Friday, January 14, 2011

Judul : Severus Snape and the Dark Arts (Severus Snape dan Ilmu Hitam)
Genre : Humor
Timeline : Tahun ke-5 Snape di Hogwarts
Disclaimer : Kepunyaan Bunda Rowling

Catatan:
Timeline FF ini sengaja dibuat ngaco ya. Jadi anggep aja Lucius Malfoy itu seangkatan ama Snape di Hogwarts. Soalnya males kudu bikin nama baru lagi. :P


Severus Snape and the Dark Arts

Snape, nama bocah itu. Dia adalah murid Hogwarts yang kelihatannya cukup terkenal pada angkatannya. Selain karena ketampanannya, juga karena obsesinya terhadap ilmu hitam. Makanya tak perlu heran jika Snape telah menguasai banyak sekali ilmu hitam dibandingkan murid-murid lain seusianya.

“Hai, Snape. Selamat pagi!” sapa seseorang kepada bocah itu, saat mereka bertemu di ruang rekreasi Slytherin yang terletak di bawah tanah Hogwarts.

“Pagi,” jawab Snape pendek. Begitulah Snape, selalu cool.

“Sudah berhasil menemukan ilmu hitam baru lagi kah?”

“Sudah sih, tapi..”

“Tapi apa?”

“Gope dulu dong, kalau mau tahu! Hehe..” kata Snape sambil menengadahkan tangannya.

“Lha, pelit amat sih ama sahabatmu sendiri, si Lucius Malfoy ini?”

“Ya harus dong! Setiap ilmu itu ada harganya,” kata Snape sambil nyengir.

“Memangnya ilmu seperti apa lagi yang kau temukan sekarang?” tanya Lucius, bocah berambut pirang yang ternyata merupakan teman Snape. “Aku tak ingin tertipu lagi seperti waktu itu, katanya ilmu hitam sakti, bisa membius banyak lawan dalam sekali serangan, tak tahunya..”

“Beneran bisa kan?!” Snape memotong.

“I-iya sih. Tapi bukan dengan cara ngentutin orang juga kali! Mana sebelumnya kita harus makan jengkol dulu pula, walaupun harus kuakui makanan itu enak.”

“Ya sudah, kalau begitu kuberi tahu ilmu yang telah kupelajari sekarang ini,” Snape mengibaskan rambut panjangnya terlebih dahulu, “ilmunya adalah ilmu pelet memikat wanita!”

“Apa? Benarkah?” Lucius seperti masih tak percaya. “Lebih hebat mana jika dibanding ramuan cinta?”

“Aku akan memilih ilmu pelet ini daripada ramuan cinta..” jawab Snape. “Karena untuk ramuan cinta, kita harus memastikan si korban meminum atau memakan ramuan itu. Sedangkan untuk ilmu pelet tidak perlu. Tinggal pilih target, lakukan sebuah ritual atau upacara. Selanjutnya dia bakal klepek-klepek ngejar-ngejar kita.”

“Terus gimana tuh cara kerjanya?”

“Hmm, bakalan susah kalau aku harus menjelaskan caranya kepadamu. Masalahnya otakmu tidak akan nyampe..”

“Sialan! Gini-gini juga, biarpun otakku tumpul yang penting nilai tetep ancur! Hahaha..”

“Sudah, tak usah curhat..” ledek Snape, sembari memamerkan giginya yang putih, bahkan saking putihnya hampir terlihat transparan. “Kalau gitu, kita langsung praktek di lapangan saja, okeh?!”

“Oke. Tapi, di lapangan mana? Quidditch atau lapangan di halaman depan Hogwarts?” ucap Lucius polos dan Snape hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Jadi, siapa yang bakal jadi target kita untuk percobaan kali ini?” tanya Snape sambil mengangkat alisnya dan menatap Lucius ketika mereka telah berada di kamar anak laki-laki yang sedang kosong.

“Hmm,” Lucius tersenyum malu dan mukanya langsung berubah merah, “bagaimana kalau…”

“Siti, eh, Cissy kan?” potong Snape, menyebutkan nama panggilan adik kelas mereka Narcissa Black.

“Kalau sudah tahu napa nanya lagi? Hehe..” kata Lucius, mukanya masih merah. Lucius memang sudah lama menyukai gadis itu, tapi dia belum berani mengungkapkannya, karena muka Narcissa selalu terlihat jutek dimanapun dia berada. “Terus apa yang harus kita lakukan?”

“Gampang sekali. Pertama, kau tinggal menyiapkan foto target yang ingin kau jadikan pacar..”

“Oh, foto Cissy banyak banget di laciku..” potong Lucius bersemangat.

“Yea, yea.. Selanjutnya kau harus menyiapkan sesajen berupa..”

“Sesa.. apa?” potong Lucius lagi.

“Sesajen, Lucy!”

“Grr.. Jangan panggil aku dengan nama itu napa!”

“Makanya diem dulu. Jangan memotong penjelasan orang terus!” bentak Snape, seraya melanjutkan penjelasannya, “Kau harus menyiapkan sesajen berupa..”

“Sesajen tuh sejenis makanan ya?”

Snape menghela napas. “Lama-lama bibirmu kupotong dan kujadikan parkedel nih. Meni teu kapok-kapok..”

“Ya, maap. Keceplosan. Ya udah, nih foto calon yayangku!” ujar Lucius seraya menyerahkan foto Narcissa Black. “Terus gimana lagi?”

“Kita siapkan sesajennya. Berupa 3 butir telur setengah mateng, secangkir kopi pahit yang dicampur beberapa lembar rambutmu..”

“AW!” Lucius berteriak saat Snape mencabut beberapa helai rambutnya tanpa komando apapun, Lucius hanya bisa memberengut.

“Uang kertas palsu untuk menyogok dewa jodoh, bakar kemenyan untuk membuka auramu dan terakhir tusuk konde Nyi Roro Kidul untuk menusuk foto calon targetmu!”

“Nyi Roro Kidul, perasaan pernah mendengar..”

“Nyi Roro Kidul tuh ratu penunggu laut pantai selatan pulau Jawa, Indonesia. Ya tempat aku mendapat ilmu pelet ini.” Snape menjelaskan, seperti biasa dengan aura cool-nya.

“Wow, terus bagaimana kau bisa dapat tusuk kondenya?” Lucius takjub.

“Yeah, kupikir tadinya bakal susah untuk mendapatkannya. Tapi ternyata tusuk konde ini dijual di FJB (Forum Jual-Beli) nya Kaskus!” Snape terlihat bangga dan Lucius hanya melongo karena tidak mengerti. “Ok, karena bahan-bahan sudah terkumpul semua, sekarang tinggal kita mulai ritualnya.”

“Gimana tuh?”

“Ssstt,” Snape mulai serius, setelah itu dia mengucapkan sejenis mantera berbahasa aneh yang tak dikenal Lucius, “Hoom.. Sangkiang sangwedi, roro jangwani singmenang jodoh pun abdi, lintang melintang dina hati, jeung maturan tiap isuk tiap weungi!”

Snape memejamkan matanya, lalu mengangkat kedua tangannya, dan memutar-mutar tubuhnya sambil tetap bersila.

“Tusuk foto Cissy sekarang!” perintah Snape tiba-tiba.

Lucius segera beraksi setelah mendengar komando dari Snape. Tangannya yang sudah memegang tusuk konde mulai berputar-putar di atas foto dan bersiap menusuk foto kekasih pujaannya itu. Namun setelah satu menit berjalan, Lucius masih saja belum melakukan perintah Snape juga.

“Ada apa, Lucy? Kenapa lama banget!” kata Snape tak sabar.

“Hmm, sepertinya aku salah memilih foto..”

“Salah memilih bagaimana?” tanya Snape sambil menyomot foto yang tergeletak di depannya. “Ya ampun! Kenapa kau pilih foto Narcissa yang sedang berlari.”

“Makanya aku jadi susah nusuk, dia berlari terus sih. Malah kadang-kadang ngumpet di belakang pohon!”

“Yee, salah sendiri!” Snape benar-benar kesal. “Eh, tapi lihat tuh. Si Cissy di foto kayaknya lagi kecapekan, tusuk sekarang!”

“Siaaaapp!” teriak Lucius penuh semangat.

Jleb. Tusuk konde menancap tepat di pantat Cissy yang terlihat memberengut karena kesakitan.

“Sudah beres?” tanya Lucius.

“Yep, sekarang kau coba temui Cissy, ah, tapi pasti dia yang bakal kepingin menemuimu deh!”

“Tak perlu kau suruh pun pasti akan kutemui,” ujar Lucius seraya melenggang pergi, “Dah, Snape, nanti kuberitahu hasilnya!”

Lima belas menit kemudian Lucius sudah kembali ke kamar. Snape yang penasaran akan hasil dari jampi-jampinya pun segera memperhatikannya. Tapi Snape bingung, kenapa temannya itu masuk ke kamar sambil menutup pipi kanannya dengan kedua tangan ya?

“Parah!” ucap Lucius untuk menjawab ekspresi keheranan Snape.

“Ada apa? Jampi-jampinya gagal?” Snape mengernyitkan dahinya sambil mengingat-ngingat barangkali ada petunjuk yang dia lupakan.

“Tentu saja tidak!”

“Terus?”

“Benar-benar parah deh! Baru saja aku menemui Cissy di aula besar, dia langsung memelukku dan mencium pipiku!” Lucius terlihat senang. “Dan mukaku langsung terasa panas, terus karena banyak orang yang ngeliatin, aku pun kembali ke sini. Bellatrix sampai melongo tak percaya setelah melihat kejadian itu!”

“Bagus.. Bagus.. Seratus poin untuk ketampanan dan kecerdasanku kalau begitu,” kata Snape narsis, berlagak seperti guru yang sedang memberikan poin untuk asrama.

“Setuju aja deh, hehe..” Lucius mengiyakan. “Eh, tapi ngomong-ngomong, ada efek sampingnya ga?”

“Kurang tahu. Makanya aku menjadikanmu kelinci percobaanku terlebih dahulu,” jawab Snape yang langsung memasang muka tak berdosa.

“Sialan kau!”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Keesokan harinya, Snape menjalankan aktivitas di Hogwarts dengan tanpa ditemani teman setianya. Lucius, kini selalu pergi dengan Narcissa yang telah berhasil mereka jadikan sebagai korban pelet pertama. Beruntung, di saat kesendiriannya, Snape tidak pernah sekalipun bertemu dengan geng pengacau yang selalu mengganggunya, geng yang selalu sirik dengan kegantengan Snape, Geng Marauder. Ah, mengingat geng pengacau itu, Snape juga jadi teringat dengan malaikat penolongnya yang selalu membela Snape apabila dia diganggu oleh geng Marauder. Dia adalah Lily Evans. Sayang, mereka berada di asrama yang berbeda. Seandainya saja mereka berada di asrama yang sama pasti Snape sudah..

Eit, tunggu dulu, bagaimana kalau aku juga mencoba untuk memelet Lily, pikir Snape. Hmm, patut dicoba, daripada keduluan si Jejem Potter itu.

Sebenarnya Snape bisa saja langsung mengajak Lily jalan. Tetapi hubungan mereka sekarang ini sedang tidak baik. Gara-gara, yah, sudah pada tahu semua lha.. Snape mengucapkan kata tabu ‘itu’. Eh? Belum pada tahu? Nih, waktu itu Snape mengucapkan kata, “Lho, Ly? Kamu kok kelihatan tambah gemukan ya?” Yep, setelah itu Lily jarang mengajak Snape berbicara lagi.

Dan sekarang, tekad Snape sudah bulat. Segera saja, Snape menuju kamarnya untuk mengambil semua bahan dan alat untuk melakukan ritual. Tak lupa, dia mencabut tusuk konde yang masih menancap di pantat Narcissa. Tapi ada satu masalah, Snape tidak mempunyai foto Lily! Oh iya, minggu lalu angkatannya difoto per asrama, dan foto itu sekarang dipajang di majalah dinding yang berada di dekat pintu masuk menuju aula besar. Sambil menggendong tas besar berisi semua keperluan upacaranya, Snape langsung bergegas menuju aula besar. Sesampainya di sana, Snape segera merapalkan mantra ke foto asrama Gryffindor angkatannya, kemudian merapalkan mantra ke sebuah kertas kosong di depannya. Wih, wih, Snape memang hebat. Sementara di dunia muggle mesin fotokopi masih belum ditemukan, Snape sudah bisa melakukan dengan sihirnya!

Foto hasil kopian sudah berada di tangannya. Kini Snape tinggal mencari tempat yang aman untuk melaksanakan ritualnya. Dan terpilihlah toilet rusak tempat hantu Myrtle Merana berada.

Dengan sigap, dia mengambil sebuah nampan dari dalam tas, kemudian menaruh tiga butir telur yang, err, masih mentah sih. Tapi tenang, Snape mahir menggunakan sihir-sihirnya. Tanpa basa-basi, Snape memanggang tiga telur itu selama lima menit menggunakan mantra api. Lalu dia mengeluarkan gelas dari tasnya dan langsung menyeduh kopi pahit di gelas itu. Kemudian Snape mengambil sedikit rambutnya dan memasukkannya ke dalam kopi tersebut. Tapi.. Ya ampun, nanti kopinya jadi manis dong gara-gara kemasukan rambutku?! Pikir Snape panik. Akhirnya sebagai jalan keluar dia masukkan lebih banyak lagi bubuk kopi ke dalam cangkir, agar kopinya tetap pahit. Terus langkah selanjutnya tinggal siapkan uang kertas, bakar kemenyan, dan.. SELESAI!!

Setelah itu, Snape mulai merapalkan jampi-jampi dengan bahasa aneh lagi dari mulutnya sambil menutup mata, mengangkat kedua tangannya ke atas, dan memutar-mutar tubuhnya. Tiba-tiba kedua matanya membuka, lalu Snape mengambil tusuk konde yang dia simpan di sampingnya, jleb, sekarang tusuk itu sudah menempel di foto yang tergeletak di lantai. Ritual sudah beres, sekarang saatnya dia mengecek hasilnya.

Snape melangkah keluar, ke arah danau dimana kebanyakan murid Hogwarts menghabiskan waktu luang mereka di sana. Dan baru saja Snape menginjakkan kakinya di halaman Hogwarts, sahabatnya datang mendekati.

“Hey, Snape!” panggil Lucius. “Tadi ada yang nyariin tuh!”

“Siapa? Lily?” tebak Snape, jantungnya berdebar-debar.

“Iya. Heran deh, kenapa kau masih bergaul dengan turunan darah lumpur seperti dia?” ucap Lucius yang memang tidak menyukai penyihir keturunan muggle.

“Terus dia ada dimana?” tanya Snape tanpa mempedulikan ketidaksukaan Lucius.

“Tadi sih dia ada di pinggir danau..” jawab Lucius dan Snape tersenyum karena tebakannya ternyata benar, Lily ada di danau.

“Ok, Thanks. Aku ke sana dulu!” Snape berpamitan.

“Ya sudah, aku juga mau ke yayangku dulu. See you!”

Jantung Snape makin berdegup kencang ketika kakinya mengantarkan dia semakin dekat dengan sang pujaan hati. Dari jauh, gadis yang dia sukai itu sudah terlihat, dia sangat cantik dengan rambut panjang sebahu seperti Snape. Makanya kadang-kadang banyak yang menyangka Snape dan Lily kembar. Tapi orang-orang pun sadar saat melihat dari dekat, terlihat perbedaan di hidung, bibir, dan pastinya mata mereka. Mata Snape hitam legam, sedangkan Lily hijau indah.

Tinggal beberapa meter jarak Snape menuju Lily yang duduk di pinggir danau sambil membaca buku. Dan saat Snape semakin dekat, Lily menengokkan kepalanya, ekspresinya terlihat kaget.

“Snape!” pekik Lily. “Sedang apa kau di sini?”

Muka Snape bersemu merah.

“Ng, tidak, ngg, tadi aku dengar kau mencariku?”

Lily mengangguk, dia bangun dari duduknya, berjalan ke arah Snape dan memegang tangannya. Muka Snape semakin panas, jantungnya memainkan ritme cepat, tubuhnya gemetaran, dan bulu kuduknya pun berdiri (Memangnya Lily hantu? Hihi). Apakah peletnya sudah berfungsi dengan baik?

“Snape,” ucap Lily. Kuping Snape serasa terbang saat mendengar suara lembut Lily memanggilnya. “Lebih baik kau cepat pergi dari sini!”

JELEGERR. Seperti ada petir yang menyambar hati Snape. Lily mengusirnya? Peletnya berfungsi tidak sih?

“Ap-apa? Kenapa?” Snape jadi terbata-bata.

“Iya, lebih baik kau pergi sembunyi..” wajah Lily tegang.

“Sembunyi dari apa?”

“James! Dari tadi dia mencarimu. Setiap anak Slytherin yang berpapasan dengannya pasti dia tanyai. Dan jika mereka menjawab ‘tidak tahu’, James langsung menyihir rambut mereka agar berminyak seperti rambutmu!” kata Lily. “Makanya untuk sementara waktu, kau jangan kemana-mana dulu, tetaplah berada di ruang rekreasi Slytherin. Aku takut terjadi apa-apa padamu!”

“Terima kasih atas kekhawatiranmu,” kata Snape, terlihat senang dengan kepedulian Lily padanya. “Tetapi, mau apa lagi sih si Potter jelek itu!”

“Siapa yang kau maksud Potter jelek itu, eh?” tiba-tiba Peter Pettigrew berada di dekat mereka. Wajahnya terlihat licik. “Jaameess.. Snape di sini! Snape ada di sini!!”

“Ayo, Snape.. Cepat pergi, daripada si James keburu datang!” perintah Lily.

Mau tak mau Snape pun jadi panik. Secepat mungkin dia berlari sambil sesekali menengok kepada Lily. Gadis itu mengkhawatirkannya. Hmm, apa itu karena pelet itu ya?

Snape sudah berlari sampai ke jembatan, saat tiba-tiba Sirius mencegatnya dan memblokir jalan keluar dari jembatan. Sedangkan dari arah berlawanan sudah terlihat James Potter yang mendekatinya.

“Akhirnya aku menemukanmu, Snape!” ujar James.

“Mau apa kau?”

“Tak usah berang begitu dong! Dari tadi aku mencarimu cuma mau bilang kalau..”

“Ya?”

James terlihat tegang, dia menarik napas sebentar sebelum akhirnya mengucapkan, “Aku.. Cinta... Ka..”

“TIDAAAK!! JANGAAN!!” Snape yang sudah bisa menebak apa yang akan diutarakan James langsung berteriak dan merapalkan mantra ‘Muffliato’ ke tempat sekitarnya. Dan dengan gocekan ala pemain bola bekel handal, dia mengecoh Sirius yang memblokir jalan dan berhasil melarikan diri. Tapi, Snape tidak berlari menuju ruang rekreasi Slytherin melainkan ke arah toilet rusak dimana dia telah melakukan ritual. Karena Snape curiga ada yang salah dengan ritual yang telah dijalankannya.

