Finally, teaser trailer film terbaru Iko Uwais, Chelsea Islan, Julie Estelle, dll udah rilis. Lumayan oke lah trailernya. Mudah-mudahan rilis filmnya ga delay lagi ya. Katanya mah rencana rilis bulan November, karena mau ikutan beberapa film festival di luar negeri dulu. Saingan ama Fantastic Beasts deh. Hohoho..
Showing posts with label serbuan maut. Show all posts
Showing posts with label serbuan maut. Show all posts
Thursday, September 8, 2016
Saturday, June 13, 2015
#30hariMenulis hari ke-13 'Fanfic The Raid: Miracle'
"Jadilah salah seorang karakter dalam salah satu film, tuliskan kisah hidupmu dari sudut pandang tersebut"
Fanfic The Raid:
Miracle
Mini van berwarna hitam yang kunaiki ini tengah melaju menembus jalan yang dilanda hujan. Di dalamnya terdapat diriku dan sepasukan tentara SWAT yang merupakan teman-teman sejawatku. Kali ini kami hendak menjalankan sebuah misi penyerbuan ke sebuah gedung tua di tengah kota. Kabarnya di gedung itu merupakan markas sebuah gembong besar narkoba yang bahkan polisi-polisi enggan mengusik keberadaannya.
"Dengar, target kita kali ini adalah Tama," Sersan Jaka memulai briefing singkat di dalam mobil, "menurut info yang didapat, dia berada di lantai teratas gedung yang akan kita serbu nanti. Ingat, buat penyerbuan kita semulus mungkin, minimalisir kontak fisik, dan jangan sampai ada korban dari warga sipil!"
"Tapi, pak, kenapa kita? Kenapa hari ini?" Tanya Rama, teman sekamarku.
"Kenapa enggak?" Ujar Bowo sinis. "Gua juga boleh dong nanya kayak gitu.."
Entah kenapa dari awal kami memulai latihan di barak, dua orang ini tak pernah akur. Dengar-dengar sih dulu Rama pernah menolak saat Bowo mau menembaknya. Eh, ini latihan menembak betulan lho, dengan pistol angin. Bukan menembak dalam tanda kutip.
Ah, kembali ke misi, Sersan Jaka terus menerangkan strategi menyerang. Menurutnya langkah yang baik adalah dengan menjalankan Stealth Mode alias menyerang secara diam-diam tanpa menimbulkan keributan. Oke, terlihat mudah, lagipula di misi pertamaku ini, aku kebagian sebagai penyerang paling belakang. Yang melindungi para penyerang dari depan.
Tapi beberapa saat sebelum sampai ke lokasi, perutku berkecamuk. Mulas sekali. Ckiit, mobil pun berhenti, kami semua turun. Aku segera mencari batu kerikil untuk menghilangkan rasa mulas, yeah, mitos ini sepertinya masih berlaku sampai sekarang.
Sersan Jaka segera memberikan kode-kode tangan kepada kami, formasi penyerangan pun terbentuk. Tak berapa lama, kami meringsek ke dalam gedung. Satu per satu penghuni gedung yang mencoba menghadang berhasil dilumpuhkan. Semua lancar, hingga pasukan kami terlihat oleh seorang anak yang baru saja keluar dari toilet (Euh, gara-gara mendengar kata toilet perutku jadi berkecamuk lagi nih). Si anak tadi berlari ke ruangan di dalam dan berteriak, "Ada polisi!" Dan, dooor, anak itu tertembak oleh salah satu teman kami yang panik.
Sontak, keadaan berubah menjadi hening. Terdengar beberapa warga (yang kebanyakan merupakan pengedar dan pemakai narkoba) berlari ke arah kami, mencoba menyerang kami. Ditambah lagi, dengan adanya suara dari pengeras suara yang mengatakan kalau siapa saja penghuni gedung yang bisa membunuh kami, maka akan bebas membayar uang sewa selama setahun. Setelah itu keadaan makin kacau.
Hujan tembakan dari kubu kami dan kubu warga mulai terjadi. Aku juga tak mau tinggal diam, kutembaki mereka dengan membabi buta. Gawat, bukannya jumlah mereka habis, malah terlihat tambah banyak saja. Saat kondisi terdesak itu, Sersan Jaka menyuruh kami masuk ke sebuah kamar. Aku pun mengikutinya beserta Rama, Sersan Wahyu, Bowo, dan lainnya.
Temanku bernama Jaya mencoba mengintip dari jendela, untuk melihat keadaan di luar.
"Jaya, jauhi jendela!" Teriakku, teringat pelajaran tentang menghadapi kondisi perang yang mengatakan, 'hindari tempat yang mudah terlihat oleh musuh.'
Dan benar saja, beberapa saat aku berteriak, Jaya tertembak peluru tepat di mata kirinya.
"Rama, segera cari jalan keluar!" Perintah Sersan Jaka.
Kulihat Rama menginjak-nginjakkan kakinya ke lantai gedung, ketika mendengar suara lantainya bergaung, dia meminta sebuah kapak. Dia pun menghujamkan kapak ke lantai itu, hingga berlubang. Setelahnya kulihat Sersan Jaka melompat ke bawah melalui lubang itu, dilanjut dengan Bowo, Rama, Dagu, Sersan Wahyu, kemudian Aku.
Wah, ternyata di bawah sini sudah banyak warga yang mencegat. Mau tak mau konfrontasi kembali terjadi. Kami saling menyerang, memukul, menendang, bahkan menembakkan pistol kami. Meskipun kami sudah berusaha mempertahankan diri, jumlah warga yang menyerang tak kunjung habis. Sehingga lagi-lagi Rama berinisiatif untuk membuat bom kecil dengan menggunakan tabung gas, yang dimasukkan ke dalam kulkas dan diarahkan ke pintu. Beberapa saat kemudian tabung itu meledak, meluluhlantakkan ruangan kami dan ruangan di luar kami.
Untungnya, dari pihak kami tak ada yang terluka parah. Hanya saja kabar buruknya, aku telah kehilangan batu kecil yang kupegang sedari awal. Sontak gejolak di perutku kembali terasa. Bagaimana ini? Mana misi masih berjalan pula. Aduh, mau bagaimana lagi, aku pun berlari ke toilet terdekat. Sedangkan Rama dan yang lain pergi menuju ruangan lain, dan sepertinya mereka kembali dikejar oleh musuh.
Di toilet, dengan tergesa-geda kubuka celanaku dan segera saja dengan latar belakang suara tembakan dan hantaman dari luar, kubuat latar belakang suara di sini dengan berbunyi, "bretbetbetbetbet, plung, plung.."
Ah, lega sekali rasanya setelah kukeluarkan segala kegundahanku di toilet ini. Namun entah kenapa rasa mulas di perutku masih saja menjadi-jadi, hingga akhirnya aku masih berusaha mengeluarkan tenagaku agar semua isi dalam perutku bisa keluar. Salahku juga sih, kemarin pas makan siang, sambelnya kebanyakan. Ah, tak ada gunanya merutuk, lebih baik kukumpulkan tenagaku dan mengeden sekuat-kuatnya.
-----------------
Beberapa jam kemudian, aku terbangun. Ya ampun, ternyata aku ketiduran di toilet duduknya, saking capeknya mengeluarkan tenaga. Kubilas dulu semuanya kemudian kupakai celanaku dan aku keluar dari toilet itu.
Kondisi gedung terlihat berantakan, banyak mayat juga bergeletakan di lorongnta. Aku bergidik ngeri. Akupun mengambil sebuah pistol yang tergeletak untuk jaga-jaga. Kemudian kulangkahkan kakiku ke dekat tangga. Ketika terdengar suara langkah turun dari tangga itu, aku segera bersembunyi di bawah tangganya. Posisi senjataku pun sudah siap menembak apabila orang yang turun itu adalah musuh. Tapi begitu senangnya aku karena orang yang turun itu adalah Rama, Sersan Wahyu beserta Bowo dan seorang lagi yang tak kukenal.
"Rama! Bowo!" Teriakku.
"Abay? Lo berhasil selamat juga?"
"Iya, setelah aku berjuang melawan semua rintangan. Ngomong-ngomong, bagaimana soal misi kita?"
"Udah selesai. Kita bisa keluar sekarang, kenalkan, dia Andi, abangku yang menjadi polisi yang menyamar di sini, dia lah yang telah menyelamatkan kami.."
"Tama bagaimana?"
"Mokat!" Ujar Bowo. "Ama si cecunguk sialan alias Sersan Wahyu, yang bikin misi tak resmi ini."
"Ah, ya sudahlah, kalian bisa saling bercerita ketika kalian sudah keluar nanti, karena polisi atau anak buah Reza sebentar lagi pasti akan tiba di sini.." kata Andi. "Ayo, kuantarkan kalian keluar!"
Sesampainya di luar, kulihat Rama saling berbicara dengan kakaknya. Rama ingin kakaknya pulang tapi sang kakak rupanya sudah kadung terjebak di dunia hitam sehingga memilih untuk tinggal. Dan kami pun keluar dari pintu gerbang gedung itu.
