Showing posts with label heri punten. Show all posts
Showing posts with label heri punten. Show all posts

Thursday, June 4, 2015

#30hariMenulis hari ke-4: Heri Punten is back

Well, sebenernya fanfic ini teh niatnya buat challenge pas hari bahasa yang diadain ama Ambu, tapi berhubung pada saat itu kesibukan (dan kemalesan) melanda, hanya bisa menjadi draft doang. Tapi untunglah berkat event #30hariMenulis yang challenge di hari ke-4 harus menulis fanfic yang menggunakan karakter film, fanfic Harry Potter (yang gada Harry Potter-nya) ini bisa kelar. Btw, buat yang baru baca fanfic Heri Punten, masih ada fanfic sebelumnya yang bercerita tentang dia lho! Tapi tenang, kalopun belum baca yang sebelum-sebelumnya, fanfic si Heri Punten ini tetep bisa dibaca, karena antara satu cerita dan yang lain tetep berdiri sendiri. :D

So, lets cekidot yo!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Rebo Nyunda

Heri Punten –siswa muslim satu-satunya di Hogwarts- sedang termenung. Dia sedang memikirkan bagaimana kabar keluarganya di Bogor. Maklum, di liburan tahun baru sekarang ini dia tidak bisa pulang ke sana, dan hanya bisa menghabiskan liburan tahun baruan ini bersama ibunya saja di Inggris. Eit, inget lho, Heri mah ngehabisin liburan tahun baruan, bukan merayakan, karena tahun baru Islam mah ada di 1 Muharram alias pake kalender Qomariyah.

“Mom..” panggil Heri kepada ibunya ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman sekitar komplek tempat tinggal mereka yang serba putih karena salju (NB: pas pertama liat ada salju, si Heri kumpulin saljunya terus dikasih sirup lho! Dia kira es serut kali ya!)  “Ari surat balesan ti si Daddy tos aya?”

Ceu Lili, ibunda Heri langsung menengok ke arah Heri dan berkata, “Teu acan da. Paling ngke weungi geura. Soalna ayeuna ujan saljuna keur tebel sih, Buweuk-na pasti nyasar.  Oh iyah, ulah nyaur nganggo Mom atau Daddy deui ah, asa teu raos ngadanguna, tetep nyaur Umi jeung Bapa weh nya! Da urang mah tinggal di lembur batur ge tetep tuangna ala Sunda, teu tuang nganggo roti jeung kejo kos bule-bule!”

“Siap, Umi!” balas Heri sambil tersenyum. Padahal dia mah emang sengaja manggil ibunya dengan sebutan itu, buat ngegodain ibunya yang tidak suka dipanggil ala bule. Hihi, dasar Heri!


Jam demi jam terus bergulir, tak terasa waktu malam telah tiba. Dan benar saja seperti perkiraan Ceu Lili, jendela kamar Heri ada yang ngetuk-ngetuk, tanda si buweuk atau burung hantu yang mengantar surat dari kang James (tetep baca Ja-Mes yah!) alias Ayah Heri sudah datang. Langsung saja Heri mengambil cermin di dekatnya, setelah memastikan dirinya tetap tampan seperti biasa, dia pun membuka jendela. Si burung hantu segera melesak masuk setelah jendela terbuka, dia ber-uhu-uhu kesal karena Heri malah bernarsis ria sebelum membiarkannya masuk, seakan mau bilang, ‘Di luar teh tiris nyaho!’. Heri yang sadar dengan tingkah polah hewan itu langsung memberinya kain sarung yang biasa dia pakai untuk tidur, lalu memberinya biskuit. Mungkin, saking capek plus Heri kebanyakan memberi biskuit dan juga karena kain sarungnya bau hangseur (pesing), si burung hantu pingsan, eh, tertidur.

