Thursday, June 4, 2015

#30hariMenulis hari ke-4: Heri Punten is back

Well, sebenernya fanfic ini teh niatnya buat challenge pas hari bahasa yang diadain ama Ambu, tapi berhubung pada saat itu kesibukan (dan kemalesan) melanda, hanya bisa menjadi draft doang. Tapi untunglah berkat event #30hariMenulis yang challenge di hari ke-4 harus menulis fanfic yang menggunakan karakter film, fanfic Harry Potter (yang gada Harry Potter-nya) ini bisa kelar. Btw, buat yang baru baca fanfic Heri Punten, masih ada fanfic sebelumnya yang bercerita tentang dia lho! Tapi tenang, kalopun belum baca yang sebelum-sebelumnya, fanfic si Heri Punten ini tetep bisa dibaca, karena antara satu cerita dan yang lain tetep berdiri sendiri. :D

So, lets cekidot yo!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Rebo Nyunda

Heri Punten –siswa muslim satu-satunya di Hogwarts- sedang termenung. Dia sedang memikirkan bagaimana kabar keluarganya di Bogor. Maklum, di liburan tahun baru sekarang ini dia tidak bisa pulang ke sana, dan hanya bisa menghabiskan liburan tahun baruan ini bersama ibunya saja di Inggris. Eit, inget lho, Heri mah ngehabisin liburan tahun baruan, bukan merayakan, karena tahun baru Islam mah ada di 1 Muharram alias pake kalender Qomariyah.

“Mom..” panggil Heri kepada ibunya ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman sekitar komplek tempat tinggal mereka yang serba putih karena salju (NB: pas pertama liat ada salju, si Heri kumpulin saljunya terus dikasih sirup lho! Dia kira es serut kali ya!)  “Ari surat balesan ti si Daddy tos aya?”

Ceu Lili, ibunda Heri langsung menengok ke arah Heri dan berkata, “Teu acan da. Paling ngke weungi geura. Soalna ayeuna ujan saljuna keur tebel sih, Buweuk-na pasti nyasar.  Oh iyah, ulah nyaur nganggo Mom atau Daddy deui ah, asa teu raos ngadanguna, tetep nyaur Umi jeung Bapa weh nya! Da urang mah tinggal di lembur batur ge tetep tuangna ala Sunda, teu tuang nganggo roti jeung kejo kos bule-bule!”

“Siap, Umi!” balas Heri sambil tersenyum. Padahal dia mah emang sengaja manggil ibunya dengan sebutan itu, buat ngegodain ibunya yang tidak suka dipanggil ala bule. Hihi, dasar Heri!


Jam demi jam terus bergulir, tak terasa waktu malam telah tiba. Dan benar saja seperti perkiraan Ceu Lili, jendela kamar Heri ada yang ngetuk-ngetuk, tanda si buweuk atau burung hantu yang mengantar surat dari kang James (tetep baca Ja-Mes yah!) alias Ayah Heri sudah datang. Langsung saja Heri mengambil cermin di dekatnya, setelah memastikan dirinya tetap tampan seperti biasa, dia pun membuka jendela. Si burung hantu segera melesak masuk setelah jendela terbuka, dia ber-uhu-uhu kesal karena Heri malah bernarsis ria sebelum membiarkannya masuk, seakan mau bilang, ‘Di luar teh tiris nyaho!’. Heri yang sadar dengan tingkah polah hewan itu langsung memberinya kain sarung yang biasa dia pakai untuk tidur, lalu memberinya biskuit. Mungkin, saking capek plus Heri kebanyakan memberi biskuit dan juga karena kain sarungnya bau hangseur (pesing), si burung hantu pingsan, eh, tertidur.

Heri pun mengambil surat di kaki burung yang bernama Wakwaw itu, dia buka amplopnya kemudian dia membaca isinya:

‘Assalamu’alaykum, anak bapa anu kasep –kos bapana-,

Punteun pisan nya, Heri teu tiasa uwih kadieu di liburan ayeuna, maklum weh nya, bapa ge teu pere keur kamari ge, lembur terus euy. Tapi tenang we, ieu bapa kirimkeun poto-poto ti baraya di Bogor, sadayana ge kangen pisan ka Heri ceunah. Oh, muhun, bapa oge kirimkeun ramuan ti si Mbah Dalem, ceunah mah ramuan na paranti nu kangen ka kampung halaman. Tinggal campurkeun ramuanna ka kaemaman di sakola Heri weh geura. Dijamin engke Heri ngarasa keur aya di kampung.