Dan benar saja. Sesampainya dia di toilet itu, pokok permasalahannya langsung terdeteksi. Snape salah menusuk korban! Bukannya menusuk Lily, dia malah menusuk James!

Kreet. Pintu di salah satu bilik toilet terbuka. Dari dalamnya keluar sosok berambut pirang dan bermuka lancip. Dia keluar dari bilik sambil menutup pipi kirinya dengan kedua tangannya. Dia adalah..

“Lho, Lucius? Sedang apa di sini?” tanya Snape.

“Ah, tak apa-apa, cuma mengecek..”

“Mengecek hasil kecupan Narcissa, eh?” Snape menebak, tetapi Lucius buru-buru menggelengkan kepalanya.

“Malah kebalikannya!” jawab Lucius. “Nih, pipi kiriku bekas ditampar olehnya. Mana kejadiannya begitu tiba-tiba pula. Tadi kan aku sedang jalan di lorong sambil memeluknya, terus tiba-tiba dia seperti tersentak, seperti tersadar kembali. Kemudian beberapa saat memandangku, dan.. plak.. Aku ditamparnya. Hiks!”

“Benarkah? Oh, mungkin itu karena..”

“Karena apa?”

“Karena aku mencabut tusuk konde dari foto Narcissa.. Habis aku mau menggunakannya juga sih! Hehe..”

“Yee, pantas saja!”

“Eh, tapi aku juga dapat kesialan uy. Niatnya memelet Lily, eh, malah jadinya si James yang mau menembakku!”

“Hahaha.. Kalau itu sih karena..” Lucius diam sejenak. “Aku yang memindahkan tusuk kondenya ke si James! Habis aku tak rela sih kau berpacaran dengan si Lily!”

“Sialan!” serapah Snape. “Ya udah deh, emang nasib kita kali jadi jomblo selamanya!”

“Ah, itu mah lo aja kali! Aku sih ga akan nyerah dan tetap mengejar Cissy, dan kali ini tanpa bantuan ilmu pelet aneh atau ramuan cinta lainnya lagi!”

“Ya, benar juga.. Tumben kali ini otakmu encer!” puji Snape. “Kalau begitu, ayo kita berjuang untuk mendapatkan cinta kita dengan usaha sendiri!”

“Setuju!” teriak Lucius.

Setelah mendapatkan pelajaran berharga dari pengalaman mereka itu, Snape dan Lucius benar-benar tersadar dan akhirnya berjanji tidak akan menggunakan ilmu atau jampi-jampi apapun untuk mendapatkan jodohnya. Mereka hanya akan menggunakan usaha mereka sendiri. Bagi Snape sih mudah, karena dia punya modal ketampanan dan keseksian. Yang disangsikan malah si Lucius, beneran bisa dapet si Narcissa yang jutek itu nggak ya? Pokoknya, kita buktikan saja tekad mereka ya..


Beberapa minggu kemudian..

“Hei, Snape. Lagi ngapain?” sapa Lucius di pagi hari, saat mereka berada di ruang rekreasi. “Wah, pasti nemu ilmu baru lagi ya?”

“Tentu saja!” jawab Snape dengan cool.

“Apaan tuh?”

“Aku mendapatkan ilmu.. SUSUK!” ujar Snape, Lucius hanya melongo seperti biasa. “Ilmu untuk membuat kita terlihat semakin seksi dan bercahaya di mata orang-orang!”

“Jadi, aku bisa menggunakannya untuk menggaet Cissy?”

“Tentu saja!”

“Kalo gitu ajarin dong!” rayu Lucius.

“Lha, waktu itu kan pernah ngomong, katanya mau mendapatkan cinta kita dengan usaha sendiri!”

“Ah, itu mah orang lain kali yang ngomong! Yuk, dah buruan cobain!”

“Hmm,” Snape berpikir dulu sebentar, “ok deh. Kemon, kang!”

Dan mereka pun lupa dengan komitmen yang sudah mereka ucapkan, untuk tidak menggunakan ilmu apapun dalam mendapat jodoh. Dasar anak muda!


TAMAT


NB : Huaa, beres juga FF untuk Snape Day ini. Mudah-mudahan bisa menghibur dan ngebuat kita makin ngebet ama almarhum Snape ye.. Hihi..

Dan mohon maaf juga kalau ada sedikit Slash atau maho detected, its just an accident, right? :P

Tuesday, December 7, 2010

Supernatural: Misteri Perampokan Kompleks Perumahan

Seorang pemuda yang memiliki rambut sebahu baru saja terbangun dari tidurnya. Mukanya kelihatan panik. Wajar saja, barusan dia telah bermimpi buruk. Di dalam mimpinya itu dia melihat bahwa hari ini kakaknya akan mendapatkan uang banyak, banyak sekali sampai saking banyaknya di dalam sakunya nanti akan selalu terdengar gemericik uang recehan. Well, bagi orang lain mungkin hal tersebut malah bukan termasuk mimpi buruk kan? Tapi tidak bagi Sam, sang pemuda yang baru saja bermimpi itu. Bagaimana bisa? Tentu saja, karena uang yang didapat kakaknya, Dean, berasal dari hasil celengan yang dia simpan di bawah jok mobil belakang kakaknya. Dan sebagai info saja, belakangan mimpi Sam selalu menjadi kenyataan. Kemarin saja, Sam bermimpi kalau dia akan mendapati kakaknya sedang mengupil sambil menggaruk-garuk pantatnya, dan tebak, itu semua langsung terjadi! Malah ada bonusnya, setelah mengupil, kakaknya juga dengan sukses menyentil upilnya hingga masuk ke dalam kopinya sendiri, yang dia minum sampai habis setelahnya. Kopinya berubah rasa atau tidak ya? Ah, tak perlu memikirkan itu dulu, yang terpenting sekarang bagi Sam adalah untuk memastikan bahwa tabungannya tersimpan aman di dalam celengan. Namun, beberapa saat sebelum dia beranjak dari tempat tidurnya, pintu kamar motel terbuka, dan kakaknya masuk ke dalam.

“Halo, adikku tercinta. Tumben bangun pagi, habis mimpiin gua ya?” sapa Dean.

Tadinya, Sam akan menjawab ‘ya’, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Set dah, mana mungkin gua mimpiin lo, mendingan mimpiin mpok Nori dah kalau begitu mah..”

“Bujud, lagi dapet bu? Galak amat.. Hehe..” canda Dean. “Eh, ngomong-ngomong, jadi kan kita buat nyelidikin kasus perampokan di rumah-rumah yang berada dalam satu komplek yang baru-baru ini diberitain.”

“Ya iyya lha, jadi..” jawab Sam singkat.

“Tapi darimana lo yakin kalau kasus itu tuh berhubungan sama hal supernatural?”

“Ya ampun, Dean, kudu berapa kali sih dijelasinnya! Nih, pertama, di rumah-rumah yang dirampok gak ada tanda-tanda pengrusakan atau penjebolan secara paksa di pintu, jendela atau brankas tempat nyimpen uangnya. Terus, di sekitar halaman rumahnya selalu ada jejak kaki hewan yang mondar-mandir. Terakhir, karena kasus itu terjadinya setelah ada seorang pindahan yang berasal dari luar kota atau malah dari luar negeri. Gitu lho, pak bos!” papar Sam panjang lebar.

“Hoo, bisa ulangi lagi gak, Sam, tadi gua lagi ngorek kuping soalnya..” kata Dean santai. Namun dia segera meralat ucapannya, karena Sam telah menampakkan tatapan mata ingin membunuh kepadanya. “Oke, Oke, sori.. Cuma becanda.. Hehe.. So, hayu atuh kita berangkat.”

“Sip lha, tunggu dulu yak.. Gua mandi dulu..” jawab Sam.

Setelah Sam selesai mandi, mereka berdua langsung menaiki mobil antik milik mereka. Dean duduk di tempat kemudi, sedangkan Sam di sebelahnya. Inginnya Sam sih dia duduk di belakang, sekalian untuk memastikan kalau celengannya masih aman. Tapi karena dia tak bisa memikirkan alasan tepat untuk melakukannya, dia pun mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk memeriksanya nanti saja, daripada nanti Dean curiga ada sesuatu kan? Bisa-bisa berabe nantinya.

“Oi, Sam! Ngapain lo bengong? Sambil nengak-nengok ke belakang terus pula! Ada barang lo yang ketinggalan? Tenang aja kali, boneka Teddy Bear milik lo udah gua simpen di tas kok!” tanya Dean sambil meledek.

“Eh, emangnya gua bengong ya tadi?” Sam malah menanya balik. “Oh iya, gua teh bengong gara-gara mikirin kalo lo tuh sebenernya dah mandi pa belon, soalnya kecium bau banget nih di dalem mobil.”

“Jago ngeles lo! Gua udah mandi kali.. Dua hari yang lalu.. Hihihi..” jawab Dean, tetap sambil bercanda atau malah jujur ya?

“Gubrak.. Pantes aja! Untung gua lebih wangi, jadinya bau lo ketutupin..”

“Iya dah, elo memang selalu jadi malaikat penyelamat gua dimanapun berada.. Kayak sekarang nih, gua mau nanya jalannya kemana lagi yak? Kita gak nyasar kan?”

“Oh iya, gua yang megang peta dari tadi yah.. Hehehe.. Ehmm, nah, Dean.. menurut peta nih ye, pokoknya kita jalan teruuuus aja, sampai nanti ketemu tikungan baru belok!” terang Sam seraya melihat peta yang ada di depannya.

“Zzzz, orok umur dua bulan juga tau kali kalau ada tikungan mah pasti belok!”

“Nah, kalo gitu kenapa tadi nanya? Kalo udah tau bayi aja bisa, apalagi kakek tua bangkotan kan? Hahaha…”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sekitar pukul 2 siang, mereka akhirnya tiba di sebuah komplek perumahan yang kerap kali terjadi kasus perampokan itu. Dean menjalankan mobilnya secara perlahan sambil melewati rumah-rumah yang ada di sana. Kebanyakan dari rumah itu memiliki pagar yang sangat tinggi, sehingga dijamin bagi perampok ‘normal’ akan kesusahan dalam menjalankan aksinya. Tak jarang dari beberapa rumah terlihat security yang ditugaskan untuk menjaga keamanan. Tapi memang sih, suasana komplek memang sepi, sehingga sangat memungkinkan berbagai tindakan kriminal terjadi tanpa ketahuan pemilik rumahnya. Malah barangkali rumah-rumah itu lebih sering dikosongkan daripada diisi.

Ckiit. Dean menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat Sam agak kaget.

“Ada apa, Dean? Kenapa tiba-tiba lo injek remnya?”

“Ngetes rem doang, hehe..” jawab Dean santai, sehingga tak pelak kepalanya menjadi sasaran jitakan Sam. “Ouch, becanda doang kali. Tuh liat di seberang sana, banyak mobil polisi, rumahnya juga dipasangin bendera kuning, eh salah, dipasangin garis kuning alias police line!”

“Hoo, makanya bilang atuh dari tadi…” ujar Sam tanpa dosa. “Kalo gitu, ayo kita selidikin, tapi jangan lupa kita menyamar dulu. Buruan nih pilih mau pake lencana dan nama FBI yang mana!”

“Siap, Pak!”

Setelah masing-masing dari mereka memilih lencana dan nama FBI-nya, mereka pun bergegas menuju tempat yang dipasangi garis polisi tersebut.

“Selamat siang, Pak!” sapa Dean kepada salah satu polisi berpakaian ‘preman’ yang sedang bertugas.

“Si-Siang..” jawabnya agak terbata-bata. “Ada apa ya? Kalau mau minta sumbangan jangan ke sini, dek… Di sini lagi ada kasus. Cuma orang berkepentingan aja yang boleh masuk.”

“Wuedan, udah pake pakaian rapi begini masih dikira minta sumbangan?!”

“Hoo, kalau begitu mau nagih kredit ya? Maaf yang punya rumah lagi sibuk di dalem,” ucap polisi tadi dengan wajah tanpa dosanya.

Dean terpancing, dia mulai naik darah. Dalam pikirannya dia berkata, apa mungkin si bapak ini tau yah kalau jas ini teh dapet minjem? Tetapi, sebelum Dean menyemburkan kemarahannya, Sam keburu menenangkan, walaupun terlihat bibirnya tertahan agar tidak tertawa.

“Hmm, sori, dengan bapak siapa ini?” Tanya Sam kalem.

“Pak Reed.”

“Perkenalkan, saya Dadang Sutisna, FBI!” ujar Sam sambil menunjukkan lencana dan ID-nya. “Dan ini partner saya, Sergio Montenegro!”

“Dadang? Emang ada orang Amerika namanya Dadang?” si bapak tidak percaya. “Terus ngapain FBI ke sini?”

“Ada lha, ini buktinya saya sendiri. Kan mamih orang sinih, sedangkan papih orang turunan Sunda. Jadi yang dipake marga si papih. Padahal si mamih teh marganya Hilton.. Ckckck..” Jelas Sam ngawur.

“Dan kami ke sini, bukan mau minta sumbangan atau nagih kreditan.. Kami ke sini untuk menyelidiki kasus yang baru saja terjadi..” Dean menambahkan.

“Lha, kan tadi pagi udah ada FBI yang ke sinih. Kok ada lagi?” Pak Reed masih tidak percaya.

“Gini lho, parit.. Eh, maksudnya Pak Reed, yang tadi pagi itu ke sini cuma kebetulan lewat aja. Trus mereka teh ke sini katanya cuma mau numpang B-A-B doang. Abisan dah kebelet sejak semalem,..” lagi-lagi Sam mengarang bebas, Dean hanya bisa mendelik tak percaya kepada adiknya itu. “Jadi, mereka belum menyelidiki apapun, kecuali kalau WC di sini bisa digunakan untuk menampung ‘setoran’ mereka dengan baik.”

“Hoo, ya udah atuh, silakan masuk.. Terus ajak ngomong polisi yang itu aja tuh, soalnya saya mah cuma jadi tukang parkir di sini teh. Lumayan, kang mas, penghasilannya kalau lagi rame beginih.”

“Hah? Tukang parkir?!” Dean merasa tambah keki. “Bukannya ngomong dari tadi! Jadinya kan kita ga perlu ngomong ampe ngalor ngidul segala.. Lagian sejak kapan situ jadi berlogat Sunda?”

“Hehe, ya maap, lupa.. lagian situ kagak nanya..”

“Ya udah, Dean.. buruan kita ngomong ama polisi itu..” ujar Sam pasrah.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Tak perlu sampai berlama-lama mereka di situ, mereka telah mendapatkan informasi-informasi tentang kasus yang baru saja terjadi di rumah tersebut. Dan kebanyakan, informasi yang mereka peroleh dari polisi ASLI (sengaja pake asli yang di-caps lock biar ga ketipu lagi.. hihi) hampir sama dengan data yang Sam peroleh sebelumnya. Seperti informasi kalau di setiap tempat kejadian selalu saja ada jejak kaki hewan yang kalau dilihat-lihat hewan ini memiliki kaki empat dan tidak memiliki jari, menandakan kalau hewan ini kemungkinan besar adalah sejenis herbivora alias hewan pemakan tumbuh-tumbuhan. Lalu brankas penyimpanan korban benar-benar terlihat tak ada tanda-tanda pengrusakan sama sekali. Bahkan celengan semar milik anak korban yang isinya ikut raib pun masih utuh, padahal kan biasanya untuk mengambil uang dalam celengan harus dipecahin dulu celengannya. Eh, ngomong-ngomong soal celengan, Sam jadi teringat lagi nih soal celengan miliknya yang berada di jok belakang mobil, masih aman gak ya? Tapi lagi-lagi Sam belum punya kesempatan untuk mengeceknya, karena sekarang dia sedang serius memeriksa temuannya dari TKP. Yep, dia sedang memeriksa beberapa bulu hewan yang terjatuh di lokasi kejadian.

“Eh, Sam, serius amat.. Masih ngecek bulu aja dari tadi!” celoteh Dean yang merasa dicuekin. “Lagian, emangnya lo yakin itu beneran bulu hewan, bukan ‘bulu-bulu’ yang lainnya.. Hehe..”

“Jelas lha, gue yakin. Soalnya kalau ini bulu yang laen bakal ketauan baunya pasti sepet dan asem!” balas Sam sembari mencium aroma bulu yang ditemukannya itu. “Bau bulu ini beda, hmm, bau apa ya, sepertinya kenal!”

“Bau kentut gua kali yang lo cium.. Sori ya, ga bisa ditahan sih.. Hahaha!!”

“Sialan lo!”

“Ya udah, sebagai permintaan maaf, gua ajak lo ke restoran yang ada di sekitar sini dan pastinya gua yang bakal traktir! Kan lumayan tuh, selain ngisi perut, bisa sekalian hot spot-an dan googling nyari info soal kasus kita ini, betul begitu, adikku?”

“Iya dah, terserah yang lebih tua aja!”

Ciiitt.. Dean mengerem mendadak dan menepikan mobilnya secara tiba-tiba. Dia pun mematikan mesin dan segera turun dari mobilnya yang diparkir begitu saja di pinggir jalan sepi itu.

“Ok, Brader.. Udah sampe nih!” ujar Dean.

“Weks, yakin nih kita mau makan di sini?” Sam tak percaya, karena saat ini matanya sedang memandang seonggok restoran besar nan mewah bertuliskan ‘Dream Restaurant’ itu.

“Err, adikku tercinta, plis deh, realistis dikit napah! Tuh, kita makan di warteg bang Somad yang ada di sebelah restoran gede ntu..”

Mulut Sam langsung memberengut, wajahnya terlihat kecewa. “Ya, ya, ya.. Sekarang gua tau seberapa dalam isi kantong abangku tersayang inih. Eh, btw, emangnya di warteg itu ada wi-fi-nya gitu?”

“Ckckck, tumben lo ga teliti, tuh ada tulisannya, ‘Free Hot-Spot untuk pemesan Nasi+Semur Jengkol minimal dua porsi’! Nah, kita ada berdua, jadi pasti bisa dapet gratisannya.. Hehe..”

“Weks, jadi kita mau makan itu sekarang?”

“Iya, emang kenapa? Ga suka?”

“SUKA BANGETSS!! Pesen lima porsi dah yah ntar!”

“Gubrak, kirain ga suka! Ya udah lha, yuk masuk, udah laper banget nih!”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Nih liat, gua nemuin beberapa informasi tentang makhluk Supernatural yang memang disuruh untuk nyuri uang,” kata Sam yang baru saja memakan biji jengkol keenamnya, setelah mereka masuk dan memesan makanan di warteg tersebut.

