Saturday, June 8, 2019

Berteduh


Berteduh

30HariMenulis2019_Hari_5
813 kata

Bogor dan hujan. Rasanya sudah tidak asing lagi ‘kan dengan kedua kata itu? Makanya mereka pun bisa berkolaborasi dengan baik sehingga menghasilkan nama sebutan kota hujan. Tetapi herannya, aku dan mungkin masih banyak penduduk lokal kota ini jarang membekali diri dengan jas hujan di motor yang kami bawa setiap harinya. Makanya tidak usah heran ketika hujan turun, masih banyak saja yang menepi dan berteduh di toko-toko atau warung yang ada di pinggir jalan, seperti yang ku lakukan sekarang ini.

Aku berteduh di sebuah warung tenda pecel lele yang tidak begitu ramai. Terlihat hanya ada empat orang yang ada di dalamnya, tujuh jika aku dan dua pekerja warungnya dihitung. Ngomong-ngomong soal tidak ramai, sepertinya aku baru sadar kalau yang berteduh di sini ya memang pelanggan yang sedang makan. Jadi daripada tidak enak hati, aku pun memesan seporsi pecel lele juga. Padahal sejam sebelumnya, perutku baru diisi ketupat sayur plus opor ayam saat aku bersilaturahim ke rumah bibiku tadi.

“Mas, pecel lelenya dimakan di sini?” tanya si Mamang yang memakai baju biru dongker.

“Iya, Mang.”

“OK, tunggu sebentar ya!”

Aku pun menganggukkan kepala. Sambil menunggu pesanan tiba, ku keluarkan gawaiku. Dengan sigap, jempolku menekan icon permainan Candy Crush Saga agar aku tak bosan menunggu. Saat memainkan permainan itu, aku pun tak sengaja mendengar percakapan diantara dua pengunjung di dekatku yang baru saja selesai makan.

“Dita, abis ini kita nonton yuk!” ajak gadis berkerudung pink yang berada di paling ujung.

“Boleh juga tuh. Tapi mau nonton apa? Soalnya film yang baru tayang ‘kan film Indonesia doang,” timpal teman di sebelahnya yang dipanggil Dita itu. “Elo udah nonton Aladdin ama Godzilla belum, Re?

“Udah dong. Udah streaming itu sih. Jelek ah filmnya kata Rere mah!”

Uhuk. Aku langsung terbatuk karena mencoba menahan tawa. Lagipula, kedua film yang disebut tadi itu ‘kan masih tayang di bioskop. Jadi meskipun ada streaming bajakannya, pasti kualitasnya masih buruk. Makanya tidak heran kalau perempuan bernama Rere itu berkesimpulan kalau filmnya jelek. Aku sendiri sudah menonton keduanya di bioskop dan pastinya terpuaskan.

“Ih, seriusan udah nonton? Emang film Indo yang tayang sekarang belum ada streamingnya juga gitu?”

“Yee, kalau ada mah, ngapain Rere ngajakin Dita nonton ke bioskop. Lagian sekarang ‘kan uang THR masih banyak, jadinya gak rugi amat deh nonton juga.”

Hmm, ternyata itu alasan dia untuk menonton. Kepalaku manggut-manggut sambil tetap menahan tawa.

“Ya udah, bentar gua cek jadwal film yang tayang dulu,” Ku perhatikan si perempuan bernama Dita mengecek gawainya, “Nih, Re, ada Ghost Writer, Hit n Run, Si Doel 2, Single 2, sama Kuntilanak 2. Mau nonton yang mana?”

“Kayaknya yang menarik cuma Ghost Writer sama Kuntilanak 2. Seru ‘kan nonton hantu-hantuan di bioskop!”

“Hmm, bener juga sih. Gua juga kalau nonton film di bioskop palingan nonton genre itu aja. Kalo enggak cinta-cintaan. Terus jadinya mau nonton apa? Ghost Writer aja kali ya? Soalnya Kuntilanak 2 ‘kan belum nonton yang pertamanya?”

“Ih, jangan. Judul film yang pake bahasa Inggris malah suka gak seru. Hantunya juga pasti nanti pake hantu bule. Kuntilanak aja deh. Lebih membumi juga ‘kan hantunya!”

“Oke lah. Ya udah, cuss  yuk. Udah reda tuh hujannya.”

Ya ampun. Setelah tadi aku hanya bisa menahan tawa, sekarang malah dibuat geram dibuatnya. Alhasil aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja mendengar percakapan rencana nonton mereka itu. Padahal ingin sekali aku berteriak di depan hidung mereka dan bilang, ‘HELLOW, MINIMAL LIHAT SINOPSIS DAN TRAILERNYA NAPA?’