Heri pun mengambil surat di kaki burung yang bernama Wakwaw itu, dia buka amplopnya kemudian dia membaca isinya:

‘Assalamu’alaykum, anak bapa anu kasep –kos bapana-,

Punteun pisan nya, Heri teu tiasa uwih kadieu di liburan ayeuna, maklum weh nya, bapa ge teu pere keur kamari ge, lembur terus euy. Tapi tenang we, ieu bapa kirimkeun poto-poto ti baraya di Bogor, sadayana ge kangen pisan ka Heri ceunah. Oh, muhun, bapa oge kirimkeun ramuan ti si Mbah Dalem, ceunah mah ramuan na paranti nu kangen ka kampung halaman. Tinggal campurkeun ramuanna ka kaemaman di sakola Heri weh geura. Dijamin engke Heri ngarasa keur aya di kampung.

Atos kitu weh nya ti bapa, salam ka Propesor Dumbledore, tenang, bapa tos ijin ka anjeunna soal ramuan eta, terus bapa nitip kirimkeun resep ieu paragi peri rumah di Hogwarts oge nya. Nuhun.

Bapa Heri nu ganteng tea,
Ja-mes’

Heri tersenyum setelah beres membaca surat dari ayahnya itu. Apalagi ketika melihat foto-foto keluarganya yang sedang ‘cucurak’ di Kebun Raya Bogor, untung saja Heri meminjamkan kamera sihir kepada ayahnya, sehingga keluarganya yang ada di foto sekarang sedang melambai-lambaikan tangannya kepada Heri. ‘Duh, bikin tambah kangen wae atuh ieu mah..’ batin Heri.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Liburan musim dingin pun usai, Heri dan semua murid telah berada di sekolah Hogwarts lagi. Dan tentu saja, hal pertama yang Heri lakukan pas dia sampai di Hogwarts adalah memanggil Dobby sang Peri Rumah, yang berhutang budi padanya karena telah membuatnya merdeka dari perbudakan. Walaupun sebenernya itu juga karena ga sengaja. Jadi waktu itu teh si Heri lagi ngorong alias ngupil sambil jalan ke ruangan Kepala Sekolah. Nah, pas Heri berhasil mendapatkan upilnya, dia bulet-buletin dulu terus dia sentil upilnya. Eh, tak dinyana, keluar Mr Malfoy dari ruang Kepsek, dan si upil pun menempel di ujung hidungnya. Karena merasa jijik (lebih tepatnya jaim, kalau ga ada orang mungkin upilnya udah dia makan), Mr Malfoy menyentil upil itu, dan si upil mental ke arah Dobby di sebelahnya. Dobby yang merasa telah diberi hadiah oleh sang majikan, merasa dia telah dibebaskan. Jadinya, sampai sekarang, dia selalu mau menuruti perintah Heri, apalagi kalau Heri sudah memberi dia bonus upil galian barunya lagi, karena Dobby suka rasanya, asin-asin kecut gitu katanya.

Balik lagi ke Heri, Heri memanggil-manggil Dobby di dapur Hogwarts tempat dia sekarang bekerja, “Dobby, wer ar yu? Dimana silaing teh?”

Tak berapa lama, terdengar suara dari belakang Heri, rupanya Dobby ber-Apparate di situ.

“Wilujeung Weungi, kang Heri Punten, Sir!” sapa Dobby. Oh iya, saking ngefansnya Dobby kepada Heri, dia sampai belajar bahasa Sunda, agar terasa lebih akrab dengannya. “Aya kaperluan naon, akang nyaur abdi?”

“Ieu, Dobby, pangnyampurkeun ramuan ieu ka kaemaman nu bade disajikeun enjing di aula besar, nya? Terus, ieu resep kaemamanna. Tenang, Propesor Dumbledore ge tos ngijinan sadayana da..”

“Sumuhun, kang, siap! Dobby mah lamun Propesor Dumbledore can ngijinan oge, tetep bakal ngalakukeun parentah ti kang Heri Punten, Sir!” cicit Dobby terlihat serius. “Atos kitu wae parentahna?”

“Iyah, atos kitu we, nuhun nya..”