“Mana, sini gua liat..” Dean ingin tau, matanya pun langsung menelusuri layar leptop milik adiknya. “Lho, kok aneh sih, kenapa kebanyakan makhluknya berasal dari Indonesia ya?”

“Nah, itu yang gua heran. Terus, kenapa juga di peringkat pertama makhluk tukang nyurinya tuh malah tertulis ‘Koruptor’, padahal koruptor kan manusia, bukan makhluk supernatural!” celoteh Sam diakhiri dengan sendawa keras yang mengeluarkan aroma khas makanan favoritnya itu.

Sambil manggut-manggut setelah mendengar celotehan adiknya, Dean pun bergumam, “Leprechaun? Tak mungkin. Karena makhluk itu hanya suka dengan logam atau benda yang berkilau saja. Tuyul? Bisa jadi, tetapi wujudnya gak keliatan, kakinya juga kaki anak kecil biasa bukan jejak kaki hewan. Genderuwo? Genderuwo emang berbulu, tapi gak nyolong duit. Babi ngepet? Sudah jelas dialah tersangka utamanya, ciri-cirinya pas dengan petunjuk yang kita temuin sebelum-sebelumnya.”

Kali ini Sam yang manggut-manggut tanda setuju dengan analisa kakaknya.

“Ok, kalau begitu udah diputusin, besok kita bakal datengin rumah orang yang baru aja pindahan ke kompleks perumahan itu!” Dean memutuskan.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Ngoook! Ngooook!

Bunyi bel berkumandang di dalam rumah yang Dean dan Sam datangi kali ini. Rumahnya terlihat biasa-biasa saja dari luar, malahan kalau boleh dibilang terlihat kecil dibanding rumah lain yang ada di komplek itu. Hanya saja halaman rumah ini terlihat lebih luas dan terlihat satu pohon besar yang terlihat angker berdiri kokoh di sana. Sam memencet jerawat, eh, bel rumah itu lagi. Hampir saja mereka membobol pintu rumah tersebut, kalau saja si empunya rumah tidak berteriak ‘tunggu’ dari dalam.

Pintu terbuka sedikit, terlihat seonggok mata yang mengintip dari dalam. “Maaf, siapa ya?”

“Halo, selamat pagi, Mam!” Dean yang menyapa duluan. “Kami dari pengurus rukun warga setempat ingin mengecek dan mendata anda dan keluarga sebagai warga baru di komplek sini. Boleh kami masuk?”

“Eh, emang di Amrik ada RW-nya juga ya? Kalo gitu silakan masuk!” ujar suara wanita itu singkat, membuat Sam tidak percaya karena rencana kakaknya itu berhasil. Asal tahu saja, sebelum ke rumah ini mereka sempat berdebat ingin menyamar jadi apa. Tadinya mereka akan menyamar jadi FBI lagi, tetapi Dean menolak karena tak ingin memakai nama Dadang lagi. Walhasil, dia mengusulkan untuk menyamar jadi seperti sekarang ini. Dan hebatnya lagi, sekarang dia memilih menjadi…

“Perkenalkan, nama saya Marfuad,” kata Dean, “dan ini Mr Kirk.”

“Wow, keturunan Arab ya?!” seru pemilik rumah lalu mempersilakan duduk kepada tamunya. “Pantesan hidungnya mancung! Nggak, kayak hidung suami saya.. Ups!” ucap si pemilik rumah lagi yang entah kenapa setelah berkata seperti itu beliau langsung salah tingkah. “Ja-jadi, apa yang mau kalian tanyakan?”

“Hmm, begini, kami mau bertanya…”

“Siapa nama anda?” potong sebelum Sam menyelesaikan kalimatnya. “Dan..”

“Emangnya hidung suami anda kayak Sule ya? Eh, maaf keceplosan,” kali ini Sam yang memotong, malahan memotong sambil menghubung-hubungkan dengan Sule idola barunya, dia suka nonton OVJ di yutub sih. “Sekali lagi maaf, bu! Maksud saya teh: Dengan siapa anda tinggal di rumah ini?”

Sesaat ibu itu mendelik kea rah Dean dan Sam, kemudian menjawab, “Saya Suminten, err, saya tinggal hanya berdua dengan suami, namanya Suketi!”

“Kalau boleh tahu, apa pekerjaan anda dan suami anda?” selidik Sam lagi.

“Saya hanya ibu rumah tangga, sedangkan pekerjaan suami saya..” ibu Suminten diam sejenak, “dia bekerja sebagai petani, eh anu, maksud saya ketika di tempat tinggal kami dulu dia bekerja sebagai petani, tetapi sekarang dia bekerja sebagai, hmm, apa ya sebutannya, hmm, yang tukang ngumpulin duit itu..”

“Debt collector!” tebak Sam.

“Nah, iya betul itu, debt collector!” ujar si ibu. “Tapi..”

“Kenapa bu?” tanya Sam.

“Debt collector tuh apaan sih?”

Dean dan Sam langsung membelalak tak percaya, sambil sedikit menahan tawa.

“Debt collector itu tukang nagihin kreditan, bu..” jelas Sam dengan sabar.

“Hoo, bilang atuh dari tadi.. Tukang kredit, gituh!” si Ibu malah sewot. “Iya, pokoknya pekerjaan suami saya ga jauh dari itu deh!”

“Hoo, begitu.. Oh iya, ngomong-ngomong ibu tahu kasus yang sering terjadi belakangan ini di sekitar sini kan?” Tanya Dean.

“Tentu saja tahu, kan suami say..” lagi-lagi si ibu terlihat gugup, sepertinya dia hampir keceplosan mengatakan sesuatu. “Eh, maksud saya, kasus apa ya? Saya gak tahu tuh. Kan saya pindahan baru di sini..”

“Baru-baru ini sering terjadi kasus perampokan, bu..” Dean menjelaskan sambil menatap curiga.

“Jadi, kami selaku pengurus rukun warga menyarankan agar ibu lebih hati-hati dan senantiasa mengunci pintu dan menyimpan barang berharga anda di tempat yang aman..” papar Sam.

“Tenang aja, pak. Saya nyimpen barang berharga saya di tempat aman kok. Tuh ada di dalem guci deket pintu kamar saya!” ucap si ibu polos, sambil menunjuk ke guci yang dimaksud.

“Buset deh, bu! Gimana dibilang aman? Orang kayak kita yang baru dikenal aja udah dikasih tau tempat penyimpanannya!” Sam agak keki.

“Waduh, iya juga yak? Gimana kalau kalian penjahatnya? Duh, ntar malem kudu dipindahin ke dalem gentong yang ada di dapur aja deh!” si ibu masih polos ajeh, membuat Sam yang hendak menggugat lagi pun jadi tak berselera mengomentari.

“Baiklah, cukup itu dulu yang kami tanyakan, sekarang kami pamit dulu,” kata Dean akhirnya.

Bu Suminten hanya mengangguk lemah dan tersenyum, sementara Dean dan Sam keluar dari rumahnya.

Ketika mereka sudah berada di luar jangkauan penglihatan dan pendengaran bu Suminten, mereka pun mulai membuka percakapan.

“Gua yakin banget, pasti suaminya si ibu itu babi ngepet!” kata Dean berspekulasi. “Masalahnya, pertama, suara bel rumahnya kayak suara babi, terus dia agak ngeluh soal hidung suaminya, pas ditanya pekerjaan dia malah gugup, pas ditanya soal kasus belakangan ini pertamanya bilang tau, eh, terus ga tau!”

“Sama, gua juga yakin,” balas Sam. “Sama dengan keyakinan gua kalau duit hasil curiannya beneran disimpen di guci, eh, mungkin ntar malem di gentong di dapurnya!”

“Hehe, untunglah si ibunya rada-rada Oneng!” seru Dean, seraya masuk ke dalam mobilnya yang diparkir tak jauh dari rumah bu Suminten.

“Terus rencana kita selanjutnya apa nih?” tanya Sam saat sudah berada dalam mobil.

“Ntar malem kita beraksi! Kita bagi tugas, gua bakalan ngecegat si babi ngepet di perempatan kompleks sonoh. Sedangkan elo bakal ngejebol rumah ibu Suminten, cari altar penyembahannya, dan siapin perangkap buat nangkep babi ngepetnya!”

“Sip.. Sip..!”

“Sedangkan untuk sekarang, mari kita makan dulu! Laper uy belon sarapan!”

“Setuju!! Warteg yang kemaren lagi okeh!”

“Ok deh brader! Berangkaat!”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Tik. Tik. Tik. Suara jarum jam tangan Dean terdengar nyaring. Memang pada saat ini suasana sudah sangat sepi, padahal waktu menunjukkan baru pukul sepuluh malam. Maklum lha, namanya juga komplek perumahan, orang-orangnya jarang banget keluar cuy. Apalagi Dean sekarang sedang berdiam di perempatan jalan yang suasananya gelap, yang dijamin deh, ga bakal ada orang normal yang berani lewat situ di malem hari. Sesuai rencana, kali ini Dean akan memergoki si babi ngepet yang kemungkinan bakal beraksi lagi. Sebetulnya, Dean dan Sam juga tidak tahu pasti kapan makhluk itu bakal menjarah uang warga lagi. Bisa saja malam ini, besok, atau malah seminggu kemudian lagi. Yang pasti, mereka yakin kalau selama uang atau harta benda warga masih ada, si babi ngepet masih akan terus menjalankan aksinya.

Oh iya, sementara Dean di sini, Sam sudah berada di dekat rumah bu Suminten. Siap memberikan kode kepada Dean lewat walkie-talkie-nya dan siap untuk menjebol rumahnya apabila telah terlihat seekor babi yang keluar. Dan, hey, beruntung sekali! Tanpa menunggu lama-lama, terlihat seekor babi lari sempoyongan keluar dari rumah itu. Dengan sigap, Sam mengambil walkie-talkie-nya, “Ganteng 1 di sini, melaporkan kepada ganteng 2 bahwa si hidung seksi telah keluar dari persemayamannya, ganti!”

“Ok, ganteng 2 menerima laporan, siap-siap untuk mencegat si hidung seksi gitu, ganti!” jawab Dean, langsung bersembunyi di belakang semak-semak di dekatnya, sambil menunggu si babi lewat.

“Ganteng 1 juga akan mulai menyusup! Duh kayak maling dah gua, ganteng 1 out!”

Usai berkata seperti itu, Sam langsung membuka pintu rumah bu Suminten dengan. Dia dan kakaknya memang sudah terbiasa melakukan hal itu, sebut saja ini bakat alami mereka. Setelah itu Sam mengendap-endap ke dalam rumah yang terlihat gelap dan sepi. Dia pun mengecek satu per satu kamar yang ada di rumah tersebut dan akhirnya menemukan altar tempat bapak Suketi, suami bu Suminten, menjalankan ritual untuk berubah jadi babi dan kemudian dipanggil lagi kemari jika sudah menyelesaikan aksinya. Altar ini berbentuk lilin yang di sampingnya terdapat sesajen berupa kopi pahit dan kembang tujuh rupa, di sampingnya lagi terdapat gambar lingkaran yang di dalamnya bergambar bintang. Dan seharusnya sih altar ini dijaga oleh seorang penunggu. Soalnya kalau ada sesuatu terjadi sama babi ngepetnya, api lilin akan bergoyang-goyang tak karuan, sehingga si penunggu harus meniup api itu untuk memanggil kembali babi ngepetnya. Tetapi, yang dilihat sekarang oleh Sam adalah si penunggu, bu Suminten, malah udah tertidur pules di samping altar itu.

“Area udah diamankan, perangkap akan dipasang. Gimana keadaan di sana, ganti!”

“Wah, sasaran mulai terlihat! Bersiap melakukan pengejaran, ganti!” bisik Dean lewat walkie-talkie.

Sang babi terlihat tengah berlari menuju blok kompleks yang belum dijamah olehnya. Larinya semakin kencang seiring bertambah nyaring suaranya. Dean pun tak tinggal diam. Dirinya segera mengejar sang babi yang hampir sampai di tikungan yang menuju ke blok G. Tak mau ketinggalan jejak, Dean semakin mempercepat larinya. Sementara sang babi terlihat sudah membelok di tikungan tadi. Dean panik. Dia tambah lagi kecepatan larinya. Huft, akhirnya dia dapat sampai di tikungan tadi, dan sebuah kejutan pun menunggu di sana. “HUAAA!!” teriak Dean tak kuasa menahan kagetnya. Ternyata sang babi yang sudah tahu dia sedang dikuntit telah menunggu di belokan itu, dan kali ini dia siap menerjang penguntitnya. “KABUUUR!!” Gantian. Sekarang sang babi yang mengejar Dean.

“Ganteng 2 kepada ganteng 1. TOLOOOONG!!”

Sam yang kaget mendengar teriakan kakaknya, langsung menjatuhkan walkie-talkie-nya, sehingga membuat bu Suminten terbangun. Bu Suminten yang mulai sadar melirik api lilin yang bergoyang-goyang, kemudian melirik ke arah Sam. “Lho, mister Kirk? Kok ada di sini? Mau merko..”

“HAAAH!” Sam meniupkan bau mulutnya.

“Sa.. Sa-ya, yaaa?” lanjut bu Suminten terbata-bata dan dia pun kembali tak sadarkan diri. Ternyata tak sia-sia Sam menghabiskan 15 biji jengkol pas makan malem tadi.

“OI, ganteng 1, tolooong! Perangkapnya udah siap belum?” terdengar teriakan Dean dari walkie-talkie lagi.

“Ok, ganteng 2, sori tadi ada sedikit gangguan, sekarang perangkap sudah siap!” balas Sam.

“Kalo gitu, nunggu apalagi, hosh.. hosh.. Buruan.. Tiup!” teriak Dean. Nafasnya hampir habis karena tanpa terasa dia sudah mengelilingi blok G sebanyak 4 putaran demi menghindari serudukan babi ngepet di belakangnya itu.

“Wuuush!” Sam meniup api lilin yang berada di altar. Gosrak! Tiba-tiba seonggok babi muncul dan masuk ke dalam jaring yang telah dipasang Sam di lingkaran dekat altar tempat sang babi akan kembali. Sang babi yang panik pun terus meronta-ronta di dalam jaring, takut jaringnya sobek, Sam mengeluarkan jurus pamungkasnya lagi, “HAAH,” dia tiupkan bau mulutnya ke arah babi itu, dan sama seperti bu Suminten, babi itu langsung tak sadarkan diri.

“Ganteng 1, melapor kepada ganteng 2.. Misi udah komplit bos! Sasaran sudah tertangkap dan berhasil dilumpuhkan!”

Tak ada jawaban dari Dean, yang ada hanya suara seseorang sedang mengorok keluar dari walkie-talkie Sam.

“Dean? Lo masih di situ? Dean?” Sam masih mengecek. Masih terdengar suara mengorok. Sam dekatkan kupingnya ke walkie-talkie, dia pun mengetahui kalau sumber suaranya bukan dari walkie-talkie-nya, melainkan dari arah jaring perangkap yang telah dipasangnya. Dan, hey, benar saja! Di samping babi ngepet, ada Dean juga! Kemungkinan besar kakaknya itu ikut terpanggil ke sini karena memegang babi sasaran mereka itu dan ikut tak sadarkan diri karena mencium bau mulut Sam.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Fyuh, untung yah.. Kasus kali ini bisa terselesaikan tanpa ada korban.” ucap Sam saat mereka bersiap pergi meninggalkan kota tempat kasus babi ngepet itu terjadi.

“Hah? Tanpa ada korban gimana? Gua yang ampir jadi korban keganasan bau mulut lo! Untung aja masih bisa bangun besoknya!”

“Hehe.. Ya, maap, Dean! Pan kagak sengaja..” Sam meminta maaf. “Tapi, ga nyangka juga yah, ternyata yang jadi babi ngepetnya tuh ternyata pak Reed alias pak Suketi suami bu Suminten!”

“Yeah. Untung aja pas kita ke investigasi ke rumahnya, dia lagi ga ada. Kalo ngga pasti lah dia curiga dan yang ada malah ngusir kita!” Dean bersyukur. “Oh iya, Sam, terus kabar mereka sekarang bagaimana? Pas gua sadar kan tiba-tiba kita udah dalam perjalanan kayak sekarang!”

“Tentu aja mereka udah dilaporin ke pihak berwajib. Tanpa nyeritain babi ngepetnya sih, yang jelas mereka gua laporin sebagai pelaku perampokan di perumahan itu, buktinya aja ada kan di dalem gentong di dapur mereka!”

“Baguslah kalo begituh. Btw, Sam, gua laper nih! Makan dulu yuk!”

“Ok, kita berenti ntar di pom bensin terdekat! Tapi, kakakku yang ganteng dan baik hati lagi yang bayar ya!” rayu Sam sambil mengedip-ngedip matanya dengan genit.

“Ngg, sori, Sam.. Kayaknya sekarang lo yang harus bayar deh!”

“Kenapa?”

“Soalnya duit yang gua temuin di jok belakang mobil udah abis! Kan dipake buat nyewa jas dua setel, buat makan pagi-siang-malem selama 3 hari, buat nyewa motel, isi bensin, dll!” ucap Dean tanpa dosa. Hati Sam langsung mencelos. Dia baru ingat soal mimpinya lagi yang ternyata benar-benar menjadi kenyataan lagi.

“Sam, hey, lo kenapa Sam? Nyetirnya konsentrasi dong!”

Sam menghela nafas terlebih dahulu, dan kemudian dia pun berteriak, “DUIT YANG LO AMBIL ITU TABUNGAN BUAT GUA NIKAH TAUUUUK!”

“Hihi.. Piss, Ah!”

Tamat

Catatan Penulis: Seperti biasa, maap kalo endingnya garing dan kecepetan, pas bikin FF ini teh udah rada ngantuk. Malem-malem sih bikinnya. *ngeles is the best!* Silakan atuh yang mau komen, komen ajah jangan malu-malu.

Created by: Abay - 7 Desember 2010
http://wewwkereen.blogspot.com
http://www.fanfiction.net/u/1789826/HulkJr

Friday, November 19, 2010

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I Review

First of All: Ati2 banyak spoilernya!

Dah lama kagak ngapdet di blog inih, eh giliran mo ngapdet pas banget abis nonton pelem harpot terbaru, harry potter tujuh bagian kahiji.. Ini juga mo dikit ajah, maklum dikejar biling.. hihi..

Pelem ini tuh keren banget cuy, beda lha ama pelem2 sebelumnya yang banyak banget adegan yang dipotong. Kalau di sini ada juga sih, tapi bukan dipotong melainkan dipersingkat atau dimodip, dan bagusnya ke semuanya masuk akal. Kayak pas adegan Hedwig mati, matinya tuh karena ngelindungin majikannya, bukan mati di kandang kayak di bukunya. Adegan pembukanya juga keren, yaitu pas adegan kejar2an Seven Potters. Action abis!

