Saturday, June 22, 2019

Fanfic: Jika Hogwarts Berada di Indonesia: Jilid 2


Yuhuu, berhubung tantangan kali ini tuh fanfic, maka gw yang lagi rada buntu nulis hal yang berbau fanfic pun mulai nyari-nyari inspirasi dengan baca-baca fanfic koleksi gw jaman breto bin jaman dulu dan mendapati bahwa gw pernah nulis sebuah fanfic yang berandai-andai Jika Hogwarts Berada di Indonesia. Jadi di fanfic jilid 1 itu gw nulis soal gimana kalo budaya ngaret di Indonesia tuh kejadian di dunia Harpot sana. Nah, dari situ gw pun terinspirasi buat lanjutin tulisannya soalnya dulu di bagian NB-nya gw sempet bilang kalo bakalan bikin fanfic berseries dari tema ini, tapi nyatanya hanya angan belaka. Haha.. Yowis lah, di tantangan ini mari kita wujudin angan-angan gw dulu. XD

Jika Hogwarts Berada di Indonesia: Jilid 2

#30harimenulis2019_hari_20
854 kata

Setting: Tahun Pertama Harry Potter
Rating :  Semua Umur
Disclaimer: Semua tokoh dan seting tempat kepunyaan Mamih JK Rowling


“Seseorang bernama Neville Longbottom menghilangkan kodok peliharaannya, apa diantara kalian ada yang melihat?”

Harry dan Ron langsung berpandangan ketika seorang perempuan dengan rambut cokelat bergelombang masuk ke dalam kompartemen mereka di kereta Hogwarts Express.

“Ka, kami tidak melihat apapun, iya ‘kan, Harry?” Ron kelihatan salah tingkah dan malu-malu. Harry hanya mengangguk meng-iyakan.

“Tunggu dulu, kau Harry Potter?” perempuan tadi terperangah seakan baru saja menemui idolanya. “Err, berarti kau punya luka itu ‘kan?”

“Tentu saja,” jawab Harry seraya mengangkat poni rambut yang menghalangi dahinya untuk memperlihatkan luka petir yang menurut Hagrid dia peroleh dari sihir gagal Lord Voldemort ketika dia masih bayi. Entah kenapa dunia sihir begitu takjub dengan luka petir itu, makanya Harry selalu menyembunyikannya di balik poni agar dia menghindari kejadian seperti yang terjadi sekarang ini.

“Wow! Bocah yang bertahan hidup! Perkenalkan, namaku Hermione Granger!” Sambil memperkenalkan diri, tangannya langsung bersalaman dengan Harry. Setelah itu dia melirik ke arah anak berambut merah di sebelahnya. “And you are? Namamu?”

“Ron. Ron Weasley.”

“Salam kenal kalau begitu! Ngomong-ngomong Harry, apa ini tahun pertamamu juga di Hogwarts?” tanya si perempuan bernama Hermione itu, tanpa menggubris Ron.

“I, iya. Ini tahun pertamaku,” jawab Harry. “Memangnya kenapa?”

Hermione tersenyum. Kemudian membuka buku yang sedari tadi dia peluk di depan dadanya.

“Lihat, Harry,” Hermione menunjuk ke gambar sebuah kastil dengan pemandangan indah di sekitarnya. “Ini adalah Sekolah Sihir Hogwarts tempat yang kita akan tuju sekarang. Indah sekali ‘kan? Pasti kau baru lihat ya? Makanya baca buku Sejarah Hogwarts ini dong! Sebelum berangkat, aku sudah membaca ulang sampai 3 kali lho. Hehe.”

Harry yang  memang baru melihat penampakan Sekolah Sihir Hogwarts pun langsung berdecak kagum.

“Keren sekali!” gumamnya.

“Nah, di depan Hogwarts ini ‘kan ada danau besar tuh. Menurut buku ini, untuk murid tahun pertama masuk Hogwarts-nya dengan naik perahu sambil melintasi danau itu lho!” Mata Harry semakin berbinar-binar mendengar penjelasan Hermione.

“Eh, tapi tunggu dulu, bukannya..”

“Satu perahu biasanya berisi 6 anak,” papar Hermione lagi-lagi tanpa memedulikan Ron yang hendak angkat bicara. “Setiap anak juga nantinya dibekali sebuah lampion untuk menerangi perahunya.”

“Terus, yang mendayung perahunya siapa?” Harry makin tertarik.

“Tenang saja, perahu ini melaju dengan sendirinya menggunakan sihir. Jadi kita hanya perlu duduk diam saja di atasnya ...”

