooh. Tertulis pula kata-kata: ‘Bela sayang, aku tau kau sedang merindukanku. Karena aku pun begitu. Makanya setiap kali aku ke rumah hantu atau ketika ketakutan naek permainan aku akan meneriakkan namamu! Miss u, Eed.’
Kangenku sedikit terobati dengan membaca MMS itu. Tapi rasa iriku kembali membuncah saat melihat foto Eed di pesan multimedia tadi. Aku kesal. Aku harus bisa melupakan Disneyland dulu. Namun sepertinya akan susah. Karena setiap kali aku melihat pantulan cahaya, baik di jendela sekolah, cermin, kaca spion, atau benda mengkilat lainnya.. Aku pasti ingat pantulan gigi Eed, mengingat Eed berarti mengingat Disneyland! Apa yang harus kulakukan agar tak begini lagi!
Tiga hari berlalu dengan rutinitas biasa. Bedanya pagi ini, Charli mengajakku berbicara. Sepertinya dia membaca gelagat anehku di hari-hari belakangan ini.
“Bela, kemari. Aku ingin membicarakan tentang dirimu di hari ke belakang ini!” Charli mengajakku duduk di sofa yang berada di teras. Eh, bukan sofa deh, tapi ‘Bale’, alias ranjang dari bambu tanpa kasur. Biasanya buat tempat selonjoran sekeluarga.
“Soal aku yang tidur sambil teriak-teriak mulu?”
‘”Yeah, walaupun sebenarnya aku sudah bisa mengatasi hal itu dengan menyetel lagu Tokek Belang ciptaan tokoh idolaku,” Charli diam sebentar, sambil tak sengaja membuat pantatnya bersiul, kemudian melanjutkan, “Aku lebih ingin membicarakan solusi keseluruhan soal masalah ini. Aku tak ingin melihatmu bengong lagi. Mendengar teriakan setiap malammu lagi. Dan tak mau melihatmu nutup idung setelah aku kentut (yang ini sih sebenernya ga ada hubungan ama topik). Oleh karena itu hari ini kau tak perlu sekolah. Aku akan mengajakmu ke tempat dimana kuyakin kegundahanmu akan hilang!”
“Toilet?” tebakku.
“Kegundahan soal Disneyland, bukan kegundahan yang lain!” kilah Charli seraya memegang perutnya, jangan kentut lagi plis. “Pokoknya kau harus ikut denganku. Aku akan menelepon wali kelasmu untuk meminta ijin, OK!”
Tak ada sanggahan dariku. Aku hanya mengangguk dengan tangan tetap di hidungku sambil melihat Charli masuk ke dalam untuk menelepon. Ke tempat manakah Charli akan membawaku, apa benar-benar bisa menghilangkan
kegundahanku? Tak tahulah, tapi patut dicoba deh.
Tak berapa lama Charli sudah keluar lagi, ia pun berkata, “Sip, aku sudah dapat ijinnya, kemon kita berangkat!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Daerah yang kulewati bersama Charli benar-benar daerah yang belum aku kenal sama sekali. Lagipula kapan kenalannya ya, orang baru ketemunya juga hari ini. Pokoknya daerah ini tuh bisa dibilang lebih sejuk tetapi lebih cerah daripada tempat tinggalku yang senantiasa mendung dan hujan hampir setiap hari. Sudah beberapa kali aku bertanya ini ada di daerah mana. Tetapi Charli hanya menjawab, “Kamu tak tahu? Ketika kau bayi sampai kau berumur lima tahun kan aku sering mengajakmu ke sini!” Yea, hanya itu saja. Dasar Charli, mana mungkin aku bisa ingat daerahnya di umur segitu. Di umur sekarang aja aku masih sering lupa.
“Kita bakal ke Curug (air terjun) Cikesang, say!” ujar Charli akhirnya. Setelah kutanya sekitar 11 kali, itupun dia mau menjawab gara-gara kusogok voucher pulsa 10rebu. Pastinya, digunakan untuk berlangganan RBT ST12. LoL. “Tapi bukan denganku juga sih ke sananya, soalnya sebentar lagi aku harus patroli. Kasus orang hilang masih banyak uy! Anehnya, yang ilang tuh kebanyakan yang lagi kena gejala penyakit DBD.. Penculik yang aneh!”
What?! Sepertinya ada yang janggal. Mereka pasti bukan diculik, melainkan menjadi korban dari manusia nyamuk seperti Eed. Aku ingat Eed pernah ngomong sih, kalau masih banyak makhluk kayak dia, dan masih banyak pula yang masih ngisep darah manusia. Aku pun meraba pantatku. Bekas bisulku yang pecah sudah kering belum ya. Aku kan ga mau semua manusia nyamuk menyerangku. Lagian aku tuh geer banget yah? Mana mungkin mereka semua mengincarku. Apes banget kalau beneran kejadian kayak begitu mah *lirik Bella yang asli*.
“Sip, kita udah nyampe!” seru Charli ketika kami sudah sampai di sebuah gubug sederhana yang di depannya terdapat kolam ikan. Di pinggir kolam ikannya terdapat sebuah kotak dari kayu setinggi pusar orang dewasa, dengan pintu dari potongan atap berbahan seng, atau bahasa singkatnya, jamban. Pantes aja ikannya gemuk-gemuk ya! Hehehe..
Plung.. Sreeek.. Terdengar suara pintu seng jamban terbuka mengikuti suara cemplungan terakhir sang punya hajat. Rupanya di situ lagi ada orangnya toh. Tapi kok ga keliatan yah dari tadi? Memang sih kalau orang B-A-B kan pasti jongkok, nah, kan udah selesai B-A-B nya. Kok masih ga keliatan, masa dia masih jongkok aja!
.
.
.
.
Ups, sepertinya begitu atau.. Yang kulihat ini salah?
“Hallo, Charli! Selamat datang!” sambut orang yang baru keluar dari jamban tadi.
“Hai, Jekop! Rupanya kau di situ ya..” ayahku balas menyapa, lalu melirik ke arahku. “Kau masih ingat dia kan, Bela? Dulu kan kalian sering maen rumah-rumahan bareng.”
Dahiku langsung mengernyit. Jekop? Aku melirik pria bernama Jekop tadi. Dia hanya memakai celana bola pendek berwarna biru, tanpa atasan, sehingga memamerkan perut buncit serta dada ratanya. Kulitnya sendiri berwarna sawo mateng ampir busuk. Hebatnya lagi, badannya sangat tegap! Walaupun, err, dia hanya setinggi ketiakku saja. Namun entah kenapa, setelah melihat perawakannya, hatiku sedikit berdesir-desir. Kalian tau sendiri kan kalau aku suka manusia unik dan Jekop salah satu yang masuk kategori tersebut!
“Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kau sudah lupa..” ucap Charli menebak-nebak. Sotoy banget sih! Aku kan bukannya lupa, tapi cuma ga inget doang. “Yah, pokoknya dia yang akan mengantarkanmu ke curug. Kalian kenalan laginya pas di sana aja ye. Aku mau pamit dulu nih, dari tadi temen di pemancingan udah sms melulu!”
“Yea, yea, selamat berpatroli di pemancingan!” sindirku.
“Ups, ngg, bener kok, Bel. Mau patroli nih. Baik-baik ya ama Jekop. See you!”
Sepeninggal Charli, wajahku tiba-tiba saja memerah. Ada apa ini? Perasaan ini sama seperti ketika aku pertama kali bertemu Eed. Apakah aku menaruh hati kepada Jekop? Kupandangi wajah manusia unik yang sedang tersenyum padaku itu. Tapi aku langsung memalingkan wajah. Malu banget uy! Lagipula aku kan sudah punya Eed. Meskipun kuakui, ada rasa bimbang di hatiku.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Kami sampai di Curug Cikesang beberapa menit kemudian dengan menggunakan sepeda gunung beroda tiga hasil modifikasi Jekop. Lumayan sih, di perjalanan kita berdua bisa ngobrol-ngobrol sambil kenalan lagi. Rupanya nama asli Jekop tuh Yakup (iyah, pake ‘p’ bukan pake ‘b’). Dia dipanggil Jekop karena kalau Yakup ketika orang mau memanggilnya kan jadi kudu lengkap, ga bisa cuma ‘Yak’ atau ‘Kup’. Jadilah dia pake Jekop aja, soalnya kan kalau Jekop bisa disingkat jadi ‘Jek’ doang, pas dipanggil. Oh iya, di perjalanan kami pun bercerita dari masalah sepele kayak tips agar rambut kita bebas dari kutu (cukup dibotakin aja!) sampai masalah pribadi seperti jadwal kita mengupil atau garuk-garuk pantat. Semuanya dibahas tuntas.. tas.. tas. Pokoknya ngobrol bersama Jekop tuh nggak roaming alias nyambung banget. Berkat dia juga aku jadi bisa melupakan soal Disneyland yang belakangan menggangguku.
“Bela! Lihat aku!” teriak Jekop, berhasil membangunkanku dari lamunan. Tuiiing.. Byuuur.. Si Jekop main lompat dari atas air terjun aja. “Gimana Bela? Keren kan!”
“Keren sih, tapi..”
“Tapi apa?” sahut Jekop setelah dia sampai di daratan lagi.
“Sejak kapan kau sampai ke atas? Tadi kan kau masih di sampingku! Sungguh mencurigakan. Jangan-jangan kau seperti..”