TAR. Dobby ber-Disapparate lagi, dan Heri pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat agar bisa memulai pelajaran esok hari dengan kondisi yang fit.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Esok paginya Heri terbangun, mengucek-ngucek matanya sebentar lalu mengambil kacamatanya. Dia melirik ke kanan, ranjang Ron telah kosong. Heri kangen ama sahabatnya itu, tapi kemaren pas dia datang, Ron sudah tidur, eh, sekarang malah ga ada. Heri melirik jam tangannya, dan dia pun sadar kenapa Ron sudah tidak ada di ranjang, dia bangun kesiangan, mana pelajaran pertama mereka Ramuan yang 5 menit lagi akan dimulai. Heri segera merapikan ranjangnya, mengganti bajunya, kemudian mengambil segelas air putih untuk dia minum. Eh, bukan untuk diminum, tapi dia ambil air untuk dia kepretin ke mukanya, biar keliatan seger. Setelah itu dia pun berlari keluar, berharap bisa tepat waktu tiba di kelas Ramuan.

Heri berlari terus sepanjang koridor Hogwarts, menuruni anak tangga untuk sampai ke ruang bawah tanah tempat kelas Ramuan berada. Akhirnya dia pun sampai di depan kelas yang sayangnya pintunya telah tertutup yang artinya Prof Snape sudah berada di dalam kelas. Memang dasar nasib Heri, padahal telatnya hanya 1 menit 3 detik. Heri pun membuka pintu, dan betapa kagetnya dia saat masuk ke kelas itu, karena rupanya kelas dipakai oleh angkatan tahun ke-4, bukan angkatan Heri. Heri baru ingat, mereka kan pulang dari liburan itu hari Selasa, jadi sekarang itu hari Rabu, bukan Senin, jadi seharusnya pelajaran pertama dia adalah Herbologi.

Semua mata pun memandang Heri (sepenglihatan Heri sih pada memandang sambil berbinar-binar, saking kerennya Heri kali ya?), tak terkecuali Prof Snape. Dan akhirnya, Heri harus terkaget-kaget lagi saat Prof Snape berkata, “Mr Punten, ari silaing teh ngalindur? Pake salah asup kelas kadieu? Cik atuh sibeungeut heula, eta belek ge masih ayaan. Makana tos Sholat Subuh teh ulah sare deui, apa malah labas teu Sholat Subuh?”

Heri tercenung. Prof Snape berbahasa Sunda? Terus cara Prof Snape memarahi Heri juga mengingatkan Heri dengan guru ngajinya di kampung kalo lagi marah.

“Mr Punten! Kunaon malah ngajentung hungkul di dinya? Geura ka kelasna nu bener ditu.. Saencan pak guru mutuskeun ngadetensi maneh!”

“Eh, iyah, Prop, punteun pisan nya.. Maap!” balas Heri, lalu dia berbalik pergi, dan terus berlari menuju kelas Herbologi. Dalam pikirannya Heri masih merasa bingung, ‘Kok tiasa nya, Propesor Snape teh nganggo basa Sunda?’

-=--=--=-=

Tak terasa sudah jam makan siang. Pelajaran pertama Heri selesai. Beberapa saat Heri masih tercenung. Dia masih memikirkan soal Prof Snape berbahasa Sunda, bukan itu saja dia pun tambah kaget ketika Prof Sprout mengajar Herbologi dengan bahasa Sunda juga. Bahkan, semua teman Heri juga berbicara bahasa Sunda.

“Beuh, buset, tadi palajaran Herbologi meuni rieut euy. Mana tugasna kudu nyieun essai sapanjang 30 senti!” keluh Ron ketika mereka berjalan ke Aula Besar.

“Ah, maneh mah emang teu merhatikeun nu diajarkeun tadi weh. Tadi Prof Sprout kan tos nerangkeun meuni jentre pisan. Terus tinggal milarian tambahan bahanna di perpustakaan we eta mah..” timpal Hermione, yang seperti biasa menjadi  ‘Neng Nyaho Sagala’ alias ‘Miss Know-It-All’.

“Huu, engke urang nyonto ka essai maneh weh nya, Hermione! Hehe..” kata Ron dibalas dengan tatapan tak percaya dari Hermione. “Eh, he-eh, Heri.. Naha titadi maneh cicing wae euy? Nyeuri huntu sugan? Apa sariawan?”

Benar juga. Heri yang sedari tadi masih belum bisa menerima keadaan sekolahnya yang full nyunda jadi agak pendiem. Heri masih syok, meskipun dalam batinnya yang terdalam dia merasa senang sekali karena suasana di Hogwarts jadi mirip dengan ketika dia bersekolah di SD-nya dahulu.