Scene-scene selanjutnya juga bener-bener ada yang buat tegang, lucu, ampe kaget.. Lengkap lah isinya. Trus ending di part 1 nya juga ga begitu ngegantung. Tapi memang sih pasti bikin penasaran untuk nonton film selanjutnya. Yeah, overall film yang bagus sebagai pembuka seri ketujuh.. :D

Thursday, December 31, 2009

Misteri Pohon Jambu Angker

Dalam rangka memeriahkan contest mengarang indah di situs indoakatsuki.us, gw pun iseng-iseng nulis cerita misteri garing di bawah ini. Mana temanya kudu milih antara sofa, diary, kacamata, pisau ama sendal jepit lagih. Tapi akhirnya pilihan tema jatuhnya ke sendal jepit, karena ide yang kepikir emang soal sendal jepit. Wekeke.. Eh, tapi harusnya cerita gw yang ini masuk ke tema sendal jepit juga kali yak? Hehe..

Ah, udahlah daripada kebanyakan cincong, sok atuh dibaca aja cerita di bawah ini teh:

Misteri Pohon Jambu Angker

Kampung Cibutek sedang heboh. Heboh berkat cerita tentang pohon jambu angker yang berada di dekat alun-alun kampung. Sudah empat orang yang mengalami kejadian mistis ketika berada di bawah pohon tersebut. Kabarnya mereka yang sedang nongkrong di sana sering diganggu oleh makhluk penunggu pohon itu. Namun berbeda dengan penunggu pohon lainnya yang sering mengganggu dengan cara melempar pasir atau batu kerikil kecil, penunggu pohon ini malah mengganggu dengan melempari korbannya menggunakan sendal jepit! Pantaslah seluruh jajaran sekolah geger dibuatnya..

Berbagai kabar angin pun sempat berhembus tentang siapa sebenarnya makhluk penunggu itu. Dari kabar yang bilang bahwa itu adalah hantu dari anak setempat yang suka memanjat pohon jambu dan tewas setelah terjatuh karena teman-temannya yang lain melemparinya dengan sendal jepit dari bawah, sampai ke cerita bahwa itu adalah hantu dari seorang penjaga tempat penitipan sendal di mesjid yang bunuh diri karena frustasi akibat gagal menjalankan tugasnya setelah beberapa kali dilaporkan sendal jepit yang hilang dicuri.

Tapi apakah gerangan yang sebenarnya terjadi? Siapakah kiranya hantu penunggu yang menghuni pohon jambu angker itu? Apa benar itu karena hantu? Mengapa harus sendal jepit? Beginilah ceritanya:

Terkisah di zaman ketika SBY berkuasa, hiduplah seorang bapak bernama Mudin. Beliau terkenal sangat aktif di perkampungannya. Setiap ada acara dia pasti selalu ikut menjadi panitia. Bahkan untuk acara sederhana seperti ulang tahun tetangganya sekalipun, dia selalu ikut membantu dan terkadang bersedia untuk menjadi badutnya.

Lalu apa hubungannya dengan pohon jambu angker yang tersohor itu dengan si bapak Mudin? Justru sangat berhubungan sekali. Karena sebetulnya pak Mudin yang rumahnya bersebelahan dengan tempat pohon itulah yang menjadi penyebabnya.

Ketika Agustusan telah tiba, seperti biasa pak Mudin ikut menjadi panitia. Kali ini dia kebagian tugas untuk mengurus pembuatan pinang untuk lomba panjat pinang. Tugas yang mudah untuk orang serajin pak Mudin. Dalam waktu 2 jam, dia sudah berhasil membuat satu buah pinang yang siap dipanjat, lengkap dengan hadiah-hadiah di atasnya. Karena saat itu sudah tanggal 16 Agustus, maka sorenya pak Mudin siap untuk memasang pinang itu di lapangan tempat dimana lomba akan dilakukan. Dia bawa pinang itu dengan gerobak hasil pinjamannya kepada tukang sayur dan sesampainya di lapangan dia pun langsung memasang pinang itu. Memasang pada lubang yang telah dia gali sebelumnya dan berusaha agar pinang itu bisa berdiri sekokoh mungkin.

Pinang telah berdiri. Namun belum sempat pak Mudin mengetes kekokohan batang pinang itu, beliau sudah dipanggil oleh tetangganya, diminta untuk ikut membantu memasangkan bendera-bendera di seantero kampung. Tentu saja, pak Mudin dengan semangatnya langsung ikut membantu. Dan dari keteledoran pak Mudin inilah awal malapetaka itu berasal.

Keesokan harinya, seluruh warga Rw 18 tak terkecuali pak Mudin telah berkumpul di alun-alun kampung. Mereka semua datang untuk menyaksikan lomba panjat pinang yang sebentar lagi akan diadakan. Dan tepat pukul 9 pagi, lomba pun dimulai. Semua memberikan semangat kepada para peserta yang sedang berusaha memanjat pohon pinang yang sudah diberi pelicin itu. Kadang kala mereka menertawakan nasib para peserta yang terjatuh dan gagal mencapai puncak. Akhirnya setelah berkutat selama kurang lebih 20 menit, kang Dadang yang bertubuh paling kecil dan bertugas memanjat paling atas, berhasil mencapai puncak pohon pinang. Seketika itu juga semua orang bersorak sorai, kang Dadang sendiri berteriak-teriak ‘Merdeka!’ sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Setelah itu dia bersiap untuk mencabut hadiah-hadiah yang ada di puncak pohon itu. Tapi naas sekali. Ketika dia mencabut dan melemparkan hadiah pertama yang berupa sendal jepit, pohon pinang itu oleng dan rubuh. Sehingga membuat tubuh kang Dadang yang masih berada di atas terjatuh dan menyangkut ke salah satu batang pohon jambu. Hiks..

Jadi dengan membaca gambaran cerita di atas seharusnya kita tahu kenapa akhirnya pohon jambu itu menjadi angker dan membuat orang yang bernaung di bawahnya selalu dilempar sendal jepit kan? Bukan, bukan karena arwah kang Dadang yang penasaran akibat meninggal sesaat setelah melempar sendal. Lagipula kang Dadang cuma luka ringan saja karena kejadian itu. Tapi semua itu karena pak Mudin yang tidak mau ada orang yang pacaran di bawah pohon jambu, sehingga dia selalu menjahili siapapun yang melakukan hal itu, salah satunya dengan melempari dengan sendal jepit miliknya.

So, moral dari cerita ini adalah jangan pacaran di bawah pohon jambu dekat rumah pak Mudin yo!! Atau lebih bagus lagi, ga usah pacaran. Wekeke.. :D

-=Tamat Dengan Garing=-

Friday, December 11, 2009

JiFfest 2009: Free Screening Merantau

Merantau lagi? Yeah, betul. Kalian ga salah baca kok, mata kalian juga masih normal, kagak siwer apalagi sepet. Wekeke.. Emang sekarang teh lagi demen banget ama pelem ntuh. Jadilah pas tau Merantau mau ditayangin lagi di Jiffest, tentunya langsung mutusin buat dateng, apalagih waktunya pas banget ama hari libur gw. Kalau bukan hari Rabu- 9 Des, mungkin ga bakal bisa ikut, biasalah.. schedule bulan Desember padet banget! Jumpa fans sana-sini, press conference, dan masih banyak lagi acara lainnya. Heuheu..

Tadinya sempet agak was-was juga sih ikut acara ini, masalahnya tanggal 9 itu bertepatan dengan hari anti-korupsi, dimana pasti banyak yang demo. Tapi bukan takut ama demonya juga, malahan lebih takut ke pendemonya, soalnya kalau mereka yang jumlahnya ribuan tau artis idolanya (baca: gw) dateng ke bundaran HI, gw bakal dikerubutin dan jadi gagal ke Jiffest-nya deh. But, syukurlah, rencana gw ke GI kagak bocor ke khalayak ramai, alhasil pas gw nyampe di Bundaran HI, gw n friend (MJ) bisa dengan aman melenggang langsung ke dalam GI untuk selanjutnya ke Blitz-nya.

Di dalem Blitz, suasana masih sepi cuy! Blitz-nya juga kayaknya baru mau dibuka, makanya gw ga heran kalau pas gw ke situ ga disambut karpet merah ama pihak Blitz. Heuheuheu.. Eh, tapi pihak Blitz juga ga tau gw bakal dateng kan ye? :p Oh iya, makhluk pertama yang gw temuin tuh si Gathy yang kayaknya udah stand-by aja dari subuh di depan Blitz. Jahaha.. Terus selanjutnya ketemu rombongan Hassei bin Pusmeong n Shirei bin mas Bayu yang ngangkut Ismie, Chandra n Afatarra, yang ternyata dah ada di dalem Blitz dari pagi. Katanya sih saking kepagian sempet nemenin satpam maen gapleh dulu. Wekeke.. Eh, terusnya hape bunyi, katanya Kim a.k.a bung Eka, fans gw di JKT, dah nyampe juga di Blitz. Langsung dicari aja deh ama gw, eh, ternyata dia nemplok di pinggir Gathy *digetok Kim n ditereakin: “Buset dah nemplok, dikiranya aye eek burung apeh!” xixixi..*

Nah, udah kumpul semua dah tuh, sekarang tinggal nunggu loket Jiffest-nya dibuka. Masih sekitar jam 10.40 saat itu, sedangkan loket dibuka jam 11.30. Berarti nunggu berapa menit noh? Itung aja ndiri yak, ntar kirim aja jawabannya ke email gw, jawaban yang bener gw kasih tanda tangan plus cap bibir gw deh atau kalau bosen ama hadiah kayak gitu mulu, gw kasih bonus cap belahan pantat gw juga. Jahaha..

Waktu terus berjalan, n tiba-tiba ada penampakan yang tak asing lagi, artis junior gw yang ditunggu-tunggu udah dateng, siapa lagi kalo bukan Iko Uwais. Iko yang sadar dengan keberadaan gw, langsung nyapa n sungkeman ama gw (jelas lha ya, ama artis seniornya gituh.. =)) ), seterusnya dia jalan masuk lagi ke café Blitz. Nah, gw intip sebentar ke café ntu, eh, rupanya pemaen Merantau yang laen, Kang Yayan Ruhiyan udah ade di sana. Kapan yak lewatnya? Hmm, jangan-jangan dia ngerangkap jadi satpam Blitz juga dan yang nemenin rombongan HnS maen gapleh itu dia. Hehe.. *langsung digetok kang Yayan* Abis gitu, ngintip ke loket Jiffest udah mulai ada yang ngantri tuh. Ya udah, daripada kehabisan tiket mending langsung aja diserbu.

Beuh, yang ngantri tiketnya beneran kayak ngantri sembako dah! Panjaang.. Apalagi kan film Merantau emang maknyos, jadi harusnya sih wajar-wajar ajah. Tapi baguslah, ga perlu kesusahan dan berlama-lama dapetin tiketnya, apalagi setelah panitia Jiffest-nya tau kalau gw tuh artis terkenal, mereka langsung kasih tiket ke gw secara FREE!!
*Ge-er*
*langsung ditereakin serombongan: “Emang tiketnya Free kaleeee!!”*

Tanpa terasa waktu bergulir dan sudah menunjukkan jam 12.10, studio-nya udah dibuka dah tuh. Masuk aja deh ke dalem studio. Dan, Hey! Rombongan HnS duduk di bangku atas deket Merantau Team, sedangkan rombongan gw (with MJ n Kim) ga kebagian di bangku ntuh, ya udin, cari yang paling deket juga deh, sekitar 3 bangku di bawahnya. Pas banget duduk, pas lampu di studio dimatiin, pelem pun dimulai dengan kata-kata khas: “Dalam tradisi pemeri..” *dipelototin Perantau* Okay, Okay, gw ga akan promosi Fanfic gw lagi.. Yah, pokoknya film dibuka dengan kata-kata dari Emak yang sangat menggugah selera. Wekeke..

Waktu report Inafff kemaren gw udah nulis beberapa scene yang di-cut dari versi Indonesia, tapi karena waktu itu masuk studio telat, jadi ada yang kurang, kalau gitu sekarang scene yang kurangnya ditambahin di sini deh:

- Scene Yuda nyapa Elly << TIDAAAK!! Wajah Elly jadi nggak di-zoom! Padahal cantik banget! T.T
- Yuda jatoh pas naek undakan tanah. << *ditabok Iko* Oh iya, lupa, itu mah adanya di Behind the Scene ya.. wakaka.. *ngacir*
- Emak nyuruh Yuda dan Elly shalat << Emak yang baik. Hiks..
- Yuda n keluarga Shalat << Scene ini harusnya ada setelah Yuda n keluarga selesai makan. Err, btw tetep penasaran apa yang dibecandain Yuda n Uda Yayan pas makan. Hihi..
- Pelepasan Yuda oleh Inyiak << Bener ga ya nulis Inyiak? :P

Nah, udah kayaknya untuk cut scene selanjutnya bisa dilihat di report Inafff, postingannya bisa diliat di blog gw atau di catatan facebook sebelumnya. Heuheu..

Btw, agak heran juga sih ama pemutaran kali ini, soalnya reaksi penonton-nya sedikit! Paling sesekali pas adegan kelahi, cewek-ceweknya pada teriak atau terpekik karena kaget, takjub, atau ngeri. N tentunya adegan Towel Guy bin Manusia Handuk tetep jadi scene paling bikin ngakak se-studio. Haha.. Eh, tapi di akhir-akhir ada penonton nyeletuk juga sih pas adegan Yuda dicekik Ratger dan kembali semanget setelah Astri bilang ‘Tolong’ dia bilang: “Ya ampun, lebay banget, langsung semanget pas denger tolong dari dia doang..” dan selanjutnya setiap wajah Astri muncul, mereka niru-niruin Astri ngucap kata Tolong. Wakaka..

Film selesai. Terus sama kayak Inafff, setelahnya diadain sesi tanya jawab. Bedanya kali ini ga cuma ama Mr Evans aja, tapi Iko, kang Yayan, ama mas Toro juga ikutan turun. Trus, bedanya lagi, sekarang host-nya ga aktif! Masa jadi Mr Evans yang harus bilang: “Any Question?” Ckckckck.. Gaji buta! Hahaha… Pertanyaan-pertanyaan-nya sih kayaknya standar-standar aja, kayak kenapa Yuda-nya dimatiin, kenapa milih silat harimau,atau apa bedanya ama versi Indonesia. Ah, pertanyaan-pertanyaan itu sih semua juga gw bisa jawab, nih jawaban gw kalo ditanya, gw jawab ‘No Comment!’ ajah! jahaha.. *dikeroyok yg nanya*

Sesi tanya-jawab selesai tapi ada satu orang yang ngotot ngacung terus maen nyerocos aja. Ternyata dia minta sama Iko n kang Yayan meragain adegan silatnya! Tentu aja semua bersorak sorai dan menyetujui. Dan seperti biasa, adegan tarung di lift lah yang diperagakan. And its freakin’ Awesome!!

Setelah itu, cewek2 ABG (yang kayaknya mabal dari skulnya) pada teriak-teriak n minta foto bareng Iko dan tak memedulikan kru lain. Beda ama Perantau pastinya, yang malah ngincer kru lain juga. Hehe.. Pas keluar studio, kebetulan gw liat kang Yayan lagi sendiri, ya udah samperin aja buat nyapa dia. Ih, si akang teh meni welcome pisan nya (apalagi klo dia tau klo gw artis senior kali ya?). Ya udin gw ajak ngobrol juga “gimana kang? Udah apdet status facebook lagi?” eh, si kang yayan ngejawab “Ahaha, jarang ah saya mah!” Jarang apanya, perasaan si akang apdet statusnya minimal sehari sekali. Paling yang jarang mah ngebales komen aja. Ya iyya lha, selalu rame kan komennya, mana kebanyakan gajebo lagih *lirik diri sendiri* Hehe..

Di luar studio, gw nyoba cari-cari Perantau yang sempat terpisah pas keluar. Ga lama setelah kumpul semua, dimulailah sesi foto-foto. Korban pertama kita, tentu saja adalah kang Yayan, yang emang lagi nganggur sendiri. Abis itu Mr Evans yang nganggur, langsung diserbu lagi! Abis itu Hassei ngeluarin buku Perantau dan minta pesan untuk Perantau ke Kang Yayan, isi pesannya: Martabak satu dong, laper nih. Xixixi.. *digorok* Ngga, jelas bukan itu pesannya, tapi kayak gini: ‘Jadilah Perantau yang sukses!!’ Huoo, sungguh bermakna sekali, sodara2! Lanjut lagi minta pesan ke Mr Evans, tapi.. Err, tapi ga ada yang berani ngomong. Bukan ga berani sih, lebih ke faktor bahasa aja *ngeles no jutsu*. Ya udin, daripada ga ada yang berani, semua nyamperin bareng-bareng terus si Hassei sok2an bilang: “Mr Evans, please write here!” Mr Evans kebingungan, terus ngomong “I have signed it, right?” Hassei ngomong lagi “No, you write something here! Duh, suruh nulis pesan, bahasa Inggrisnya apa sih?” Kita bingung, Mr Evans juga tambah bingung, dia mikir emangnya kudu nulis apaan sih? Nulis namanya udah, nulis tanda tangan juga udah, apa lagi dong? Padahal simpel doang kan ya sebenernya! Wakaka.. Beruntung setelah itu keluar mbak Anne (Line Producer) yang ngomong ke Mr Evans: “Look, what I’ve signed!” Kalau ga salah pesen mbak Anne tuh: ‘Silat forever!’ cukup simpel, tapi akhirnya bisa buat Mr Evans ngarti juga. Hihihi.. Eh, tapinya dia malah nyontek kata-kata mbak Anne, bedanya kata Silat forever dia ganti jadi Perantau forever. Ya udin, Perantau yang belon puas maksa dia nambahin pesannya lagi, dia tambahin juga dah tuh tulisannya jadi kayak gini: ‘Thanks so much for the Support, Ba Bule!’ Nah, gitu dong Ba Bule, kan jadi lebih bagus n panjang. Heuheu..