“Seperti keluarga Pulen? Tentu saja aku bukan makhluk pembuat polusi suara itu! Ups..” potong Jekop.
“Tu-tunggu dulu, darimana kau tahu soal keluarga Pulen? Apa hubungannya dirimu dengan mereka? Lagipula salah satu dari mereka kan pacarku!”
“Yeah, aku sudah dengar dari Charli. Kau pacaran dengan Eed, dan dari ekspresimu aku tahu kalau kau juga sudah tahu jati diri asli mereka kan?” kata Jekop, dan dia bisa membaca pikiranku hanya dengan melihat ekspresiku? Err, tapi bener juga sih, aku kan kalau lagi nyembunyiin sesuatu pasti garuk-garuk pantat saking kikuknya.
“Iya, dia tuh manusia nyamuk. Memangnya kenapa?” kataku, kepalang basah.
“Karena gara-gara ada mereka dan manusia nyamuk lainnya di daerah sini, aku dan semua pemuda di kampungku jadi makhluk seperti ini!” Jekop terlihat kesal. “Kau ingat kasus-kasus orang hilang akhir-akhir ini? Itu semua karena ulah manusia-manusia nyamuk sialan itu. Jadi tugas kami-lah untuk membantai mereka. Apalagi kami termasuk salah satu makhluk yang paling ditakuti oleh spesies mereka!”
“Eh? Kau juga makhluk jadi-jadian? Hmm, makhluk apa ya? Tunggu, biar kutebak..” aku diam sejenak sambil berpikir. “Makhluk yang ditakuti nyamuk ya. Manusia cicak? Tak mungkin. Seharusnya kau bisa nemplok di dinding dan tak bisa berenang. Manusia tokek? Hmm, ga mungkin juga. Harusnya kulitmu belang-belang dan tokek juga masih sodaraan ama cicak. Apalagi ya kemampuanmu? Oh ya, bisa loncat tinggi, bisa berenang, cebol.. Ups, sori, yang terakhir tadi keceplosan, Jek. OK, kayaknya aku sudah tahu, kau itu manusia kodok! Iya kan?”
“Salah!” kilah Jekop, membuatku berpikir keras lagi.
“Ok, aku menyerah. Sebenernya kau ini makhluk apa, eh?”
“Manusia katak. Hehe..”
“Huu.. Katak sih sama aja kali kayak kodok!” protesku seraya menjitak kepala Jekop, mentang-mentang dia lebih pendek.
“Kemaren manusia nyamuk, sekarang manusia kod, eh, katak.. Besok-besok manusia jadi-jadian apalagi ya? Padahal setahuku di Indonesia hanya ada werepig alias babi ngepet aja!”
Jekop memberengut sambil menggosok-gosok kepalanya yang sakit, kemudian berkata, “Sepertinya kau sudah harus terbiasa, Bel!”
Aku mengangguk.
“Jadi, mau mencoba loncat dari atas juga? Ayolah, dijamin bakalan lebih seru dari lorrel koster atau apalah itu namanya! Mau ya!” paksa Jekop. “Kalau perlu, bakalan kurekam juga aksimu!”
Direkam? Tanpa direkam saja aku ga bakal mau. Apalagi kalau direkam! AKU PASTI MAU! Maklum, banci kamera gitu lho! Hihi.. Jadilah aku hanya bisa menjawab, “Baik, Jek, aku mau.”
BUWESSHH.. Tanpa aba-aba tubuhku terangkat. Aku digendong oleh Jekop, eh, tunggu.. Aku digendong oleh Jekop yang telah bertransformasi jadi kodok raksasa (Eng, raksasa untuk ukuran kodok, tapi tetep lebih kecil dari manusia, karena walaupun sudah jadi kodok dia tetep sebesar Jekop aseli). Dia membawaku dengan meloncat-loncat menuju atas tebing air terjun. Pokoknya, kalau cewek normal sih pasti teriak-teriak kalau ngalamin hal yang sama sepertiku. Kalau aku? Tentu ga teriak, tapi langsung ngompol! Maaf ya, Jek, badanmu jadi kebasahan. Tapi tubuhmu jadi makin seksi kok kalau basah.
Sesampainya di atas, Jekop langsung saja meninggalkanku sendiri. Dia turun ke bawah lagi dengan sekali loncatan untuk mengambil handphone android miliknya di sepeda untuk merekamku. Kenapa ga ngerekam pake hape-ku saja yah? Padahal hape Cina-ku kan lebih keren *diem-diem nangis karena iri*.
“Ayo, loncat, Bel, videonya udah on nih!” seru Jekop dari bawah, suaranya sangat cempreng ketika berteriak.
Tiba-tiba aku langsung gugup. Bagaimana tidak? Aku harus lompat dari air terjun ketinggian entah berapa meter, pokoknya tinggi banget deh. Tapi aku harus bisa. Aku juga kan ingin merasakan adrenalin mengalir di setiap pembuluh darahku, merasakan keberanian membuncah di seiap nadiku dan kebahagiaan menggelayut di setiap nafasku. Walhasil dengan semangat tak jelas itu, aku pun melakukannya..
“EED, AI LOP YUUUUUU! HUAAAAAAAA!!!”
BYUUUR..
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
“Bela, bangun, Bela!”
Suara ngebass itu lagi. Pasti Charli.
“Hooaaahem, ada apa sih bos!” gerutuku, dengan posisi tetap berbaring di kasur.
“Kau berteriak-teriak lagi dalam tidurmu! Malahan sekarang plus ngompol juga! Sepertinya perjalanan kemaren ga berhasil ya!”
“Eit, jangan salah. Cukup berhasil kok,” sergahku sambil memaksakan diri untuk duduk. “Soalnya kali ini yang aku impikan adalah saat aku beraksi di Curug Cikesang bareng Jekop. Nih, sampai ngompol pasti gara-gara ngimpi lagi berenang. Hehe.. Ke sana lagi dong, Dad!”
Charli menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat bandul anting di kedua kupingnya bergoyang-goyang. “Tak bisa, nak. Hari ini kau harus masuk sekolah. Lagipula sudah ada yang menjemput tuh!”
“Siapa? Eed?”
“Bukan. Namanya Elis kayaknya mah!”
Elis? Ngapain dia ke sini. Tumben sekali. Kok Eed ga ikut? Gaswat, jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi dengan Eed pas di Disneyland. Apa giginya nancep kena kepala orang yah pas dia lagi teriak? Kubuyarkan lamunan tadi dan langsung saja menghambur keluar rumah tanpa mengganti celanaku yang masih basah, udah setengah kering juga sih, kan ngompolnya udah lama. Hihi..
“Elis! Kapan kalian pulang? Trus, tumben-tumbenan kau yang nyamper ke sini? Ada apa gerangan?”
“Kami pulang tengah malem tadi. Oh iya, Bela, ada yang harus kita omongin!” Elis terlihat serius.
“Soal apa? Eed ya?”
“Iya. Soal Eed dan videomu di youtube!”
“Soal videoku? Di youtube? Ih, sumpah deh ketemu Ariel aja belum pernah!”
“Bukan video skandal, Bela!” sanggah Elis. “Video kau melompat dari curug sambil teriak Ai lop yu itu! Nah, sekarang Eed merasa bersalah setelah melihat video itu!”
“Lha kok bisa?” aku terheran. Sebenernya pengen nambahin, ‘lha kok bisa, aku tambah terkenal dong’ tapi kuurungkan
saja. Btw, terima kasih ya Jekop!
“Iya, jadinya teh sekarang si Eed mikirin gimana caranya untuk membuat video yang lebih heboh saat berteriak ungkapan cinta padamu. Dia berencana untuk merekam dirinya berteriak ai lop yu di tengah kerumunan orang, sebentar lagi ketika festival panen raya di desa sebelah dimulai. Gawat kan? Bisa-bisa dia disangka orang gila. Lagipula katanya di daerah situ juga mau diadain Fogging sebagai pencegah merambahnya penyakit DBD. Kita harus mencegahnya!”
OMG, so sweet banget kan si Eed itu. Maunya sih aku tak usah mencegahnya, karena dengan begitu aku jadi tahu pula seberapa dalam cinta Eed padaku. Tapi apa mau dikata, aku kan ga mau nanti Eed kenapa-kenapa. Aku juga kan kuatir kalau misalnya para petani ngambek terus ngejadiin gigi Eed sebagai cangkul mereka. Atau Eed yang keracunan asap
fogging sehingga mati dalam keadaan gigi yang menciut. Hiks, ngebayanginnya aja udah ngeri apalagi kalau kejadian.
“Ya sudah, kita berangkat saja langsung.. Yuk!” kataku, langsung menarik tangan Elis.
“Tapi, Bela..”
“Apa lagi? Ntar kalo kelamaan kita bisa terlambat tauk!”
“Tapi, Bela, ganti celanamu dulu dong!”
“Oh iya juga ya, hehe..”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Terlihat kerumunan orang-orang di alun-alun kampung Cikobokan, kampung yang berada di sebelah kampung Cikiruh. Festival Panen Raya memang selalu dijadikan ajang untuk semua masyarakat sekitar sini untuk berkumpul dan bersuka cita. Sehingga bisa dibilang, inilah acara pelepas lelah bagi para petani yang saban ari kudu macul sawahnya. Panggung hiburan dan bazaar-bazaar pun tersedia di sini. Kalau saja aku ke sini saat aku tidak mempunyai misi menyelamatkan Eed, aku pasti sudah belanja sayur-mayur murah yang ada. Kapan lagi dapet sayur murah. Pete aja seiket sekarang udah mahal *curcol*. Terus juga mungkin aku bakal nonton dangdut di panggung utama, mana bintang tamunya tuh Syaiful Jamil pula! Eh, eh, topeng monyet dan kuda lumping juga ada uy, ah, benar-benar menggoda selera. Aku jadi bimbang, nerusin nyari Eed atau nonton hiburan yang ada aja.