Rasanya sedih juga. Ternyata selera penonton Indonesia memang masih belum bisa beranjak dari yang namanya horor. Meskipun tidak bisa dipukul rata juga sih. Tetapi kedua perempuan tadi memang bisa menjadi gambaran selera penonton people zaman now. Makanya tidak heran, pendapatan film hantu-hantuan biarpun secara kualitas filmnya jelek, minimal tetap mendapat ratusan ribu penonton.

Huft. Biarlah. Toh aku juga belum menonton ke semua film Lebarannya. Barangkali malah film si neng Kunti itu bagus. Siapa tahu ‘kan?

Aduh, tapi entah kenapa malah jadi kepikiran terus. Apa aku harus membuktikan dengan mata kepalaku sendiri juga ya? Ya sudah lah, aku bakal cicil nonton film Lebarannya satu per satu. ‘Lagian sekarang ‘kan uang THR masih banyak, jadinya gak rugi amat deh nonton juga’ quote by mbak Rere.

“Mang, pecel lelenya dibungkus aja ya!” seruku tiba-tiba, si Mamang sampai kaget.

“Lha, gak jadi makan di sini, Mas?”

“Iya, saya mau nonton bioskop, takut telat,” ucapku sambil bersiap-siap beranjak dari bangku, “Jadi pecel lelenya mau saya jadiin bekel buat nonton aja deh. Hehe..”

“OK, mas, siap!”

Usai menerima pesanan makanan dan membayarnya. Aku pun keluar dari warung tenda itu menuju mall terdekat. Dengan misi menuntaskan film Lebaran 2019 ini.

Eh, terus aku mau menonton apa dulu ya? Eit, jangan kayak yang tadi dong. Mari kita cek sinopsis, trailer, dan bahkan reviewnya terlebih dahulu sebelum menonton. Karena meskipun secara materiil kita tidak dirugikan, tetapi secara waktu malah bisa terjadi apabila film yang ditonton berkualitas jelek. Oke sip, sudah dulu ah ceramahnya. Yuk, kita kemon! Dan film pertama yang akan ditonton goes to ....

Tamat

Wednesday, June 5, 2019

Masih Mau Lanjut?

Buku Aku Anak Baik





30HariMenulis2019_Hari_4
394 kata

Challenge: “Ambillah sebuah buku, buka halamannya secara acak, dan menulislah dari kalimat pertama yang anda lihat.”

“Masih mau lanjut?” tanya Danu. – Dikutip dari buku Aku Anak Baik terbitan Tiga Ananda.

*lirik kutipan kalimat di atas*

Tadinya mau nulis sebuah cerita pendek tentang adegan plus-plus dimana sang cowok bertanya kepada lawan bicaranya soal masih mau lanjut ronde berikutnya atau enggak. Tapi berhubung kutipan itu diambil dari buku anak-anak sedangkan rating tulisan yang mau ditulis itu kemungkinan 17 tahun ke atas, jadinya diurungkan aja deh niatnya. Lagipula gw enggak mau disamain dengan salah satu admin di grup tulis menulis (sebut saja NAD) yang terkenal amoral itu ‘kan.

Terus kalau gak nulis itu, mau bahas apa dong?

*ceritanya mikir*

Okey, gimana kalau kita anggap kutipan itu beneran nanya ke gw soal masih mau lanjut kegiatan 30 hari menulis ini atau enggak? Nyambung kan? Jelas aja. Karena tadinya gw pun kayak agak males-malesan nulis gitu untuk tema sekarang ini. Soalnya sehari sebelumnya, gw sempet ngecek jadwal tema atau tantangan dari admin dan seharusnya tanggal 4 dan 5 Juni itu libur, sodara-sodara! Namun, berhubung hilal enggak terlihat dan lebaran diundur, ternyata jadwal libur pun diundur. Alhasil tema yang seharusnya ada di tanggal 6 maju ke tanggal 4 ini. Akhirnya gw yang kadung santai seharian langsung panik dan merasa dipermainkan oleh mereka. Hiks. *lebay*

Dan hampir saja akoh menyerah untuk membolos posting di hari ini dong. Tetapi, berhubung tekad dan kemauan gw ini kuat. Segala keraguan soal posting atau enggak, lanjut atau enggak langsung sirna sudah. Berganti menjadi semangat untuk tetep melanjutkan komitmen di event yang diadain setiap setahun sekali ini. Kapan lagi kita dipaksa untuk nulis, meskipun seringnya tanpa ada ide yang cemerlang dan bisa membuat para pembaca terhenyak atau ber-uwow-ria saat membaca. Pokoknya otak kita tuh serasa diperas terus, gak peduli kita mau nulis apa.