Ya, hanya kami berempat yang selamat dari misi ini. Tapi, kurasa ini masih belum selesai. Atasan Tama pasti akan tetap mengejar kami meskipun kami telah keluar hidup-hidup. Aku pun hanya bisa berdoa kepada sang Pencipta, semoga aku diberi kekuatan untuk menghadapi segala hal yang akan kuhadapi nanti, dan semoga tetap terjadi keajaiban yang bisa membuatku selamat, aman, dan sentausa sampai akhir. Amin
Mini van berwarna hitam yang kunaiki ini tengah melaju menembus jalan yang dilanda hujan. Di dalamnya terdapat diriku dan sepasukan tentara SWAT yang merupakan teman-teman sejawatku. Kali ini kami hendak menjalankan sebuah misi penyerbuan ke sebuah gedung tua di tengah kota. Kabarnya di gedung itu merupakan markas sebuah gembong besar narkoba yang bahkan polisi-polisi enggan mengusik keberadaannya.
"Dengar, target kita kali ini adalah Tama," Sersan Jaka memulai briefing singkat di dalam mobil, "menurut info yang didapat, dia berada di lantai teratas gedung yang akan kita serbu nanti. Ingat, buat penyerbuan kita semulus mungkin, minimalisir kontak fisik, dan jangan sampai ada korban dari warga sipil!"
"Tapi, pak, kenapa kita? Kenapa hari ini?" Tanya Rama, teman sekamarku.
"Kenapa enggak?" Ujar Bowo sinis. "Gua juga boleh dong nanya kayak gitu.."
Entah kenapa dari awal kami memulai latihan di barak, dua orang ini tak pernah akur. Dengar-dengar sih dulu Rama pernah menolak saat Bowo mau menembaknya. Eh, ini latihan menembak betulan lho, dengan pistol angin. Bukan menembak dalam tanda kutip.
Ah, kembali ke misi, Sersan Jaka terus menerangkan strategi menyerang. Menurutnya langkah yang baik adalah dengan menjalankan Stealth Mode alias menyerang secara diam-diam tanpa menimbulkan keributan. Oke, terlihat mudah, lagipula di misi pertamaku ini, aku kebagian sebagai penyerang paling belakang. Yang melindungi para penyerang dari depan.
Tapi beberapa saat sebelum sampai ke lokasi, perutku berkecamuk. Mulas sekali. Ckiit, mobil pun berhenti, kami semua turun. Aku segera mencari batu kerikil untuk menghilangkan rasa mulas, yeah, mitos ini sepertinya masih berlaku sampai sekarang.
Sersan Jaka segera memberikan kode-kode tangan kepada kami, formasi penyerangan pun terbentuk. Tak berapa lama, kami meringsek ke dalam gedung. Satu per satu penghuni gedung yang mencoba menghadang berhasil dilumpuhkan. Semua lancar, hingga pasukan kami terlihat oleh seorang anak yang baru saja keluar dari toilet (Euh, gara-gara mendengar kata toilet perutku jadi berkecamuk lagi nih). Si anak tadi berlari ke ruangan di dalam dan berteriak, "Ada polisi!" Dan, dooor, anak itu tertembak oleh salah satu teman kami yang panik.
Sontak, keadaan berubah menjadi hening. Terdengar beberapa warga (yang kebanyakan merupakan pengedar dan pemakai narkoba) berlari ke arah kami, mencoba menyerang kami. Ditambah lagi, dengan adanya suara dari pengeras suara yang mengatakan kalau siapa saja penghuni gedung yang bisa membunuh kami, maka akan bebas membayar uang sewa selama setahun. Setelah itu keadaan makin kacau.
Hujan tembakan dari kubu kami dan kubu warga mulai terjadi. Aku juga tak mau tinggal diam, kutembaki mereka dengan membabi buta. Gawat, bukannya jumlah mereka habis, malah terlihat tambah banyak saja. Saat kondisi terdesak itu, Sersan Jaka menyuruh kami masuk ke sebuah kamar. Aku pun mengikutinya beserta Rama, Sersan Wahyu, Bowo, dan lainnya.
Temanku bernama Jaya mencoba mengintip dari jendela, untuk melihat keadaan di luar.
"Jaya, jauhi jendela!" Teriakku, teringat pelajaran tentang menghadapi kondisi perang yang mengatakan, 'hindari tempat yang mudah terlihat oleh musuh.'
Dan benar saja, beberapa saat aku berteriak, Jaya tertembak peluru tepat di mata kirinya.
"Rama, segera cari jalan keluar!" Perintah Sersan Jaka.
Kulihat Rama menginjak-nginjakkan kakinya ke lantai gedung, ketika mendengar suara lantainya bergaung, dia meminta sebuah kapak. Dia pun menghujamkan kapak ke lantai itu, hingga berlubang. Setelahnya kulihat Sersan Jaka melompat ke bawah melalui lubang itu, dilanjut dengan Bowo, Rama, Dagu, Sersan Wahyu, kemudian Aku.
Wah, ternyata di bawah sini sudah banyak warga yang mencegat. Mau tak mau konfrontasi kembali terjadi. Kami saling menyerang, memukul, menendang, bahkan menembakkan pistol kami. Meskipun kami sudah berusaha mempertahankan diri, jumlah warga yang menyerang tak kunjung habis. Sehingga lagi-lagi Rama berinisiatif untuk membuat bom kecil dengan menggunakan tabung gas, yang dimasukkan ke dalam kulkas dan diarahkan ke pintu. Beberapa saat kemudian tabung itu meledak, meluluhlantakkan ruangan kami dan ruangan di luar kami.
Untungnya, dari pihak kami tak ada yang terluka parah. Hanya saja kabar buruknya, aku telah kehilangan batu kecil yang kupegang sedari awal. Sontak gejolak di perutku kembali terasa. Bagaimana ini? Mana misi masih berjalan pula. Aduh, mau bagaimana lagi, aku pun berlari ke toilet terdekat. Sedangkan Rama dan yang lain pergi menuju ruangan lain, dan sepertinya mereka kembali dikejar oleh musuh.
Di toilet, dengan tergesa-geda kubuka celanaku dan segera saja dengan latar belakang suara tembakan dan hantaman dari luar, kubuat latar belakang suara di sini dengan berbunyi, "bretbetbetbetbet, plung, plung.."
Ah, lega sekali rasanya setelah kukeluarkan segala kegundahanku di toilet ini. Namun entah kenapa rasa mulas di perutku masih saja menjadi-jadi, hingga akhirnya aku masih berusaha mengeluarkan tenagaku agar semua isi dalam perutku bisa keluar. Salahku juga sih, kemarin pas makan siang, sambelnya kebanyakan. Ah, tak ada gunanya merutuk, lebih baik kukumpulkan tenagaku dan mengeden sekuat-kuatnya.
-----------------
Beberapa jam kemudian, aku terbangun. Ya ampun, ternyata aku ketiduran di toilet duduknya, saking capeknya mengeluarkan tenaga. Kubilas dulu semuanya kemudian kupakai celanaku dan aku keluar dari toilet itu.
Kondisi gedung terlihat berantakan, banyak mayat juga bergeletakan di lorongnta. Aku bergidik ngeri. Akupun mengambil sebuah pistol yang tergeletak untuk jaga-jaga. Kemudian kulangkahkan kakiku ke dekat tangga. Ketika terdengar suara langkah turun dari tangga itu, aku segera bersembunyi di bawah tangganya. Posisi senjataku pun sudah siap menembak apabila orang yang turun itu adalah musuh. Tapi begitu senangnya aku karena orang yang turun itu adalah Rama, Sersan Wahyu beserta Bowo dan seorang lagi yang tak kukenal.
"Rama! Bowo!" Teriakku.
"Abay? Lo berhasil selamat juga?"
"Iya, setelah aku berjuang melawan semua rintangan. Ngomong-ngomong, bagaimana soal misi kita?"
"Udah selesai. Kita bisa keluar sekarang, kenalkan, dia Andi, abangku yang menjadi polisi yang menyamar di sini, dia lah yang telah menyelamatkan kami.."
"Tama bagaimana?"
"Mokat!" Ujar Bowo. "Ama si cecunguk sialan alias Sersan Wahyu, yang bikin misi tak resmi ini."
"Ah, ya sudahlah, kalian bisa saling bercerita ketika kalian sudah keluar nanti, karena polisi atau anak buah Reza sebentar lagi pasti akan tiba di sini.." kata Andi. "Ayo, kuantarkan kalian keluar!"
Sesampainya di luar, kulihat Rama saling berbicara dengan kakaknya. Rama ingin kakaknya pulang tapi sang kakak rupanya sudah kadung terjebak di dunia hitam sehingga memilih untuk tinggal. Dan kami pun keluar dari pintu gerbang gedung itu.