“Hoi, Heri! Malahan ngahuleung maneh mah!” seru Ron lagi.

“Uh, oh, maap. Tadi Heri kapikiran pemotretan pas liburan kamari. Tos diterbitkeun can nya majalahna?” kilah Heri.

“Ah elah, jadi model iklan panu hungkul ge, nu kacetak ge bagian tonggongna doang pan? Haha..”

Heri tertawa, kemudian menjitak kepala Ron.

“Ngomong-ngomong, Ron, Hermione, aranjeunna nyadar teu ti keur enjing nyariosna nganggo basa Sunda?” akhirnya Heri menanyakan pertanyaan yang mengganjal pikirannya sedari pagi.

“Basa Sunda?” Hermione terlihat bingung. “Titadi pun abdi mah nyariosna basa Inggris kos biasa ah. Ngan Heri hungkul anu nimpalan nganggo basa Sunda, tapi da urang-urang mah tos ngarti sakedik-sakedik naon nu dicarioskeun ku Heri..”

“Si Heri beneran masih ngalindur sigana yeuh. Tadi isuk oge pan ampe salah asup ka kelas Ramuan. Ajib, nya, kakarak asup sakola deui geus meunang panglarisan Snape nu ngambeuk.”

“Terus, weh, Ron, terus.. Meuni resep pisan nya ningali Heri tersiksa.. Sungguh ter.. la.. lu.. Awas weh, engke moal ditambutkeun deui kaset Nining Maida.”

“Ih, kitu si Heri mah pundungan, maap atuh, nya.. Terus ayeuna weh atuh minjeum kaset Nining Maida-na, mumpung ayeuna urang geus boga walkman nu tos dimodif ku babeh urang.”

“Ya, ya, ya..”

Dan heri pun masih bingung. Jadi sebetulnya mereka sadarnya itu masih berbicara dengan bahasa Inggris? Tapi yang Heri dengar adalah bahasa Sunda. Hmm, yowislah, apapun itu Heri merasa tentram dengan segala dialog berbasa Sunda yang dilontarkan oleh teman-temannya bahkan oleh gurunya sekalipun. Membuat Heri merasa berada di kampung halaman.

Tring. Tiba-tiba Heri jadi keingetan dengan surat yang dikirim oleh ayahnya. Kemarin kan ayahnya itu mengirim ramuan untuk yang sedang rindu kampung halaman. Jangan-jangan fungsi ramuan itu adalah seperti yang sekarang terjadi, membuat semuanya seakan berbahasa sesuai bahasa kampung halaman Heri. Dobby juga sepertinya sudah sukses menyampurkan ramuannya di makanan yang disajikan ketika sarapan. ‘Bener-bener, aya-aya wae si bapa teh,’ batin Heri sambil tersenyum setelah menyadari semua yang terjadi. Akhirnya, setelah dia mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang, dia semakin rileks dan memanjakan diri dengan bercengkrama bersama teman-temannya yang berbahasa Sunda juga.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Semua pelajaran di hari itu telah usai, perut Heri mulai keroncongan, sindenan, bahkan dangdutan. Sekarang saatnya makan malem di aula besar. By the way, sepertinya efek ramuan dari ayah Heri sudah mulai pudar, karena sekarang sudah kembali pada ngomong Inggris lagi. Tapi tak apalah, meskipun efeknya hanya setengah hari tapi cukup membuat perasaan kangen terhadap kampung halaman Heri terobati. Eit, tapi tunggu dulu, sepertinya kejutan dari Ayah Heri belum usai, karena ketika Heri masuk aula besar, makanan yang tersaji adalah makanan-makanan sunda semua. Ada kerecek oncom, pepes gurame, bakakak hayam, semur jengkol, sayur aseum, lauk asin, tahu dikecapan, tempe orek, dan ada sambel terasinya juga plus lalapannya! Lagi-lagi, ini pasti sesuai resep yang diberikan ayahnya dan resep itu sukses diterapkan oleh Dobby juga.

Murid-murid Hogwarts yang baru melihat makanan khas Sunda ini masih belum ada yang menyentuh piring di dekatnya. Mungkin mereka masih belum tahu bagaimana enaknya makanan ini. Alhasil, mau tak mau Heri yang mesti duluan menciduk makanan yang ada di meja panjang aula besar itu. Dengan lahap dia makan semua makanan yang tersaji, kemudian dia pun menatap ke arah Ron dan Hermione yang terlihat masih ragu, lalu berucap, “Subhanallah, nikmat mana yang engkau dustakan! Ajiiiib! Yuk ah gabung!”

Ron dan Hermione berpandang-pandangan sesaat, kemudian mereka duduk di dekat Heri dan mulai menyantap makanan yang berada di depan mereka. Di suapan pertama, mata mereka langsung berbinar saking enaknya, kemudian dengan semangat menyendok suapan lainnya. Akhirnya setelah melihat trio Heri, Ron, Hermione yang begitu lahap menyantap makanan yang tersaji itu, murid yang lain pun ikut tergoda dan merasakan hasrat kepuasan yang sama seperti Heri. Bahkan, Heri pun sempat mendengar Draco Malfoy bergumam, “Ajiiib!” kepada Crabbe dan Goyle.

Wih, pokoknya beneran deh, hari ini surprise dari ayahnya dapet banget. Full dengan feeling kampung halaman. Yah, meskipun hanya sehari, tapi sukses berat membuat kegalauan Heri hilang seketika. ‘Nuhun pisan nya, pa.. Pokona mah Sunda Rocks! Keluarga Punten Rocks oge!’

Tamat

NB: Nanti subtitle dialognya menyusul yak. Soalnya udah keburu deadline. Hahaha.. And dont forget to leave your comment. Teng kiyu.

Tuesday, November 19, 2013

Fanfic: Heri Punten: Ada Apa dengan Halloween?

Ada Apa dengan Halloween?


Heri Punten, Ron Weasley, dan Hermione sedang bersantai di Ruang Rekreasi Gryffindor ketika prefek mereka, Percy Weasley, menempelkan kertas di papan pengumuman yang ada di ruangan itu. Ron yang berada paling dekat dengan papan pengumuman pun membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di kertas, “Kepada seluruh siswa-siswi Hogwarts, sehubungan dengan Pesta Perayaan Hari Halloween yang akan datang, maka Kami menghimbau agar setiap siswa-siswi mulai mempersiapkan kostum untuk pesta tersebut. Di pesta kali ini seluruh murid beserta guru akan melakukan pawai ke Desa Hogsmeade, sebelum akhirnya kembali ke Aula Besar Hogwarts. Tertanda Prof. McGonagall!”

“Perayaan Halloween? Wah, asik euuy!” pekik Heri semangat. Wajar saja, baru pertama kali ini dia bisa ikut meramaikan Hari Halloween, soalnya ketika berumur satu sampai sepuluh tahun Heri tinggal di Bogor, Indonesia sih! Pas umur sebelas tahun, baru deh dia pindah ke Inggris, ikut dengan ibunya yang jadi TKI. Dan datanglah surat undangan masuk sekolah Hogwarts, makanya jangan heran ketika tahu kalau Heri adalah satu-satunya murid Hogwarts yang muslim.

“Kau sepertinya senang sekali, emangnya udah kepikiran mau pake kostum apa?”


“Belum sih, Ron!” jawab Heri simpel. “Tapi yang pasti bukan hantu-hantuan soalnya itu mah terlalu mainstream buat Heri!”

“Yaah,” Hermione malah keliatan kecewa.

“Ada apa, Hermione?” tanya Ron.

“Padahal aku ngarep Heri bakal menggunakan kostum hantu dari negara asalnya, karena dari buku yang aku baca, hantu-hantu dari Indonesia itu serem-serem! Ada pocong, kuntilanak, kalong wewe, sundel bolong, genderuwo, dan lain-lain!”

“Wiih, dari namanya aja udah kedengeran serem tuh,” ujar Ron. “Ya udah, Heri, pake aja kostum dari salah satu hantu itu! Pasti nyeremin!”

“Masalahnya, Hermione, Ron ...” Heri mencoba berkilah “aku akan tetap kasep dan keren  bahkan dengan memakai kostum semenyeramkan mungkin, sehingga bukannya takut, orang-orang yang melihat malah tambah ngefans. Hehehe..”

Ron langsung menoyor Heri sambil berkata, “Yee, narsisnya kumat!” diikuti gumaman Heri, “Aduh, jangan ditoyor atuh, udah difitrah nih!”

“Terus kalau bukan pake kostum hantu-hantu itu, kau mau pake kostum apa? Mana sekarang bentuknya pawai pula, padahal setahuku tahun-tahun kemarin Pesta Halloween hanya di Hogwarts doang.” tanya Hermione kepada Heri.

Tapi bukannya menjawab, Heri malah tersenyum seperti baru mendapat ide, setelah itu dia keluar dari Ruang Rekreasi. Hermione memandang Ron, Ron yang tidak punya clue apa-apa soal rencana Heri hanya mengangkat bahunya.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-

Punteeun...” ucap Heri sambil mengetuk pintu Pondok Hagrid.

Terdengar langkah berat dari dalam pondok, tak lama pintu pun terbuka, “Oh, Heri, ayo masuk.. Sendirian aja nih? Hermione dan Ron kemana?”

“Mereka sedang di Ruang Rekreasi Gryffindor,” Heri langsung menjawab.

“Jadi ada urusan apa kau datang ke sini sendirian, eh?” tanya Hagrid, membaca ekspresi Heri yang seperti ingin mengutarakan sesuatu.

“Ngg, Hagrid, di Hutan terlarang ini teh ada pohon bambunya nggak yah?”

“Pohon bambu? Untuk apa?”

“Untuk keperluan pesta kostum Halloween nanti sih..” kata Heri jujur. “Jadi ada nggak?”

Hagrid tercenung, jenggot berantakannya dibelai-belai, “Hmm, setahuku sih di daratan Eropa mah  ga ada pohon bambu yang tumbuh, tapi sepertinya di Knockturn Alley banyak yang menjualnya –entah untuk keperluan apa. Kalau kau perlu banget mungkin nanti aku bisa mencarikannya untukmu....”

“Wiih, perlu pisan atuh. Tolong dicariin yah, yang batangnya gede, setengah meteran cukup lah.. Hehe..”

“OK, nanti aku cari ke sana. Emang mau bikin kostum apa sih?

Euh, ada deh, pokonya mah nuhun yaaah..” ucap Heri berterima kasih seraya memeluk Hagrid.

“Sami-sami,” balas Hagrid yang ternyata mulai sedikit demi sedikit ketularan Nyunda dari Heri.

-=-=-=-=-=-=-=-=-==-=-=-

H-1 Pesta Halloween

Waktu makan siang tiba, Heri beserta dua cs nya sedang berada di Aula Besar untuk menyantap hidangan yang ada. Menu makan siang kali ini adalah nasi goreng pete ditemani jus jeruk, beuh, dijamin maknyus lah sehabis makan itu. Lagi-lagi, tak usah heran dengan menu Hogwarts yang Indonesia banget ya, masalahnya Profesor Dumbledore memang tertarik dengan makanan-makanan itu setelah dulu dia pernah berkunjung ke rumah Heri dan memakan masakan buatan ibunya. Alhasil peri rumah Hogwarts pun disuruh beliau untuk meminta resep-resep masakan itu pada ibu Heri, dan jadilah sekarang menu Hogwarts kayak gitu. Tadi pagi aja menu sarapannya tuh tambleg tarigu (adonan terigu digoreng) yang dicocol gula, mungkin nanti malam menunya bakakak hayam plus sambel goang.

OK, kembali ke Heri yang baru saja menghabiskan makanannya. Matanya sedang celingukan ke semua sudut Aula Besar, membuat Hermione dan Ron yang ada di sebelahnya heran.

“Ada apa, Heri? Lagi nyari apa?” tanya Ron.

“Harusnya udah sampe sekarang nih,” gumam Heri.

”Oh, kau pasti sedang menunggu kiriman burung hantu, kan?” tebak Hermione. “Dan pasti untuk keperluan pesta Halloween besok!”

Eta pisan, Hermione!”

“Seriusan deh, memangnya kau itu jadinya mau pake kostum apa sih?” Ron lagi yang bertanya.