Celingak-celinguk, perantau nyari korban berikutnya yang belum ngasih pesan di buku Perantau, dia adalah mas Toro sang produser. Kucluk-kucluk, target terlihat sedang berjalan menuju arah Perantau, yang jelas-jelas siap menerkam dengan penuh nafsu dan dendam kesumat *halah*. Tanpa basa-basi, dia pun diminta nulis di buku. Dengan tangan kirinya yang lentik (emangnye bulu mata), dia menulis: ‘Keren banget bukunya! Berandal bikin lagi ya!’ HnS langsung mandang yang laen dan komentar: “Wah, misi berat nih, kudu bikin lagi! Haha..” Dan abis itu dengan aura kepremanan-nya dia malak souvenir ke mas Toro, dengan alasan ketika Inafff dia ga dapet dan juga buat Perantau yang ga bisa dateng. Untung (lagi) mas Toro sungguh baik hati dia pun bilang: "Eh? Belum dapat? Bentar yah.. kayakya masih ada stok penghabisan." Weks, benar-benar sejarah baru perfilman, seorang produser mau disuruh-suruh ama fans! Jahaha.. Sambil nunggu mas Toro yang hilang entah kemana, Iko yang udah jadi korban para abegeh dateng. Ya udeh itu mah, langsung diterkam lagi dah ama Perantau! Tanpa punya kuasa menolak, Iko menuruti keinginan Perantau buat nulis pesan di buku Perantau, yang setelah diteliti selain pesan dia juga tanda tangan lagi! Ada dua dah tuh tanda tangan dia di buku! Eh, tapi apa tanda tangan sebelumnya itu tanda tangan kembarannya ya? *lirik gw* =)) Mas Toro dateng, bawa sesuatu di tangannya, terus ngomong: “Aduh, sori cuman ada segini. Dibagiin aja yah, sisanya buat yang ga dateng aja!” Huoo, ternyata di tangannya tuh ada tali hape dan stiker Merantau yang sama kayak pas acara Inafff yang lalu! Langsung aje deh diserbu oleh tangan-tangan yang haus akan souvenir Merantau. Jahaha..

Btw.. Kita.. Butuh.. Foto.. Foto.. Lagi..

Tapi Merantau Team lagi pada ngobrol uy! Kagak enak kalo ganggu, ya udin kita tunggu aja mereka beres ngobrol, sambil foto dengan souvenir yang baru saja didapat. Eh, setelah mereka beres ngobrol, bukannya minta foto, malah pada gerombol di tengah jalan, terus saling dorong-mendorong siapa yang mau ngomong untuk minta foto sama mereka. Dan gw-lah yang terpilih, karena selain gw adalah artis yang biasa ngobrol ama kru film, juga karena ketampanan luar biasa gw yang sanggup membuai Merantau Team untuk mengikuti kemauan Perantau *pada muntah*. Ah, cuma gitu doang inih, langsung aja dah ngomong dan semua pun berpose dengan penuh kenarsisan dan kebanggaan diri. Heuheu.. Baru aja foto bentar, ada panitia Jiffest yang minta Merantau team untuk foto juga, dan fotonya itu di depan banner Jiffest. Mereka pun keluar dan pastinya dikuntit oleh kita-kita(dot)com. Haha..

Di luar, foto-foto berlangsung agak cepat dan kayaknya mulai banyak yang menyadari kalau yang lagi difoto itu adalah orang terkenal. Malahan ada salah satu kejadian kocak, ketika ada ibu-ibu lewat di depan Merantau team dan dia nyeletuk: “Eh, kayaknya yang lagi foto-foto artis ya?” wakakaka.. bisa dimaklumi juga sih! =)) Setelah sesi foto bareng panitia Jiffest selesai, lagi-lagi Perantau-lah yang minta foto. Foto rame-rame lagih. Hoho.. Trus ada satu kejadian kocak lagi dimana Iko diminta foto bertiga dengan dua fans-nya, dia nyeletuk: “Eh, katanya kalau foto bertiga, salah satunya ntar mati ya?” ya udeh, gw bales aja, “Lha, yang tengah (si Iko) kan emang udah mati!” Wekeke, yang udah nonton Merantau pasti tau, kenapa gw bilang gitu. Cklek.. Cklek.. foto bareng dua fansnya itu selesai, dia langsung bales kata-kata gw: “Ntar gw gentayangin lo berarti!” wakaka.. Setelahnya Ismie minta foto bareng Iko, kang Yayan, n mbak Jane. Yang cukup mengagetkan di sini adalah ketika Iko dipeluk kang Yayan, Iko langsung nyeletuk: “Ah, jangan pegang2 deh, ntar takut dikira kita ada skandal!” tentu aja kang Yayan yang lumayan jago silat lidah juga ngebales: “Jadi gitu ya, di depan umum malu-malu, di belakang layar aja mau!” wakaka.. Apakah benar terjadi skandal diantara mereka? Kalau begitu bagaimana nasib Gareth Evans dan mas Toro yang pernah digosipkan dengan Iko juga? Kita nantikan di episode berikutnya.. *lha, jadi bawain acara SILAT di sini* Jahaha.. =))

Abis itu gw minta foto berdua dengan Iko, lagi-lagi demi menjalankan misi yang belum tuntas kemarin, tapi seperti sebelumnya, gagal maning.. T.T Mereka tetep berkhianat padaku! Shirei as seksi dokumentasi, telat fotonya! Jahaha.. Eh, pas mo foto ulang, Iko dapet telpun, samar-samar dari pembicaraannya sih kayaknya ada temennya yang mau ke sini, dan dari nama yang dipanggilnya ‘Aad’ udah pastilah kalau temen yg dimaksud itu adalah Alex Abbad. Huoo, tumben dia dateng, padahal biasanya kan kagak. Jadilah para Perantau nungguin dia juga, pastinya buat foto n ngisi ttd dan pesan di buku perantau juga.

Sebelum Aad dateng, Merantau team minus Iko n mbak Jane Sha pada pamit pulang sama para Perantau. Tapi pas mereka nyampe di lift, mereka kayaknya malah diem lama dan nunjuk-nunjuk ke arah kita. Selidik punya selidik, ternyata Aad baru nyampe. Samperin aja dah.. Langsung minta ttd di buku. Yang unik di sini, pesan dia untuk Perantau adalah: ‘Begadang yuk!’ berlawanan dengan pesan Iko yang bertuliskan: ‘Jangan banyak begadang!’ Apakah permusuhan Yudha dan Jhoni terbawa sampai dunia nyata? Kayaknya sih.. Jahaha.. Trus pastinya kita minta foto bareng lha ya, koleksi tanda tangan bertambah, koleksi foto pun harus. Heuheu.. Tapi sayang uy, cuman dikit foto bareng dia-nya, soalnya setelah itu mereka pamit.

And then, gimana nasib Perantau? Rupanya kita pada laper, jadilah mutusin untuk makan dulu di food court GI yang berada di lantai 3. Lift kebuka dan kosong! Gw ditantang untuk foto gaya Eric mati. Ah, keciil.. Tinggal tiduran di pojok lift, dan klik difoto dah. Apalagi gw kan pernah jadi model juga, jadi gampang lha untuk sesi foto kecil-kecilan kayak gitu. Lantai 3 dah sampe. Kita pada keluar dan mencari yang namanya pudkort. Eh, pas kita liat eskalator ada rombongan Iko n Aad lagi. Hahaha.. Sambil dadah-dadahan dari jauh, kita jalan terus, dan sampailah kita di pudkortnya. Nah, sampe di pudkort kok ada sosok yang dikenal lagih? Ternyata ketemu rombongan mereka lagih. Ampun dah, bisa berkali-kali gini ketemu ga sengaja-nya. Magnet kekerenan gw kayaknya tuh yang narik mereka. Abis nyapa bentar, kita berpisah lagi, kita milih restoran paling familiar, sedangkan mereka mungkin nyari yang laen. Wekeke.. :P

Perantau pun memesan makanan. Trus sambil makan seperti biasa ngobrol-ngobrol, then take some picture again Dan abis makan, kita berpisah.. Hiks, end of story dah. Hehe..

NB:
- Pas nonton Merantau tetep sedih liat adegan Amak ngelepas Yuda dan Amak di scene akhir.
- Sedih juga pas liat Eric mati. My favourite chara.. huaa.. T.T Dan pastinya pas sang jagoan juga..
- Pas adegan Yuda mau naek ke atas salah satu kontainer, ternyata ada stunt yang udah prediksi itu duluan dan naek sebelum Yuda. So, ternyata scene stunt yang tiba-tiba ada di atas kontainer itu bukan kesalahan film, kawan-kawan!

Sunday, November 22, 2009

Workshop INAFFF09 n Screening Merantau International Cut

Ok guys, tulisan ini dibuat untuk memenuhi janji gw kepada teman-teman Perantau (istilah buat penggemar film Merantau) untuk melaporkan hasil kegiatan Workshop Merantau dan Screening Merantau versi International Cut, kemaren, tanggal 21 Nov 2009 dalam acara Inafff 2009 di Blitz Megaplex Grand Indonesia Jakarta.

Cerita bermula ketika orang keren ini berupaya untuk bangun pagi, agar tidak kesiangan ketika sampai ke TKP. Eh, tapi emang pas berangkat tuh niatannya pergi ke ICE 2009 yang ada di Senayan dulu sih. Mo ketemu temen-temen dari komunitas IndoHogwarts gituh. Yah pokoknya di ICE teh cuma sekitar satu jam-an lha.. Belon puas uy di sana, lom sempet muter-muter! Tapi lumayan lha bisa liat penampilan Bondan Prakoso feat Fade 2 Black-nya. Sebenernya pengen lebih lama lagi di sana, tapi gw dapet sms ancaman dari calon fans gw yang berasal dari Bandung yang katanya udah sampe ke TKP, dan bingung mau ngapa-ngapain. Siapakah dia? Ok, sebut saja namanya PANCI (nama disamarkan atas permintaan ybs). Yak, pokoknya tanpa berbasa-basi dan dandan terlalu lama (karena mo diapain juga gw tetep ganteng), jadi berangkatlah gw ke TKP juga.


Pas udah sampe di sana, gw celingak-celinguk tanpa henti untuk mencari dimanakah Panci berada. Agak tampak bodoh juga sih, lagian mana ada orang nyari panci di Bioskop, Panci kan biasanya di dapur! *digetok Panci* Beruntung sekali, karena di grup gw udah bilang kalau gw ke sana bakal make yang namanya tas tentara dan berkat aura kekerenan gw yang berbeda dari yang lain, dia mengenali gw. Fyuh, bersyukur juga dah gw dilahirin dengan ketampanan luar biasa.. *backsound: 'HOEEEK, Hoeek!'*

Eh, tapi bukannya gw menghilangkan kebingungan dia di sana, malahan gw juga tambah bingung lho. Soalnya stand inafff nya juga blon buka-buka. Jadi ntar pegimane tuh, workshop-nya jadi ape kagak.. Ah, beneran bingung dah, jadi pengen bercermin dan menatap muka gw untuk menghilangkan kecemasan. Heuheu.. Ya udeh, gw mutusin untuk Shalat dulu. Ga kerasa udah Zuhur cuy! Weitzz, ternyata kuasa Illahi juga tak bisa terelakkan, pas deket Mushola kebetulan kita ketemu ama Bang Ahmad. Itu lho, Bang Ahmad yang suka aplot video latihan-latihannya Iko. Tahu kan? Kalo ga tau mah add ajah ntar di pesbuk (gw juga baru add tadi.. wakaka.. *dikepruks*). Then, setelah solat Zuhur kita bertiga duduk-duduk bareng di depan Blitz dan mulai ngobrol-ngobrol soal kenapa gw bisa lebih terkenal dari Iko atau nanya tips2 sukses dari gw, dll.. *bohong* Eh, pas kita ngobrol ada seonggok bayangan lewat yang ternyata adalah Kang Yayan, sodara2! Langsung aja disapa n di sini cuma sempet salaman doang. Soalnya setelah itu dia mesti siap2 untuk workshopnya.

Sampe sekitar jam 1, ada cewek lagi yang deketin dan mengaku bernama Alna! Tuh kan, semua berkat gw, lagi-lagi ada yang nyamperin. Buat yang ga tau Alna, dia tuh yang mo bikin skripsi tentang Merantau (tadinya mo bikin skripsi tentang gw, tapi ditolak karena harus tentang film.. heuheu..). Terus dateng lagi 2 makhluk yang mengaku bernama Amel dan Dhee. Lanjut lagi dah ngobrol-ngobrolnya, kali ini tentang pertanyaan-pertanyaan soal workshop yang kenape dah jam 1 lom dimulai ajeh. Ya udin, daripada bingung, nanya aja dah ke booth inafff nya yang dah buka, n tebak.. Kata mereka workshop mulai sekitar jam 2, padahal di jadwal kan dikasi tau nya jam 1. Trus sekalian kita juga nanya tentang nonton gratis Merantau ntar sorenya, dan ternyata bisa langsung diambil saat itu juga. Tadinya mo langsung minta buat hassei n shirei juga, tapi kata si masnya suruh mereka dateng langsung ajah, padahal dah gw jelasin perkara tentang dua ibu-ibu ituh. Tapi lagi-lagi dewi fortuna ada di tangan kita, Amel n Dhee ga berencana ikut screening, jadilah 2 tiket mereka dikasih aja ke gw. Hohoho..

Jam setengah 2, workshop mau dimulai. Kita yang udah daptar sebelonnya kudu daptar ulang dulu ke mbak-mbak yang mirip kakaknya Boboho. Pas daptar ulang ini, kita dikasi Tali Hape Merantau, Cinemags edisi Oktober 2009, 1 lbr Kertas HVS, dan pensil. Lumayan dah dari acara gratisan bisa dapet souvenir juga. Heuheu.. Eh, eh, terusnya pas daptar ulang ini ada yang lari gerabag-gerubug gitu dari tangga berjalan. Bukan, pelakunya bukan si HnS yang katanya mo lari pake kebaya, karena mereka mah nyampe GI juga sekitar jam 5. Jadi siapa dong 2 makhluk yang berlari itu? Jawabannya ada di edisi selanjutnya..

*digorok yang baca*
*terpaksa kembali nulis dengan leher terkulai bekas gorokan*

Ok, gw jawab. Mereka tuh Iko n JS. Keliatan dari muka mereka tuh panik banget! Mereka kira udah telat kali ye.. wakaka.. Coba bisa moto pas adegan ituh. =)) Tapi akhirnya karena merasa belum telat, Iko jalan dengan santai kembali.. Cling.. Cling.. mata cewek-cewek di rombongan kita langsung beraksi dah. Dengan sigap mereka ngecegat Iko dan minta foto-foto. Foto-fotonya bener-bener di tengah jalan! Jahaha.. Sambil nyebut nama kita satu-satu n pas giliran gw ngenalin diri, dia langsung bilang: "Oh, Abay *sambil nunjuk* Hahaha.." Weks, baguslah cuma bilang gitu, ngga dibanting or diapa-apain seperti yang diduga sebelumnya karena gw sering ngeluarin berita-berita sensasional tentang dia di Grup. Jahaha.. N setelah puas foto-foto (blon puas juga sih, soalnya 'misi' belum dilaksanakan), Iko pamit buat ganti baju untuk persiapan tampil di Workshop.

Eh, abis itu ada yang narik-narik tas gw. Gw kira dia nenek-nenek yang minta nafas buatan karena kaget baru pertama kali liat penampakan gw yang keren, tapi taunya itu si Nita n friend. Dia juga baru mau daptar ulang gitu lho. Dan terlihat sekali ada tatapan kecewa karena lom sempet ikutan foto2.. Hehe.. Setelah itu langsung masuk aja dah ke tempat Workshop, karena mbak-mbaknya juga dah ngumumin bahwa acara bakal dimulai.

Acara dimulai dengan pemanggilan beberapa dedengkot film Merantau diantaranya: Ario Sagantoro atau lebih akrab dipanggil Mas Toro selaku Produser Merantau, Gareth Evans alias Pak Bule yang merupakan sutradara pelem Merantau, Rakhmat Akbarsyah alias Abay sebagai pemeran utama yang memerankan Yuda, er... *dipelototin pembaca*, Ok, gw ralat, maksudnya Iko Uwais sang Pemeran utama, bang Yayan Ruhian sebagai Eric di film Merantau, dan 4 orang stunts yang kalau diliat aslinya keliatan lebih keker hihi.. Selanjutnya mas Toro mengangkat mic dan menyampaikan sambutannya soal acara yang diadakan di Blitz itu. And then, masuk ke materi pertama soal penulisan naskah dan bagaimana penerapan naskah ke dalam filmnya. Pokoknya dari sini gw jadi tahu sedikitlah gimana tugasnya sang sutradara untuk memvisualisasikan naskah yang ada di tangannya. Sebagai contohnya, mereka memutar adegan ketika Yuda kalah oleh Bodyguard Jhoni, di sebelah kirinya adalah teks naskah, di sebelah kanan adalah visualisasi dalam adegannya. Abis gitu, nerangin soal persiapan koreografi dalam film, pastinya sebagai contoh ditayangin video BTS yang the Choreography. Iko dan Kang Yayan pun mulai kebagian untuk bicara. Setelahnya dijelaskan kembali bagaimana upaya mereka memfilmkan koreografi-koreografi yang sudah dilatih dalam scene sesungguhnya. Sebagai contoh videonya mereka nayangin 3 scene: adegan Yuda vs 4 Bodyguard Jhoni (sebelah kiri layar adalah versi latihan, sebelah kanan adalah versi jadi), adegan pertarungan Yuda di apartemen setengah jadi yg ada bambu2nya, dan adegan container dimana Yuda diserbu oleh banyak anak buah Luc n Ratger. Abis itu mereka membahas soal pemilihan lokasi untuk syuting dan biasanya kesulitannya itu di bagian harus beradaptasi supaya koreografi berantemnya bisa pas dijalanin di lokasi ituh. Terus ngebahas soal scene yang harus dilakukan berulang-ulang demi mendapatkan hasil yang paling baik. Diliatin deh video pas syuting adegan tusuk bambu. Set dah, jadi kasian liat stuntman-nya karena dia harus rela ditusuk ampe sekitar 10 kali.. Wakaka..

Oh iya, sebenernya diantara bahasan-bahasan itu selalu ada sesi tanya-jawab, dan yang nanya dapet merchandise, diantaranya: Poster Merantau with SIGN, tongkat Harry Potter yang merupakan bonus cinemags edisi bulan Agustus 2009, atau satu lagi kayaknya CD yang isinya behind the scene merantau. Wih, mupeng juga sih. Tapi mo nanya keduluan orang melulu.. Eh, tapi gw-nya juga ga ngacung sih. Wakaka.. *dikepruks* Si nita juga mau nanya, tapi pertanyaannya bisa dibilang ampir sama ama salah seorang penanya lainnya, jadinya dia cancel juga tuh. Paling yang dapet cuma si Alna (poster dan tongkat sihir) sama Mas Utara (Poster Guede). Tadinya ga ngeh kalau itu mas Utara, tapi dari pertanyaan dia yang kira2 kayak gini: "Apa ada niatan untuk membuat film action yang mengangkat tokoh sejarah, seperti tokoh Untung Surapati gituh?" << tuh kan, nanya-nanya yang ada unsur Surapati-nya.. Ga salah lagi pasti mas Utara.. Kalau yang nanya ada unsur Luc-nya, pasti Hassei n Shirei. wakaka..