Atos kitu weh nya ti bapa, salam ka Propesor Dumbledore, tenang, bapa tos ijin ka anjeunna soal ramuan eta, terus bapa nitip kirimkeun resep ieu paragi peri rumah di Hogwarts oge nya. Nuhun.

Bapa Heri nu ganteng tea,
Ja-mes’

Heri tersenyum setelah beres membaca surat dari ayahnya itu. Apalagi ketika melihat foto-foto keluarganya yang sedang ‘cucurak’ di Kebun Raya Bogor, untung saja Heri meminjamkan kamera sihir kepada ayahnya, sehingga keluarganya yang ada di foto sekarang sedang melambai-lambaikan tangannya kepada Heri. ‘Duh, bikin tambah kangen wae atuh ieu mah..’ batin Heri.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Liburan musim dingin pun usai, Heri dan semua murid telah berada di sekolah Hogwarts lagi. Dan tentu saja, hal pertama yang Heri lakukan pas dia sampai di Hogwarts adalah memanggil Dobby sang Peri Rumah, yang berhutang budi padanya karena telah membuatnya merdeka dari perbudakan. Walaupun sebenernya itu juga karena ga sengaja. Jadi waktu itu teh si Heri lagi ngorong alias ngupil sambil jalan ke ruangan Kepala Sekolah. Nah, pas Heri berhasil mendapatkan upilnya, dia bulet-buletin dulu terus dia sentil upilnya. Eh, tak dinyana, keluar Mr Malfoy dari ruang Kepsek, dan si upil pun menempel di ujung hidungnya. Karena merasa jijik (lebih tepatnya jaim, kalau ga ada orang mungkin upilnya udah dia makan), Mr Malfoy menyentil upil itu, dan si upil mental ke arah Dobby di sebelahnya. Dobby yang merasa telah diberi hadiah oleh sang majikan, merasa dia telah dibebaskan. Jadinya, sampai sekarang, dia selalu mau menuruti perintah Heri, apalagi kalau Heri sudah memberi dia bonus upil galian barunya lagi, karena Dobby suka rasanya, asin-asin kecut gitu katanya.

Balik lagi ke Heri, Heri memanggil-manggil Dobby di dapur Hogwarts tempat dia sekarang bekerja, “Dobby, wer ar yu? Dimana silaing teh?”

Tak berapa lama, terdengar suara dari belakang Heri, rupanya Dobby ber-Apparate di situ.

“Wilujeung Weungi, kang Heri Punten, Sir!” sapa Dobby. Oh iya, saking ngefansnya Dobby kepada Heri, dia sampai belajar bahasa Sunda, agar terasa lebih akrab dengannya. “Aya kaperluan naon, akang nyaur abdi?”

“Ieu, Dobby, pangnyampurkeun ramuan ieu ka kaemaman nu bade disajikeun enjing di aula besar, nya? Terus, ieu resep kaemamanna. Tenang, Propesor Dumbledore ge tos ngijinan sadayana da..”

“Sumuhun, kang, siap! Dobby mah lamun Propesor Dumbledore can ngijinan oge, tetep bakal ngalakukeun parentah ti kang Heri Punten, Sir!” cicit Dobby terlihat serius. “Atos kitu wae parentahna?”

“Iyah, atos kitu we, nuhun nya..”

TAR. Dobby ber-Disapparate lagi, dan Heri pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat agar bisa memulai pelajaran esok hari dengan kondisi yang fit.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Esok paginya Heri terbangun, mengucek-ngucek matanya sebentar lalu mengambil kacamatanya. Dia melirik ke kanan, ranjang Ron telah kosong. Heri kangen ama sahabatnya itu, tapi kemaren pas dia datang, Ron sudah tidur, eh, sekarang malah ga ada. Heri melirik jam tangannya, dan dia pun sadar kenapa Ron sudah tidak ada di ranjang, dia bangun kesiangan, mana pelajaran pertama mereka Ramuan yang 5 menit lagi akan dimulai. Heri segera merapikan ranjangnya, mengganti bajunya, kemudian mengambil segelas air putih untuk dia minum. Eh, bukan untuk diminum, tapi dia ambil air untuk dia kepretin ke mukanya, biar keliatan seger. Setelah itu dia pun berlari keluar, berharap bisa tepat waktu tiba di kelas Ramuan.

Heri berlari terus sepanjang koridor Hogwarts, menuruni anak tangga untuk sampai ke ruang bawah tanah tempat kelas Ramuan berada. Akhirnya dia pun sampai di depan kelas yang sayangnya pintunya telah tertutup yang artinya Prof Snape sudah berada di dalam kelas. Memang dasar nasib Heri, padahal telatnya hanya 1 menit 3 detik. Heri pun membuka pintu, dan betapa kagetnya dia saat masuk ke kelas itu, karena rupanya kelas dipakai oleh angkatan tahun ke-4, bukan angkatan Heri. Heri baru ingat, mereka kan pulang dari liburan itu hari Selasa, jadi sekarang itu hari Rabu, bukan Senin, jadi seharusnya pelajaran pertama dia adalah Herbologi.