Yah, kalau dipikir-pikir, kayak yang lagi gw tulis sekarang ini lah. Isinya jadi racauan gak jelas. Yang penting bisa menuhin syarat minimal 300 katanya. Haha, sedih amat yak. Tapi mau gimana lagi atuh, yang penting mah ‘Nulis Aja Dulu’, ye ‘kan? Wekeke.. *ngeles*

Tuh ‘kan, berkat racauan gak jelas ini juga, akhirnya misi gw di tantangan kali ini pun selesai euy. Terima kasih banyak kepada kejeniusan otak dan kelincahan jariku di keyboard ini, sehingga semuanya bisa terselesaikan dengan lancar. *narsis mode: MAX*

Akhir kata, semoga kalian enggak nyesel setelah membaca semua tulisan gak-jelas-yang-penting-bisa-nyetor ini. Oh iya, berhubung sekarang udah tanggal 1 Syawal 1440 H, gw pribadi mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI,
TAQOBALLAHU MINNA WA MINKUM!
Mohon maaf jika ada salah-salah kata ya..



Monday, June 3, 2019

Cerpen: Sampai Jumpa Dunia


Sampai Jumpa Dunia

30HariMenulis2019_Hari_3
398 kata

“Aduuuh, aduuuuuh!!”

Aku terus meraung-raung dalam perjalanan mudikku ke arah timur. Entah kenapa sejak makan tadi malam, perutku ini terasa sangat sakit sekali. Rasanya seperti ada yang menarik-narik ususku. Sepertinya sang usus tidak bisa mencerna apa pun yang ku makan semalam. Agak aneh juga, karena biasanya makan sebanyak apa pun perutku tidak akan sesakit ini. Tapi kenapa sekarang malah bisa sampai menyiksaku? Padahal aku juga tidak punya riwayat sakit maag atau penyakit apalah yang berhubungan dengan pencernaan.

Sepertinya aku harus menepi terlebih dahulu dan beristirahat sebentar, pikirku.

Setelah menemukan tempat yang diperkirakan nyaman, aku pun menepi. Tetapi bukannya semakin membaik, perutku malah semakin melilit-lilit. Euh, apa yang harus ku lakukan sekarang? Adakah seseorang yang bisa membantuku? Saking sakitnya, mulutku sekarang sampai tak bisa mengeluarkan suara lagi. Mau berteriak minta tolong pun tidak bisa, bahkan untuk meraung-raung atau sekedar mengaduh-aduh juga tak mampu.

Mataku mencoba memperhatikan sekitar. Barangkali ada yang lewat daerah sini dan melihatku yang sedang menderita. Tapi tidak ada siapa-siapa. Jalur yang sedang ku lewati ini memang jalur sepi. Siang hari saja sepi, apalagi di malam hari seperti sekarang ini.

BRUAG.

Tubuhku yang mulai lemas ini pun terjatuh ke tanah. Dengan sisa kekuatanku aku mencoba meminta tolong sekali lagi. Tapi mungkin suara yang ku keluarkan sangat kecil sehingga tak akan sampai didengar bahkan oleh semut-semut yang mulai menggerayangi tubuhku ini.

Celekit. Rasa sakitnya makin terasa menjadi-jadi. Saking tak tahan dengan itu, tubuhku menggelinjang-gelinjang hebat. Apa kupaksakan untuk kembali jalan saja dan mencari pertolongan dari orang lain di tempat yang agak ramai? Ide bagus sih, seandainya aku bisa menggerakkan tubuhku ini. Karena sepertinya bagian bawahku sekarang sudah mati rasa.

“Tolong, tolong aku! Seseorang ... Tolong!” suara lemahku keluar, aku benar-benar tidak berdaya. Jangan-jangan ini memang akan jadi hari terakhirku di dunia. Air mata mulai mengalir dari kedua bola mataku. Apa memang ajalku harus berakhir seperti ini?

Tiba-tiba pikiranku pun melayang, memikirkan anak-anakku yang sekarang mulai beranjak besar. Mungkin sebentar lagi, mereka pun akan memamerkan calon pasangannya. Euh, semoga saja kalian bisa bahagia meski tanpa ayah kalian ini ya.

Saat pikiranku tersadar kembali, ku rasakan mual yang begitu hebat. ADUH, SAKIT SEKALI, HOEK! Mulutku pun mengeluarkan darah dan memuntahkan semua makanan  yang baru ku lahap semalam. Setelah itu lambat laun pandanganku semakin kabur, hingga akhirnya  aku hanya menjadi seonggok mayat yang terdampar di suatu daratan di bumi. Sampai jumpa dunia, terima kasih telah menjadi tempat persinggahan sementaraku selama ini.