Acara workshop pun selesai kira-kira jam 4an. Para peserta workshop diperbolehkan untuk foto-foto lagi bareng pemain atau minta tanda tangan mereka. Udah deh ini mah langsung serbu ajah. Langsung samperin yang lagi nganggur, yaitu Iko n Kang Yayan. Kalo Gareth mah langsung ke tempat duduknya ngobrol ama entah siapa, sedangkan mas Toro-nya kabur, langsung tak terlihat di TKP lagih. Udah deh bersyukur ajah walau cuma dapet Iko n Kang yayan ajah. Mulai dah semua pada foto, dari rame-rame ampe cuma berduaan ajah. And, This is it, ini saat yang tepat untuk melakukan 'misi' itu, saat gw foto hanya berdua dengan Iko! Pose pertama mah biasa aja, gw cuma rangkul dia, setelah itu gw kasih kode ke nita untuk siap-siap foto 'misi' gw, tapi ternyata.. Mereka (nita, amel, dll) berkhianat. Mereka teriak: "Tidaak, Ikoo, jangan sampe dicium! Awas Ikoo, ada bibir seksi ngedeket! Awas RAMPOOK!" dan ekspresi teriakan lainnya. Jadilah pas baru nyentuh dikit aja kulitnya, dia dah berkelit, terus si cewek-cewek pada ketawa-ketiwi, terlihat sangat lega (apa gila?). Hihi.. Eh, si Iko-nya bilang gini: "Siapa teh tadi? Oh iya, Abay.. Haha.." Zzzz.. dia ikut ngetawain dah. Btw, kayaknya yang foto2 paling banyak tuh rombongan kita ya.. Yang laen mah kayak malu-malu. Terus mana mulai pada cerita soal kegiatan di pesbuk lagih. Untunglah, kayaknya Iko lom baca berita-berita gw. (tapi mungkin setelah buku Perantau diserahin, kemungkinan dia baca postingan2 gw.. hihi)

Misi berikutnya adalah minta tanda tangan! Ah, ga usah diceritain terlalu banyak dah. Soalnya ini mah misi paling gampang. Tinggal ngomong, udeh langsung dikasi. Gw juga mungkin klo ada yg deketin, tanpa harus dia ngomong, bakal gw kasih tanda tangan gw. Hehe.. Eh, tapi ada kejadian kocak pas minta tanda tangan Gareth, dia sempat merendah dan berdalih kalau dia ga jago untuk tanda tangan. Hehe.. Trus yang kocak lagi, pas kita minta tanda tangan mbak Maya Evans, kayaknya dia kaget gitu kenapa dia juga dimintain tanda tangan. Tapi emang sih, mungkin di situ cuma gw n nita yang sadar kalau itu tuh istrinya Mr Evans yang juga ikut memproduseri film Merantau *sotoy*. Abis itu gw pamit ke toilet dah, pas Workshop emang nahan pipis sih gara-gara sebelumnya kebanyakan minum soft drink (soft drink yg ditraktir bang Ahmad. Makasih bang..) n sekalian mo sholat ashar. Di toilet, paspasan ama Iko yang udah ganti baju, tapi lagi-lagi dia masang tampang terburu-buru. Kocak dah liat dia pas buru-buru kayak gituh. Jahaha..

Lalu tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Merantau versi International Cut akan segera dimulai. Rombongan Perantau n Ikois siap-siap untuk berangkat juga, tapi ternyata ada satu masalah! Ika n geng lom ngambil tiket! OH iya, lom nyeritain dimana kita ketemu Ika.. Kita ketemunya pas sesi foto2 setelah workshop itu lho. Heuheu.. Yah, pokoknya kurang 3 tiket. Bang Ahmad yang merasa ada yg ga beres pun nyamperin kita, setelah diceritain masalahnya dia langsung laporan ke kang Yayan n geng. N setelah itu kang Yayan dateng sambil lari-lari dan nyerahin tiket secara langsung sama si Ika. Wow, sungguh baik hati dan tidak sombong jagoan kita ini. Setelah semua siap, kita masuk dah ke ruangan bioskop. Pas masuk ini dikasih stikernya Merantau sama dikagetin ama orang yg pake kostum film 'Scream'. Untung gw bukan penakut (baca: lebih serem juga pas liat wajah sendiri.. heuheu..).

Di dalem studio, langsung milih tempat duduk paling strategis. Tapi ternyata kita tuh dateng rada telat, bangku-bangku atas dah ampir keisi penuh, sisa 3 bangku paling bawah. Ya udin, daripada kerebut orang lagi kita isi aja dah sebarisan bangku yang tersisa dan tak lupa nyisain 2 bangku untuk tamu kita Hassei (puspita) n Shirei (mas Bayu). Eh, iya pas gw liat keadaan sekeliling, gw ngeliat mas Toro dan seluruh pemain ikutan nonton cuy! MC pun membuka acara dengan memberitahukan kalau ini adalah tayangan perdana Merantau versi IC di Indonesia serta mengenalkan sutradara dan pemainnya kepada yang blum tau, film pun dimulai, dengan kata-kata: '“Dalam tradisi pemerintah kami (Jakarta), dimana suatu hari beberapa warga yang terpilih harus mau di-transmigrasi-kan ke luar Jawa, agar jumlah penduduk menjadi merata kembali. Dan ketika kembali ke kampung halamannya bisa menjadi orang seutuhnya alias sukses. Pulanglah nak.. kalau sudah banyak duit!” *ditereakin: 'OI, seenaknya aja dituker ama parodian lo!' (namanya juga gw lagi usaha.. wakaka..)*

Selama scene awal itu entah kenapa hati gw berasa kurang tenang, dan ternyata gw baru inget, HnS bakal dateng sebentar lagi, dan gw harus jemput mereka! Gw liat deh hape gw, barangkali ada sms atau calling dari mereka. Tapi akhirnya gw sadar, hape gw ga ada sinyal. Bahkan setelah nanya anak-anak laen, mereka juga kayak gitu. Huhu, ternyata studio di GI diseting biar ga ada sinyal ya. Bagus sih, tapi ga bagus buat gw. Ya udah, gw putusin untuk keluar tuk cari sendal jepit (LoL, lirik Fade2Black), ralat, tuk nyari 2 makhluk tersebut. Pas di luar gw calling mereka, n ternyata mereka bilang masih di taksi, sodara-sodara.. Dan kedengeran kalau mereka lagi ngos2an.. wakaka. *senangnya.. Halah* Dan diakhir pembicaraan gw disuruh masuk ama mereka, dengan alsan daripada gw ga nonton n penonton lain sedih ngeliat idolanya keluar studio. Tapi tetep ada titah dari mereka, untuk ngecek keadaan 15 menit sekali. Hihi..

Pas gw masuk lagi, baru sampe adegan Yuda pamit dan naek bis ke Jakarta. Pas diliatin Eric tuk pertama kalinya, eh, mas tisno (ketua Ikois Community, ketemu pas workshop sih, tapi baru inget tuk nyeritain dia di sini) nyeletuk: "Gw kira pertamanya dia copet lho!" dan gw pun setuju, itulah kesan pertama gw ngeliat tokoh eric. Wakaka.. Adegan-demi-adegan berlanjut sampai tiba saatnya adegan pengecekan cewek-cewek yang akan dijual, eh, 2 makhluk itu muncul! Kita lambai-lambain tangan deh supaya mereka tahu posisi tempat duduk para Perantau. Eh, pas mereka baru duduk mereka udah teriak-teriak, karena tepat pada saat itu diputar bagian Luc pertama kali muncul. Hihi.. Ah, pokoknya setelah mereka dateng, hati gw jadi tenang dan nonton pun bisa kembali tenang.

Seperti biasa, pas nonton Merantau reaksi penonton selalu aja ada macem-macemnya. Dari yang tepuk tangan setiap adegan aksi selesai, atau nyeletuk kalau ada adegan aneh, tapi yang paling gw inget sih pas si Luc mati, si Hassei ngomong rada kenceng: "Ih, kok malah pada ketawa sih!" wakaka.. Dan pastinya pas adegan Towel Guy (manusia handuk), seluruh studio tetep dibuat ngakak oleh ekspresi cengo Ba'a Maneso (pemerannya). Emang memorable scene dah!

Oh iya, diem-diem pas lagi nonton juga gw nulis beberapa scene yang di-cut untuk versi International cut ini, FYI, versi Indonesia atau dikenal dengan versi Director's Cut berdurasi 137 menit, sedangkan international cut berdurasi 107 menit. So, apa aja sih yang ilang atau yg berbeda di versi internasional ini? Inilah dia listnya:

- There is no Indonesian subtitle. Kagak ade subtitle bahasa Indonesianya pas dialog bahasa Inggris. Jelas sih, soalnya kan emang film ini kan emang untuk orang luar.

- Setelah Yuda menyelamatkan Astri, seharusnya ada adegan Astri pulang ke tempat tinggal mereka. Trus adegan Adit nabung di toples, dan Astri nyimpen duit di bawah karpet. Di IC ini dipotong.

- Ga ada adegan Yuda ngajarin silat ke Adit.

- Nyambung ama yang di atas, karena ga ada adegan itu, jelaslah adegan berikutnya dimana Yuda ketemu Eric tuk kedua kalinya pun hilang.

- Dan nyambung lagi, berarti adegan 'melamar kerja' pun ditiadakan! No Ogre vs Eric scene, sodara-sodara! Padahal adegan ini top abis ya. Alesan gareth motong ini sih katanya karena ingin memfokuskan versi IC pada karakter Yuda, sehingga side story karakter lain pun terpaksa dihilangkan. Dia juga tadinya rada berat untuk ngehapus adegan ini.

- Adegan Yuda nelpon Amak. Tetep ada sih, tapi ada beberapa dialog yang dipotong. Sehingga nelponnya jadi rada bentaran.

- Adegan Astri dan Yuda yang cekcok di pinggir jalan, setelah Yuda nyelametin Astri yang udah di tangan Ratger.

Dan selebihnya sama dengan yang kita tonton di bioskop Indonesia. Eh, tapi kemungkinan masih ada yang dipotong lagi sih, karena kan gw sempet keluar pas awal-awal. Buat yang nonton secara full, ada yang dipotong kah di bagian awalnya?

Setelah film selesai, seperti yang tertera di jadwal inafff, bakal dilangsungkan sesi QnA with Director. Mulai deh satu per satu bertanya, dari yang nanyain kenapa harus dibedakan antara versi DC n IC, atau kenapa versi Ogre harus dicut, sampe terakhir apa hubungan Luc n Ratger sebenarnya? Jahaha.. Abis acara selesai, kita mulai cari-cari pemain dan kru Merantau-nya lagi, karena emang buku buatan Perantau lom dikasih. Shirei ngasih buku pertama ke gw untuk diserahkan ke Mr Evans. Gw dengan semangat pantang mundur pun langsung deketin dia, Mr Evans yg sadar dideketin orang keren pun bilang: "Yes?" Dan gw yang lebih jago Basa Sunda dibanding Bahasa Inggris cuma bisa ngomong: "its for you!" sambil ngasihin bukunya. Wakaka.. Gareth langsung jingkrak2 kegirangan tuh dapet merchandise dari orang keren. Hehe.. Eh, si HnS nimbrung dari belakang: "Itu buku tentang kegiatan di forum, isinya fanfic, fanart, dll.." Gareth bilang lagi: "Thanks". Buku kedua, kebetulan yang paling deket adalah Mas Toro. Diliat dari jauh sih mas toro lagi mo ngintip2 dikit bku yang ada di tangan gareth, tapi sebelum Gareth minjemin bukunya ke mas Toro, HnS ngasih bukunya langsung. Heuheu.. Lirak-lirik lagi dan ketemulah Iko, langsung deh mas Tisno yang mo ngasih banner mini ikois dan HnS yang mo ngasih buku ketiga, nyamperin dia. Terakhir Kang Yayan. Dimana kang yayan? Kita serombongan keluar dan kebetulan gw liat kang Yayan lagi jalan di depan, gw kasi tau HnS dah, eh salah satu dari mereka tereaak: "Kang Yayaaann.." ampe kang Yayan noleh n dikasihlah buku keempat. Misi beres? Iya sih. Tapi kita pengen untuk foto-foto lagi. Ya udah dah, pemain dan kru merantau beserta perantau dan ikois foto bareng untuk terakhir kalinya. Bener-bener unforgotable moment! Blitz langsung rame tuh gara-gara makhluk2 itu semua. Jahaha..

Puas dengan foto-foto bareng pemain, Perantau pindah foto di luar untuk foto bareng. Lagi-lagi fotonya ngalangin jalan n berisik, ampe diusir security Blitz-nya. Jahaha.. Setelah itu gw pamit dah, ngejer kereta terakhir cuy! So, begitulah report utuh kegiatan di Blitz, semoga yang ga ikut juga jadi seneng ye baca report ini.

NB:
- Ternyata salah satu anak Indohogwarts ada yang bapaknya seorang kru Merantau tepatnya seksi transportasinya. Dia-nya pake kaos Merantau sih, jadi gw tanya2.. *mupeng*
- Ternyata jadwal kereta terakhir ada yang jam setengah sepuluh (Ekonomi AC) tapi gw mah naek yang eko aja deh. Lebih cepat lebih baik. Tapi.. Sialnya mogok tengah jalan pas di UI. Mana gerbongnya cuman 4 biji. Jadilah tuk sesaat dalem gerbong kereta, kayak dalem Microwave. Jahaha..
- Gw bawa snack, tapi baru inget pas pulang. Dimakannya pas dah di angkot menuju rumah. Wakaka..
- Thanks buat semua yang hadir ya.. Buat yang belon bisa hadir, maybe next time we meet.

Thursday, October 15, 2009

Tips Waspada Bencana

Seperti kita ketahui beberapa bulan belakangan ini banyak terjadi bencana di negeri kita tercinta. Ada banjir, angin puting beliung, gempa, tanah longsor, miyabi (yeah, ini juga bencana klo beneran dateng.. hihi), dll. Nah, oleh karena itu gw terdorong untuk mengangkat soal masalah ini. Tapi bukan untuk membahas soal kenapa itu bisa terjadi tentunya, melainkan untuk membahas hal-hal apa saja yang harus kita lakuin ketika bencana itu datang di tempat kita. Semoga ajah dengan adanya tips ini teh kita semua bisa lebih aware bin waspada gituh.

Okeh, seperti biasa tanpa berlama-lama, kita langsung masuk ke tipsnya:


1. Jangan panik!
Yeah, kunci agar kita selamat dari bencana emang inih. Bagaimana nggak, dengan kita bersikap tenang semua bencana dijamin bisa dilewati. Sebagai contoh, jika rumah kita tiba-tiba mulai tergenang air, tenang dulu, selamatkan benda-benda berharga kita. Kalau perlu jualin dulu, lebih mudah nyimpen dalam bentuk duit daripada barang2 yang gede-gede kan? Trus, kalau misalnya pas kejadian, kitanya lagi mandi, jangan lupa pake baju atau handuk dulu ya sebelum nyelametin diri. Terus kalau misalnya air masih semata kaki juga tetep jangan panik dulu, nah, pas udah sedada baru boleh dah tuh teriak minta tolong dan panik ke sana kemari *dikepruks pembaca karna ga konsisten*. Yah, pokoknya sekali lagih, kuncinya jangan panik yo!

2. Kasih tahu orang lain
Yep, kalau ada bencana teh jangan dipendem sendiri, ntar bisa-bisa jerawatan. Kasih tahu orang sekitar kita yang mungkin masih belum menyadari datengnya bencana. Bisa dengan teriak pake TOA alias speker mesjid, pake pentungan, pake kentut atau pura-pura bunuh diri gara-gara abis diputusin pacar *digetok*. Yah, pokoknya biar orang-orang laen juga pada tau kalau ada bencana, terus bisa lari bareng-bareng deh. Tapi jangan heran juga kalau misalnya setelah kita kasi tau, eh, mereka tetep cuek bebek. Bisa ada beberapa alesan kenapa mereka ngegaringin gitu sih, diantaranya kalau misalnya gw yang teriak ngingetin, mereka bengong karena baru kali ini liat cowo ganteng gituh.. *pada muntah* wekeke..

3. Lari ke tempat aman
Weits, betul sekali, lari ke tempat aman. Kalau misalnya banjir lari ke tempat tinggi kayak pohon atau lantai atas atau bukit. Kalau gempa, lari ke lapangan luas, atau lari ke kebun yang pohonnya lagi berbuah, lumayan kan tuh buahnya bisa pada jatohan. hehe.. Kalau angin puting beliung, masuk ke bawah tanah, atau kalau ga punya ruang bawah tanah, ngumpet di bawah daster ibu kalian aja udah aman kok. *ditakol* Yep, intinya cari tempat yang seyogyanya bisa meminimalisir diri kita jadi korban tak berdosa.

4. Bantu orang lain
Jangan lupa membantu orang lain kalau ada yang butuh bantuan. Misalnya aja, pas ada banjir dia lagi makan, bantuin abisin makanannya deh supaya dia bisa cepet lari juga. Atau pas dia lagi buang air besar, cebokin kalau mau, supaya bisa buru-buru kabur juga. Semoga aja bisa dapet pahala yah.. :D

5. Banyak-banyak Berdoa
Beuh, salah satu alesan datangnya bencana itu selain untuk memperingatkan kita yang beriman, juga sebagai azab bagi orang-orang yang tidak bertakwa (weh tumben kali ini gw ngomong yg bener.. hihi..). Jadi, sudah pasti solusinya adalah berdoa dan memohon ampun atas dosa kita. Oh iya, doanya jangan macem-macem yah, cukup berdoa supaya diberi keselamatan, jangan malah berdoa minta mobil, minta jadi orang kaya, dll. Takutnya doa kalian itu dikabulin lho, ntar pas minta mobil ada mobil jatoh aja di atas pala kita.. The End dah kalau kayak gitu mah. Jahaha..

Sip, sekian dulu aja deh tipsnya. Mudah-mudahan bisa diterapin ya...

NB: Penulis tidak bertanggung jawab apabila ada efek samping dari penerapan tips. Jahaha.. Oh iya, semuanya Just for Fun ya.. :D

Friday, September 18, 2009

Met Lebaran yee..

Subhanallah, bener-bener gak kerasa ya Ramadhan udah mo abis lagi. Entah harus bersyukur atau sedih karena bulan tempat kita memanen amal ini harus segera berakhir (walaupun gw milih bersyukur.. *kena azaaab*). Well, tanpa harus berbasa-basi, nih terima kartu lebaran dari gw.. Terima yah.. Hoho..






Monday, August 24, 2009

Merantau 2: It's Parody!!

Karena akhir-akhir ini lagi keranjingan hal-hal yang berkaitan dengan film Merantau. Jadilah kepikiran untuk buat fanfic-nya. Eh, tapi kepikiran pertama juga gara-gara ada yang buat tret tentang FF Merantau dan nyaranin buat pada bikin deh. Xixixi..

Yah, intinya mah. Gw teh jadi merasa ter-challenge untuk ngebuat juga. Dan inilah dia, hasilnya.. Hohoho..

------------------------

Merantau 2
It’s Parody!!


“Dalam tradisi pemerintah kami (Jakarta), dimana suatu hari beberapa warga yang terpilih harus mau di-transmigrasi-kan ke luar Jawa, agar jumlah penduduk menjadi merata kembali. Dan ketika kembali ke kampung halamannya bisa menjadi orang seutuhnya alias sukses. Pulanglah nak.. kalau sudah banyak duit!”


Terkisahlah Yuda, pemuda yang baru saja berusia 20 tahun. Dia tinggal di salah satu gang sempit yang ada di Jakarta. Tinggal bersama ibu dan kakaknya, yang dalam kesehariannya bekerja sebagai pemetik plastik bekas (baca: pemulung) dari TPA yang ada di dekat rumah mereka. Hal itulah yang membuat Yuda berencana untuk mengikuti program Transmigrasi pemerintah, agar kelak dirinya bisa mendapat sukses di perantauan sana.

“Yud, yakin kau mau meninggalkan Emak dan Abangmu di sini?” tanya ibunya. “Atau ibu ralat deh, yakin kau akan sukses setelah bertransmigrasi? Abangmu sendiri pernah melakukannya dan sekarang tak ada perubahan berarti dalam nasib kita.”

“Iya, Mak. Yuda yakin..” jawab Yuda singkat dengan ekspresi muka percaya diri. “Lagian, si Abang Yayan kan waktu itu transmigrasinya cuman ke RW sebelah. Ya, ga ada perubahan atuh!”

“Haha, benar juga ya.. Memangnya sekarang kau mau dikirim kemana?” tanya ibunya lagi, merasakan hal yang aneh saat mengucapkan kata ‘dikirim’ seakan Yuda itu barang sisa ekspor.

“Yuda mau pergi ke Sumatera, Mak. Ke Bukittinggi lebih tepatnya!”

“Bareng siapa?”

“Harusnya sih bareng Bang Yayan. Tapi dia udah trauma kayaknya. Jadi Yuda perginya ama orang-orang yang ikut program ini juga dah.”

“Kau juga pasti akan trauma nantinya..” tiba-tiba abang dari Yuda, Yayan, datang dan mengomentari perkataan Yuda. “Kehidupan di daerah Transmigrasi itu sangat keras, Bung! Nih, lihat saja, luka di tanganku ini.. Ini luka bekas program kemaren itu!”

Seharusnya Yuda dan Ibunya akan bersimpati saat melihat luka yang ditunjukkan oleh Yayan. Tapi pada kenyataannya mereka malah tersenyum dan berusaha menahan tawanya. Alhasil bukannya mulut yang keluar suara, melainkan pantatnya. Apa itu bisa dikategorikan sebagai ketawa terkentut-kentut?

“Lho, kenapa pada nahan ketawa begitu?” tanya Yayan heran, lebih heran lagi saat dia mencium bau tak sedap.

“Itu.. Anu.. itu kan..” Yuda terbata-bata dan tak mampu meneruskan lagi.

“Apa Yud?”

“Itu cuma gambar tato-hadiah dari permen karet seratusan perak, kan? Hahahaha..” jawab Yuda akhirnya, tawanya langsung meledak.

“Zzzz.. pantas saja salah tangan.” Yayan baru menyadari kesalahannya. “Nih, lihat tangan yang satu lagi. Ini baru bener!”

Yuda memperhatikan dengan serius luka yang ditunjukkan oleh kakaknya. Terdapat bekas goresan panjang yang membentang di lengan atas tangannya. Hebatnya lagi, luka itu bukan hanya ada satu, tetapi terdiri dari banyak goresan.

“Weks, sungguh bekas luka yang mengerikan!” komentar Yuda, tampak ketakutan. “Me-memangnya luka itu karena apa? Karena berkelahi dengan penduduk lokal kah? Atau berantem dengan preman?”

“Lebih parah dari itu!” Yayan berusaha mendramatisir keadaan. “Ini bekas luka garukanku! Habisnya di tempat tinggalku saat itu banyak nyamuk sih..”

Sekali lagi tawa Yuda meledak, ibunya sendiri sudah tak kuasa untuk menahan tawa, malahan sambil tertawa dia sempat menjitak anak sulung kesayangannya itu.

“Emak kan waktu itu sudah memberimu sarung, memangnya kau pakai buat apa?” tanya ibunya lagi, sambil tetap tertawa dan sesekali mencubiti pipi Yayan saking gemasnya.

“Sarungnya ga jadi dibawa, kata Emak belum lunas cicilannya!”

Yuda tertawa lagi. Kali ini sembari bergulingan di lantai, bahkan beberapa kali dia tertawa sambil berputar memeragakan joget freestyle.

“Jadi, kau masih yakin untuk pergi transmigrasi dan merantau ke Kampuang nan Jauah di Mato sonoh?”

“Yakin lha, Bang! Apalagi sekarang sarungnya sudah lunas, sehingga bisa kubawa dan kejadian yang pernah abang alami ga akan terjadi sama Yuda! Hehe..”

“Huu, ngeledek abang ya kamu!” seru Yayan, yang langsung mengeteki Yuda sampai adiknya pingsan. Baguslah, Yuda emang belum istirahat seharian ini karena waktunya tadi habis untuk beres-beres barang bawaannya dan sedikit latihan silat.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Usai berpamitan dengan keluarganya. Yuda melenggang dengan percaya diri menuju bus yang akan mengangkutnya ke kota tujuannya. Sambil menenteng sebuah tas kecil (pantes aja kemaren seharian dia ngurus barang bawaan, ternyata lamanya itu buat mikir barang apa yang harus dibawa biar muat di tas kecilnya), dia masuk ke dalam bus yang ternyata sudah banyak penumpangnya. Yuda pun memutuskan untuk duduk di bangku kedua dari belakang dan pastinya dekat dengan jendela. Mungkin dia ingat dengan pepatah ‘posisi menentukan prestasi’ dan dengan posisi duduknya di situ, dia tidak akan kesulitan mengerjakan soal jika memang ada tes untuk calon orang yang akan di-transmigrasi-kan. Tapi tentunya tidak ada hal seperti itu dan walaupun ada pastinya gak akan dilakukan di dalam bis.

Tak berapa lama bis pun berangkat. Meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta, kota yang begitu keras dan lebih jahat dari ibu tiri. Dalam bis, Yuda hanya terdiam memerhatikan setiap pemandangan yang ada di balik jendela, sambil sesekali berdecak kagum “rupanya begini ya rasanya naik bis!”

Kemudian setelah setengah perjalanan dia lewati, seseorang berjalan mendekat, dan duduk di sebelah Yuda.

“Hai, lo baru pertama kali merantau keluar Jakarta ya?” tanya si orang itu.

“Iya. Kok tahu?”

“Tahu-lah. Ketahuan sih dari mukanya!”

“Dari muka? Emang bisa kebaca?” Yuda penasaran.

“Iyah. Biasanya orang yang pertama kali merantau itu mukanya muka mesum. Pikirannya pasti ke arah yang nggak-nggak. Kayak ‘di sana gw mo ngintip cewek yang lagi pada mandi di sungai ah’. Iya kan?”

“I-iya, mas.” Jawab Yuda malu-malu.

“Hahah, tuh kan bener.” Ledek pria tadi. “Oh iya, nama gw Eric.”

“Saya Yuda.” Balas Yuda singkat.

“Ngomong-ngomong, nanti di Bukittinggi bakal ditempatkan dimana?”

“Kata yang nawarin program ini sih, nanti di sana disuruh ngurus kebun tomat.”

“Wah, ngurus tomat aja sih nggak bakalan cukup, bro!” kata Eric lagi. “Harus cari pekerjaan tambahan, kalau mau bawa hasil banyak buat emak lo di kampung!”

“Yang bener? Ngg, kalau gitu nanti di sana saya mau ngajarin silat sama anak-anak.”

“Ide yang bagus sih. Tapi di Bukittinggi itu udah banyak perguruan silat, silat harimau namanya. Gurunya juga udah banyak.”

“Ah, ya udah deh, saya bakal ngajarin harimau-nya aja langsung biar bisa silat! Belum ada kan yang ngajar?” ujar Yuda sembari memeletkan lidahnya.

“Hahaha, bisa aja lo! Well, asal lo tau aja, pas gw masih seumuran lo, gw juga berpikir seperti itu…”

“Kepikiran buat ngajar harimau? Hehe..” potong Yuda, sambil tersenyum. Lagian tadi kan dia hanya bercanda.

“Bukan lha.. Walaupun, yeah, gw juga bisa silat, tapi bukan soal itu pokoknyah.” Eric langsung membantah. “Gw berpikir kalau udah merantau, pasti enak. Terus pas balik ke kampung bawa duit banyak deh! Pada kenyataannya nggak begitu cuy, mau hidup di kota kek, mau di desa kek, tetep sama-sama susah! Apalagi buat cari yang mau ama gw.”

“Hoo.. Masih jomblo, Bang?” tanya Yuda, disambut anggukan lemah Eric. “Sampe sekarang?”

“Ho oh..” jawab Eric tak bersemangat.

Dan di menit-menit dan jam-jam berikutnya obrolan Yuda dan Eric adalah curhat Eric seputar cinta. Sampai tak terasa, bis mereka sudah sampai di suatu pedesaan yang berada di Bukittinggi.

“Okeh, Yud! Kita pisah di sini yak! Sampe ketemu lagi, salamelekom!” Eric mengucapkan salam, rupanya tujuan mereka berdua berlawanan arah.

“Kumsalam. Sampai ketemu lagi..” balas Yuda seraya melambaikan tangannya, diam-diam dia bersyukur karena siksaan mendengarkan curhatan Eric –yang tak laku-laku- akhirnya berakhir.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Yuda berjalan terseok-seok mencari tempat dimana dia akan tinggal. Dia akui pemandangan pedesaan di sana sangatlah indah, seandainya saja dia tidak sedang terburu-buru ingin buang air besar, dia pasti akan bersantai sejenak menikmati pemandangan itu. Tapi tentunya dia tidak melakukan itu, perutnya sudah benar-benar sakit, sehingga mau tak mau rumahnya harus segera ketemu. Beruntung, seorang penduduk lokal tahu dimana tempat yang ditunjukkan Yuda. Sehingga dengan semangat 45, Yuda berlari ke arah yang ditunjuk oleh penduduk tadi. Namun naas bagi Yuda, bukan rumah yang dia dapatkan, tetapi malah WC umum yang nangkring di atas sungai. Kayaknya penduduk tadi sadar kalau Yuda itu sedang kebelet, tapi jelas aja sih sadar, soalnya beberapa kali Yuda mengeluarkan gas pemanasan dari pantatnya. Ok, kalau begitu, Yuda bakal menyelesaikan urusan perutnya dulu, setelah itu mencari calon tempat tinggalnya lagi.

Setelah merasa segala kegundahan hatinya dia keluarkan, Yuda pun kembali ke tempat penduduk yang tadi dia tanyai. Dia kembali bertanya barangkali si bapak tahu dimana alamat yang tertera di secarik kertas yang ditunjukkannya. Tapi yang mengherankan, si bapak kembali menunjuk ke arah WC tadi. Malahan sekarang si bapak bersedia mengantar sampai ke tempat tersebut.

“Yakin, pak, ini tempatnya?” tanya Yuda.

“Iyo, ambo yakin ini tempatnyo!” jawab si Bapak dengan logat minangnya.

“Tapi kan seharusnya alamat yang ada di sini mengarah ke sebuah rumah. Bukannya ke WC kayak gini..” ujar Yuda masih tak percaya.

“Beberapa bulan lalu, memang ini masiah berbentuak rumah. Tapi desa ini terkena gempa besar, sehingga rumah itu rata dengan tanah.” Papar si Bapak. “Mangkanyo, sekarang penduduak sini menjadikan tempat ini sebagai toilet umum.”

Akhirnya Yuda percaya dengan penjelasan si bapak itu. Dengan lesu dia ucapkan terima kasih kepada bapak itu, lalu melangkahkan kakinya pergi tanpa tujuan yang jelas. Pikirannya pun kembali teringat dengan kata-kata Eric, apakah kesusahan hidupnya di desa sudah dimulai? Baru saja dia berpikir seperti itu, kemalangan sudah menimpanya lagi, hujan turun deras, dan Yuda masih berjalan tak jelas berharap menemukan masjid atau mungkin pesantren khusus perempuan (dasar, pervert! Xixixi..), sehingga dia bisa numpang berteduh. Tapi kenapa dia tidak menumpang di rumah si bapak tadi saja ya? Sungguh, Yuda benar-benar lupa. Tadi dirinya terlalu kalut memikirkan rumahnya yang hancur karena gempa. Untuk memutar balik, akan sangat membuang waktu, lagipula dia sudah berjalan sekitar 100 meter sejak tadi. Keputusan yang kurang bijak jika dia harus balik ke tempat semula.

Beruntung, Yuda menemukan gua kecil yang memang tidak nyaman untuk ditinggali, namun cukup sebagai tempat beristirahat dan berteduh. Sesegera mungkin dia rebahkan tubuhnya yang sudah kecapekan di dalam gua itu, dan pada detik berikutnya dia sudah tertidur.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sinar matahari pagi menembus ke dalam gua, Yuda membuka matanya, menguap sebentar lalu tidur lagi. Dan ketika matahari sudah tepat berada di atas kepala, dia terbangun lagi, menggeliat sebentar kemudian berdiri. Beberapa saat kemudian terdengar suara dari perutnya, hmm, memang sedari pagi Yuda belum mengisi perutnya kan? Alhasil Yuda pun kembali berjalan ke arah perkampungan terdekat untuk mencari warung. Sesampainya di perkampungan, Yuda langsung mendapati sebuah warung yang agak ramai. Yuda pun segera masuk dan memesan makanan kepada si Abang penjaga warung.

“Mau beli apa, dek?” tanya si Abang.

“Saya mau pesan sate Padang dong, seporsi!” jawab Yuda, sambil mengelap iler yang tak sadar keluar dari mulutnya.

“Wah, nggak jual tuh, dek..”

Yuda mengerutkan dahi. Merasa heran, bagaimana mungkin di Warung makan Bukittinggi tidak dijual makanan khas kota mereka.

“Kalau rendang ada?”

“Nggak juga.”

“Dendeng balado?”

“Nggak ada.”

“Weh, kok ga jual makanan Padang sih?”

“Iya, soalnya ini toko bangunan, dek!” balas si Abang. Rupanya Yuda telah salah masuk! Warung makan yang dilihatnya sebelumnya ternyata berada tepat di sebelah toko bangunan itu. Jadilah, dengan menahan malu, Yuda memasang senyum getir kepada si abang penjaga toko, dan beringsut ke sebelah.

“Selamat siang, dek. Mau pesan apa?”

Sangat de javu, apakah Yuda salah masuk lagi?

“Err, ini beneran warung makan kan?” Yuda memastikan.

“Iya, dek. Mau pesan makanan apa?” tanya si Abang lagi.

“Fyuh, syukurlah, kali ini bener. Saya pesan sate Padang dong!”

“Maaf, dek, kami nggak menjual makanan itu..”

“Hah?” Yuda kembali merasa kejadian sebelumnya berulang. “Kalau rendang? Dendeng balado?”

“Ngga jual juga tuh.” Jawab si Abang singkat.

“Kenapa?” tanya Yuda, matanya berkaca-kaca, menahan kesabaran.

“Ini kan warung makan Sunda, jang. Ngga jual masakan Padang atuh jadinya. Hehe..”

Gosrak.. Yuda sampai terjatuh saking tak percaya. Sudah dua kali, dirinya dibuat malu.

“Ya udah, kalau gitu.. Mesen yang ada ajah, 6000eun yah..” ucap Yuda pasrah.

-=-=-=-=-=-=-=-=-

Mulut Yuda tak mau berhenti bergerak, tangannya juga. Rupanya dia sudah benar-benar lapar, sehingga dia makan begitu tergesa-gesa, seakan-akan kalau dia telat menyuap sedetik saja dia akan mati. Lambat laun, makanan di atas piringnya habis. Yuda pun segera mengalihkan perhatian pada tasnya untuk mengambil dompet. Namun sungguh mengejutkan, resleting tasnya sudah terbuka dan ada tangan kecil yang sedang memegang celana dalam cadangan milik Yuda.

“Hayo, mau apa?” bentak Yuda pada anak kecil itu, sambil mencoba menangkap tangannya. Sontak si anak terpekik kaget, tetapi rupanya dia lebih gesit dari Yuda, sehingga tangkapan Yuda meleset. Setelah itu anak kecil tadi berlari menjauh dari tempat kejadian perkara. Namun Yuda tak tinggal diam. Dengan sigap dia mengejar anak kecil tadi. “Pak, tunggu ya, saya kejar dia dulu. Kayaknya dia ngambil dompet saya!”

Si anak kecil berbelok ke kanan sesaat sebelum tangan Yuda menggapai lehernya. Tak berhenti sampai di situ, anak kecil tadi terus berlari melewati kebun-kebun serta celah sempit di antara tebing yang ada. Hal itu memang sangat merepotkan Yuda, tetapi Yuda juga tak mau menyerah. Bahkan sungai yang sedang ramai dengan nenek-nenek yang sedang mandi pun tak henti dia arungi hanya untuk mengejarnya. Akhirnya, setelah melakukan pengejaran selama kurang lebih 1 putaran sirkuit Sentul, tangan Yuda berhasil meraih belakang baju anak tersebut.

"Eit, dapet juga lo ama gw!" ujar Yuda terlihat puas.

"A-ampun, kak. Jangan pukul saya, saya ngga niat ngambil 'CD' kakak kok! Suer!" anak itu terlihat ketakutan melihat wajah Yuda. "Saya tadinya niat ngambil dompet kakak, eh, malah ini dulu yang keambil!"

"Ya ampun, jujur banget ni anak. Jadi pengen jitak.."

"Jangan kak! Nih, saya balikin deh.." kata anak itu, namun baru saja tangan Yuda digerakkan untuk mengambilnya, anak tadi sudah menyembunyikan 'CD' Yuda di belakang badannya. "Dengan satu syarat, Bos! Tuker sama dompetnya ya!"

"Bah, lebih baik gw pasrahin ‘cd’ gw, daripada dituker ama dompet." balas Yuda.

