Review Film Merantau

Bercerita tentang Yuda yang beranjak dewasa dan menurut kebudayaan Minang dia harus pergi Merantau untuk menemukan jati dirinya. Walaupun ibunya berat untuk melepasnya. Yuda memilih kota Jakarta dan berniat untuk mengajar Silat Harimau sesampainya di sana. Tapi apa mau dikata, ternyata kehidupan di Jakarta gak seperti yang ada dalam bayangannya, begitu keras, begitu sulit, apalagi setelah tahu rumah yang seharusnya ditempati olehnya sedang direnovasi. Alhasil Yuda harus hidup luntang-luntung ga jelas, bahkan tidur pun di gorong-gorong di tempat proyekan gedung.

Nasib pun mempertemukan Yuda dengan Adit, anak yatim piatu yang hendak mencopet dompetnya. Yuda yang menyadari hal itu mengejar Adit sampai akhirnya dia menangkapnya. Dari sini pula Yuda akhirnya bertemu dengan Astri (penari di salah satu klub) yang sedang diperas oleh mucik*ri nya, Johni. Oh ya, Astri adalah kakak Adit. Yuda pun tak tinggal diam, dia memberi pelajaran pada Johni. Tapi apa yang terjadi? Bukannya berterima kasih, Astri malah menganggap Yuda sebagai pahlawan kesiangan dan menambah beban hidupnya.


Setelah itu takdirnya mempertemukan dirinya kembali dengan Erik, teman perantauan yang dia kenal selama perjalanan ke Jakarta. Dia mengajak Yuda untuk ikut dengannya, menawarkan pekerjaan yang mungkin cocok untuknya. Yuda yang tak tahu apa-apa ikut saja, tapi setelah melihat pekerjaan apa yang dimaksud oleh Erik, Yuda menolak. Dia tetap teguh pada prinsipnya bahwa Silat bukan digunakan untuk menyakiti orang lain.

Berikutnya, film memperkenalkan kepada Ratger dan Luc, sindikat penjual wanita dari Eropa. Dan, Hey, Astri pun menjadi korbannya. Tapi beruntung saat Astri dibawa ke klub, Yuda melihatnya. Tentu saja Yuda melawan orang-orang yang membawa Astri, dan dari sini action terus berjalan hingga akhir. Apakah Yuda akan berhasil menyelamatkan Astri? Apa mereka akan hidup aman selamanya setelah kabur dari sindikat itu? Bagaimana nasib Yuda setelahnya? Yang pasti, endingnya bakal membuat kamu shock sesaat. ^^

Yah, kira-kira garis besar ceritanya seperti itu. Dari awal ampe pertengahan film emang diperbanyak dramanya dulu, untuk memperkenalkan tokoh-tokoh, serta memperdalam karakternya. Walaupun di awal film juga udah ada sih adegan action yang dijadikan pemanasannya. Tapi nggak ngebuat awal film ini ngebosenin kok. Bahkan makin memperkuat alasan kenapa si Yuda benar-benar teguh dengan prinsipnya.

Soal aktingnya juga ga meragukan lha. Walaupun ga usah begitu heran ama acting dari pendatang baru yang terlihat kaku. Well, mereka hanya perlu pengalaman lebih kok. Lihat saja, Christine Hakim yang walaupun hanya kebagian sedikit scene, bisa membuat kita kagum ama penjiwannya. Bener-bener bisa lihat sosok ibu yang sangat sayang ama anaknya. Donny Alamsyah sendiri, bisa lha untuk mewakili sang kakak. Sisca Jesica pun cukup pas memerankan penari klub yang terjebak dalam situasi buruk. Alex Abbad yang berperan sebagai mucikari juga lagi-lagi terlihat pas. Dan yang paling menarik adalah Mads Koudal sebagai Villain dari film ini. Karismanya benar-benar terasa. Tak terkecuali Laurent Buson yang memerankan adiknya. Lalu ada Adit yang diperankan cukup baik oleh Yusuf Aulia, yah, emang masih terlihat belum natural sih. Tapi scene-scene yang ada dia bisa bikin orang ketawa lho. Terakhir, tentu saja si pemeran utama, Iko Uwais. Aktingnya sebagai Yudha patut diberi jempolan. Ada beberapa dialog yang kaku sih, tapi seperti dibilang di awal paragraph kalau dia hanya butuh pengalaman lebih saja.

Soal adegan fighting. Awesome, cuy! Adegannya dibuat cepat dan begitu realistis. Pastinya jangan ragukan lagi aksi dari Iko Uwais yang pernah menjuarai pencak silat dan merupakan murid dari perguruan 3 berantai. Pokoknya dari pertengahan ampe akhir bakal membuat kalian kagum deh. Beberapa scene fighting favorit:

- Ketika Erik mengalahkan pria badan gede pas dia ikutan tes untuk jadi bodyguard.