Tamat
Bangkai Paus yang menelan banyak sampah plastik (Sumber: Jawa Pos)

Sunday, June 2, 2019

Trip Dadakan ke Bandung: Day One (Curug Cipanas Nagrak Kancah)

Curug Cipanas Nagrak Kancah


Trip Dadakan ke Bandung
Day One (Curug Cipanas Nagrak Kancah)

30HariMenulis2019_Hari_2
1.132 kata

Hari Jumat kemaren merupakan hari terakhir gw gawe sebelum libur lebaran. Bersamaan dengan itu, gajian juga pasti cair dong, meski tanpa THR karena masih karyawan baru. Hiks. Nah, gw ama temen bernama Mr. Wangsa yang entah kesambet apa tiba-tiba mutusin buat nge-trip ke Bandung. Berawal dari ngobrol-ngobrol soal rencana ngaprak setelah lebaran, eh, malah dijadiin secara instan hari itu juga. Dengan harapan kalo nge-trip bulan puasa itu tempat wisata bakalan sepi dan juga jadi lebih irit karena enggak akan banyak jajan or kulineran. Tapi beneran bakal sesuai ekspektasi kah? Atau malah kebalikannya? Penasaran? Let’s cekidot!

Jumat jam 21.00 WIB (31 Mei 2019)

Setelah perencanaan dadakan dan ga mateng tapi serius itu, gw n Mr. Wangsa segera pulang ke rumah buat nyiapun baju ganti untuk di Bandung nanti. Yep, kita emang rencanain untuk berangkat ke Bandung di malam hari ini dengan menggunakan sepeda motor. Sengaja berangkat malam buat ngehindarin macet yang mungkin terjadi di musim mudik seperti sekarang ini. Apalagi jalur yang bakal dilewatin itu seringkali jadi pusat kemacetan. Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya juga sih. Pernah kejebak macet hampir sepanjang jalan soalnya. Huhu..

Waktu menunjukkan jam 23.00 WIB saat kita udah ready dengan segala perlengkapan tempur. Mesin motor Mio J yang mau kita pake pun udah dipanasin. Saatnya berpamitan ama orang rumah dan mari kita cao. Rute yang bakalan kita tempuh yaitu via Bogor Selatan – Tajur – Ciawi – Puncak – Cipanas – Cianjur – Ciranjang – Padalarang – Cimahi – Bandung. Ngecek gugel map sih jaraknya sekitaran 120 km dan waktu tempuhnya 3 jam setengah. And sesuai prediksi, penampakan map bebas dari zona merah atau macet. Semoga elo ga bohong ya gugel map, soalnya aku tuh udah sering banget dibohongin tau gak, apalagi kalo soal hubungan. #eaa.

Wuhuu, ternyata emang enelan lho apa yang ditampilin di map itu. Dari Bogor sampe Bandung tuh perjalanan motor kita bebas dari yang namanya macet! Entahlah ya, apa mungkin para mudik-ers itu lebih milih lewat jalan tol daripada jalan gunung gini yak. Maybe yes maybe no. Meskipun perjalanan gw ini ga ada rintangan, bukan berarti waktu tempuhnya makin cepet lho. Yang ada malah sekitar jam 3.30 pagi kita baru sampe di Cimahi alias waktu tempuh sekitar 4 ½  jam. Apa pasal? Pertama, pas kita lewatin jalur Puncak, udaranya lagi dingin-dinginnya banget, jadi kita lambatin deh laju kendaraan. Kedua, kita sempat istirahat sejenak sekalian isi bensin di SPBU sekitar Cianjur. Ketiga dan yang paling lama, foto-foto di jembatan Padalarang. Hahaha..

Narsis di jembatan Padalarang
Btw, berhubung kita sampe Cimahi pas udah jam sahur, kita pun melipir ke salah satu restoran fast food yang buka 24 jam. Ternyata lumayan banyak juga ya yang sahur di resto berlogo M ini. Padahal kan makanannya ya standar, kalo ga nasi ama ayam goreng, ya burger ama kentang, atau malah burger ama nasi. Hihi. Gw pun kalo nemu warteg juga bakalan lebih milih itu, tapi berhubung ga nemu dan masih punya banyak duit di kantong, jadinya milih tempat ini deh. Heuheu..

Beres makan, pas banget waktu imsak. Gw n pren pun nyari mesjid buat laksanain Salat Subuh. Sekalian cari tempat istirahat buat sekedar rebahin tubuh ini. Berhubung tempat tujuan pertama kita itu tempat wisata di sekitaran Lembang, Bandung, kita pun belokin motor ke kiri dari jalan utama Cimahi. Untung belokannya pas banget di sebelah resto, jadinya ga perlu nyari-nyari lagi. Belum juga kita jalan jauh, masjid pun udah ketemu. Langsung deh parkirin motor, dan laksanain Salat di situ.