Uh, kutampar-tampar pipi Elis untuk menghilangkan pikiran jelek itu. Tapi kok pikirannya tetep ga ilang ya? *diteriakin Elis:
“Ya iyya lha, makanya yg ditampar tuh pipi sendiri, jangan pipi orang lain”* Wah, ada benarnya juga. Eh, tapi kan Elis harusnya ga bisa baca pikiran orang ya? Ah, kepalang, udah ngaco dari awal inih. Hehe.. Ya udah deh, kutampar pipi Elis sekali lagi, nah, berhasil kan? Sekarang baru ilang deh pikiran jeleknya.
“Elis, gimana nih? Kita sudah tiga kali puasa tiga kali lebaran muterin ini alun-alun, tapi Eed belum ketemu-ketemu!” aku mulai panik, mana jam 12 –saat semua stand dan acara diistirahatkan- bakal dimulai foggingnya di semua kampung Cikobokan. Kulirik jam tanganku yang kubeli di toko serba goceng, mataku membelalak, karena jam digitalku menunjukkan jam 9.20!! Err, masih lama dong ya ama acara foggingnya. Paniknya kecepetan dong. :P
“Aku juga heran, biasanya aku mudah mengenali pantulan gigi dari Eed,” gumam Elis terdengar lemas.
“Terus kenapa dong jadi susah dikenalin?”
“Soalnya orang-orang yang ke sini banyak yang memiliki gigi seperti kami juga! Untuk mendeteksi dengungannya juga susah, karena terlalu berisik!” papar Elis.
“Terus gimana dong?” yang bisa kulakukan sekarang emang hanya nanya doang.
“Kita ke panggung utama aja, terus..”
“Kita joget bareng ama Syaiful Jamil!” potongku, ngarep abis deh, sumpah!
“Bukan lha. Kita pinjem mikropon-nya, terus kasih pengumuman orang hilang. Kita bilang, orang yang kita cari itu rada terbelakang mental jadinya ga bisa nemuin jalan pulang. Gimana?” usul Elis.
“Yee, yang ada Eed sembunyi, bukannya muncul atuh kalo disebutin kayak gitu! Tapi pantas dicoba juga deh!”
Dan kami pun segera berlari ke panggung utama, sampai tiba-tiba..
“Para hadirin-hadirot nu bahagia, parantos ieu bade aya penampilan ti salah saorang nu cenah mah bade nyanyikeun lagu kanggo ngungkapkeun tresna alias cinta ka kabogohna. Urang sambut.. EED SUMANTRI! ” suara MCK tadi *dikepruk*, iya-iya, kuralat, maksudnya suara MC! Suara itu menggema di seantero alun-alun. Saat itu entah kenapa waktu tiba-tiba terasa seperti berhenti, semua perhatian pun tertuju ke topeng monyet. Yee *timpukin tukang topeng monyet*. Semua perhatian pun tertuju ke panggung utama yang tiba-tiba begitu silau setelah si penampil muncul sambil tersenyum lebar.
“Ehem, kepada Bela..” ucap Eed memecah keheningan, “Bela Sujana, pacarku, kabogoh abdi. Kupersembahkan lagu ini spesial untukmu sebagai bukti tanda cintaku yang besar padamu. Dan aku tahu cintamu pun begitu padaku! MUSIIIK..”
Alunan musik mengalir dan tak berapa lama diikuti oleh suara merdu dari Eed yang menyanyikan lagu PUSPA dari ST12. Tanpa sadar aku pun langsung berlari menuju belakang panggung, untuk siap menyambut Eed setelah dia beres bernyanyi. Namun, betapa kagetnya aku karena di belakang sudah ada Charli! Malahan yang lebih mengagetkan lagi, Charli pun sedang memegang mikropon. Charli pun hanya melambai padaku -dengan muka tanpa dosa- sambil tetap bernyanyi saat tahu aku sudah berada di situ. Huhu.. Harusnya aku tahu kalau Charli lha yang mendubbing suara nyanyian Eed. pantesan suaranya aku kenal. Aku memang pernah mendengar curhatan dari ayahku juga sih soal dia yang ga berani tampil di panggung, jadi sekarang dia minjem wajah Eed yang keren ya buat pamer suaranya! Tapi tak apalah, dengan begitu aku, Eed, dan Charli menjadi sama-sama terkenal. Dunia entertain, here we come.. *ngekhayal kejauhan*
“Beri tepuk tangan buat kang EED!” teriak Emsi setelah lagu selesai.
Langsung saja kusambut dirinya ketika Eed turun dari panggung.
“Eed, tega-teganya kau!”
“Maaf, Bela.. Aku..”
“Tau ga sih lo, guee kuatir banget sama elo. Elo harusnya tau itu, elo..” alayku terhentikan saat jari telunjuk Eed ditempelkan di bibirku. Aku pun tambah mematung ketika Eed mencium keningku yang seperti biasa bakalan meninggalkan bekas gigi.
“Maafkan aku, Bela. Aku tak bermaksud. Lagipula sebenarnya ini semua ide Charli!”
Semua mata pun langsung menyorot kepada Charli.
“Ngg, ya, Bela. Aku yang meng-sms Eed dan bilang kalau aku akan merestui pernikahan kalian kalau Eed mau menjadi objek Lipsync-ku! Elis pun aku yang nyuruh..” Charli menjelaskan duduk perkaranya. “Dan tenang saja, aku sudah minta ijin bolosmu juga kok di hari ini! Oh iya, lagian ini sebagai Plan B kalau aku gagal dengan Jekop Plan!”
“Pernikahan?” tanyaku tanpa menggubris penjelasan Charli berikutnya. Walaupun aku tahu semua yang dilakukan Charli adalah bukti bahwa dia peduli padaku. “Emang kapan Eed melamarku?”
“Kemaren sore, saat kau masih di Curug, dia menelpon ke rumah!” Charli lagi yang ngomong.
“Ja-jadi, kemaren teh Charli yang ngangkat? Berarti pas aku bilang ‘Maukah kau menikahiku’ juga Charli yang denger!” ucap Eed terdengar syok. Charli hanya mengangguk. “Pantesan, setelahnya telepon langsung ditutup!”
“Kalau begitu, daripada salah lagi, kau lamar Bela lagi saja sekarang!” si Elis yang mengusulkan. Ide bagus cuy!
“Baiklah..” Eed menarik napas dalam-dalam, kemudian berlutut sambil memegang tanganku, lalu berucap, “Bela binti Suj, err, Bela binti Charli (Eed ngeralat gara-gara dipelototin Charli).. Maukah kau menikahiku?”
Wajahku langsung terasa panas. Apa yang harus kujawab? Jelas sekali aku mau menjawab ‘ya’ tapi aku ragu-ragu. Aku pun melirik ke ayahku, “Charli, apakah boleh? Aku kan masih kelas 3 SMA!”
“Tapi umurmu sudah 20 tahun kan, nak. Ga naik kelas 3 kali gitu lho!” balas Charli to-the-point kayak biasa.
Tapi berkat jawaban dari Charli itu, aku pun semakin mantap dan berkata, “YA, Eed! Iya aku mau menikahimu!”
Tepuk tangan dan sorakan riuh terdengar, setelah aku berkata seperti itu. Tapi bukan untukku juga sih tepuk tangannya, melainkan buat Syaiful Jamil, yang ternyata baru selesai tampil. Syaiful Jamil? HUAA, EED SIH, AKU JADI TAK MENONTON AKSINYA DI PANGGUNG KAN!
TAMAT (Semoga bukan untuk sementara) :D
NB:
- Sori ya, rilis sekuelnya agak lama dari pendahulunya. Beda dua tahun lho! Makanya gw awalnya rada kagok untuk merasuk ke karakter Bela lagi. Huahaha..
- Entah masih bakal ada sekuel lagi apa nggak. Soalnya nonton pelem Eklipsnya aja udah tersiksa. Sedangkan detail di novel udah pada lupa. Hohoho..
- Buat fans Twilight jangan pada ngambek ya idolanya dinistakan.. Just for fun kok *dilemparin duit receh sekarung*
Bisa diliat juga di:
http://www.fanfiction.net/s/4950701/2/Tualait_Saga
http://www.fanfiction.net/s/4950701/2/Tualait_Saga
Link Tualait:
FB: http://www.facebook.com/note.php?note_id=60537026940
FFN : http://www.fanfiction.net/s/4950701/1/Tualait
Blog : http://wewwkereen.blogspot.com/2009/03/tualait.html
Nyu Mun
Aku merenung di depan jendela. Bukan sedang memikirkan harga bahan pokok yang kian melambung, bukan pula sedang memikirkan bisul di pantatku yang dari ff Tualait belum pecah-pecah. Aku di sini sedang memikirkan kekasihku tercinta, Eed sayang. Sudah dua hari ini dia tidak sekolah dan berkunjung ke rumahku. Katanya sih dia sedang berburu untuk menghilangkan dahaganya akan darah. Eit, tapi inget, dia tidak akan mau menghisap darah dari manusia. Alasannya, pertama, Eed tuh manusia nyamuk yang baik hati. Kedua, katanya sih darah manusia pada gak enak, kadang ada yang bau anyir, ada yang bau jengkol, pokoknya gimana amalnya aja lha.