"Ya udah, kalau gak mau tuker ama dompet.. Tuker ama duitnya aja deh. Hehe.."

Anak kecil itu tertawa, berkebalikan dengan Yuda yang memasang tampang menyeramkan, dan menyiapkan tangannya untuk menjitak. Alhasil anak kecil yang ketakutan tadi cepat-cepat memberikan celana dalam itu kepada Yuda.

"Nah, itu baru anak baik.. Siapa namamu, nak? Saya Yuda."

"Sa-saya Adit, kak Yuda." jawab anak itu menyebutkan namanya sambil tetap menundukkan kepalanya.

"Hoo, Adit ya. Lain kali jangan nyopet lagi ya! Kan ada pepatahnya 'lebih baik ngepet, daripada nyopet!'" kata Yuda ngasal. "Eh, nggak deh. Dua-duanya sama-sama dosa. Hehe.. Ngomong-ngomong, makasih ya!"

"Makasih kenapa kak? Kan saya udah nyusahin kakak.." tanya Adit polos, plus curiga.

"Makasih, karena berkat kamu.. Kakak ga perlu bayar makanan di warung tadi."

"Hahaha, ternyata kakak sama kayak saya ya, nggak punya duit!"

Yuda ikut tertawa, kemudian menimpali, "Tapi biarpun ga punya duit, muka saya kan tetep ganteng!"

Aneh. Memang sungguh aneh. Yuda dan Adit baru bertemu sebentar, tapi sudah terasa seperti adik dan kakak yang sudah tinggal serumah bertahun-tahun.

"Hmm, kamu lapar? Ya udah, yuk buruan saya traktir deh. Asal kamu janji ga akan mencuri lagi!" ajak Yuda. "Oh iya, satu lagi, kamu harus berjanji untuk tidak makan di warung sunda barusan."

"Baik, kak. Tapi saya izin ke kakak perempuan saya dulu ya.." balas Adit, dijawab dengan anggukan singkat oleh Yuda.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Yuda terus mengikuti Adit ke tempat kakaknya bekerja. Katanya sih kakaknya itu bekerja di salah satu perkebunan milik penduduk setempat. Namun beberapa langkah sebelum Yuda dan Adit sampai di sana, mereka melihat seorang gadis, sedang diseret oleh dua orang bule dan satu orang penduduk lokal.

"Itu kan kakak!" seru Adit tiba-tiba. "Kak Astri!!"

Yuda dan Adit segera mengejar rombongan yang tadi dilihatnya. Sayang, mereka terlambat. Dua orang bule beserta Astri sudah keburu naik ke dalam mobil dan berangkat, meninggalkan si penduduk lokal.

"Uda Joni, kak Astri dibawa siapa, hah? Mau dibawa kemana dia?" gertak Adit kepada Joni.

"Haha.. Kakakmu dibawa oleh Pak Ratger dan Luc, karena kesalahannya sendiri! Err, nggak deh. Sebenarnya aku yang salah, aku tak sengaja membuat kebun mereka yang ada di sebelah kebunku mati. Karena aku menggunakan campuran kotoran kerbau dan minyak tanah sebagai pupuk di kebun tomatku. Tapi karena aku berkilah bahwa Astri-lah yang menyebar pupuk itu setiap harinya, mereka malah membawanya.. Haha.." papar Joni santai.

"Berani-beraninya, kau! Mengumpankan seorang gadis sebagai kambing hitamnya!" Yuda terlihat kesal.

"Weits, nyantai men! Masalahnya tanaman yang ada di kebun itu adalah..."

"Pohon jengkol? Pohon cabe? Pohon toge?" potong Yuda. "Semua itu kan cuma pohon, bisa ditanam lagi!"

"Haha, yeah, seandainya tanaman-tanaman itu yang ada di kebun sebelah, aku bakal langsung menggantinya.. Tapi pohon yang mati itu adalah pohon.. Ganja!"

"Lalu kenapa kau tidak melapor pada polisi saja kalau kau tahu itu kebun ganja?"

"Di sini jauh dari kantor polisi, Bang.. Lagian tiap bulan juga aku mendapat uang tutup mulut dari para bule itu."

"Beli aja solatip kalau mau nutupin mulut Uda Joni!" teriak Adit seraya menerjang ke arah Yuda. Menggantungkan tangan kecilnya ke lehernya.

"Zzzz.. kamu salah serang, Dit!" bisik Yuda, sabar.

"Ups, maaf, kak!" gumam Adit, sambil melepaskan jeratan tangan di leher Yuda. "Kalau begitu ulangi lagi.. Beli aja solatip kalau.."

Joni yang sudah membaca gerakan Adit sebelumnya, keburu menangkap anak kecil itu. Dia memegang Adit erat-erat, sambil menutup mulut anak itu.

"Berani-beraninya kau ya, mau menyerangku! Dasar anak tak tahu diuntung. Tahu nggak, kalau bukan karena aku, kakakmu itu nggak bakal bisa kenalan ama bule. Kalau bukan karena aku, kakakmu nggak akan dibawa mereka. Seharusnya kamu berterima kasih padaku!" kata Joni pada Adit, tetapi sepertinya ada yang salah dari perkataan itu, sehingga Adit yang mulutnya tak tertutup lagi segera meralatnya.

"Harusnya Uda bilangnya kayak gini, 'kalau bukan karena aku, kakakmu nggak akan bisa ngehidupin kamu..', begitu uda.." ujar Adit.

"Hoo, iya juga ya.. Sebodo ah, yang penting sekarang aku bebas dari hukuman para bule. Dan sekarang kamu.. Kamu akan menjadi pengganti dari kakakmu untuk bekerja di sini! Haha.." kata Joni sambil hendak membawa Adit.

"Lepasin si Adit!" seru Yuda. "Daripada bawa dia, mending bawa saya aja. Saya rela kok kerja di sini, asal dibayar mahal.."

"Haha, emang bisa apa kau? Orang kota perantauan mana mungkin bisa bekerja di sini! Lebih baik anak ini aja deh. Kalau kau tetep gak rela dan mau mengambil anak ini, silakan langkahi dulu mayatku!"

"Dengan senang hati!"

Bak.. Buk! Tuing.. Belegur! Goong.. Tretetet.. Buak! Wuush.. Beleguuur!!

Tubuh Joni terpelanting dan mendarat dengan mulus di pohon jati yang berada beberapa meter dari tempat sebelumnya dia berdiri. Tentu saja hal itu terjadi karena Yuda memeragakan silat pada Joni, agar orang tersebut jera. Adit bersyukur, salah satunya adalah karena dia telah diselamatkan oleh Yuda, hal lainnya karena dia senang Yuda tidak menggunakan jurus itu padanya dulu.

"Kemana para bule itu membawa Astri?!" bentak Yuda pada Joni, yang rupanya masih sadar. "Ayo jawab, sebelum bibirmu kujadikan sate!!"

"Di-dia.. Me-mereka.. Mereka membawa Astri ke dekat pelabuhan."

"Awas kalau kau bohong ya.. Kuping lo gw sumbangin ke tukang soto babat ntar!” ancam Yuda. “Adit, awasi dia.. Taliin kalau perlu. Kalau dia minta nafas buatan juga kasih aja. Kakak mau mengejar bule-bule itu dulu, keh!"

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Fufufu, sungguh tak kuduga, kau bisa mengalahkan semua anak buahku!” ucap Ratger, kepada pemuda di hadapannya. “Ternyata kau memiliki kemampuan bela diri yang bagus juga..!”

“Oh, Ratger. Ini bukan acara reality show pencarian bakat. Tak usah lah kau memuji-muji si sok pahlawan ini!” kata bule satu lagi, Luc.

“Hei, siapa bilang aku memuji dia. Aku kan hanya bilang dia bagus..” kilah Ratger.

“Itu kan termasuk memuji..” balas Luc lagi.

“Tapi aku tidak memuji dia secara keseluruhan kan?” Ratger masih tak mau kala.

“Belum. Mungkin sebentar lagi..” jawab Luc.

“Tapi…”

“Hei, hei! Gw didiemin di sini nih? Harusnya gw kan pemeran utamanya.. Gimana sih?” seru Yuda, merasa tidak dianggap.

“Ah, iya juga. Kita bahas lain waktu saja.” Ucap Ratger. “Kalau begitu, kembali pada si bocah ingusan. Jangan kira kau sudah mengalahkan semua anak buahku ya? Aku menyimpan yang terbaik untuk kau hadapi. Luc, panggil jawara kita kemari!”

“Kenapa ga manggil sendiri saja sih? Aku kan lagi medi-pedi dulu nih.” Luc mendumel sendiri, tapi akhirnya dia lakukan juga perintah Ratger.

Tak perlu menunggu lama, Luc sudah kembali, dan dia tak sendiri. Di belakangnya muncul seseorang yang sungguh tak diduga oleh Yuda. Yep, dia adalah Eric!

“Eric, kau sudah tahu apa tugasmu..” titah Ratger singkat.

“Apaan tuh bos?” tanya Eric polos.

Ratger langsung memukul jidatnya dengan refleks, diikuti oleh Luc.

“Aw, kau kan punya jidat sendiri. Kenapa malah ikut-ikutan memukul jidatku?!” bentak Ratger. “Kau juga, Eric! Kau kan tahu tugasmu itu menjadi bodyguard kami!”

Eric mengangguk, seakan telah mengerti. Tapi setelah itu dia bertanya kembali.

“Emangnya bos lagi dalam bahaya? Kayaknya di sini ga ada siapa-siapa, cuma bos Ratger ama Luc..”

Mendengar perkataan Eric, kedua bule itu langsung memerhatikan daerah sekitarnya. Dan memang benar, di situ sekitar mereka mendadak menjadi sepi. Dimana Yuda yang barusan sudah ada di depan mereka? Ah, ternyata Yuda tetap ada, tapi sedang tidur di tanah, saking capeknya dan kemungkinan karena lama menunggu, ga kebagian dialog.

“Waduh, kok tiba-tiba sepi begini?” tanya Ratger heran. “Dimana musuh kita tadi ya?”

“Noh, ada di sana..” Luc yang menjawab. “Eric, bangunin dia gih. Abis itu kamu lawan!”

Eric mendekat ke seonggok tubuh manusia yang berada di depannya. Dia guncang-guncangkan tubuh itu, sampai orang tersebut sadar. Dan betapa kagetnya Eric, saat mengetahui orang yang dia bangunkan adalah Yuda!

“Ya oloh, ini teh Yuda?” Eric masih tak percaya.

“Eh, ini bang Eric kan?” Yuda yang baru saja membuka matanya pun ikut bertanya.

“Ya ampun, Ciin! Akhirnya kita bisa ketemu lagi ya. Gimanah? Udah sukses ngajarin silat sama harimau yang ada di sini?”

“Wah, belum lha bang. Lagian belum sempet ketemu harimau, saya malah ketemu bule gembong narkoba. Dan sekarang malah mau ngebunuh saya ama perempuan itu,” jawab Yuda panjang lebar, sambil menunjuk ke kontainer tempat Astri sembunyi di belakangnya.

“Yang bener, Yud? Mana bulenya.. Sinih, biar gw hajar!”

“Ya bulenya itu, bos bang Eric..”

Mendengar jawaban Yuda, Eric langsung menelan ludahnya. Dia sadar, kini dirinya berada di dua pilihan.. memilih teman atau pekerjaanmya. Lalu apakah yang akan dipilih olehnya?

“OII, Eric! Kenapa kamu malah ngobrol ama bocah tengik itu? Lagian kalau ngobrol, ngajak-ngajak napa!” teriak Ratger.

“Iya neh, mencurigakan. Awas ya, kalian kalau gosipin kita dan bilang kita pasangan hombreng!” Luc ikutan berteriak.

Eric berdiri, diikuti oleh Yuda. Pandangan mata Eric terlihat serius. Yuda jadi bertanya-tanya, apakah gerangan yang ada dalam pikirannya.

“Yud, maafin gw ya..” Eric berbicara dengan pelan. “Gw…”

“Kenapa bang? Abang terpaksa harus lawan saya gituh? Ga apa-apa kok bang. Saya tahu gimana sulitnya mencari uang.”

“Zzz, bukan soal itu.. Gw minta maaf karna gw udah kentut. Emangnya ga kecium ya..” ujar Eric. “Ah, ga usah dipikirin deh. Sekarang buruan kita lawan para begundal itu.”

“Itu baru abangku.. Ntar kalau masalah ini udah kelar, saya bantuin abang cari jodoh deh! Hehe..”

“Sip,” balas Eric singkat. Setelah itu mereka berdua memasang kuda-kuda tanda siap bertanding, tak lupa mereka memasang prajurit, ratu, raja, dan bentengnya. Euh, ini teh mau bertanding beneran apa bertanding catur sih? Pastinya bertanding silat beneran lha ya, yang tadi sih supaya melebaykan suasana saja. Hehe..

“Huh, rupanya kau mau berkhianat ya..” ucap Ratger. “Baiklah kalau itu maumu, tak ada pilihan lain, kami sendirilah yang akan mengalahkan kalian. Ayo, Luc. Kita serang mereka, jangan mau kalah!”

“Haha, aku sih udah siap-siap dari tadi. Nih, ampe udah pake baju olahraga segala. Ayo buruan lha, kita serbu!” jawab Luc.

Dan detik serta menit berikutnya, terjadi pertarungan terdahsyat sepanjang sejarah Bukittinggi. Walaupun pertarungan itu bukan untuk memperebutkan piala bergilir dari kecamatan. Yuda dan Eric mengeluarkan setiap jurus silat pamungkasnya sedangkan Ratger dan Luc mengeluarkan jurus boxing mematikan mereka. Lalu siapakah yang akan menjadi pemenang dari pertarungan ini?

Gosraaak.. Glutuk-glutuk.. BUMM.. Ckiit.. Jederr.. Go Go Gadget.. Ctar.. Wush..

Tiba-tiba dua orang terpelanting dari arena pertarungan. Menabrak satu buah kontainer yang langsung penyok, setelah menerima serangan mendadak dari kedua tubuh itu. Keduanya pun pingsan, tak sadarkan diri.

“Yes, kita menang juga, Yud!” seru Eric gembira.

“Iya, betul. Mati mereka kena skak mat kita..” kata Yuda yang tak kalah gembira. Tapi beneran kan mereka bukan main catur? (hihi, masih dibahas). “Berarti sekarang kita laporkan saja pada polisi setempat, selebihnya biar mereka yang urus!”

“Yoyoy. Hayu atuh kita pergi..”

-=-=-=-=-=-=-=-

1 minggu kemudian.

Yuda sedang duduk nyantai di salah satu halte yang berada di Bukittinggi. Menunggu bis yang harusnya sudah tiba 20 menit yang lalu. Mungkin memang sudah menjadi hal yang lumrah di Indonesia soal jam karet ini. Tapi tetap saja, menunggu adalah hal yang paling membosankan. Brum, bruum, blegedegedeg.. Terdengar suara mesin kendaraan dari kejauhan, akhirnya bis yang ditunggu itu datanglah sudah.

Bis tersebut berhenti di halte, beberapa penumpang turun dari dalam bis. Yuda segera mencari-cari orang yang dari tadi ditunggunya. Ah, itu dia. Ketemu! Ibu dan kakak Yuda berada di kerumunan paling belakang dari para penumpang. Tentu saja sebagai yang budiman, Yuda menghampiri mereka dan memberi tanda tangannya, ups, dan menyalami mereka.

“Jadi, mana rumah kau, Yud?” tanya ibunda Yuda.

“Sabar mak, baru juga nyampe. Nanya kabar anaknya dulu aja napah..” jawab Yuda agak ketus.

“Hihi, mungkin emak ga nanya kabar kau soalnya udah tahu kalau kau tuh tetep gila dari dulu juga.” Timpal bang Yayan.

Pura-pura tidak mendengarkan perkataan abangnya, Yuda berkata, “Ayo dah, kita ke rumah sekarang..”

Terlihat dari jauh, rumah gadang megah yang dikelilingi dengan oleh kebun tomat serta sayuran lainnya. Tentu saja Ibu Yuda dan Abang Yayan yang melihatnya, sontak tersenyum. Mereka berdua tak percaya, bagaimana mungkin Yuda yang baru saja seminggu merantau sudah punya rumah semegah itu.

“Yud, benar ini rumah kau?” tanya ibunya, ketika mereka sudah berada tepat di depan pintu rumah tersebut.

“Iya, Mak. Ayuk, masuk..” ajak Yuda seraya membukakan pintu. Wajah ibunya menunjukkan rasa senang dan terlihat air matanya pun berkaca-kaca. “Nah, mari saya kenalkan kepada keluarga saya di sini –dan selanjutnya akan menjadi keluarga emak dan abang Yayan juga- mereka tinggal di rumah ini juga. Ada bang Eric, yang paling tua berdiri paling kanan. Sebelahnya ada Astri, yang akhirnya mau menerima pinangan bang Eric. Terakhir ada Adit, adik Astri yang bandelnya mirip bang Yayan pas masih kecil.”

“Wah, pantas saja rumah ini besar ya. Ternyata banyak juga yang tinggal di sini. Hehe..” canda bang Yayan. “Jadi, bagaimana ceritanya baru seminggu pergi ke Sumatera sudah punya kebun yang luas ama rumah gede?”

Yuda tersenyum sebentar, kemudian menceritakan setiap kisah yang dialaminya selama perantauannya kepada ibu dan abangnya. Tak semuanya diceritakan juga sih, ada beberapa yang Yuda sembunyikan, seperti saat dia tidak membayar makanan. Lalu, setelah selesai menceritakan semua, Yuda pun berkata, “Karena kami telah menangkap gembong narkoba kelas atas, maka Gubernur Sumatera Barat memberikan rumah beserta kebun yang dulunya kebun ganja ini kepada kami semua. Dan..”

“Dan apa?” bang Yayan penasaran.

“Dan oleh karena itu, Yuda manggil emak dan abang ke sini. Buat ngebantu ngurusin kebun yang super luas ini. Hehehe..”

“Hee? Jadi itu alasan kau manggil kita ke sini?” Abang Yayan memekik. “Abang kira kau sudah benar-benar sukses, sehingga emak dan abang datang ke sini cuma buat santai dan nikmatin hidup aja.”

“Ya, kalau udah sukses mah, Yuda yang bakalan pulang ke sana. Kan ada tuh quote kata-kata emak di atas.” Kata Yuda beralasan.

“Huu, dasar Yuda..!! Kalau tahu gini, abang lebih setuju ama ending yang ada di filmnya dah..” teriak Yayan, lalu memiting Yuda dan menjitakinya. Semua yang melihat pun tertawa.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Dan begitulah, akhirnya keluarga baru itu pun hidup sederhana dan bahagia (pas lagi bahagia mah) selama-lamanya.

Tamat