#30hariMenulis hari ke-2



Hari ke-2:  Ambillah sembarang buku di dekatmu, buka halaman 2 dan mulailah bercerita dengan “kata pertama” yang kamu baca

Buku yang diambil novel ‘The Fallen’ kata pertama di halaman ke-2 nya adalah ‘Nyaris’.

-------------------------

Nyaris Telat!

Aku melihat jam dinding di kamarku. Ya ampun, sudah jam 5 subuh lewat. Aku pun segera menegakkan badanku yang masih lemas setelah bangun tidur. Kupaksakan diriku untuk berdiri dan menuju ke kamar mandi. Euh, beginilah rutinitas keseharianku, aku harus berjibaku di pagi hari untuk segera bersiap-siap bekerja ke ibu kota. Rumahku sendiri berada di kota Bogor, sedangkan aku bekerja di kota Jakarta sana. Seharusnya sih aku mengontrak atau kost di dekat tempat kerjaku saja, tapi berhubung aku masih baru bekerja di sana dan belum menjadi karyawan tetap, aku memutuskan untuk pulang pergi Bogor – Jakarta saja.

Beres mandi, segera kukenakan pakaian yang sudah kusiapkan di lemari, celana panjang hitam dan kemeja. Setelah itu kutunaikan Sholat Subuh dulu dan kemudian kulangkahkan kakiku keluar rumah untuk menuju jalan raya. Di jalan raya, ku-stop angkot yang akan mengantarkanku menuju stasiun Bogor,  setelah itu aku bisa bersantai sejenak di dalam angkot itu. Eits, tapi perkiraanku salah, aku tak bisa bersantai ria ketika di angkot itu, bukan karena sang supir membawa angkotnya secara ugal-ugalan, tapi yang ada malah sebaliknya, pak supir memacu angkotnya dengan perlahan sekali. Mana di setiap persimpangan jalan dia akan berhenti, ngetem terlebih dahulu sambil menunggu tambahan penumpang. Kulihat arlojiku, ya ampun sudah jam 6 kurang 15 menit, dan si angkot masih saja berhenti lama. Padahal kalo perjalanannya normal, dari rumahku ke stasiun hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja.

Sebenarnya ingin kumarahi saja pak Supirnya, tapi aku pun tak tega, dia kan sedang mencari rezeki juga sepertiku. Lebih baik kudoakan saja agar angkotnya segera penuh agar bisa segera jalan lagi. Fyuh, akhirnya setelah 10 menit menunggu (seperti menunggu satu jam bagiku), angkot pun hampir terisi penuh, dan pak supir pun mulai mengendarai angkot dengan kecepatan biasa. Tak berapa lama, kendaraan itu sampai di tempat tujuanku, aku pun segera turun dan membayar ongkos, setelah itu kembali kulihat arlojiku, sudah menunjukkan pukul 6 tepat. Langsung saja aku berlari menuju loket di stasiun, kubeli tiket sesuai stasiun tujuanku, lalu aku pun berlari masuk ke dalam area peron. Kulihat kereta pertama yang akan mengangkutku menuju ke ibu kota masih berada di lintasan ke-3. Aku masih berlari ketika suara perempuan yang terdengar dari pengeras suara mengumumkan kalau kereta di jalur 3 segera berangkat. Wah, aku semakin panik, kutambah kecepatan berlariku, suara ‘ringtone’ yang menandakan keberangkatan kereta pun sudah dikumandangkan. Ah, syukurlah, aku sudah sampai di peron terdekat, segera saja ku langkahkan kakiku ke pintu kereta yang berada di depanku, aku berhasil masuk ketika pintu sudah nyaris tertutup. Beberapa teriakan dan pekikan tertahan menghantarkan kelegaanku yang sudah aman berada di dalam kereta.

Fyuh, benar-benar nyaris. Seandainya aku telat sepersekian detik saja, mungkin aku harus menunggu keberangkatan kereta berikutnya yang berjeda sekitar 20 menit. Bisa saja sih aku naik kereta itu, tapi aku tidak akan datang tepat waktu di tempatku bekerja. Atau bisa lebih buruk, seandainya aku telat melompat ke dalam, bisa saja kakiku tersangkut atau terjepit di pintu kereta dan mungkin tubuhku bisa terseret tak berdaya. Brr... Yah, apapun itu, semoga saja kejadian ‘Nyaris’ seperti ini tidak akan terulang di lain waktu.

#30hariMenulis

NB: Inspired by True Event

0 komen "#30hariMenulis hari ke-2", Baca atau Masukkan Komentar