Ya, hanya kami berempat yang selamat dari misi ini. Tapi, kurasa ini masih belum selesai. Atasan Tama pasti akan tetap mengejar kami meskipun kami telah keluar hidup-hidup. Aku pun hanya bisa berdoa kepada sang Pencipta, semoga aku diberi kekuatan untuk menghadapi segala hal yang akan kuhadapi nanti, dan semoga tetap terjadi keajaiban yang bisa membuatku selamat, aman, dan sentausa sampai akhir. Amin
Saturday, January 3, 2015
Top Ten List Movies 2014
Wiih, udah tahun 2015 aja ya.. Beneran deh, tahun ini berasa kayak cepet banget. Bakalan nambah lagi deh umur kita, padahal udah seneng baru aja ngerayain sweet seventeen *gasadarumur, hihii*. Yowis lah, di postingan pertama di tahun baru ini, gw awali dengan top ten list mai paporit mupi (sengaja nulis pake logat sunda *dikemplang*) dari tahun 2014, oh iya, daftarnya ga ngurut ya, dan ini pure pelem paporit gw, bisa jadi listnya sangat-sangat subjektip. Ok tanpa perlu berlama-lama, inilah dia daftarnya:
1. The Raid 2 Berandal
Entahlah ya, film ini yang kepikiran pertama kali begitu gw nulis daftar ini. Alasannya jelas, selain karena film ini adalah film yang gw tunggu-tunggu banget di tahun lalu. Dari awal film ini direncanain dibikin, pemilihan cast, sampe behind the scene dan berita-berita lainnya selalu gw ikutin. Hingga akhirnya hari rilisnya tiba, seluruh ekspektasi gw yang melambung tinggi berkat trailer serta beberapa klip yang duluan hadir, tetep aja tercapai. Bahkan melebihi yang gw kira, film ini lebih luas, lebih sadis, lebih keren daripada film The Raid pertama. Semuanya keren tu de maks! Semoga aja sekuel berikutnya bisa melebihi ke-epik-an film ini, atau minimal sama lah kualitasnya. Hehe..
2. Dawn of the Planet of the Apes
Ini dia nih, film yang bikin gw betah mandangin layar yang isinya didominasi ama nyemot bin monyet doang. Ceritanya beneran berkembang dari yang pertama. Kerasa banget gimana perjuangan si Caesar untuk nyiptain goyang *itu mah Caesar yang lain*, maksudnya, perjuangan si Caesar untuk melndungi koloninya agar bisa bertahan hidup. Leadershipnya bener-bener kerasa. Yah, meskipun adegan perangnya baru dikit karena mungkin disimpan buat lanjutannya, tetep bagus juga lah. Nice!
3. Rurouni Kenshin (Kyoto Inferno & Legend Ends)
Bukan.. Film ini bukan masuk ke list ini karena pengorbanan gw yang harus ke planet lain (Bekasi, red) untuk bisa nonton, tapi karena kedua film yang rilisnya berselang 1 bulan ini emang asooy. Gila banget lah, pertarungan-pertarungan pedang yang dulu hanya bisa gw liat di komik atau cuma bisa liat versi kartunnya, sekarang gw liat dalam bentuk nyata, meen! Sineas Jepang emang paling jago lah kalo diminta bikin live action dari komik atau anime. Mereka tetep mengedit beberapa cerita karena durasi, tapi mereka ga perlu jadi over kreatif kayak yang dilakuin sineas Hollywood (Poor Dragon Ball). So, pesen buat sineas lain kalau mau bikin live action itu harus bisa kayak film Rurouni Kenshin alias Samurai X ini ya!
4. Guardian of the Galaxy
Ada beberapa yang bilang kalau film ini tuh overrated atau cuma menang di soundtracknya doang. Beuh, mungkin mereka korban ekspektasi kali ya. Karena untungnya gw mah malahan suka ama filmnya, terlebih karena karakter-karakternya yang unik-unik. Jujur aja, sebelum nonton ini gw gak punya ekspektasi apa-apa, sinopsis cerita belum baca, trailer pun belum liat, mungkin yang baru liat cuma posternya doang. Tadinya gw pikir, kalo berdasarkan judul, film ini tuh kayak film tentang polisi tapi antar galaksi gituh. Tapi ternyata bukan ya.. Hihi.. Yah, overall penggarapannya pun memuaskan, suka-suka-suka.
5. How to Train Your Dragon 2
Si-hok (syok, maksudnya.. Halah) gw nonton ini.. Ga salah nih ini dikasih rating anak-anak? Seharusnya minimal rating remaja lah. Jarang-jarang kan ada film anak yang matiin karakter penting di filmnya. Huhuu.. Tapi emang, tanpa adegan itu pun film ini bisa dibilang lebih-lebi keren dari film pertamanya. Naga-naganya pun tetep pada lucu, dan tentunya si naga ompong a.k.a Toothless yang tetep adorable. *kitik-kitikin Toothless* *kemudian disembur api*
6. Big Hero 6
Wah, setelah animasi yang cetar keluaran Disney kayak Wreck it Ralph ama Frozen, di tahun ini rilislah film animasi mereka berikutnya, Big Hero 6. Ajib dah filmnya, hampir dari awal ampe akhir dibikin ngakak ama tingkah polah si Baymax, robot balon yang jadi maskot utama film ini. Tapi di film ini juga ga cuma disuguhin cerita haha-hihi, tapi ada beberapa adegan yang mellow bin sedih juga. Hiks.. Hiks.. Salut lah buat Disney, gw tunggu dah karya berikutnya (ayo Pixar, jangan ampe kalah ama rekan seperusahaannya)!
7. The Hobbit: the Battle of the Five Armies
Film pertamanya bikin gw terpana liat kemegahan middle earth lewat format 3DHFR nya dan cerita versi ringan dari LoTR-nya, cerita kedua berlanjut dengan petualangan yang seru, ditutup dengan mantab di film ketiga ini lewat peperangan yang meskipun kalah dibanding perang di LoTR, tapi tetep mempesona dan bikin mata gw ga mampu berkedip selama beberapa menit *lebay mode*. Hebatnya lagi, setelah film ini selesai, hasrat nonton LoTR muncul lagi. Huaah, PR boook, LoTR gitu lho, durasinya panjang-panjang. Hihihi..
8. Teacher’s Diary
Pasti pada ga tau ya film ini? Soalnya bukan film Hollywood sih.. Yep, ini film dari Thailand. Kalo kata gw mah ini tuh gabungan dari The Lake House sama film Laskar Pelangi. Ceritanya seru, kocaknya dapet, anak-anaknya juga pada nggemesin, dan yang pasti romance-nya dapet meskipun *Spoilert* mereka hanya dipertemukan di ending aja *Spoilert selesai*. GTH sang produsen masih sukses dan belum ngecewain gw dengan film-filmnya. Good job!
9. The Amazing Spider-Man 2
Arrgh, jangan bully gw karena gw suka film ini ya. Sebenernya emang rada kecewa juga sih karena actionnya ga gitu banyak, udah gitu hampir semuanya udah gw liat di clip-clip yang rilis di internet. Belum lagi villain yang bejibun, mengulangi kesalahan di Spiderman 3 versi Sam Raimi. Tapi apa daya, mungkin gw kadung cinta ama si Spidey ini. So, gw tetep demen lah ama filmnya. Sayang ya, film ini kemungkinan akan direboot lagi, huhuu..
10. Interstellar
Duh, sebenernya gw selalu ga suka ama filmnya Nolan. Ga suka bukan karena filmnya jelek, tapi karena filmnya itu selalu bikin gw mikir setelah filmnya selesai. Alhasil setiap film bikinan beres selalu aja gw kudu curhatin ke temen, ke status fb, ke twitter, ke forum, dll. Intinya kudu didiskusiin. Hihi.. Apalagi untuk film yang satu ini yang jelasin tentang teori relativitas, perbedaan waktu, dan berbagai teori fisika lainnya. Huaa.. Puyeng cooy! Tapi itulah kelebihan sang Nolan ini, ga seru kalo ga bahas film doi, ya, ngga?! :P
Well, udah deh tuh top ten list movies (eh kok nulisnya bener) versi gw. Kalo versi kalian gimana?
Wednesday, January 29, 2014
Report Syuting SCBD dan Kutukan Bunda Ratu
Di report kali
ini gw bakal nyeritain tentang kunjungan gw ke lokasi Syuting The Raid 2:
Berandal, tapi sebelum itu mari kita telusuri kejadian penting di grup
Perantau, pernikahan Bunda Ratu alias Puspita! Cekidot…
Di suatu malam
yang cerah tapi tak berbintang, tiba-tiba gw dapet sms yang kira-kira berisi,
“Bay, besok gw mo ngadain resepsi pernikahan, lo mau kan dateng jadi bintang
tamu?” Gw cek pengirimnya, ternyata dari Puspita, our BundRat! Tapi gimana ya?
Di tanggal 26 Mei 2013 besok kan gw ada acara pemotretan untuk cover raport TK
Alamanda, lagian mendadak banget sih undangannya. Ya udah, gw siap-siap
ngebales dan ngetik sms di hape, “Sori, pit, besok gw..” Tut Tit Tut Tit, belum
sempet gw beresin ketikan sms, udah ada sms masuk lagi, langsung gw baca,
isinya: “Awas lo kalo ga dateng, gw hapus lagi ntar grup Perantau-nya di fb!”
*gelodaks* Akhirnya tanpa pikir panjang, gw iyain aja deh undangannya, dan gw
cancel lha acara pemotretan untuk besok (Duh, pasti anak-anak TK pada mewek
ngarepin gw. Hiks). Eh, buat yang belum tau, BundRat kita ini emang pernah
ngambek ampe ngehapus grup gegara suatu kejadian lho, dan mungkin ini bakal
jadi kenangan tak terlupakan bagi pihak MF. Hahaha..