Kutatap lagi semak-semak di bawah jendelaku yang sedari tadi bergerak sendiri, berharap itu Eed yang sedang mengendap-ngendap kayak maling. Tetapi, walaupun dilihat gimanapun, semak-semak tadi emang gerak sendiri karena angin, bukan oleh yang lain. Aku pun mendesah, bukan lewat mulut tapi lewat lubang pantatku (untung saja jendela terbuka, hehe..) dan bertanya-tanya kapankah kekasihku yang memiliki mulut seksi itu tiba?
Lalu kupandangi langit yang berbeda dari biasanya. Yap, malam ini sungguh cerah. Bintang-bintang yang biasanya bersembunyi di balik awan, kini berani menampakkan diri. Mau tak mau, aku mengharapkan ada bintang jatuh sehingga aku bisa meminta sebuah permintaan sederhana, yaitu datangkanlah Eed sekarang sambil bawa perhiasan sebanyak-banyaknya. Sederhana sekali kan? Apalagi aku tahu sekecil apapun permintaan itu biasanya akan terkabul. Kemarin saja aku lihat tetanggaku yang meminta kepada anaknya untuk memijitinya langsung terkabul!! Eh, tapi apa hubungannya dengan bintang jatuh ya? *blushing*
Ah, sudahlah daripada mulai berpikiran ngaco, lebih baik aku tidur saja. Barangkali saat tidur pun, aku bakal memimpikan pujaan hatiku itu. Yep, mudah-mudahan itu terjadi!
Langsung saja kunaiki kasur empukku dan kuhenyakkan tubuhku di atasnya. Kemudian kututupi tubuhku dengan sarung (selimutnya masih dijemur, kemaren ngompol sih) agar tidak kedinginan dan sembari mendengarkan lagu Ridho Rhoma – Menunggumu, lambat laun mataku pun tertutup.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Ngungg… ngung… Suara dengung itu. Suara apa ya? Oh, iya, suara dengung Eed. Ya, itu pasti dia! Kupaksakan untuk membuka mataku yang masih belekan, dan wajahku langsung tertunduk lesu setelah mendapat kenyataan bahwa suara dengung itu memang suara nyamuk aseli. Bukan suara dengung dari Eed. Hufft, padahal baru jam setengah tujuh pagi nih, tidurnya jadi keganggu deh! Eh, tunggu, tunggu.. JAM SETENGAH TUJUH? Sekolah kan jam tujuh! Akhirnya tanpa dikomando aku langsung berlari ke kamar mandi. Ah, sungguh sial sekali. Ternyata di kamar mandi masih ada Charli. Apalagi seingatku Charli hanya akan keluar dari sana kalau dia sudah menyanyikan lagu ST12 sebanyak 7 album, padahal album yang keluar aja baru 3. Hiks, gimana dong? Hmm, ya udah deh, daripada telat aku terpaksa ga mandi dulu. Cukup cuci muka pake segelas air, terus kumur-kumur sedikit supaya mulut ga bau. Walaupun ga yakin juga sih, soalnya semalem baru makan dengan menu teri-jengki.
Kupakai baju yang wajar, kaos kaki dan sepatu juga kupastikan sewarna. Ok, persiapan sekolah selesai, saatnya berangkat sekolah dan berharap aku bisa mendapati sinar pantulan dari gigi Eed. Mari berdoa saja, semoga dia benar-benar sudah masuk sekolah.
Aku melangkah ke meja makan, tak ada siapa-siapa hanya seonggok pisang goreng dan segelas bandrek susu untuk sarapanku. Rupanya Charli sudah berangkat duluan, katanya sih dia mau patroli, beberapa hari belakangan ini ada kasus orang hilang melulu. Makanya kata Charli, aku tidak boleh pulang terlalu malam. Eh, eh, perasaan ada yang aneh, Charli kan sudah berangkat, terus yang di kamar mandi tadi siapa dong? Dengan rasa penasaran kubuka pintu kamar mandi yang sedari tadi menutup dan tentu saja aku tak mendapati apa-apa di dalamnya. Selain seonggok pisang goreng yang ditinggalkan Charli. Ups, berarti tadi Charli cuma B-A-B dan saking buru-burunya lupa menyiram. Huh, ga di meja makan, ga di kamar mandi, sama-sama ninggalin pisang goreng. Tapi enakan yang mana ya? Hehe..
Kulirik jam tanganku dan melihat sudah pukul 7 kurang sepuluh menit. Tak ada waktu untuk mandi. So, kuputuskan untuk langsung berangkat saja. Dan betapa kagetnya aku, saat kulangkahkan kaki keluar dari rumah. Mobil colt beserta pemiliknya sudah berada di depan.
“Pagi, Bela!?” sapa Eed seraya menunjukkan senyum terindah dari moncongnya.
“EED! Kenapa tak bilang kau akan datang hari ini? Tahu gitu aku akan mandi dulu!”
“Begitu juga sudah cantik kok!” puji Eed. Dia selalu bisa merayu dan membuatku tersipu malu.
“Iya kah? Tapi tak ada yang aneh kan? Pakaianku? Celanaku? Kaos kakiku?” tanyaku. Aku benar-benar trauma, karena setiap datang ke sekolah selalu saja ada yang salah dengan yang kupakai.
“Tidak ada. Benar-benar PERPEK! Sempurna!” lagi-lagi dia memuji, hebat sekali dengan giginya yang maju, dia bisa mengucapkan huruf ‘P’ dengan fasih. “Ngomong-ngomong, kau mau pergi kemana?”
“Ckckck, mentang-mentang dua hari bolos, langsung tidak ingat sekolah, eh?” jawabku seraya mencubit tangan Eed yang dingin.
“Sekolah? Sekarang hari Minggu, Bela-ku sayang!”
“HEE?? Pantesan pakaianku ga ada yang aneh. Ternyata sekarang libur!”
“Hahaha.. Itu yang aku suka darimu, kepolosanmu!”
“Sekali lagi menertawakanku, akan kucabut semua gigimu biar nanti bisa kupajang di tembok kamarku!”
“Yee, ngarep. Mentang-mentang gigiku seksi!” ujar Eed narsis. “Lalu apa kau tak ingat hari ini ada momen apa? Karena itulah yang menjadi alasan aku datang ke sini menjemputmu!”
Hari ini momen apa? Aku mencoba mengingat-ingat. Tapi tetap saja aku tak tahu. Walhasil aku hanya menjawab Eed dengan menggelengkan kepalaku.
“Beneran tak tahu?” Tanya Eed lagi. “Memangnya di rumahmu tak ada kalender?”
“Ada sih. Cuma kalender yang bulan sekarang sudah kurobek untuk dijadikan pembungkus kado buat Angela yang ultah seminggu lalu. Habis, mau beli kertas kado juga warungnya jauh!”
“Hihi, ada-ada saja. Hari ini ulang tahunmu, sayangku! Selamat ya!” ucap Eed sambil mengelus pipiku dan membersihkan beberapa belek di mataku. “Makanya aku menjemputmu, keluargaku mengadakan pesta kecil-kecilan di rumahku!”
“Asyiik, mau maen jaelangkung-jaelangkungan ya!”
“Pesta kecil itu untukmu. Bukan untuk mengundang jaelangkung!”
“Oh,” ucapku sedikit kecewa. “Baiklah, kita berangkat saja yuk!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Rumah keluarga Pulen. Baru pertama kali ini aku berkunjung ke rumah Eed. Rumahnya sendiri terletak jauh ke dalam hutan Gunung Salak. Sehingga jangan berpikiran untuk mencapai tempat ini dengan jalan kaki deh, takut nyasar. Jalannya gelap pula, sinar mentari pun benar-benar terhalang pohon-pohon besar di sekitarnya.
“Rumahmu jauh sekali ya!” komentarku saat pertama kali menginjakkan kaki di bangunan bercat putih yang dikelilingi pagar tinggi itu.
“Dekat kok. Tuh, rumahmu kelihatan dari sini. Rumah kita kan cuma berbeda dua blok saja!” jawab Eed.
“Lha? Tadi kenapa serasa jauh banget atuh. Kalau deket begini, berarti jalan kaki juga bisa? Deskripsi di awal paragraf di atas salah dong!”
“Iya, kita bisa jalan kaki. Tapi seorang putri harus diantar oleh kereta kencana kan?”
Saat Eed berkata itu, pantatku langsung memerah. Err, pipiku maksudnya, bukan pantat. *getok pala sendiri*
“Dan jalan untuk mobil memang cuma bisa lewat jalan yang tadi kita lalui itu.” Eed melanjutkan. “Pokoknya, selamat datang di kerajaanku ya! Yuk, masuk!”
Aku benar-benar merasa seperti putri saat ini. Apalagi saat aku masuk ke dalam rumah, sedang disetel lagu ‘Saya si Putri, si Putri Sinden Panggung’ oh, sungguh pas sekali. Aku suka menjadi pemeran utama cerita ini.
“Selamat datang, Bela!” sambut Ceu Ameh, ibu angkat Eed, sambil memelukku. Parasnya cantik sekali. Giginya pun berbinar-binar indah saking hangatnya beliau menerimaku. Melihatnya pun membuatku jadi pengen tahu rahasia nasi pulen buatannya.