Sehabis Salat, ternyata mata jadi berat. Alhasil selain rebahin badan, kita pun jadi numpang tidur di situ. Wekeke.. Lumayan lah, kurleb 2 jam si mata dikasih istirahat. Hingga jam 7 pagi, kita mutusin untuk kembali lanjutin perjalanan.

Sabtu Pagi (1 Juni 2019)

Secara perlahan namun pasti, kita pun terus macu kendaraan via jalur perbatasan Cimahi – Lembang.  Udara dingin pagi itu mau gak mau jadiin kita lebih pelanin speed motor. Sumprit, udara sini ampir ga beda jauh ama udara pas gw lewatin Puncak Bogor tadi malem. Ngecek di aplikasi cuaca di HP, ternyata suhunya sekitaran 18 derajat Celcius. Lumayan juga yah.

Oh iya, berhubung udaranya dingin gini, gw ngasih saran ke temen untuk ngunjungin pemandian air panas. Yang pasti bukan Ciater yang jauh nan mahal itu. Gw ngusulin untuk pergi ke Curug Cipanas Nagrak Kancah. Hayoo, warga  Bandung-nya juga pasti masih banyak yang belum pada hafal atau tau tempat itu ya? Letaknya ada di Desa Nagrak Kancah, Lembang, Parongpong, Bandung. Atau kalau masih mau kepo, cek aja di peta, terus ikutin deh petunjuk arahnya. Tapi jangan terlalu percaya ama mbah Gugel ya, entar disasarin kayak gw.

Yeah, gw ama temen saat itu sukses dibikin linglung ama si peta. Lagian di peta itu yang ditunjukin malah via jalan Nagrak Kulon. Setelah nanya-nanya akamsi, ternyata lokasinya ditutup portal. Kita pun ditunjukin jalan yang lurus, eh, jalan  yang bener oleh mereka yaitu via Desa Nagrak Kancah. Rupanya cuma beda satu gang doang. Wekeke.. Tapi biarpun kita udah di jalan yang bener, petunjuk jalan masih minim euy, akhirnya buat yakinin hati yang galau ini, kita pun nanya-nanya lagi, and yes, jalurnya ga salah dong. Ahay.

Sekitar 500 meter macu motor dari mulut gang, kita pun sampe di tempat parkir yang memanfaatkan halaman rumah warga sekitar. Setelah itu kita ditunjukin gang kecil dan voila, Curug Cipanas Nagrak ada di depan mata. Penampakan curug di pagi itu bener-bener yahud deh. Asap hangat mengepul dari aliran air dan kolam di bawahnya yang berwarna kehijauan. Pokoknya ngundang hasrat kita untuk segera nyebur deh. Plus ngundang hasrat untuk selfie-selfie ria. Hehe..

Selfie ala-ala
Sepi kayak kolam pribadi

So, ga perlu waktu lama dong, kita pun segera untuk nyebur ke salah satu kolamnya. Pas masukin kaki, suhu airnya lumayan panas, eh, pas masukin seluruh bodi, airnya jadi anget-anget kuku doang. Tapi lumayan lah, suhunya pas banget buat mereka yang males mandi di cuaca yang lagi dingin kayak sekarang ini. Lagipula tiket masuknya cuma 15 ribu doang lho. Ga akan rugi-rugi amat lah ya, apalagi pemandangan sekitarnya pun masih alami. Beda dengan pemandian air panas Ciater yang udah dikelola swasta dan udah dijadiin kolam renang, sehingga kurang alami.

Tapi, berendam air panas di sini ternyata gak boleh lama-lama. Karena kadar belerangnya yang masih tinggi. Jadi ga usah heran kalau bau belerangnya juga sangat menyengat di hidung kita. Eit, tapi kelebihan dengan adanya belerang ini ternyata malah bikin kulit kita sehat. Buat kelen-kelen yang punya penyakit kulit, segeralah mandi di pemandian air panas ini. Dijamin sembuh! << Asal sebelumnya ke dokter spesialis kulit dulu *sama aja boong*.  XD

Gak kerasa, udah sekitar dua jam gw ngejoglog di pemandian air panas yang berasa private karena sepi pengunjung ini (ya iyalah bulan puasa gitu lho). Gw pun mutusin untuk kembali lanjutin perjalanan. Target berikutnya, CIC (Ciwangun Indah Camp), Curug Pelangi Cimahi, dan tentunya Bandung Kota. Eit, tapi sabar dulu ya, field report itu bakalan ada di postingan berikutnya, alias bersambung gitu lho *dihajar massa*.

So, jangan dulu dipindah channelnya ya, and see u di postingan berikutnya.