Acara nikahan
BundRat ini diadain di gedung Dewi Sartika Bekasi dari jam 11-13 siang. Jadi
besoknya gw mutusin untuk berangkat dari Bogor jam 8, jadi kan nyampe sana
sekitar jam 10 atau setengah sebelasan. Tapi apa daya, karena cuaca pagi Bogor
yang sejuk tuh mendukung buat tetep gulang guling di kasur sambil selimutan,
apalagi ini hari Minggu, alhasil gw baru berangkat sekitar jam 10an, dan baru
dapet kereta yang jam setengah sebelas. Hahaha.. Padahal gw juga udah janjian
ama fotografer gw (yang ikutan cancel acara karena modelnya gak bisa dateng),
Hanief, ketemuan jam 11 di sana. Perjalanan via kereta ternyata lumayan cepet
juga, jam setengah 12, gw udah nyampe di Stasiun Bekasi, langsung aja gw tanya
ke mas Bayu, kakaknya Bundrat, ke gedung itu paling cepet naek apa, dan diapun mengusulkan
untuk naik ojek karena ga ada angkot yang lewat ke situ. Gw pun langsung
datengin mamang tukang ojek, yang Alhamdulillah langsung ngenalin gw, karena
raport anaknya yang masih TK pernah pake foto gw juga. Hihi.. Kita langsung
nego harga..
Tukang Ojek : “Emang mau kemana mas?”
Gw : “Ke gedung ini..”
(sambil nunjukin alamat)
Tukang Ojek : “Wah, di sini ada dua gedung yang
namanya itu, yang satu deket yang satu jauh! Tarifnya 10ribu deh, soalnya kalo
yang deket salah kan yang jauhan ga usah bayar lagi..”
Gw : “Oh, ya udah,
berangkaaat..” (males nego)
Dan motor pun
berjalan.. Sekitar 50 meteran udah nyampe.. Dan dalem hati gw pun ngomong, “Tau
deket gini mendingan jalan.. Ntar kalo gw ketemu mas Bayu, gw kitikin ah.
Hahaha”
Nyampe gedung
sekitar jam 12, gw langsung celingak-celinguk nyari si Hanief, eh, ternyata dia
lagi deket meja yang banyak kuenya. Mungkin kalo gw belum dateng juga, tu kue
semeja bisa abis ama dia, sambil nunggu sambil nyemil soalnye. Hehe.. Abis
ketemu dia, niatnya sih mau nyalamin BundRat dan Candra pasangannya, tapi
karena masih ngantri jadi gw makan dulu. Dan betapa kagetnya gw, ketika makan
itu lagu yang disetel di gedung adalah scoring The Raid by Mike Shinoda! Di
nikahan mana coba yang nyetel scoring dari film kedemenannya? Wih, bener-bener
dah ga salah kita milih Puspita sebagai Bunda Ratu-nya Perantau!
Abis makan, yang
salaman masih banyak, gw ama Hanief ketemu dulu ama kakaknya, Mas Bayu, tadinya
mau gw kitikin beneran gara-gara kejadian Ojek tadi, tapi karena serem liat
suaminya, Mba Dra yang berperawakan gede, jadi gw kitikin anaknya aja deh,
Yura. Hehe.. And guess what, walaupun dia pake kebaya, sepatunya pake high
heels ala cosplayer. Gw juga baru sadar kalau Puspita juga make semacam mahkota,
makin pas kan kalau dia dipanggil Bunda Ratu! Yang salaman udah abis, giliran
gw ama Hanief yang kasih selamat, dan pastinya BundRat seneng banget gw dateng,
ampe dia ngomong, “Semoga ntar kalo gw punya momongan, bisa sekeren lo, Bay!”
gw hanya bisa meng-Amin-kan. Hihihi :) Setelah itu kita foto-foto, dan karena
kita dari Grup Perantau, so gaya yang dipakai adalah gaya kuda-kuda Yuda di
film Merantau! Sempet debat sebentar, soal posisi tangan, tangan kanan apa
tangan kiri yang di depan, akhirnya kita mutusin tangan kanan aja deh yang di
depan, soalnya tangan kiri mah buat cebok *ga nyambung* :))
Salaman dan
foto-foto selesai, mulai banyak yang antri lagi. Gw dan Hanief pun melipir
sejenak. By the way, itu momen langka lho Hanief mau difoto, karena dia lebih
biasa moto dan selalu nolak difoto. Emang sih sebelum foto-foto, Bundrat harus
ngeluarin titahnya dulu (baca: ancaman) supaya Hanief mau maju. Hahahaha..
Ga kerasa udah
jam 1 siang. Gedung pun diserbu oleh pasukan Rama, eh, pasukan bersih-bersih..
Gw ama Hanief langsung ngobrolin soal The Raid 2 yang katanya lagi syuting
sekitar Senayan, tepatnya di kawasan SCBD. Bundrat pengen banget liat syutingnya,
apalagi itu syuting outdoor jadi ga perlu ada ijin khusus kayak pas syuting The
Raid yang indoor. Semingguan lalu pun ada syuting di Blok M sih, tapi karena
persiapan nikahan, jadi ga bisa liat juga kan si Bundrat. Hmm, bisa dibilang
emang dari film The Raid, Bundrat ga pernah bisa liat syuting secara langsung
sih! Contoh ketika syuting The Raid, waktu itu ada kuis kunjungan ke lokasi
syuting di Studio Hanggar adegan Carrying Bowo.. And She won! Tapi karena dia
lagi kerja di Borneo sana, alhasil pemenangnya dia limpahin ke kakaknya, Mas
Bayu. Lanjut lagi, kebetulan BundRat lagi cuti dan ada di Jakarta kebetulan
dapet bocoran kalo tim The Raid akan syuting di Kota Tua. Segera aja dia
ditemani Perantau lain langsung nyerbu.. Tapi apa daya, ternyata jadwal syuting
berubah! Setelah diselidiki, syutingnya tetep indoor di studio Hanggar, untuk
yang di Kota Tua kalo ga besok ya dua hari ke depan, dan besoknya itu dia udah ada acara. #PukPukBundaRatu
OK, kembali soal syuting SCBD, setelah dulu gw sempet nonton syuting The
Raid, yang ini juga pasti ga mau kelewatan dong. Apalagi gw pengen tahu gimana
perkembangan para junior gw dalam membuat film *digaplok cast n crew The Raid
2* Langsung deh gw ama Hanief meluncur ke Senayan via kereta sampe stasiun
Kota, lanjut busway sampe halte Polda Metro Jaya. Eng ing eng, dan sampe lah
kita di SCBD, yang ternyata cukup luas cuy! Kira-kira pada syutingnya di SCBD
sebelah mana ya? Sempet nanya Satpam yang ada di gerbang, “Mas, tahu lokasi
SCBD sebelah mana yang dipake syuting film gak?” dan Satpam pun menjawab, “Gak
tahu, setahu saya ga ada yang syuting. Kalo lokasi toilet sih saya tahu, tuh
yang paling deket ada di situ..” Euh, malah nunjukin toilet, mungkin gara-gara
liat muka Hanief yang kayak kebelet kali ya? #Plak
Yaudin, kita jalan menelusuri SCBD tanpa tahu arah tujuan, seperti
terombang-ambing ombak pantai laut selatan. Sempet mau nyerah juga, soalnya
abis jalan sekitar 1 km tetep aja ga keliatan aktivitas orang lagi syuting.
Apalagi syutingnya ini kan pas adegan Car Chase, harusnya minimal ada suara
decit ban mobil yang lagi balepan kan? *sotoy mode* Ditambah ujan gerimis mulai
turun, alamat syuting ditunda kali kalo kayak gini mah yak.. Tapi untunglah,
akhirnya berhasil nemu juga, dan hujan pun pas berenti! Rupanya tempat
syutingnya tuh deket terowongan yang belum jadi.. Err, atau udah jadi tapi
kagak dipake. LoL. Adegannya tuh, ngg, ah atut spoiler ah.. Intinya mah emang
lagi kejar-kejaran mobil sih. Untuk adegan itu berapa kali take ya yang pasti
banyak *ga ngitung* Salut deh buat keperfeksionisan Babule dalam menghasilkan
karya terbaik. Senengnya liat syuting The Raid tuh, setelah wrap pasti semua
bersorak sorai kayak abis ngerayain bisul pecah gitu. Wekeke.. Apalagi mungkin
ini tuh syuting hari terakhir di daerah itu. Makanya abis take tadi selesai
semua pun istirahat dan bersiap-siap pulang.
Nah, di sini dah mulai nyapa beberapa cast dan crew.. Dimulai dari Iko yang
belepotan darah (tenang, bukan darah beneran :P), Oka Antara yang berjas rapi
(mirip gw yang masih muda), kang Yayan dengan rambut jibraknya (hajar aja kang,
yang nyebut akang mirip Ki Joko Bodo. Hihi), ada Very yang pake baju nyante (kayak
di pante), ada Babule yang langsung menghilang entah kemana (padahal badannya
gede gitu yak!), trus ada Pak Bill Plenthonk yang senantiasa jadi astrada
(tenang, pas jadi astada ga sambil baca koran olahraga kok!), dan kru-kru
lainnya. Yang pasti semuanya asik, ga sombong, tetep rendah hati, sama kayak gw
#tsah.