Semua mata pun memandang Heri (sepenglihatan Heri sih pada memandang sambil berbinar-binar, saking kerennya Heri kali ya?), tak terkecuali Prof Snape. Dan akhirnya, Heri harus terkaget-kaget lagi saat Prof Snape berkata, “Mr Punten, ari silaing teh ngalindur? Pake salah asup kelas kadieu? Cik atuh sibeungeut heula, eta belek ge masih ayaan. Makana tos Sholat Subuh teh ulah sare deui, apa malah labas teu Sholat Subuh?”

Heri tercenung. Prof Snape berbahasa Sunda? Terus cara Prof Snape memarahi Heri juga mengingatkan Heri dengan guru ngajinya di kampung kalo lagi marah.

“Mr Punten! Kunaon malah ngajentung hungkul di dinya? Geura ka kelasna nu bener ditu.. Saencan pak guru mutuskeun ngadetensi maneh!”

“Eh, iyah, Prop, punteun pisan nya.. Maap!” balas Heri, lalu dia berbalik pergi, dan terus berlari menuju kelas Herbologi. Dalam pikirannya Heri masih merasa bingung, ‘Kok tiasa nya, Propesor Snape teh nganggo basa Sunda?’

-=--=--=-=

Tak terasa sudah jam makan siang. Pelajaran pertama Heri selesai. Beberapa saat Heri masih tercenung. Dia masih memikirkan soal Prof Snape berbahasa Sunda, bukan itu saja dia pun tambah kaget ketika Prof Sprout mengajar Herbologi dengan bahasa Sunda juga. Bahkan, semua teman Heri juga berbicara bahasa Sunda.

“Beuh, buset, tadi palajaran Herbologi meuni rieut euy. Mana tugasna kudu nyieun essai sapanjang 30 senti!” keluh Ron ketika mereka berjalan ke Aula Besar.

“Ah, maneh mah emang teu merhatikeun nu diajarkeun tadi weh. Tadi Prof Sprout kan tos nerangkeun meuni jentre pisan. Terus tinggal milarian tambahan bahanna di perpustakaan we eta mah..” timpal Hermione, yang seperti biasa menjadi  ‘Neng Nyaho Sagala’ alias ‘Miss Know-It-All’.

“Huu, engke urang nyonto ka essai maneh weh nya, Hermione! Hehe..” kata Ron dibalas dengan tatapan tak percaya dari Hermione. “Eh, he-eh, Heri.. Naha titadi maneh cicing wae euy? Nyeuri huntu sugan? Apa sariawan?”

Benar juga. Heri yang sedari tadi masih belum bisa menerima keadaan sekolahnya yang full nyunda jadi agak pendiem. Heri masih syok, meskipun dalam batinnya yang terdalam dia merasa senang sekali karena suasana di Hogwarts jadi mirip dengan ketika dia bersekolah di SD-nya dahulu.

“Hoi, Heri! Malahan ngahuleung maneh mah!” seru Ron lagi.

“Uh, oh, maap. Tadi Heri kapikiran pemotretan pas liburan kamari. Tos diterbitkeun can nya majalahna?” kilah Heri.

“Ah elah, jadi model iklan panu hungkul ge, nu kacetak ge bagian tonggongna doang pan? Haha..”

Heri tertawa, kemudian menjitak kepala Ron.

“Ngomong-ngomong, Ron, Hermione, aranjeunna nyadar teu ti keur enjing nyariosna nganggo basa Sunda?” akhirnya Heri menanyakan pertanyaan yang mengganjal pikirannya sedari pagi.

“Basa Sunda?” Hermione terlihat bingung. “Titadi pun abdi mah nyariosna basa Inggris kos biasa ah. Ngan Heri hungkul anu nimpalan nganggo basa Sunda, tapi da urang-urang mah tos ngarti sakedik-sakedik naon nu dicarioskeun ku Heri..”

“Si Heri beneran masih ngalindur sigana yeuh. Tadi isuk oge pan ampe salah asup ka kelas Ramuan. Ajib, nya, kakarak asup sakola deui geus meunang panglarisan Snape nu ngambeuk.”

“Terus, weh, Ron, terus.. Meuni resep pisan nya ningali Heri tersiksa.. Sungguh ter.. la.. lu.. Awas weh, engke moal ditambutkeun deui kaset Nining Maida.”