Saturday, June 1, 2019

30 Hari Menulis Hari ke-1

30 Hari Menulis 2019

#30HariMenulis2019_Hari_1
#342kata

*Lirik kalender* 

Wah, ternyata sekarang udah bulan Juni euy. Berarti saatnya gw mencoba untuk menerima tantangan 30 hari menulis lagi di tahun ini, yey! Cuma kesel ih, soalnya gw kira eventnya bakal diundur tanggalnya kayak tahun kemaren, karena bentrok ama lebaran di awal bulan ini. Eh, gak taunya eventnya masih aja dilaksanain sesuai tanggal. Selidik punya selidik, alesan adminnya bikin event tetep on track katanya supaya lebih menantang buat para peserta event 30 hari menulis tahun 2019 ini. Yeah, apapun alesannya itu gw tetep excited dong buat ikutan. Apa pasal?

Alesan pertama, supaya bisa mencambuk gw yang mulai males nulis lagi. Emang sih ketauan banget kalo gw tuh rajin nulis pas event ini aja. Selebihnya paling juga sebulan cuma ngehasilin satu dua tulisan aja. Bahkan enggak ada sama sekali. Haha..

Nah, kalo udah kecambuk dan rajin nulis lagi 'kan jadi bisa masuk ke alesan kedua, yaitu supaya blog gw yang rada terbengkalai di tahun ini bisa kembali update. Terus kalo udah update, semoga aja jadi banyak yang baca lagi. Amin.

Selanjutnya semoga aja berkat event di tahun ini gw bisa nambah banyak fans, eh, maksudnya temen lagi. Atau mungkin ketemu jodoh? #ngarep. Diliat dari jumlah peserta, kayaknya untuk tahun sekarang makin banyak aja ya. Mungkin karena tahun sekarang juga dilaksanainnya di grup Nulis Aja Dulu yang kebanyakan membernya belum pernah ikutan event 30 hari menulis. Jadinya pada ngerasa tertantang juga keleus ya. Hmm, semoga tulisannya ga pada amoral kayak salah satu admin grup tersebut deh (tau kan siapa? Wekeke).

Terus yang pasti gw juga bisa belajar dan menelaah (ciee, menelaah) tulisan yang lain juga gitu lho. Buat bisa nulis yang bagus, kudu rajin baca juga 'kan? Ahay.

Akhir kata, semoga gw bisa nyelesein tantangan ini sampai beres.. res.. res... Ganbatte, doakan hamba ya! #fingercross.

NB:
- Oh iya, denger-denger buku dari peserta event 30 hari menulis 2018 udah masuk tahap produksi nih. Moga aja segera naik cetak ya. Terus semoga aja gw bisa ikutan berpartisipasi lagi dan ngisi salah satu ceritanya lagi.
- Tulisan hari pertama ini ditulis dalam perjalanan ngaprak ke Lembang, Bandung. :p

Saturday, May 18, 2019

Cerpen: Keluh Kesah

#cerpen

Keluh Kesah

“Ih, sebel banget sih!” ujar temanku saat dia masuk ke tempat peristirahatan kami.

“Kenapa?” tanyaku singkat.

“Ya itu, si bos!” gerutunya. “Ini udah ketiga kalinya dia make gua tau ga! Udah kayak minum obat aja. Mana ga pake info-info dulu lagi, maen narik gua, terus keluar masukin gitu deh..”

“Eit, tunggu-tunggu, too much information banget nih, stop di situ..” cegahku menghentikan ocehannya. “Tapi kan, bukannya kita memang dibayar untuk itu? Harusnya ga usah ngeluh dong?”

Matanya langsung mendelik.

“Iya, kita dibayar. Dan gua juga profesional dong, selalu siap layanin dia. Tapi ga sampe kayak gini juga lah. Kasar banget tau ga! Liat nih, rambut gua aja ampe berantakan ga keruan kayak gini. Duh, susah ini mah rapihinnya lagi!”

Bibirku menyunggingkan senyum melihat penampakannya.

“Yee, malah ngetawain..” sungutnya lagi. “Pokoknya gua nyesel udah ngambil kerjaan ini. Jijik banget deh. Apalagi tiap bersentuhan dengan bibirnya yang seringkali masih bau itu. Terus kecium banget setiap kita beradu, dia tuh emang ga pernah mandi dulu kayaknya! Ngeselin kan?”

“Yah, padahal cuma gitu doang atuh, sob. Masa udah ngeluh?”

“Gitu doang gimana? Elo mah enak jarang dipake. Mana ngerti keadaan gua sih!”

Mendengar jawabannya itu aku terkekeh, “Yakin? Terus lo mau jadi gua?”

Pandangan matanya menelisik setiap jengkal tubuhku, kemudian dia pun berkata, “Hmm, enggak deh.”

Yeah, sudah kuduga jawabannya akan seperti itu. Apalagi setelah dia melihat keadaanku yang carut marut meskipun jarang dipake.

“Terus.. Elo masih mau ngeluh ama pekerjaan lo, Sigi?”

“Hehe.. Ampun.. Kayaknya gua salah curhat ke elo ya. Soalnya pekerjaan lo emang lebih parah dari gua kayaknya..” sesalnya.

“Ya iyalah, gua mah sekali dipake udah bukan keluar masuk lewat depan lagi. Tapi lewat bawah, harus nyiumin lubang bawahnya pula. Iya kalo pas sekitar situnya bersih, lah ini seringnya masih ada sisa-sisa si ‘kuning’ yang nempel. Huek!”

Temanku hanya terdiam.

“Makanya seberat apapun kerjaan lo, harusnya lo bisa bersyukur, karena bakal ada yang pekerjaannya lebih ngenes lagi..”

“Iya juga ya.. Gua mah cuma sikat gigi, sedangkan elo sikat WC. Huft.. Oke dah, gua bakalan lebih nerima kerjaan gua dan bakal semangat lagi.”

“Nah, gitu dong.. Itu baru Sigi yang gua kenal..” setelah aku berkata seperti itu, pintu kamar terbuka, aku pun berbisik kepada Sigi.. “Sst, tuh si Bos kayaknya dateng lagi mau make lo, kayaknya dia lagi sakit gigi ya jadi rajin nyikatnya.. Cemungudh eea, pleen! Hehehe..”

Sekian


NB: Hanya cerpen iseng. Pis ah! Wekekeke

Tuesday, February 12, 2019

Cerpen: Tanggung

Genre: Komedi, Dewasa

Tanggung

Suara gemerisik kakiku terdengar saat aku melewati rumput di sebuah lapangan dalam perjalanan pulang setelah aku mencari makan. Yeah, perutku sangat kenyang sekali sekarang. Lumayan lah, tadi aku sudah dikasih makan gratis oleh seseorang yang ada di restoran itu. Meskipun akhirnya aku harus rela beberapa bagian tubuhku dipegang dan dielus-elus olehnya. Segampang dan semurahan itukah diriku, hanya demi makanan gratis? Ah, lagian baru digerayangi seperti itu sih, belum termasuk jual diri kan? Lagipula aku juga menikmati sensasi sentuhannya. Hmm, semoga saja aku bisa bertemu dengannya di lain waktu saat aku datang lagi ke tempat itu.

Ngomong-ngomong soal perut kenyang, tiba-tiba aku pun jadi teringat dengan nasib anak-anakku, si kembar tiga. Apa mereka sudah makan juga ya? Maafkan ibu kalian ini, karena telah menelantarkan kalian begitu saja. Bukannya aku tidak sayang kepada kalian, untuk mengurus diri sendiri saja susah begini, apalagi harus ketambahan mengurus kalian. Tapi aku yakin kalian baik-baik saja sekarang, karena aku membuang kalian di depan rumah besar itu. Aku tahu penghuni rumah itu hanya tinggal sendiri, jadi pasti dia akan menerima kalian dengan baik.

Euh, tiba-tiba saja aku berjalan sempoyongan, mataku pun tiba-tiba gelap, dan kepalaku juga terasa pusing. Seperti yang kuduga, memori soal tragedi pemerkosaan di malam itu bangkit lagi. Beginilah, setiap kali aku teringat dengan anak-anakku, aku juga akan ingat tragedi itu. Masalahnya ayah mereka-yang entah siapa- itulah pelaku pemerkosaku. Dan setiap kali aku mencoba mengingat rupanya, pasti badanku tiba-tiba lemah seperti ini. Karena otakku sepertinya jadi berpikir keras untuk membangkitkan memorinya. Tapi sayang, saat itu sangat gelap, sehingga yang kuingat darinya hanya bau tubuhnya dan betapa beringasnya dia saat menyetubuhiku (harus kuakui, aku sedikit menikmatinya).

Ish, sudah ah. Ngapain juga kubangkitkan lagi ingatan itu. Mendingan sekarang aku harus segera kembali ke peraduanku sebelum gelap tiba. Entah ini hanya perasaanku saja, tapi kenapa aku merasa suasana perkampungan terasa sangat sepi ya saat ini, padahal matahari sore masih belum terbenam.

Suasana dingin tiba-tiba hinggap di tubuhku, aku pun langsung mempercepat langkahku. Degup jantungku terasa makin berpacu. Ada apa ini? Feeling-ku mulai berasa tak enak dan mendeteksi akan ada bahaya. Semoga sih tidak ada kejadian apa-apa, tapi tahu sendiri kan, feeling wanita biasanya selalu benar.

Sresek.. Sresek.. 