Ah, ga kerasa waktu udah sore menjelang maghrib, saatnya pulang.. Cast n
Crew juga siap-siap pulang kok. Eit, ada yang kelupaan, sebelum pulang mari
kita nge-WA BundRat, bahwa sekali lagi keinginannya untuk menonton syuting biar
gw atau perantau lain yang wakilin. And guess what, seperti bisa ditebak, dia
pun hanya membalas WA dengan, “KYAAAAA, kenapa ga ngajak-ngajak? Gw kapan dong
bisa liat syutingnya, masa Bunda Ratunya ga pernah liat??” dan gw pun dengan
kalem ngejawab, “Besok-besok aja, Pit, besok mah udah mulai syuting di luar
kota Jakarta inih. Hahaha..”
*evil grin*
*dipentung Bunda Ratu*
Dan report pun selesai karena yang nulisnya pingsan. Terima kasih udah
baca, guys! Hehehe..
SELESAI
NB: *lirik report di atas* Hmm, kayaknya banyakan report di nikahan BundRat
dibanding lokasi syutingnya ya? Haha.. *menghilang naik Bajaj*
Sunday, November 27, 2011
Report Screening The Raid at INAFFF 2011
Fyuh, ketika gw nulis ini report, gw tuh baru aja nyampe dari acara perhelatan akbar masa kini yang tak lain dan tak bukan adalah.. JENGJENG.. Acara SeaGames 201!! Eh, tapi tunggu dulu, di seagames mah mana mungkin nayangin The Raid yah? Kalo gitu diralat deh, acara itu tak lain dan tak bukan adalah INAFFF 2011. Hehe.. *ditimpukin yang baca karna ngegaring*. Well, film The Raid yang udah terkenal lebih dulu di luar negeri setelah penayangan di festival-festival film sonoh itu juga jadi Closing di inafff 2011 lho. Makanya jangan heran, ketika akhirnya banyak orang tak sabar untuk menonton film ini. Apalagi, gak kayak biasanya, inafff nyediain sedikit tiket untuk dijual buat khalayak umum. Tapi, bukan gw namanya kalo ga dapet undangan dari inafff buat dateng di closingnya ini. Karena, yah, kalian tahu sendiri lha ya, aktor-aktor di the Raid kan kebanyakan merupakan murid didikan gw. Jadi.. ya gw pasti diundang kan? *digaplok aktor2* Tentunya selain tujuan utama gw untuk nonton film The Raid, tujuan lainnya adalah gath dengan para ‘Perantau’ alias mereka yang doyan ama film-film produksi Merantau Films, dan perlu digaris bawahi, sekalian jumpa fans dengan mereka, karena katanya sih mereka juga pada ngefans ke gw. Hehehe..
Ngomong-ngomong, ngereportnya enaknya dari mana ya? Hmm, oke deh, gw mulai aja dari ketika kaki gw dan asisten gw (Adit) baru saja menapakkan di Blitz Megaplex Grand Indonesia pada tanggal 20 November 2011 tadi. Gw with Adit tuh nyampe Blitz sekitar jam setengah empatan dari situ gw mulai smsin satu per satu para perantau dan nanya mereka ada dimana. Gimana sih mereka? Artis kedemenannya dateng, bukannya disambut malah pada mencar dimana tauk. :p Kriing, tiba-tiba hape gw bunyi, oh, telepon dari Narpati! Gw angkat tuh telepon dan gw jawab dengan mesra, dan dia pun juga sepertinya merespon dengan rasa yang sama *apasih, kok jadi maho detected* :)) Dia bilang dia juga udah ada di dalem Blitz. Ok, akhirnya tanpa harus bersusah payah, gw berhasil menemukan dia yang sedang terdiam termangu sambil menopang dagu *lebay*. Pokoknya gw nemuin dia di saat yang tepat deh, soalnya gw yakin sepuluh detik lagi gw ga nyapa dia, dia pasti udah kerasukan jin gara-gara kelamaan ngelamun. Hihi.. Sambil nunggu yang laen, kita juga mulai ngobrol ngalor ngidul, dari slash film yang tampil di layar dalam blitz, yang ada tulisan coming soon-nya sampe ngebahas gimana cara gw ngilangin jerawat membandel yang tumbuh di pantat (itu jerawat apa bisul!). Eh, tapi kayaknya obrolan gw harus berakhir dulu, karena fans perantau yang laen mulai berdatangan, ada Miss Pitong yang dateng bawa sepanduk gede bertuliskan ‘I Heart U Abay’ *dirajam* Iya, iya, tulisannya The Raid with Perantau deh :P, terus abis itu ada tanteh Ika yang langsung nyeletingin jaketnya karena ga biasa di gedung ber-AC, ada juga Mas Bayu dan pasangannya Mba Dra yang bawa kaos The Raid sebanyak 2 lusin yang dia jait sendiri, maklum aja, Mas Bayu itu kan ada keturunan dari Ibu Fatmawati yang dulu jait bendera merah putih pertama itu lho *biar kerasa keren* *bohong tingkat dewa* Eh, gak lama muncul bu Panco, yang baru pertama kali diijinin ngebolang ke Jakarta sendirian. Untung aja acaranya hari Minggu ya, pan, jadinya ga usah mangkir dari tempat kerja lagi kayak inafff 2009.. *digetok panco*
Ga perlu perantau lengkap untuk mulai berisik, karena dengan kehadiran kita bertujuh aja udah bikin Blitz heboh. Soalnya kita udah mulai foto-foto, ngobral-ngobrol, ngomongin siapa lagi yang belum dateng, dll. Gw sendiri pas asik-asiknya sempet terkesiap saat ngeliat Joko Anwar salah satu sutradara kenamaan yang pernah bikin film Janji Joni yang diperanin kakak sepupu gw Nicholas Saputra. Ya udin, gw dan narpati langsung nyamperin tuh orang. Kaget juga euy, ternyata Joko Anwar kenal gw, eh, tapi ngga juga deh, soalnya dia kira gw tuh Iko. Mungkin saking miripnya kita kali ya, ampe Joko Anwar pun terkecoh. Namanya juga kembar gitu lho! Huahaha.. Sayang uy, kita ga sempet ngobrol banyak pas ketemu, karena dia langsung masuk audi 8 untuk nonton film inafff yang laen. Ga lama setelah kepergian Joko Anwar, tim Perantau mulai bagi-bagiin kaos The Raid. Tanpa merhatiin orang-orang sekitar yang pada mupeng ama bajunya, ibu pitong mulai ngabsen nama-nama di bukunya beserta ukuran bajunya. Pas bagi-bagi baju ini sempet ada debat panas juga lho, tentang ukuran baju tanteh Ika apakah L, XL, atau tripel XL . Ukuran manakah yang menang? Tunggu aja di episode selanjutnya ya! Hehe.. *dikemplang* Setelah acara pembagian baju, kita mulai bertransformasi dengan kaos yang sama, kaos kebanggaan. Dari situ mulai foto-foto narsis, walaupun gw akui, gw yang paling sering di foto mereka, huh, dasar fans!