“Ayo masuk, Bela. Tak usah sungkan-sungkan!” Kang Lile ikut menyambutku.
Wiih, kang Lile emang tampan. Aku yakin kalau dia masuk dunia entertainment, pasti dia bakal jadi pelawak paling terkenal se-Indonesia, mengalahkan Narji, Mastur, Mandra, dan keluarga ‘maju' lainnya. Bisa dibilang, hanya Eed yang mampu menyainginya.
“Oh iya, Bela. Maaf ya kalau sajian di meja makan nanti tidak sesuai seleramu. Kami kan sudah lama tak makan!” kata Ceu Ameh. Aku pun melirik ke meja makan dan, wow, serba masakan Sunda. I like it! Namun demi menjaga imej, aku hanya tersenyum kepada Ceu Ameh (tanpa kerasa iler keluar dari mulutku, untung Eed segera mengelapnya).
“Hai Bela. Aku sudah memperkirakan kau akan datang ke sini tepat pada jam dan menit sekarang!” kali ini Elis yang ngomong.
“Wow, kau bisa melihat masa depan?” tanyaku dengan ekspresi takjub.
“Nggak lha. Tadi si Eed sms. Nih!” jawabnya seraya menunjukkan isi sms dari Eed. Padahal udah takjub-takjub dikira bisa ngeramal, taunya nggak.
“Eh, ngomong-ngomong kau kedinginan tidak, Bela? Atau terlalu gerah? Nanti biar kusuruh Njes untuk mengatur suasana di sini kalau kau mau!” Elis nyerocos kayak sales lagi nawarin barang.
“Njes bisa merubah suasana di sini? Atau bahkan suasana hatiku juga? Dia punya kekuatan mejik ya?”
Aduh, bodohnya aku karena sudah bertanya seperti itu, karena jawabannya sudah barang tentu..
“Tidak, Bela! Kau kebanyakan baca novel yang jadi korban parodi FF ini sih ya?” ternyata Mamet yang menjawab, dia baru saja keluar dari kamarnya bersama neng Eros. “Itu tuh, si Njes kan yang megang remote AC ruangan ini. Makanya kalau kepanasan atau kedinginan, ngomong ke dia ya! Hehe.. Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun, coy!”
Mamet mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Langsung saja kusambut tangannya. Tapi tak terlalu lama, karena kulihat neng Eros mendelik tajam ke arahku a la sinetron di negeri ini.
“Ok, karena semuanya sudah berkumpul di ruangan ini, kalau begitu mari kita mulai acaranya,” Eed mulai berlagak seperti host-host reality show di tipi. “Kita mulai dengan acara buka kado! Kepada Miss Bela Sujana, dipersilakan untuk menuju ruang eksekusi..”
Aku yang tak sadar atau memang tak memperhatikan dari awal ya. Karena tiba-tiba saja kado-kado ultahku dari keluarga Pulen sudah berada di meja kecil di dekat meja makan. Membuatku berpikir, kenapa acaranya bukan makan dulu! Padahal aku lebih tertarik pada masakan Sunda yang tersaji di meja makan itu. Ada semur jengkol, lauk japuh, ikan asin, sayur asem, sayur paria, tahu-tempe, sambel terasi, dan tanpa ketinggalan lalapnya. Uh, makin membuatku ngiler saja. Ok, kalau begitu kado-kado itu kubuka dengan cepat saja, agar sesi acara segera berlanjut. Aku pun mempercepat langkahku menuju meja itu. Namun malang nian nasibku, kakiku terpeleset, aku pun terjatuh dengan pantat yang mendarat duluan. Dan SPLASH!
Ekspresi wajah keluarga Pulen tiba-tiba berubah semua setelah aku terjatuh tadi. Terutama Njes. Ada apa gerangan? Aku pun meraba pantatku yang terasa sakit dan baru menyadari kalau.. BISULKU PECAH! Gawat! Pantas saja keluarga Pulen langsung memasang mupeng alias muka pengen. Mereka pasti tergoda untuk mengisap darahku. Bau darahku pasti sekarang menguar di penciuman mereka (err, tadi juga aku tak sengaja kentut sih, kecium juga gak ya?).
Benar saja. Tiba-tiba Njes dalam posisi siap menyerangku.
“Bela, Awas!” teriak Eed yang segera melindungiku saat Njes benar-benar akan menyergapku. Eed yang takut aku kenapa-kenapa langsung menghadang Njes dan mendorongku sampai terlempar jauh. Yeah, jauh sekali, sampai aku mendarat di depan rumahku (rumah kami terpaut dua blok, ingat?). Hebatnya, aku tidak apa-apa. Paling cuma besot-besot di tangan, kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki. Eh, banyak juga ternyata lukanya ya. Kupaksakan diriku untuk bangun. Dan saat aku sudah berdiri, Eed sudah berada di depanku.
“Kau tak apa-apa, Bela?” Tanya Eed khawatir.
“A-aku..”
“Kenapa, Bela? Apa yang sakit? Katakan saja padaku..”
“Aku senang sekali, bisul yang sudah lama menggangguku telah tiada! Terima kasih sudah melemparku ya! Hehe..”
Eed menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ya ampun, harusnya aku tahu aku tak perlu terlalu khawatir padamu. Dasar Bela!”
“Ngg, terus bagaimana keadaan Njes sekarang?” tanyaku serius.
“Oh, Njes ya. Tenang saja, Bela. Ternyata tadi itu hanya salah paham saja, sebetulnya dia tidak berniat menyerangmu.”
“Lalu?”
“Dia mendekat ke arahmu hanya untuk mengecek kado darinya yang kau duduki. Dan kau tahu kado itu berisi apa?”
“Sabun mandi 3 batang?” tebakku. Soalnya ketika masih kecil, kalau ada temanku yang ulang tahun, ibuku selalu membelikan itu untuk kadonya.
“Isinya tiket Disneyland ke Hong Kong!” ujar Eed tanpa mempedulikan tebakanku tadi.
Wow, tiket Disneyland! Ke Dufan aja belum pernah apalagi Disneyland. Njes baik sekali mau memberiku kado itu.
“Terus tiketnya tidak rusak kan?” aku harap-harap cemas.
“Tiketnya sih masih ada,” Eed diam sejenak, “tapi jumlahnya berkurang satu, karena sobek! Maafkan aku, Bela!”
“Lho, kok minta maaf? Kan tiketnya masih ada, aku pergi sendiri juga ga apa-apa deh!” kata-kataku terlihat ngarep sekali ya.
“Tidak, Bela. Justru kebalikannya, kau yang tidak bisa pergi. Tiketnya seharusnya berjumlah 7, sekarang tinggal 6. Dan setelah dirapatkan, diperoleh keputusan bahwa hanya keluarga Pulen yang bakal berangkat.” Eed menjelaskan dengan detail. “Maaf ya, Bela. Aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Masalahnya aku juga beneran pengen ngeliat Mickey Mouse dan Winnie the Pooh versi aslinya sih.”
Tak mungkin. Disneyland-ku. Disneyland-ku yang sudah di depan mata. Dadaku tiba-tiba sesak, aku susah bernapas, hmm, si Eed saking tegangnya kentut kayaknya nih. Bau!
“Ok, Bela. Sekali lagi aku minta maaf ya. Aku harus pergi dulu, pesawat akan berangkat nanti sore! Sampai ketemu! Seandainya saja tiket ke-7 tidak rusak, hiks!”
Usai berkata seperti itu, Eed segara melayang pergi ke dalam rumahnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara deru mesin mobil dinyalakan, lalu bunyi decit ban tanda mobil sudah melaju. Mereka telah pergi. Mereka berangkat ke Disneyland! Sedangkan aku.. Aku hanya terdiam di tempatku. Tak bisa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya aku mendongak karena teringat sesuatu. Aku pun berteriak, “EEEEDDD, JANGAN DULU PERGI! KITA KAN BELUM MASUK SESI MAKAN-MAKAAAN!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
“BELA, bangun.. Bela! Apa kau bermimpi buruk!“
Suara itu memaksaku untuk terbangun. Suara Charli. Bahkan ketika sedang membangunkan orang, suaranya pun dibuat ngebass abis, bawa gitar segala lagih! Dasar ST setia.
“Ada apa sih, Charli?” tanyaku setengah menggerutu. “Ini kan baru jam 5 pagi!”
“Aku tak akan membangunkanmu, jika saja kau tidak teriak-teriak dalam tidurmu! Apa kau bermimpi buruk? Ini pasti ada hubungannya dengan cowok bergigi unik favoritmu itu!”
“Mimpi buruk? Kebalikannya!” sanggahku langsung manyun. “Aku tadi sedang bermimpi naek rollercoaster di Disneyland, makanya aku senang sampai teriak-teriak. Charli sih bangunin!”
“So, bukan karena sakit hati karena ditinggal kan?”
“Bukan lha, ngapain teriak-teriak gara-gara ditinggal cowok. Tinggal nyari lagi yang giginya mancung! Hehe..”
“Ya sudah, bangun gih. Biar ga telat sekolah. Mobilmu kan masih di bengkel! Kudu jalan kaki ke sekolah dah tuh!”