Telingaku menangkap suara dari arah belakang. Apa ada yang mengikutiku? Kutengokkan kepalaku ke arah suara itu, tidak ada siapa-siapa. Ya sudahlah jalan lagi saja. Eh tapi, siapa itu yang ada di depan?

“Mau kemana sih, buru-buru amat?” ucap cowok yang mencegatku.

“Minggir! Mau apa kau?” bentakku, mencoba memberanikan diri.

Namun bukannya takut, dia malah mendekat dan berkata, “Sudah lupa?”

DEG. Bau tubuh ini! Di-dia, jangan-jangan...

Aku pun langsung menghindar ketika dia mulai ada gelagat akan menyergapku. Setelah itu aku berlari sekuat tenaga melewati perkebunan hingga akhirnya aku sampai di pemukiman padat.

“TOLOONG!” teriakku, tapi sepertinya tak ada yang datang. “Tolong, ada yang mau memerkosaku!! To..”

Teriakanku tiba-tiba terpotong. Ternyata dia berhasil menangkapku. “Hey, jadi kau masih ingat ya? Terus kenapa mesti teriak minta tolong? Perasaan waktu itu kau diam saja, pasti genjotanku nikmat kan? Ga ketagihan?”

Uh, dasar pejantan mesum, pikirku. Kukerahkan tenaga terakhirku untuk bisa lepas dari cengkramannya, dan berhasil. Aku kembali berlari, melewati gang-gang sempit yang ada. Mudah-mudahan dia kesasar dan tidak menemukanku.

Ups, aku salah. Ternyata malah aku yang kesasar. Aku terjebak di gang buntu yang diapit oleh dua rumah kecil. Saat aku berbalik, ternyata dia sudah ada di mulut gang. Wajahnya menyeringai, sepertinya tahu kalau mangsanya sudah tak berdaya.

Dia pun langsung menerkamku dengan sekuat tenaga. Aku terjatuh. Setelah itu tubuhku diposisikan tengkurap olehnya, lalu dia cengkeram bagian pundakku, agar aku tidak memberontak. Tapi bagaimana bisa melawan, gerak sedikit saja, cakarnya terasa menggoresku, saking kuat tenaga genggamannya. Kemudian dia singkap apapun yang menghalangi lubang miss v-ku. Dan akhirnya dia tusukkan kemaluannya dari belakang. Kurasakan penisnya yang kecil namun keras itu masuk ke   dalam tubuhku.

“Oh.. Ah..” napasku mulai menderu. “To.. long.. Hen.. tikan!” Kata-kataku terpotong di setiap genjotannya.

Tapi dia tak peduli, bahkan dia malah jadi lebih beringas. “Yakin? Paling awalnya saja kau berontak, setelah itu pasti kau menikmati, seperti waktu dulu..”

“Ah.. Oh.. Pelan-pelan... Dong! Ah.. Enak..”

“Tuh kan. Haha! Sudah jangan berisik, nanti ada yang dengar!”

“Abisan.. Enak.. Mas.. Ouh..”

Kurasakan gerakan maju mundurnya semakin cepat. Tubuhku pun jadi menggelinjang dibuatnya. Merasakan tubuhku bergerak, dia pun menggigit leherku dengan manja, agar aku kembali diam. Hmm, gigitannya bikin geli tapi nikmat..

“Ah... Ah.. Ah...” Kali ini napasnya yang menderu, sepertinya dia akan orgasme.

Tapi sebelum dia keluarkan cairan kehidupannya, tiba-tiba saja dari dalam rumah di sebelah gang, ada air menyembur keluar dari jendelanya. Kami yang masih dalam posisi indehoy tak bisa menghindar, sehingga  tubuh kami pun jadi kebasahan. 

“WOY, KUCING-KUCING SIALAN.. KALO KAWIN JANGAN SEBELAH RUMAH GUE! SANA GIH DI KEBON, BERISIK AJE! UDAH SANE MINGGAT, GUE SEBLOK AIR LAGI NIH!”

Huft, dasar manusia bedebah! Mengganggu kenikmatan kami saja. Akhirnya terpaksa kami sudahi perkimpoian ini. Padahal kan lagi tanggung! Dengan perasaan kesal, aku pun melenggang keluar dari gang itu, meninggalkan si pejantan  yang sepertinya masih syok dan pusing karena si dedeknya tidak jadi muntah. Yang penting sekarang aku sudah tahu penampakannya, ternyata dia memang mirip anakku, yang kebanyakan berwarna belang putih dan kuning. Lain kali kita lakukan sampai selesai ya, mas!

Tamat

NB: Semoga ga pada illfeel ya pas tahu siapa sebenernya si sudut pandang pertama. Peace ah! Hehe..

855 kata