Waktu menunjukkan pukul enam. Setelah Shalat Maghrib berjamaah di Mushola KECIL yang ada di mall super GEDE di Jakarta itu, tim Perantau udah pada berkumpul di depan Audi 2, tempat dimana pemutaran The Raid untuk para invitations diadain. Wow, ternyata udah ada perantau laennya juga euy. Ada Nita yang keliatannya makin sipit aja setelah lama ga keliatan, trus Alpin yang ga kalah sipit ama Nita, terus ada Alna yang keliatan girang banget, Mas Tisno yang mukanya agak rapian dikit (abis disisir kali ya mukanya), ditambah bang Ahmad plus istri yang rela ninggalin Gibran anak mereka demi liat scene dia ditusuk yang cuma sepersekian detik di film itu.. hihi.. Nah, selain para Perantau yang emang udah sering kumpul di atas itu, kita juga kedatengan beberapa muka baru juga. Kayak Unira yang imut-imut chubby yang kalo orang liat jadi pengen nyubit dia pake tang, trus ada Alfian yang rambut depannya kek perosotan kutu, Musa yang abis keujanan dari Bogor, sisanya Unknowing, gw ga kenal, sorry! Kita belum sempet kenalan sih ya, karena kalian malu-malu ama gw yang super seleb ini! Haha.. Oh iya, kita kan punya janji buat nelpon bro Ismail Takumi ketika ngumpul. Jadilah si pitong ngeluarin hapenya dan mulai nelepon beliau, telepon digilir dari satu orang ke orang laennya, sampe tiba di tangan gw, telepon mati! Ya ampun, apa takumi pingsan ya setelah mendengar suara idolanya? Heuheu
Yosh, tim perusuh udah berkumpul banyak, sekarang tinggal mencari mangsa. Dimulai dari... Nah, ada Verdi Solaiman with his father tuh, om Hengki Solaiman, serbuuu! Ga perlu disuruh, si Pitong ngeluarin buku sakti Perantau, langsung minta tanda tangan mereka. Mas Verdi tanda tangan sih ga masalah, tapi pas om Hengki yang emang udah berumur, gw kira dia bakalan ngasih cap jempol doang karena ga bisa ttd, eh ternyata bisa juga ya tanda tangannya *dijitak* Target tanda tangan selanjutnya sih mudah, ada brother Godfred yang nantinya bakal bikin takut plus bikin ketawa seantero audi 2, terus ada mas Yandi yang di trailer terlihat porno (pake kutang doang-red), ada juga mas bro Imam Aji yang wajah tampannya kecipratan dari gw. Hohoho.. Selanjutnya beberapa kru lain juga ikutan tanda tangan di situ, dan pastinya Perantau pun ikut tanda tangan juga. Walaupun gw yakin, itu sih alasan mereka buat minta tanda tangan gw, emang ya fans sekarang tuh banyak yang suka malu-malu. Ckckck.. Abis itu mata gw berkeliling lagi, ngedapetin satu makhluk hitam berambut panjang dan bermuka garang ada di dekat loket Blitz, siapa lagi kalau bukan Kang Yayan Ruhian! *kang yayan said: “Deskripsinya jangan terlalu jujur napa!” sambil njewerin kuping gw* Yang belum tau kang Yayan tuh, dia di Merantau meranin Erik, yang tarung ama Yuda di lift itu lho! Kalau di The Raid sih si akang maen jadi Anjing Gila alias mad dog (kalo gw lempar tulang bakal dikejar gak ya, halah). Seneng banget deh ketemu si akang, dan pastinya si akang lebih seneng lagi ketemu gw. Secara kita tuh bagaikan master dan muridnya. Jangan tanya siapa masternya, karena pasti gw lha ya! Haha.. Err, master silat lidah sih, kalo silat beneran mah tetep dia masternya. :P Eh, pas gw dan yang laen asik bercengkrama ama kang Yayan, ada seseorang berbaju oranye ngelewat, dia-lah Joe Taslim yang jadi Komandan Jaka di The Raid. Ya udah dah tuh, gw towel dia, dan dia pun langsung noleh. Tiba-tiba mata kami yang saling bertemu pun menghasilkan percikan cinta yang begitu kuat. Kami saling mendekatkan kepala kami, lalu dia pun berbisik, “Mas cucok banget deh, mau dong eyke foto bareng ama yey!” Yes, another victim of me. Hahaha.. *dihajar massa, ngerusak imej orang* Antrian di depan audi 2 semakin panjang, kita yang belum puas gangguin pemain The Raid harus ikutan ngantri supaya dapet tempat duduk strategis. Huh, sayang banget, padahal gw belum ketemu kembaran gw. Tak apalah, mungkin dia lagi diwawancara di tempat khusus oleh beebrapa media. Gw cuma bisa menghela nafas, akhirnya dia merasakan kesibukan seleb kayak gw juga. Capek kan ngelayanin fans ama media? :))
Di dalem studio, kita cuma bisa dapet bangku di paling kiri, karena yang laennya beneran udah penuh berisi. Salah kita juga sih pake telat ngantri. Yah, walaupun sebetulnya gw bisa tinggal ngomong ke panitia pengen duduk di barisan VIP, tapi demi kesolidaritasan gw dengan anak perantau, gw tetep duduk di bangku itu. Lagipula bangku di situ bikin hoki juga kok, tuh buktinya Mas Bayu dapet voucher senilai 150rb di bawah bangkunya, sedangkan Pitong dipanggil sebagai Perantau terbaik dan mendapatkan Vest yang dipake untuk syuting The Raid, dan gw hanya mendapatkan kecupan jauh dari Babule, tapi gw rasa itu udah cukup melebihi dari hadiah apapun di muka bumi ini *dilempar pisau ama mbak Maya Evans*. Dan tak berapa lama, film pun dimulai..
Review film
Film dibuka dengan adegan Rama yang lagi latian dan harus ninggalin istrinya yang lagi hamil untuk sebuah misi. Kemudian dilanjut ke adegan sadis dari Tama pimpinan gembong narkoba. Selanjutnya adegan pun beralih ke tim Swat yang siap nyerbu sarang mereka. Setelah itu? Aksi.. Aksi.. dan Aksi.. Sumpah lha, nonton film ini tuh beneran ajib banget. Pastinya buat mereka yang doyan aksi muncrat-muncratan darah (yang syukurlah ga lebay), sadisme tingkat dewa, bela diri yang yahut, serta sinematografi ciamik, bakalan terpuaskan di film ini. Pokoknya ga akan puas ditonton sekali deh. Well, tadinya gw kira adegan kematian paling sadis tuh cuma ada di Final Destination Series, karena nyatanya di film ini cara kematiannya lebih sadis dari itu. Ada yang ditusuk *crot* ditembak *crot* bahkan jatuh dari ketinggian *brokocot*. Makanya ga jarang para penonton ikutan bersorak sorai dan bertepuk tangan ketika sang jagoan berhasil ngalahin musuh-musuhnya –sementara waktu-. Dari segi aksi udah OK, sekarang gimana dari segi akting? Ga kalah OK lha meen! Terutama untuk om Ray Sahetapy as Tama yang setiap muncul berhasil bikin orang sebel, lalu siapalagi kalo bukan tokoh Mad Dog! Dialognya di lift bareng Andi bikin ngakak banget! Huahaha.. Ada juga tokoh stunt dari Papua yang berhasil mencuri perhatian karena selain mimiknya yang seram yang cukup mompa adrenalin di salah satu adegan, dia juga berhasil mengundang tawa karena logat Papua-nya yang khas. Hehe.. Tokoh yang lain juga ok-ok lha, dari Pemeran utama, pendukung, stunt, aktingnya pas. Cuma di beberapa adegan, dialog yang diucapin suka ga jelas. Jadi gw baca subtitle english di bawahnya deh. Ga sia-sia gw makan peyem ampir tiap hari, baca sub english pun jadi tiada berarti. *apasih* Btw, yang udah nonton, pada nyadar gak hayoo, ada beberapa bloopers atau adegan yang kurang teredit rapi di filmnya? Contohnya saat Andi (Donny Alamsyah) berantem, beberapa kali gw liat dia pake stuntman, yah emang ga gitu kentara sih, tapi ama gw jelas keliatan lha ya. Soalnya sebagai aktor yang sejajaran ama dia, gw udah kenal dia luar dalem, dari postur tubuhnya sampai gaya tarungnya *sok iye*, jadi pas dia diganti stunt, keliatan dah. Trus di beberapa adegan juga keliatan bantalan di dada atau punggung merekanya uy. Yes, tentu aja itu untuk safety mereka pas ngebuat film. Dan mungkin cuma gw yang merhatiin kesalahan-kesalahan kecil itu. Hihi.. Terakhir, soal scoring, wah Aria Prayogi ama Fajar Yuskemal emang keren abis lha. Dari Merantau gw udah suka ama scoring buatan mereka, dan untuk film ini mereka bikin yang sama-sama ajib gitu lho. Pokoknya tiap adegan tegang, berkat bantuan si scoring adegan tegangnya makin berasa! Oh iya, salah satu scene plus efek sound yang paling gw suka tuh pas Bowo yang diperanin Tegar Satrya kena tembak di kupingnya, dan mendadak sound effect ngeluarin suara berdenging, sehingga kita yang nonton jadi ikut ngerasain kuping kena tembak itu dah. Well Done, Aria – Fajar! Jadi penasaran juga ama Scoring buatan Mike Shinoda dan Joe Trapanese, apakah bisa menyaingi mereka?
So, kayak dulu gw pernah pos di twitter gw @thehulkjr, point film ini tuh: Aksi – 9, Cerita – 6, Scoring – 8, Overall: 8/10.
-----
Back to gath, film udah selesai tepuk tangan langsung riuh membahana, bahkan hampir semua penonton ngasih standing ovation. Abis itu para penonton mulai menyelamati para pemain dan kru The Raid, sedangkan kita, Perantau, malah merhatiin layar credit title dan akhirnya mendapati tulisan ‘Thanks to Perantau Fans’. Yippie, seneng banget kan tuh, kita diakui? Siapa dulu dong.. Gw gitu lho! *ga nyambung* Yang laen mulai pada keluar dari studio, sedangkan kita, mulai narsis di depan layar bioskop sambil membentangkan spanduk the Raid with Perantau yang dibawa mrs Pitong. Ok, audi mulai sepi, kita pun bergegas keluar. Di luar rame banget, untungnya gw berinisiatif bawa topeng buat nyamar, jadinya ga ada yang ngenalin gw dan narik-narik gw untuk minta foto bareng atau minta tanda tangan atau minta cap bibir, cap belahan pantat dan cap-cap lainnya. And then Perantau mulai menyisir area mencari para pemain dan kru The Raid. Dan tak perlu bersusah payah, kita mulai dapet mangsa satu per satu. Semuanya kena foto bareng dah! Gareth Evans, Mas Toro, Iko, kang Yayan, Donny Alamsyah, Joe Taslim, Tegar Satrya, Imam Aji,. Verdi – Hengki Solaiman, Yandi, Eka, and of course mr Godfred. Dan tak ketinggalan, gw berhasil mendapat mangsa yang super nikmat walaupun bukan pemaen or kru the Raid, dia-lah Sherina. Gw seneng Sherina masih kenal ama gw, karena tahu gak sih, dulu pas kita masih kecil, Sherina tuh temen gw pas maen Barbie-barbie-an. :p
Hmm, waktu nunjukin pukul 11, pengennya sih kita masih ada di situ dan masih bercengkrama satu sama lain. Tapi kita pun ingat masih banyak yang harus kita lakukan di esok hari. Kudu kerja, meen! Atau kuliah.. :D Perantau pun gugur satu per satu. Nita yang pulang naek Taksi (katanya dia kudu mecahin celengannya dulu buat bisa naek taksi khusus malem ini), ada Mas Bayu, Mba Dra, Pitong dan tanteh Ika yang serombongan naek mobil Mba Dra, ada mas Tisno n Alpin yang entah naek apa, tapi diliat dari tampang mereka sih kayaknya naek motor. Maklum, tampang tukang ojek. Wekeke.. Terakhir, ada gw, Adit, Narpati, Alfian, Musa, dan Alna yang balik bareng. Diceritain gak yah detailnya? Ah, ga usah deh, pokoknya yang pasti kita sampe dengan selamat. Hahaha.. *penonton kecewa* dan begitulah para pembaca budiman, report dari gath Perantau tgl 20 Nov itu. Semoga berkenan di hati para pembaca sekalian. Inget, jangan ada yang kesinggung ama tulisan di atas yah, mohon maap deh kalo ada yang kesinggung, cuma maksud menghibur sajah.. Okeh, that’s all, so.. See you again, Perantau!!