“Ih, kitu si Heri mah pundungan, maap atuh, nya.. Terus ayeuna weh atuh minjeum kaset Nining Maida-na, mumpung ayeuna urang geus boga walkman nu tos dimodif ku babeh urang.”

“Ya, ya, ya..”

Dan heri pun masih bingung. Jadi sebetulnya mereka sadarnya itu masih berbicara dengan bahasa Inggris? Tapi yang Heri dengar adalah bahasa Sunda. Hmm, yowislah, apapun itu Heri merasa tentram dengan segala dialog berbasa Sunda yang dilontarkan oleh teman-temannya bahkan oleh gurunya sekalipun. Membuat Heri merasa berada di kampung halaman.

Tring. Tiba-tiba Heri jadi keingetan dengan surat yang dikirim oleh ayahnya. Kemarin kan ayahnya itu mengirim ramuan untuk yang sedang rindu kampung halaman. Jangan-jangan fungsi ramuan itu adalah seperti yang sekarang terjadi, membuat semuanya seakan berbahasa sesuai bahasa kampung halaman Heri. Dobby juga sepertinya sudah sukses menyampurkan ramuannya di makanan yang disajikan ketika sarapan. ‘Bener-bener, aya-aya wae si bapa teh,’ batin Heri sambil tersenyum setelah menyadari semua yang terjadi. Akhirnya, setelah dia mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang, dia semakin rileks dan memanjakan diri dengan bercengkrama bersama teman-temannya yang berbahasa Sunda juga.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Semua pelajaran di hari itu telah usai, perut Heri mulai keroncongan, sindenan, bahkan dangdutan. Sekarang saatnya makan malem di aula besar. By the way, sepertinya efek ramuan dari ayah Heri sudah mulai pudar, karena sekarang sudah kembali pada ngomong Inggris lagi. Tapi tak apalah, meskipun efeknya hanya setengah hari tapi cukup membuat perasaan kangen terhadap kampung halaman Heri terobati. Eit, tapi tunggu dulu, sepertinya kejutan dari Ayah Heri belum usai, karena ketika Heri masuk aula besar, makanan yang tersaji adalah makanan-makanan sunda semua. Ada kerecek oncom, pepes gurame, bakakak hayam, semur jengkol, sayur aseum, lauk asin, tahu dikecapan, tempe orek, dan ada sambel terasinya juga plus lalapannya! Lagi-lagi, ini pasti sesuai resep yang diberikan ayahnya dan resep itu sukses diterapkan oleh Dobby juga.

Murid-murid Hogwarts yang baru melihat makanan khas Sunda ini masih belum ada yang menyentuh piring di dekatnya. Mungkin mereka masih belum tahu bagaimana enaknya makanan ini. Alhasil, mau tak mau Heri yang mesti duluan menciduk makanan yang ada di meja panjang aula besar itu. Dengan lahap dia makan semua makanan yang tersaji, kemudian dia pun menatap ke arah Ron dan Hermione yang terlihat masih ragu, lalu berucap, “Subhanallah, nikmat mana yang engkau dustakan! Ajiiiib! Yuk ah gabung!”

Ron dan Hermione berpandang-pandangan sesaat, kemudian mereka duduk di dekat Heri dan mulai menyantap makanan yang berada di depan mereka. Di suapan pertama, mata mereka langsung berbinar saking enaknya, kemudian dengan semangat menyendok suapan lainnya. Akhirnya setelah melihat trio Heri, Ron, Hermione yang begitu lahap menyantap makanan yang tersaji itu, murid yang lain pun ikut tergoda dan merasakan hasrat kepuasan yang sama seperti Heri. Bahkan, Heri pun sempat mendengar Draco Malfoy bergumam, “Ajiiib!” kepada Crabbe dan Goyle.

Wih, pokoknya beneran deh, hari ini surprise dari ayahnya dapet banget. Full dengan feeling kampung halaman. Yah, meskipun hanya sehari, tapi sukses berat membuat kegalauan Heri hilang seketika. ‘Nuhun pisan nya, pa.. Pokona mah Sunda Rocks! Keluarga Punten Rocks oge!’

Tamat

NB: Nanti subtitle dialognya menyusul yak. Soalnya udah keburu deadline. Hahaha.. And dont forget to leave your comment. Teng kiyu.

2 comments:

Tika said...

Mana terjemahannya, Bay?
Btw, buweuk itu kalo orang Jawa yg baca bisa ngakak kejengkang dah 😂😂

A-Bye said...

Ish, baru nyadar subtitlenya belum terbit yak.. Ntar ah bikin subnya sekalian posting ke HPI