- Kejar-kejaran di atas apartemen. Yang dah liat trailernya atau nonton pasti tahu kenapa. Hihi..

- Fighting di dalam lift. Wow, di ruang sempit kayak gitu masih bisa ngeluarin jurus-jurus silat yang dahsyat uy.

- Tarung di tempat container.

- Adegan si Yuda narik handuk orang. Wakaka.. Kocak bagian ini. Taktik yang bagus!

- Scene fighting terakhir. Yuda (silat) melawan Ratger (tinju) dan Luc (Wushu). Kalau ga salah tangkep aliran bela dirinya ya. Hihi..

Dan, tentunya sebuah film bakal terasa hambar tanpa scoring-nya. Untunglah scoring di film ini begitu membantu dalam setiap scene. Terutama ketika adegan fighting. Membuat para penontonnya semakin tegang dan menahan napas. Kayaknya scoring dari film ini juga ada campuran cita rasa barat ama minang deh.

Kekurangan film ini cuma di darahnya yang agak berlebihan (dan di beberapa scene terlihat berwarna pink), bagian wardrobe yang membuat Yuda selalu terlihat rapid an bersih, padahal dia udah memakai baju itu setiap harinya selama di Jakarta. Dan masih ada adegan kurang penting yang seharusnya bisa di-cut.

Overall, salut deh buat sutradaranya Gareth Evans, yang walaupun orang Inggris tapi mau buat film Indonesia yang keren seperti ini. Semoga film ini juga bisa menjadi penanda kebangkitan film Action lagi di jajaran film lokal. Lagian bosen kan kalau kita disuguhi film Horor dan Komedi Esek-esek yang gak jelas? Ayo Sineas Indonesia, jangan mau kalah semangatnya ama orang luar! Apalagi setelah ini, kita tahu bakal ada film Merah Putih yang ide awalnya juga tercetus dari orang luar. Well, tapi untuk kru masih mendominasi orang Indonesia-nya sih. Buat bang Iko, jangan kapok maen Film lagi ya.. I love u Full.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. << gaya mbah Surip (Alm.).

Nilai: 8,5/10

Sangat Recommended!

NB: Sori kalau penilaian gw terlalu Overrated, abisan gw emang terlalu excited ama film ini sih. Hihi..

----------------------------------------


Bahasanya rada beda ama bahasa blog gw biasanya ya? Soalnya selain dipos di sini, bakal dipos juga di Exodiac.com sih cuman di sana nick-nya jadi Misterious Man. Dan tadinya juga ga niat bikin review film ini, malah tadinya mau ngepos yang lain di blog. Wekeke..

8 komen "Review Film Merantau", Baca atau Masukkan Komentar

depaL"piSS said...

Film merantau sendiri terinspirasi oleh seni beladiri Indonesia Pencak Silat!! keren banget ya berantemnya kaya beneran!!

Sallam

Anonymous said...

review nya keren
gw ud keq lagi bs sinopsis buat di belakang dipidi aje
gw ud ntn seh
ga sengaja
en then keqnya takdir dah ampe gw bs ga sengaja ntn neh pilem
bagusss
recomended abies
meski gt
tp koq maseh bnyak juga yg belum ntn ya, gmn caranya buat mereka tertarik ya?
org2 keq gw yg ga pernah ntn pilem indo di bioskop
agak susah nawarin en ngajaknya

soale gw pun ga bakal ntn kalo bukan karena kebetulan temen gw kebeli tuh tiket, yg tdnya pd ga dapet tempat wat orphan, jd terpaksa ntn merantau
bener2 kebetulan seh..
takdir ga kemana
sekrng gw menunggu pelem berikutnya si gareth evans ini
hehehe

WewW said...

@Depal:
Bener banget. Tarungnya dahsyat abis!

@Anonim:
Entahlah kadang emang suka aneh. Film bagus kayak gini biasanya kurang di bagian promosi. Harusnya sih kayak Laskar Pelangi tuh, dibuat sontreknya jadi orang-orang yang ngeliat video klipnya pun tertarik nonton filmnya.

zeavhere said...

hihi, filmnya emang keren dah !!
btw apal banged nama pemainnya :D . kekeke

WewW said...

Apal pemain karena sambil nyontek2 ke situs resminya. Hihi..

Tapi sekarang jadi apal beneran kali. :P

diahsari said...

film neh merupakan awal dari kemajuan film laga di indonesia...
salut

WewW said...

@diahsari: Setuju banget! Sangat ditunggu lha proyek film selanjutnya.. Dengan judul "BERANDAL"!

Bang Mupi said...

ya cukup baguslah buat film aksi Indonesia.

Salam kenal :D