Ngomong-ngomong, ngereportnya enaknya dari mana ya? Hmm, oke deh, gw mulai aja dari ketika kaki gw dan asisten gw (Adit) baru saja menapakkan di Blitz Megaplex Grand Indonesia pada tanggal 20 November 2011 tadi. Gw with Adit tuh nyampe Blitz sekitar jam setengah empatan dari situ gw mulai smsin satu per satu para perantau dan nanya mereka ada dimana. Gimana sih mereka? Artis kedemenannya dateng, bukannya disambut malah pada mencar dimana tauk. :p Kriing, tiba-tiba hape gw bunyi, oh, telepon dari Narpati! Gw angkat tuh telepon dan gw jawab dengan mesra, dan dia pun juga sepertinya merespon dengan rasa yang sama *apasih, kok jadi maho detected* :)) Dia bilang dia juga udah ada di dalem Blitz. Ok, akhirnya tanpa harus bersusah payah, gw berhasil menemukan dia yang sedang terdiam termangu sambil menopang dagu *lebay*. Pokoknya gw nemuin dia di saat yang tepat deh, soalnya gw yakin sepuluh detik lagi gw ga nyapa dia, dia pasti udah kerasukan jin gara-gara kelamaan ngelamun. Hihi.. Sambil nunggu yang laen, kita juga mulai ngobrol ngalor ngidul, dari slash film yang tampil di layar dalam blitz, yang ada tulisan coming soon-nya sampe ngebahas gimana cara gw ngilangin jerawat membandel yang tumbuh di pantat (itu jerawat apa bisul!). Eh, tapi kayaknya obrolan gw harus berakhir dulu, karena fans perantau yang laen mulai berdatangan, ada Miss Pitong yang dateng bawa sepanduk gede bertuliskan ‘I Heart U Abay’ *dirajam* Iya, iya, tulisannya The Raid with Perantau deh :P, terus abis itu ada tanteh Ika yang langsung nyeletingin jaketnya karena ga biasa di gedung ber-AC, ada juga Mas Bayu dan pasangannya Mba Dra yang bawa kaos The Raid sebanyak 2 lusin yang dia jait sendiri, maklum aja, Mas Bayu itu kan ada keturunan dari Ibu Fatmawati yang dulu jait bendera merah putih pertama itu lho *biar kerasa keren* *bohong tingkat dewa* Eh, gak lama muncul bu Panco, yang baru pertama kali diijinin ngebolang ke Jakarta sendirian. Untung aja acaranya hari Minggu ya, pan, jadinya ga usah mangkir dari tempat kerja lagi kayak inafff 2009.. *digetok panco*
Ga perlu perantau lengkap untuk mulai berisik, karena dengan kehadiran kita bertujuh aja udah bikin Blitz heboh. Soalnya kita udah mulai foto-foto, ngobral-ngobrol, ngomongin siapa lagi yang belum dateng, dll. Gw sendiri pas asik-asiknya sempet terkesiap saat ngeliat Joko Anwar salah satu sutradara kenamaan yang pernah bikin film Janji Joni yang diperanin kakak sepupu gw Nicholas Saputra. Ya udin, gw dan narpati langsung nyamperin tuh orang. Kaget juga euy, ternyata Joko Anwar kenal gw, eh, tapi ngga juga deh, soalnya dia kira gw tuh Iko. Mungkin saking miripnya kita kali ya, ampe Joko Anwar pun terkecoh. Namanya juga kembar gitu lho! Huahaha.. Sayang uy, kita ga sempet ngobrol banyak pas ketemu, karena dia langsung masuk audi 8 untuk nonton film inafff yang laen. Ga lama setelah kepergian Joko Anwar, tim Perantau mulai bagi-bagiin kaos The Raid. Tanpa merhatiin orang-orang sekitar yang pada mupeng ama bajunya, ibu pitong mulai ngabsen nama-nama di bukunya beserta ukuran bajunya. Pas bagi-bagi baju ini sempet ada debat panas juga lho, tentang ukuran baju tanteh Ika apakah L, XL, atau tripel XL . Ukuran manakah yang menang? Tunggu aja di episode selanjutnya ya! Hehe.. *dikemplang* Setelah acara pembagian baju, kita mulai bertransformasi dengan kaos yang sama, kaos kebanggaan. Dari situ mulai foto-foto narsis, walaupun gw akui, gw yang paling sering di foto mereka, huh, dasar fans!
Waktu menunjukkan pukul enam. Setelah Shalat Maghrib berjamaah di Mushola KECIL yang ada di mall super GEDE di Jakarta itu, tim Perantau udah pada berkumpul di depan Audi 2, tempat dimana pemutaran The Raid untuk para invitations diadain. Wow, ternyata udah ada perantau laennya juga euy. Ada Nita yang keliatannya makin sipit aja setelah lama ga keliatan, trus Alpin yang ga kalah sipit ama Nita, terus ada Alna yang keliatan girang banget, Mas Tisno yang mukanya agak rapian dikit (abis disisir kali ya mukanya), ditambah bang Ahmad plus istri yang rela ninggalin Gibran anak mereka demi liat scene dia ditusuk yang cuma sepersekian detik di film itu.. hihi.. Nah, selain para Perantau yang emang udah sering kumpul di atas itu, kita juga kedatengan beberapa muka baru juga. Kayak Unira yang imut-imut chubby yang kalo orang liat jadi pengen nyubit dia pake tang, trus ada Alfian yang rambut depannya kek perosotan kutu, Musa yang abis keujanan dari Bogor, sisanya Unknowing, gw ga kenal, sorry! Kita belum sempet kenalan sih ya, karena kalian malu-malu ama gw yang super seleb ini! Haha.. Oh iya, kita kan punya janji buat nelpon bro Ismail Takumi ketika ngumpul. Jadilah si pitong ngeluarin hapenya dan mulai nelepon beliau, telepon digilir dari satu orang ke orang laennya, sampe tiba di tangan gw, telepon mati! Ya ampun, apa takumi pingsan ya setelah mendengar suara idolanya? Heuheu
Yosh, tim perusuh udah berkumpul banyak, sekarang tinggal mencari mangsa. Dimulai dari... Nah, ada Verdi Solaiman with his father tuh, om Hengki Solaiman, serbuuu! Ga perlu disuruh, si Pitong ngeluarin buku sakti Perantau, langsung minta tanda tangan mereka. Mas Verdi tanda tangan sih ga masalah, tapi pas om Hengki yang emang udah berumur, gw kira dia bakalan ngasih cap jempol doang karena ga bisa ttd, eh ternyata bisa juga ya tanda tangannya *dijitak* Target tanda tangan selanjutnya sih mudah, ada brother Godfred yang nantinya bakal bikin takut plus bikin ketawa seantero audi 2, terus ada mas Yandi yang di trailer terlihat porno (pake kutang doang-red), ada juga mas bro Imam Aji yang wajah tampannya kecipratan dari gw. Hohoho.. Selanjutnya beberapa kru lain juga ikutan tanda tangan di situ, dan pastinya Perantau pun ikut tanda tangan juga. Walaupun gw yakin, itu sih alasan mereka buat minta tanda tangan gw, emang ya fans sekarang tuh banyak yang suka malu-malu. Ckckck.. Abis itu mata gw berkeliling lagi, ngedapetin satu makhluk hitam berambut panjang dan bermuka garang ada di dekat loket Blitz, siapa lagi kalau bukan Kang Yayan Ruhian! *kang yayan said: “Deskripsinya jangan terlalu jujur napa!” sambil njewerin kuping gw* Yang belum tau kang Yayan tuh, dia di Merantau meranin Erik, yang tarung ama Yuda di lift itu lho! Kalau di The Raid sih si akang maen jadi Anjing Gila alias mad dog (kalo gw lempar tulang bakal dikejar gak ya, halah). Seneng banget deh ketemu si akang, dan pastinya si akang lebih seneng lagi ketemu gw. Secara kita tuh bagaikan master dan muridnya. Jangan tanya siapa masternya, karena pasti gw lha ya! Haha.. Err, master silat lidah sih, kalo silat beneran mah tetep dia masternya. :P Eh, pas gw dan yang laen asik bercengkrama ama kang Yayan, ada seseorang berbaju oranye ngelewat, dia-lah Joe Taslim yang jadi Komandan Jaka di The Raid. Ya udah dah tuh, gw towel dia, dan dia pun langsung noleh. Tiba-tiba mata kami yang saling bertemu pun menghasilkan percikan cinta yang begitu kuat. Kami saling mendekatkan kepala kami, lalu dia pun berbisik, “Mas cucok banget deh, mau dong eyke foto bareng ama yey!” Yes, another victim of me. Hahaha.. *dihajar massa, ngerusak imej orang* Antrian di depan audi 2 semakin panjang, kita yang belum puas gangguin pemain The Raid harus ikutan ngantri supaya dapet tempat duduk strategis. Huh, sayang banget, padahal gw belum ketemu kembaran gw. Tak apalah, mungkin dia lagi diwawancara di tempat khusus oleh beebrapa media. Gw cuma bisa menghela nafas, akhirnya dia merasakan kesibukan seleb kayak gw juga. Capek kan ngelayanin fans ama media? :))
Di dalem studio, kita cuma bisa dapet bangku di paling kiri, karena yang laennya beneran udah penuh berisi. Salah kita juga sih pake telat ngantri. Yah, walaupun sebetulnya gw bisa tinggal ngomong ke panitia pengen duduk di barisan VIP, tapi demi kesolidaritasan gw dengan anak perantau, gw tetep duduk di bangku itu. Lagipula bangku di situ bikin hoki juga kok, tuh buktinya Mas Bayu dapet voucher senilai 150rb di bawah bangkunya, sedangkan Pitong dipanggil sebagai Perantau terbaik dan mendapatkan Vest yang dipake untuk syuting The Raid, dan gw hanya mendapatkan kecupan jauh dari Babule, tapi gw rasa itu udah cukup melebihi dari hadiah apapun di muka bumi ini *dilempar pisau ama mbak Maya Evans*. Dan tak berapa lama, film pun dimulai..