“Ada deh, liat aja besok yah..” Mendengar jawaban Heri yang sok main rahasia-rahasiaan, Ron dan Hermione langsung cemberut.

Wuuussh, kepakan sayap burung pun terdengar di Aula Besar. Terlihat Hedwik (iya pake ‘k’) burung hantu berbulu putih salju milik Heri terbang mengitari Aula yang kemudian mendarat tepat di piring Heri yang sudah bersih dengan membawa paket berbentuk bulat yang kira-kira berdiameter 30 cm. Bibir Heri pun membentuk senyuman, dia keluarkan catatan dari sakunya, kemudian dia bubuhkan ceklis di daftar kebutuhan untuk pesta Halloween bertuliskan ‘kiriman ibu’. Hermione mengintip sedikit, dia melihat dua tulisan diatasnya, ada ‘kostum’ dan ‘dari Hagrid’, dua-duanya juga telah terceklis, dan Hermione masih tak punya petunjuk soal kostum apa yang akan dipakai sahabatnya itu besok.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Hari-H

Rombongan Guru dan Staff Hogwarts memimpin barisan untuk pawai ke Hogsmeade di Pesta Halloween Hogwarts tahun ini. Ada Prof Sprout yang memakai kostum ala jamur kuping, ada Hagrid yang berdandan seperti Ogre yang membawa pentungan besar, Prof Trelawney pun tak kalah heboh, dia berdandan ala Myrtle Merana (memakai seragam Hogwarts, dengan rambut dikepang dua!), Prof Flitwick berdandan seperti Goblin di Gringgotts (Ngga heran!).  Terus ada Prof McGonagall yang beranimagus menjadi kucing lalu didandani seperti unicorn mini, Prof Dumbledore pun bergaya seperti Merlin yang berjubah serba ungu dengan tongkat panjang yang ujungnya bercahaya ungu juga, dan tak lupa ada Prof Snape yang berdandan seperti Count Dracula sang legenda Vampir. Eh tapi ralat deh, kayaknya Prof Snape ngga jadi siapa-siapa alias dandanannya emang kayak gitu dari sananya. Hehe....

Selanjutnya, rombongan Gryffindor dipimpin oleh Prefek dan Ketua Muridnya berada di barisan berikutnya. Pastinya kostum anak Gryffindor pun gak mau kalah dari guru-gurunya, sebut saja Seamus yang memakai kostum manusia serigala, err, sebenernya dia cuma memakai pakaian biasa ditambah ekor plus moncong ala serigala doang sih. Ada lagi Neville, saking cintanya dengan pelajaran Herbologi, dia pun berdandan seperti tanaman Mandrake. Jadinya di sepanjang pawai demi mengkhayati perannya, Neville juga ikut merengek-rengek seperti suara Mandrake. Sedangkan Ron, dia berdandan seperti ‘Scare Crow’ alias orang-orangan sawah, simpel sih kenapa dia memilih jadi itu, soalnya nyari baju bekas yang robek-robek itu gampang dan murah! Hihi. Hermione? Gagal mensugesti Heri untuk berdandan seperti hantu Indonesia, malah dia sendiri yang mempraktekkannya. Yeah, Hermione sekarang memakai kostum Sundel Bolong! Rambut panjang berantakan, gaun putih dengan bercak-bercak darah, serta lubang di punggungnya, riasan make-up nya pun serem banget. Heri yang ngeliat aja langsung merasa merinding. Bahkan sesekali Heri membaca ayat kursi untuk mengusir rasa takutnya.

Kalau Heri memakai kostum apa dong? Ternyata Heri memakai pakaian gamis putih dengan obor bambu yang terbang di dekatnya –inilah alasan kenapa dia menyuruh Hagrid mencari bambu-, sedangkan tangannya memegang rebana kiriman ibunya yang biasa dipakai untuk Qasidahan. Tentu saja, Hermione, Ron, dan beberapa temannya dari Gryffindor menanyakan Heri soal alasan Heri memilih kostum itu, dan Heri pasti menjawab, “Inget soal pawai, aku jadi inget sama pawai obor di kampung setiap malam tahun baru Hijriah 1 Muharram, apalagi Halloween sekarang teh emang deketan tanggalnya ama 1 Muharram, jadi deuh sembari pawai Halloween ini, aku juga sekalian pawai obor. Hehe..”