Tentu saja aku tak bisa membantah lagi. Aku pun bangun-gosok gigi dan cuci muka-sarapan-boker-itungin satu per satu yang keluar-ketiduran sebentar di wc-cebok- mandi -berangkat sekolah. Di sekolah pun aku hanya masuk kelas-bengong mikirin Eed-bengong mikirin Disneyland-istirahat-makan-masuk kelas-izin ke toilet-duduk di kloset-ketiduran sebentar-bangun-masuk kelas-bengong lagi-pulang. Dan seterusnya, dan seterusnya, Kegiatan sehari-hariku sekarang hanya itu. Semua berkat tiketku yang rusak! Dan hari-hari tanpa Eed? Benar-benar sepi! Eed dimanakah kau berada? Apakah kau sedang memikirkanku juga?
Tiit.. Tiitt.. Hape-ku berbunyi. Kurogoh kantong orang yang di depanku, ups, kurogoh kantungku dan kukeluarkan hape buatan Cina milikku. Ada MMS dari Eed. Kubuka MMS itu dan terpampanglah foto Eed sedang berpose dengan karakter Winnie the Pooh. Tertulis pula kata-kata: ‘Bela sayang, aku tau kau sedang merindukanku. Karena aku pun begitu. Makanya setiap kali aku ke rumah hantu atau ketika ketakutan naek permainan aku akan meneriakkan namamu! Miss u, Eed.’
Kangenku sedikit terobati dengan membaca MMS itu. Tapi rasa iriku kembali membuncah saat melihat foto Eed di pesan multimedia tadi. Aku kesal. Aku harus bisa melupakan Disneyland dulu. Namun sepertinya akan susah. Karena setiap kali aku melihat pantulan cahaya, baik di jendela sekolah, cermin, kaca spion, atau benda mengkilat lainnya.. Aku pasti ingat pantulan gigi Eed, mengingat Eed berarti mengingat Disneyland! Apa yang harus kulakukan agar tak begini lagi!
Tiga hari berlalu dengan rutinitas biasa. Bedanya pagi ini, Charli mengajakku berbicara. Sepertinya dia membaca gelagat anehku di hari-hari belakangan ini.
“Bela, kemari. Aku ingin membicarakan tentang dirimu di hari ke belakang ini!” Charli mengajakku duduk di sofa yang berada di teras. Eh, bukan sofa deh, tapi ‘Bale’, alias ranjang dari bambu tanpa kasur. Biasanya buat tempat selonjoran sekeluarga.
“Soal aku yang tidur sambil teriak-teriak mulu?”
‘”Yeah, walaupun sebenarnya aku sudah bisa mengatasi hal itu dengan menyetel lagu Tokek Belang ciptaan tokoh idolaku,” Charli diam sebentar, sambil tak sengaja membuat pantatnya bersiul, kemudian melanjutkan, “Aku lebih ingin membicarakan solusi keseluruhan soal masalah ini. Aku tak ingin melihatmu bengong lagi. Mendengar teriakan setiap malammu lagi. Dan tak mau melihatmu nutup idung setelah aku kentut (yang ini sih sebenernya ga ada hubungan ama topik). Oleh karena itu hari ini kau tak perlu sekolah. Aku akan mengajakmu ke tempat dimana kuyakin kegundahanmu akan hilang!”
“Toilet?” tebakku.
“Kegundahan soal Disneyland, bukan kegundahan yang lain!” kilah Charli seraya memegang perutnya, jangan kentut lagi plis. “Pokoknya kau harus ikut denganku. Aku akan menelepon wali kelasmu untuk meminta ijin, OK!”
Tak ada sanggahan dariku. Aku hanya mengangguk dengan tangan tetap di hidungku sambil melihat Charli masuk ke dalam untuk menelepon. Ke tempat manakah Charli akan membawaku, apa benar-benar bisa menghilangkan
kegundahanku? Tak tahulah, tapi patut dicoba deh.
Tak berapa lama Charli sudah keluar lagi, ia pun berkata, “Sip, aku sudah dapat ijinnya, kemon kita berangkat!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Daerah yang kulewati bersama Charli benar-benar daerah yang belum aku kenal sama sekali. Lagipula kapan kenalannya ya, orang baru ketemunya juga hari ini. Pokoknya daerah ini tuh bisa dibilang lebih sejuk tetapi lebih cerah daripada tempat tinggalku yang senantiasa mendung dan hujan hampir setiap hari. Sudah beberapa kali aku bertanya ini ada di daerah mana. Tetapi Charli hanya menjawab, “Kamu tak tahu? Ketika kau bayi sampai kau berumur lima tahun kan aku sering mengajakmu ke sini!” Yea, hanya itu saja. Dasar Charli, mana mungkin aku bisa ingat daerahnya di umur segitu. Di umur sekarang aja aku masih sering lupa.
“Kita bakal ke Curug (air terjun) Cikesang, say!” ujar Charli akhirnya. Setelah kutanya sekitar 11 kali, itupun dia mau menjawab gara-gara kusogok voucher pulsa 10rebu. Pastinya, digunakan untuk berlangganan RBT ST12. LoL. “Tapi bukan denganku juga sih ke sananya, soalnya sebentar lagi aku harus patroli. Kasus orang hilang masih banyak uy! Anehnya, yang ilang tuh kebanyakan yang lagi kena gejala penyakit DBD.. Penculik yang aneh!”
What?! Sepertinya ada yang janggal. Mereka pasti bukan diculik, melainkan menjadi korban dari manusia nyamuk seperti Eed. Aku ingat Eed pernah ngomong sih, kalau masih banyak makhluk kayak dia, dan masih banyak pula yang masih ngisep darah manusia. Aku pun meraba pantatku. Bekas bisulku yang pecah sudah kering belum ya. Aku kan ga mau semua manusia nyamuk menyerangku. Lagian aku tuh geer banget yah? Mana mungkin mereka semua mengincarku. Apes banget kalau beneran kejadian kayak begitu mah *lirik Bella yang asli*.
“Sip, kita udah nyampe!” seru Charli ketika kami sudah sampai di sebuah gubug sederhana yang di depannya terdapat kolam ikan. Di pinggir kolam ikannya terdapat sebuah kotak dari kayu setinggi pusar orang dewasa, dengan pintu dari potongan atap berbahan seng, atau bahasa singkatnya, jamban. Pantes aja ikannya gemuk-gemuk ya! Hehehe..
Plung.. Sreeek.. Terdengar suara pintu seng jamban terbuka mengikuti suara cemplungan terakhir sang punya hajat. Rupanya di situ lagi ada orangnya toh. Tapi kok ga keliatan yah dari tadi? Memang sih kalau orang B-A-B kan pasti jongkok, nah, kan udah selesai B-A-B nya. Kok masih ga keliatan, masa dia masih jongkok aja!
.
.
.
.
Ups, sepertinya begitu atau.. Yang kulihat ini salah?
“Hallo, Charli! Selamat datang!” sambut orang yang baru keluar dari jamban tadi.
“Hai, Jekop! Rupanya kau di situ ya..” ayahku balas menyapa, lalu melirik ke arahku. “Kau masih ingat dia kan, Bela? Dulu kan kalian sering maen rumah-rumahan bareng.”
Dahiku langsung mengernyit. Jekop? Aku melirik pria bernama Jekop tadi. Dia hanya memakai celana bola pendek berwarna biru, tanpa atasan, sehingga memamerkan perut buncit serta dada ratanya. Kulitnya sendiri berwarna sawo mateng ampir busuk. Hebatnya lagi, badannya sangat tegap! Walaupun, err, dia hanya setinggi ketiakku saja. Namun entah kenapa, setelah melihat perawakannya, hatiku sedikit berdesir-desir. Kalian tau sendiri kan kalau aku suka manusia unik dan Jekop salah satu yang masuk kategori tersebut!
“Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kau sudah lupa..” ucap Charli menebak-nebak. Sotoy banget sih! Aku kan bukannya lupa, tapi cuma ga inget doang. “Yah, pokoknya dia yang akan mengantarkanmu ke curug. Kalian kenalan laginya pas di sana aja ye. Aku mau pamit dulu nih, dari tadi temen di pemancingan udah sms melulu!”
“Yea, yea, selamat berpatroli di pemancingan!” sindirku.
“Ups, ngg, bener kok, Bel. Mau patroli nih. Baik-baik ya ama Jekop. See you!”
Sepeninggal Charli, wajahku tiba-tiba saja memerah. Ada apa ini? Perasaan ini sama seperti ketika aku pertama kali bertemu Eed. Apakah aku menaruh hati kepada Jekop? Kupandangi wajah manusia unik yang sedang tersenyum padaku itu. Tapi aku langsung memalingkan wajah. Malu banget uy! Lagipula aku kan sudah punya Eed. Meskipun kuakui, ada rasa bimbang di hatiku.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Kami sampai di Curug Cikesang beberapa menit kemudian dengan menggunakan sepeda gunung beroda tiga hasil modifikasi Jekop. Lumayan sih, di perjalanan kita berdua bisa ngobrol-ngobrol sambil kenalan lagi. Rupanya nama asli Jekop tuh Yakup (iyah, pake ‘p’ bukan pake ‘b’). Dia dipanggil Jekop karena kalau Yakup ketika orang mau memanggilnya kan jadi kudu lengkap, ga bisa cuma ‘Yak’ atau ‘Kup’. Jadilah dia pake Jekop aja, soalnya kan kalau Jekop bisa disingkat jadi ‘Jek’ doang, pas dipanggil. Oh iya, di perjalanan kami pun bercerita dari masalah sepele kayak tips agar rambut kita bebas dari kutu (cukup dibotakin aja!) sampai masalah pribadi seperti jadwal kita mengupil atau garuk-garuk pantat. Semuanya dibahas tuntas.. tas.. tas. Pokoknya ngobrol bersama Jekop tuh nggak roaming alias nyambung banget. Berkat dia juga aku jadi bisa melupakan soal Disneyland yang belakangan menggangguku.