Review film
Film dibuka dengan adegan Rama yang lagi latian dan harus ninggalin istrinya yang lagi hamil untuk sebuah misi. Kemudian dilanjut ke adegan sadis dari Tama pimpinan gembong narkoba. Selanjutnya adegan pun beralih ke tim Swat yang siap nyerbu sarang mereka. Setelah itu? Aksi.. Aksi.. dan Aksi.. Sumpah lha, nonton film ini tuh beneran ajib banget. Pastinya buat mereka yang doyan aksi muncrat-muncratan darah (yang syukurlah ga lebay), sadisme tingkat dewa, bela diri yang yahut, serta sinematografi ciamik, bakalan terpuaskan di film ini. Pokoknya ga akan puas ditonton sekali deh. Well, tadinya gw kira adegan kematian paling sadis tuh cuma ada di Final Destination Series, karena nyatanya di film ini cara kematiannya lebih sadis dari itu. Ada yang ditusuk *crot* ditembak *crot* bahkan jatuh dari ketinggian *brokocot*. Makanya ga jarang para penonton ikutan bersorak sorai dan bertepuk tangan ketika sang jagoan berhasil ngalahin musuh-musuhnya –sementara waktu-. Dari segi aksi udah OK, sekarang gimana dari segi akting? Ga kalah OK lha meen! Terutama untuk om Ray Sahetapy as Tama yang setiap muncul berhasil bikin orang sebel, lalu siapalagi kalo bukan tokoh Mad Dog! Dialognya di lift bareng Andi bikin ngakak banget! Huahaha.. Ada juga tokoh stunt dari Papua yang berhasil mencuri perhatian karena selain mimiknya yang seram yang cukup mompa adrenalin di salah satu adegan, dia juga berhasil mengundang tawa karena logat Papua-nya yang khas. Hehe.. Tokoh yang lain juga ok-ok lha, dari Pemeran utama, pendukung, stunt, aktingnya pas. Cuma di beberapa adegan, dialog yang diucapin suka ga jelas. Jadi gw baca subtitle english di bawahnya deh. Ga sia-sia gw makan peyem ampir tiap hari, baca sub english pun jadi tiada berarti. *apasih* Btw, yang udah nonton, pada nyadar gak hayoo, ada beberapa bloopers atau adegan yang kurang teredit rapi di filmnya? Contohnya saat Andi (Donny Alamsyah) berantem, beberapa kali gw liat dia pake stuntman, yah emang ga gitu kentara sih, tapi ama gw jelas keliatan lha ya. Soalnya sebagai aktor yang sejajaran ama dia, gw udah kenal dia luar dalem, dari postur tubuhnya sampai gaya tarungnya *sok iye*, jadi pas dia diganti stunt, keliatan dah. Trus di beberapa adegan juga keliatan bantalan di dada atau punggung merekanya uy. Yes, tentu aja itu untuk safety mereka pas ngebuat film. Dan mungkin cuma gw yang merhatiin kesalahan-kesalahan kecil itu. Hihi.. Terakhir, soal scoring, wah Aria Prayogi ama Fajar Yuskemal emang keren abis lha. Dari Merantau gw udah suka ama scoring buatan mereka, dan untuk film ini mereka bikin yang sama-sama ajib gitu lho. Pokoknya tiap adegan tegang, berkat bantuan si scoring adegan tegangnya makin berasa! Oh iya, salah satu scene plus efek sound yang paling gw suka tuh pas Bowo yang diperanin Tegar Satrya kena tembak di kupingnya, dan mendadak sound effect ngeluarin suara berdenging, sehingga kita yang nonton jadi ikut ngerasain kuping kena tembak itu dah. Well Done, Aria – Fajar! Jadi penasaran juga ama Scoring buatan Mike Shinoda dan Joe Trapanese, apakah bisa menyaingi mereka?
So, kayak dulu gw pernah pos di twitter gw @thehulkjr, point film ini tuh: Aksi – 9, Cerita – 6, Scoring – 8, Overall: 8/10.
-----
Back to gath, film udah selesai tepuk tangan langsung riuh membahana, bahkan hampir semua penonton ngasih standing ovation. Abis itu para penonton mulai menyelamati para pemain dan kru The Raid, sedangkan kita, Perantau, malah merhatiin layar credit title dan akhirnya mendapati tulisan ‘Thanks to Perantau Fans’. Yippie, seneng banget kan tuh, kita diakui? Siapa dulu dong.. Gw gitu lho! *ga nyambung* Yang laen mulai pada keluar dari studio, sedangkan kita, mulai narsis di depan layar bioskop sambil membentangkan spanduk the Raid with Perantau yang dibawa mrs Pitong. Ok, audi mulai sepi, kita pun bergegas keluar. Di luar rame banget, untungnya gw berinisiatif bawa topeng buat nyamar, jadinya ga ada yang ngenalin gw dan narik-narik gw untuk minta foto bareng atau minta tanda tangan atau minta cap bibir, cap belahan pantat dan cap-cap lainnya. And then Perantau mulai menyisir area mencari para pemain dan kru The Raid. Dan tak perlu bersusah payah, kita mulai dapet mangsa satu per satu. Semuanya kena foto bareng dah! Gareth Evans, Mas Toro, Iko, kang Yayan, Donny Alamsyah, Joe Taslim, Tegar Satrya, Imam Aji,. Verdi – Hengki Solaiman, Yandi, Eka, and of course mr Godfred. Dan tak ketinggalan, gw berhasil mendapat mangsa yang super nikmat walaupun bukan pemaen or kru the Raid, dia-lah Sherina. Gw seneng Sherina masih kenal ama gw, karena tahu gak sih, dulu pas kita masih kecil, Sherina tuh temen gw pas maen Barbie-barbie-an. :p
Hmm, waktu nunjukin pukul 11, pengennya sih kita masih ada di situ dan masih bercengkrama satu sama lain. Tapi kita pun ingat masih banyak yang harus kita lakukan di esok hari. Kudu kerja, meen! Atau kuliah.. :D Perantau pun gugur satu per satu. Nita yang pulang naek Taksi (katanya dia kudu mecahin celengannya dulu buat bisa naek taksi khusus malem ini), ada Mas Bayu, Mba Dra, Pitong dan tanteh Ika yang serombongan naek mobil Mba Dra, ada mas Tisno n Alpin yang entah naek apa, tapi diliat dari tampang mereka sih kayaknya naek motor. Maklum, tampang tukang ojek. Wekeke.. Terakhir, ada gw, Adit, Narpati, Alfian, Musa, dan Alna yang balik bareng. Diceritain gak yah detailnya? Ah, ga usah deh, pokoknya yang pasti kita sampe dengan selamat. Hahaha.. *penonton kecewa* dan begitulah para pembaca budiman, report dari gath Perantau tgl 20 Nov itu. Semoga berkenan di hati para pembaca sekalian. Inget, jangan ada yang kesinggung ama tulisan di atas yah, mohon maap deh kalo ada yang kesinggung, cuma maksud menghibur sajah.. Okeh, that’s all, so.. See you again, Perantau!!
Label:
iko uwais,
Mike Shinoda,
review,
serbuan maut,
The Raid
Subscribe to:
Posts (Atom)