Perhatian sebentar, kali ini akan kami umumkan pemenang untuk kostum Halloween terbaik tahun ini,” ujar Prof McGonagall sambil mengarahkan tongkat sihir ke lehernya untuk memperkeras suara setelah mereka sudah ada di Aula Besar Hogwarts. “Penilaian kostum Halloween tidak dinilai dari keseraman atau detail saja, tetapi keorisinilan dari kostum itu! Adapun juri-jurinya –yang diam-diam memberikan nilai- adalah Prof Sprout yang berdandan a la jamur kuping, lalu ada Prof Snape yang berdandan ala drakula, uh oh, sori ternyata dia jadi dirinya sendiri, dan aku tadi berkeliling sebagai animagus kucing yang didandani sehingga mirip unicorn mini..”

Seluruh aula besar tiba-tiba bergemuruh, kebanyakan dari mereka tidak menyangka kalau para profesor sambil pawai ternyata memberikan penilaian. Tapi tentu saja mereka pun tak menyangka kalau Prof Snape ikutan menjadi jurinya, termasuk Heri, Ron, dan Hermione.. Heri jadi terinspirasi, mungkin nanti kalau dia ketemu Boggart dan Boggart itu berwujud Snape, akan dia ubah Boggart Snape itu agar berdandan ala Ivan Gunawan. ‘Eh, tapi ini kan Halloween ya bukan pesta kostum lainnya, mungkin Prof Snape terpilih jadi juri karena mungkin hanya dia yang tahu siapa murid yang seseram dirinya ya.. Hehe..’ pikir Heri.

“OK, daripada berlama-lama dan semakin membuat kalian penasaran ... Ketiga murid yang memenangkan Lomba Kostum Halloween tahun ini adalah…” Prof McGonagall diam sejenak, “Selamat kepada Miss Tease dari Hufflepuff yang memakai kostum Medusa, Mr Malfoy dari Slytherin yang memakai kostum naga, serta Mr Punten dari Gryffindooor yang memakai kostum.. itu!!” Mungkin saking orisinilnya kostum Heri sehingga Prof McGonagall tidak tahu sebutan kostumnya.

“Ketiga pemenang silakan maju ke depan untuk menerima hadiah berupa labu besar hasil dari kebun Hagrid, lalu ada voucher Honeydukes senilai 50 Galleon!” kata Prof McGonagall lagi. “Dan setelah serah terima hadiah, mari kita dengarkan paduan suara dari para hantu Hogwarts, selamat menyaksikan!

Heri merasa senang sekali dengan perayaan Halloween ini, walaupun rada merasa bersalah juga sih soalnya dia pake main rahasia-rahasiaan segala ke Ron dan Hermione soal kostumnya. Tapi lumayan kan ternyata kostumnya beneran bisa bikin mereka berdua ‘surprais’, bahkan kostumnya juga bisa menang! Heri sendiri jadi kangen dengan kampung halamannya, apa pawai obornya tetep rame yah tanpa dirinya? Dan, yah, mudah-mudahan nanti mah Heri yang bakal mengajak teman-temannya di Hogwarts untuk pawai di kampungnya. Heri juga berdoa semoga di tahun baru ini, amalan Heri bisa lebih banyak daripada di tahun sebelumnya! Selamat merayakan Halloween dan Selamat Tahun Baru Hijriah!


PARANTOS PERMIOS

-------------


NB:
-     Agak telat momen untuk rilis FF ini sih, harusnya diantara tanggal 31 Oktober sampe 4 November kemaren, tapi lebih baik telat daripada ga sama sekali kan? Hehe
-      Agak Nepotisme gak sih ama hasil pemenang kostum Halloween? Wakakaka
-    Ini karya gw pertama yang rilis setelah terakhir bikin FF di tahun 2011 kalo ga salah, makanya jangan heran kalau ada banyak kekurangan, kudu banyak belajar lagi nih. Hiks..
  Last but not least, trims buat Shireishou aka mas Bayu yang udah jadi Beta Reader fic ini.

Link FFN: https://www.fanfiction.net/s/4821906/5/Heri-Punten-Series