“Bela! Lihat aku!” teriak Jekop, berhasil membangunkanku dari lamunan. Tuiiing.. Byuuur.. Si Jekop main lompat dari atas air terjun aja. “Gimana Bela? Keren kan!”
“Keren sih, tapi..”
“Tapi apa?” sahut Jekop setelah dia sampai di daratan lagi.
“Sejak kapan kau sampai ke atas? Tadi kan kau masih di sampingku! Sungguh mencurigakan. Jangan-jangan kau seperti..”
“Seperti keluarga Pulen? Tentu saja aku bukan makhluk pembuat polusi suara itu! Ups..” potong Jekop.
“Tu-tunggu dulu, darimana kau tahu soal keluarga Pulen? Apa hubungannya dirimu dengan mereka? Lagipula salah satu dari mereka kan pacarku!”
“Yeah, aku sudah dengar dari Charli. Kau pacaran dengan Eed, dan dari ekspresimu aku tahu kalau kau juga sudah tahu jati diri asli mereka kan?” kata Jekop, dan dia bisa membaca pikiranku hanya dengan melihat ekspresiku? Err, tapi bener juga sih, aku kan kalau lagi nyembunyiin sesuatu pasti garuk-garuk pantat saking kikuknya.
“Iya, dia tuh manusia nyamuk. Memangnya kenapa?” kataku, kepalang basah.
“Karena gara-gara ada mereka dan manusia nyamuk lainnya di daerah sini, aku dan semua pemuda di kampungku jadi makhluk seperti ini!” Jekop terlihat kesal. “Kau ingat kasus-kasus orang hilang akhir-akhir ini? Itu semua karena ulah manusia-manusia nyamuk sialan itu. Jadi tugas kami-lah untuk membantai mereka. Apalagi kami termasuk salah satu makhluk yang paling ditakuti oleh spesies mereka!”
“Eh? Kau juga makhluk jadi-jadian? Hmm, makhluk apa ya? Tunggu, biar kutebak..” aku diam sejenak sambil berpikir. “Makhluk yang ditakuti nyamuk ya. Manusia cicak? Tak mungkin. Seharusnya kau bisa nemplok di dinding dan tak bisa berenang. Manusia tokek? Hmm, ga mungkin juga. Harusnya kulitmu belang-belang dan tokek juga masih sodaraan ama cicak. Apalagi ya kemampuanmu? Oh ya, bisa loncat tinggi, bisa berenang, cebol.. Ups, sori, yang terakhir tadi keceplosan, Jek. OK, kayaknya aku sudah tahu, kau itu manusia kodok! Iya kan?”
“Salah!” kilah Jekop, membuatku berpikir keras lagi.
“Ok, aku menyerah. Sebenernya kau ini makhluk apa, eh?”
“Manusia katak. Hehe..”
“Huu.. Katak sih sama aja kali kayak kodok!” protesku seraya menjitak kepala Jekop, mentang-mentang dia lebih pendek.
“Kemaren manusia nyamuk, sekarang manusia kod, eh, katak.. Besok-besok manusia jadi-jadian apalagi ya? Padahal setahuku di Indonesia hanya ada werepig alias babi ngepet aja!”
Jekop memberengut sambil menggosok-gosok kepalanya yang sakit, kemudian berkata, “Sepertinya kau sudah harus terbiasa, Bel!”
Aku mengangguk.
“Jadi, mau mencoba loncat dari atas juga? Ayolah, dijamin bakalan lebih seru dari lorrel koster atau apalah itu namanya! Mau ya!” paksa Jekop. “Kalau perlu, bakalan kurekam juga aksimu!”
Direkam? Tanpa direkam saja aku ga bakal mau. Apalagi kalau direkam! AKU PASTI MAU! Maklum, banci kamera gitu lho! Hihi.. Jadilah aku hanya bisa menjawab, “Baik, Jek, aku mau.”
BUWESSHH.. Tanpa aba-aba tubuhku terangkat. Aku digendong oleh Jekop, eh, tunggu.. Aku digendong oleh Jekop yang telah bertransformasi jadi kodok raksasa (Eng, raksasa untuk ukuran kodok, tapi tetep lebih kecil dari manusia, karena walaupun sudah jadi kodok dia tetep sebesar Jekop aseli). Dia membawaku dengan meloncat-loncat menuju atas tebing air terjun. Pokoknya, kalau cewek normal sih pasti teriak-teriak kalau ngalamin hal yang sama sepertiku. Kalau aku? Tentu ga teriak, tapi langsung ngompol! Maaf ya, Jek, badanmu jadi kebasahan. Tapi tubuhmu jadi makin seksi kok kalau basah.
Sesampainya di atas, Jekop langsung saja meninggalkanku sendiri. Dia turun ke bawah lagi dengan sekali loncatan untuk mengambil handphone android miliknya di sepeda untuk merekamku. Kenapa ga ngerekam pake hape-ku saja yah? Padahal hape Cina-ku kan lebih keren *diem-diem nangis karena iri*.
“Ayo, loncat, Bel, videonya udah on nih!” seru Jekop dari bawah, suaranya sangat cempreng ketika berteriak.
Tiba-tiba aku langsung gugup. Bagaimana tidak? Aku harus lompat dari air terjun ketinggian entah berapa meter, pokoknya tinggi banget deh. Tapi aku harus bisa. Aku juga kan ingin merasakan adrenalin mengalir di setiap pembuluh darahku, merasakan keberanian membuncah di seiap nadiku dan kebahagiaan menggelayut di setiap nafasku. Walhasil dengan semangat tak jelas itu, aku pun melakukannya..
“EED, AI LOP YUUUUUU! HUAAAAAAAA!!!”
BYUUUR..
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
“Bela, bangun, Bela!”
Suara ngebass itu lagi. Pasti Charli.
“Hooaaahem, ada apa sih bos!” gerutuku, dengan posisi tetap berbaring di kasur.
“Kau berteriak-teriak lagi dalam tidurmu! Malahan sekarang plus ngompol juga! Sepertinya perjalanan kemaren ga berhasil ya!”
“Eit, jangan salah. Cukup berhasil kok,” sergahku sambil memaksakan diri untuk duduk. “Soalnya kali ini yang aku impikan adalah saat aku beraksi di Curug Cikesang bareng Jekop. Nih, sampai ngompol pasti gara-gara ngimpi lagi berenang. Hehe.. Ke sana lagi dong, Dad!”
Charli menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat bandul anting di kedua kupingnya bergoyang-goyang. “Tak bisa, nak. Hari ini kau harus masuk sekolah. Lagipula sudah ada yang menjemput tuh!”
“Siapa? Eed?”
“Bukan. Namanya Elis kayaknya mah!”
Elis? Ngapain dia ke sini. Tumben sekali. Kok Eed ga ikut? Gaswat, jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi dengan Eed pas di Disneyland. Apa giginya nancep kena kepala orang yah pas dia lagi teriak? Kubuyarkan lamunan tadi dan langsung saja menghambur keluar rumah tanpa mengganti celanaku yang masih basah, udah setengah kering juga sih, kan ngompolnya udah lama. Hihi..
“Elis! Kapan kalian pulang? Trus, tumben-tumbenan kau yang nyamper ke sini? Ada apa gerangan?”
“Kami pulang tengah malem tadi. Oh iya, Bela, ada yang harus kita omongin!” Elis terlihat serius.
“Soal apa? Eed ya?”
“Iya. Soal Eed dan videomu di youtube!”
“Soal videoku? Di youtube? Ih, sumpah deh ketemu Ariel aja belum pernah!”
“Bukan video skandal, Bela!” sanggah Elis. “Video kau melompat dari curug sambil teriak Ai lop yu itu! Nah, sekarang Eed merasa bersalah setelah melihat video itu!”
“Lha kok bisa?” aku terheran. Sebenernya pengen nambahin, ‘lha kok bisa, aku tambah terkenal dong’ tapi kuurungkan
saja. Btw, terima kasih ya Jekop!
“Iya, jadinya teh sekarang si Eed mikirin gimana caranya untuk membuat video yang lebih heboh saat berteriak ungkapan cinta padamu. Dia berencana untuk merekam dirinya berteriak ai lop yu di tengah kerumunan orang, sebentar lagi ketika festival panen raya di desa sebelah dimulai. Gawat kan? Bisa-bisa dia disangka orang gila. Lagipula katanya di daerah situ juga mau diadain Fogging sebagai pencegah merambahnya penyakit DBD. Kita harus mencegahnya!”
OMG, so sweet banget kan si Eed itu. Maunya sih aku tak usah mencegahnya, karena dengan begitu aku jadi tahu pula seberapa dalam cinta Eed padaku. Tapi apa mau dikata, aku kan ga mau nanti Eed kenapa-kenapa. Aku juga kan kuatir kalau misalnya para petani ngambek terus ngejadiin gigi Eed sebagai cangkul mereka. Atau Eed yang keracunan asap
fogging sehingga mati dalam keadaan gigi yang menciut. Hiks, ngebayanginnya aja udah ngeri apalagi kalau kejadian.
“Ya sudah, kita berangkat saja langsung.. Yuk!” kataku, langsung menarik tangan Elis.
“Tapi, Bela..”
“Apa lagi? Ntar kalo kelamaan kita bisa terlambat tauk!”
“Tapi, Bela, ganti celanamu dulu dong!”
“Oh iya juga ya, hehe..”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Terlihat kerumunan orang-orang di alun-alun kampung Cikobokan, kampung yang berada di sebelah kampung Cikiruh. Festival Panen Raya memang selalu dijadikan ajang untuk semua masyarakat sekitar sini untuk berkumpul dan bersuka cita. Sehingga bisa dibilang, inilah acara pelepas lelah bagi para petani yang saban ari kudu macul sawahnya. Panggung hiburan dan bazaar-bazaar pun tersedia di sini. Kalau saja aku ke sini saat aku tidak mempunyai misi menyelamatkan Eed, aku pasti sudah belanja sayur-mayur murah yang ada. Kapan lagi dapet sayur murah. Pete aja seiket sekarang udah mahal *curcol*. Terus juga mungkin aku bakal nonton dangdut di panggung utama, mana bintang tamunya tuh Syaiful Jamil pula! Eh, eh, topeng monyet dan kuda lumping juga ada uy, ah, benar-benar menggoda selera. Aku jadi bimbang, nerusin nyari Eed atau nonton hiburan yang ada aja.
Uh, kutampar-tampar pipi Elis untuk menghilangkan pikiran jelek itu. Tapi kok pikirannya tetep ga ilang ya? *diteriakin Elis:
“Ya iyya lha, makanya yg ditampar tuh pipi sendiri, jangan pipi orang lain”* Wah, ada benarnya juga. Eh, tapi kan Elis harusnya ga bisa baca pikiran orang ya? Ah, kepalang, udah ngaco dari awal inih. Hehe.. Ya udah deh, kutampar pipi Elis sekali lagi, nah, berhasil kan? Sekarang baru ilang deh pikiran jeleknya.
“Elis, gimana nih? Kita sudah tiga kali puasa tiga kali lebaran muterin ini alun-alun, tapi Eed belum ketemu-ketemu!” aku mulai panik, mana jam 12 –saat semua stand dan acara diistirahatkan- bakal dimulai foggingnya di semua kampung Cikobokan. Kulirik jam tanganku yang kubeli di toko serba goceng, mataku membelalak, karena jam digitalku menunjukkan jam 9.20!! Err, masih lama dong ya ama acara foggingnya. Paniknya kecepetan dong. :P
“Aku juga heran, biasanya aku mudah mengenali pantulan gigi dari Eed,” gumam Elis terdengar lemas.
“Terus kenapa dong jadi susah dikenalin?”
“Soalnya orang-orang yang ke sini banyak yang memiliki gigi seperti kami juga! Untuk mendeteksi dengungannya juga susah, karena terlalu berisik!” papar Elis.
“Terus gimana dong?” yang bisa kulakukan sekarang emang hanya nanya doang.
“Kita ke panggung utama aja, terus..”
“Kita joget bareng ama Syaiful Jamil!” potongku, ngarep abis deh, sumpah!
“Bukan lha. Kita pinjem mikropon-nya, terus kasih pengumuman orang hilang. Kita bilang, orang yang kita cari itu rada terbelakang mental jadinya ga bisa nemuin jalan pulang. Gimana?” usul Elis.
“Yee, yang ada Eed sembunyi, bukannya muncul atuh kalo disebutin kayak gitu! Tapi pantas dicoba juga deh!”
Dan kami pun segera berlari ke panggung utama, sampai tiba-tiba..
“Para hadirin-hadirot nu bahagia, parantos ieu bade aya penampilan ti salah saorang nu cenah mah bade nyanyikeun lagu kanggo ngungkapkeun tresna alias cinta ka kabogohna. Urang sambut.. EED SUMANTRI! ” suara MCK tadi *dikepruk*, iya-iya, kuralat, maksudnya suara MC! Suara itu menggema di seantero alun-alun. Saat itu entah kenapa waktu tiba-tiba terasa seperti berhenti, semua perhatian pun tertuju ke topeng monyet. Yee *timpukin tukang topeng monyet*. Semua perhatian pun tertuju ke panggung utama yang tiba-tiba begitu silau setelah si penampil muncul sambil tersenyum lebar.
“Ehem, kepada Bela..” ucap Eed memecah keheningan, “Bela Sujana, pacarku, kabogoh abdi. Kupersembahkan lagu ini spesial untukmu sebagai bukti tanda cintaku yang besar padamu. Dan aku tahu cintamu pun begitu padaku! MUSIIIK..”
Alunan musik mengalir dan tak berapa lama diikuti oleh suara merdu dari Eed yang menyanyikan lagu PUSPA dari ST12. Tanpa sadar aku pun langsung berlari menuju belakang panggung, untuk siap menyambut Eed setelah dia beres bernyanyi. Namun, betapa kagetnya aku karena di belakang sudah ada Charli! Malahan yang lebih mengagetkan lagi, Charli pun sedang memegang mikropon. Charli pun hanya melambai padaku -dengan muka tanpa dosa- sambil tetap bernyanyi saat tahu aku sudah berada di situ. Huhu.. Harusnya aku tahu kalau Charli lha yang mendubbing suara nyanyian Eed. pantesan suaranya aku kenal. Aku memang pernah mendengar curhatan dari ayahku juga sih soal dia yang ga berani tampil di panggung, jadi sekarang dia minjem wajah Eed yang keren ya buat pamer suaranya! Tapi tak apalah, dengan begitu aku, Eed, dan Charli menjadi sama-sama terkenal. Dunia entertain, here we come.. *ngekhayal kejauhan*
“Beri tepuk tangan buat kang EED!” teriak Emsi setelah lagu selesai.
Langsung saja kusambut dirinya ketika Eed turun dari panggung.
“Eed, tega-teganya kau!”
“Maaf, Bela.. Aku..”
“Tau ga sih lo, guee kuatir banget sama elo. Elo harusnya tau itu, elo..” alayku terhentikan saat jari telunjuk Eed ditempelkan di bibirku. Aku pun tambah mematung ketika Eed mencium keningku yang seperti biasa bakalan meninggalkan bekas gigi.
“Maafkan aku, Bela. Aku tak bermaksud. Lagipula sebenarnya ini semua ide Charli!”
Semua mata pun langsung menyorot kepada Charli.
“Ngg, ya, Bela. Aku yang meng-sms Eed dan bilang kalau aku akan merestui pernikahan kalian kalau Eed mau menjadi objek Lipsync-ku! Elis pun aku yang nyuruh..” Charli menjelaskan duduk perkaranya. “Dan tenang saja, aku sudah minta ijin bolosmu juga kok di hari ini! Oh iya, lagian ini sebagai Plan B kalau aku gagal dengan Jekop Plan!”
“Pernikahan?” tanyaku tanpa menggubris penjelasan Charli berikutnya. Walaupun aku tahu semua yang dilakukan Charli adalah bukti bahwa dia peduli padaku. “Emang kapan Eed melamarku?”
“Kemaren sore, saat kau masih di Curug, dia menelpon ke rumah!” Charli lagi yang ngomong.
“Ja-jadi, kemaren teh Charli yang ngangkat? Berarti pas aku bilang ‘Maukah kau menikahiku’ juga Charli yang denger!” ucap Eed terdengar syok. Charli hanya mengangguk. “Pantesan, setelahnya telepon langsung ditutup!”
“Kalau begitu, daripada salah lagi, kau lamar Bela lagi saja sekarang!” si Elis yang mengusulkan. Ide bagus cuy!
“Baiklah..” Eed menarik napas dalam-dalam, kemudian berlutut sambil memegang tanganku, lalu berucap, “Bela binti Suj, err, Bela binti Charli (Eed ngeralat gara-gara dipelototin Charli).. Maukah kau menikahiku?”
Wajahku langsung terasa panas. Apa yang harus kujawab? Jelas sekali aku mau menjawab ‘ya’ tapi aku ragu-ragu. Aku pun melirik ke ayahku, “Charli, apakah boleh? Aku kan masih kelas 3 SMA!”
“Tapi umurmu sudah 20 tahun kan, nak. Ga naik kelas 3 kali gitu lho!” balas Charli to-the-point kayak biasa.
Tapi berkat jawaban dari Charli itu, aku pun semakin mantap dan berkata, “YA, Eed! Iya aku mau menikahimu!”
Tepuk tangan dan sorakan riuh terdengar, setelah aku berkata seperti itu. Tapi bukan untukku juga sih tepuk tangannya, melainkan buat Syaiful Jamil, yang ternyata baru selesai tampil. Syaiful Jamil? HUAA, EED SIH, AKU JADI TAK MENONTON AKSINYA DI PANGGUNG KAN!
TAMAT (Semoga bukan untuk sementara) :D
NB:
- Sori ya, rilis sekuelnya agak lama dari pendahulunya. Beda dua tahun lho! Makanya gw awalnya rada kagok untuk merasuk ke karakter Bela lagi. Huahaha..
- Entah masih bakal ada sekuel lagi apa nggak. Soalnya nonton pelem Eklipsnya aja udah tersiksa. Sedangkan detail di novel udah pada lupa. Hohoho..
- Buat fans Twilight jangan pada ngambek ya idolanya dinistakan.. Just for fun kok *dilemparin duit receh sekarung*
Bisa diliat juga di:
http://www.fanfiction.net/s/4950701/2/Tualait_Saga
http://www.fanfiction.net/s/4950701/2/Tualait_Saga
Subscribe to:
Posts (Atom)