“Tunggu, Hermione, apa kau tidak deng-“

“Tapi ingat ya, Harry,” Hermione memotong perkataan Ron lagi, “jangan pernah memasukkan tanganmu ke dalam air danau. Karena kabarnya danau itu diisi banyak makhluk-makhluk air yang buas!”

“Siap! Nanti kita naik satu perahu ya, Hermione,” ucap Harry terlihat senang dan tidak sabar merasakan sensasi pertamanya melintasi danau Hogwarts.

“OK, kalau begitu aku akan kembali ke kompartemenku dulu, sampai ketemu lagi!” Hermione langsung keluar meninggalkan Harry yang masih tersenyum senang dan Ron yang kelihatan kikuk seperti akan mengatakan sesuatu.

“Perhatian kepada penumpang Hogwarts Express, sebentar lagi kereta akan sampai di Stasiun Hogsmeade, segera kenakan pakaian Hogwarts dan perhatikan barang bawaan kalian di saat keluar nanti ...”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

TUUUT... TUUUUUUUT! Suara dari Hogwarts Express begitu menggema saat kereta itu sampai di Stasiun Hogsmeade. Murid-murid Sekolah Sihir Hogwarts pun turun satu per satu.

“Tahun pertama kumpul di sini, Tahun pertama kumpul di sini!” teriak sosok pria besar berjanggut tebal dan memegang lampion di sebelah barat stasiun. Harry, Ron, Hermione, beserta anak tahun pertama yang lain pun berkumpul di dekat pria itu. “Selamat datang di Hogwarts, anak-anak! Namaku Rubeus Hagrid, dan aku yang akan mengantar kalian menuju Aula Besar.”

Yes, sekarang momennya nih!” cicit Harry senang sambil menoleh ke arah Hermione.

“Kita akan menyeberangi danau Hogwarts dengan menggunakan perahu,” Hagrid menjelaskan, “Silakan bentuk kelompok masing-masing 6 orang, dan ambil lampion untuk penerangannya juga. Lalu silakan antri di depan dermaga danau.”

Harry, Ron, dan Hermione tentu saja langsung menjadi satu kelompok, ditambah tiga anak lainnya yang bernama Neville, Seamus, dan Dean. Saat mengantri di dermaga,  Harry merasa tidak sabar untuk segera naik ke perahu dan masuk ke Sekolah Sihir Hogwarts untuk pertama kalinya. Bibirnya tak henti-hentinya merekah memamerkan senyuman saking senangnya. Hingga akhirnya tiba giliran mereka untuk naik ke perahu.

“Hup,” Hagrid mengangkat tubuh Harry ke atas perahu. “Ok, perahu sudah penuh. Hati-hati ya, jangan masukkan tangan kalian ke dalam danau! Dan jangan lupa tutupi hidung kalian dengan masker.”

“Tunggu, tutupi hidung dengan masker?” Hermione bingung. Kemudian dia melirik ke arah Ron, Neville, dan Seamus yang sudah menggunakan masker. “Jangan-jangan ...”

“HOEK!” Harry jadi anak pertama yang muntah, diikuti oleh Dean dan Hermione.

“Kalian keturunan muggle ya?” tanya Seamus.

“Yeah, dan aku sedari di kereta tadi sudah mau memperingatkan mereka kalau danau sekarang sudah tercemar oleh sampah dan limbah warga. Sehingga aroma baunya menyengat, tapi selalu saja perkataanku dipotong!” kata Ron sambil mendelik ke arah Hermione. “Tuh lihat, bangkai ikan pun sampai mengambang di permukaannya. Hiiy!”

Harry yang mualnya sudah agak berkurang langsung menutupi hidungnya dengan syal yang dia pakai. Euh, semua ekspektasi perjalanan melintasi danau nan indah serta ditemani angin sepoi-sepoi menyejukkan pun sirna sudah. Berganti dengan perjuangan menahan mual dan rutukan keluar dari mulut mungilnya itu.

Harry sungguh tak percaya. Betapa jahat sekali mereka yang telah mencemari danau ini. Apa mereka tidak tahu bahwa ‘Kebersihan adalah sebagian dari iman’? Euh, terserahlah, yang pasti sekarang yang ada di pikiran Harry, dia ingin segera sampai ke daratan secepat mungkin.

Selesai


 Nah kan, nah kan. Kurang lebih begitulah Jika Hogwarts berada di Indonesia. Danau Hogwarts yang seharusnya bersih pun jadi tercemar oleh sampah. Makanya atuh, budayakan buang sampah pada tempatnya ya. Sayangi bumi kita. XD

No comments: