Tuesday, July 17, 2018

Cerpen Fiksi Drama: Sesal (30 Hari Menulis: Hari ke-23)


#30harimenulis #30harimenulis2018 #harike23

Tema: Fiksi Drama/Romance/Komedi/Action (pilih salah satu)

Sesal

“Indra, tolong ambilin tisu dong di atas!” pinta Ibuku dari ruang tamu.

“Entar ya, Bu, tunggu dulu. Soalnya belum beres nih. Kalau mau cepet suruh si Teteh aja, kayaknya dia mah lagi nyantai..” jawabku yang sedang berada di ruang tengah.

Euh, si Ibu mah memang kebiasaan. Ga liat apa anaknya lagi sibuk. Bentar lagi menang nih, Bu! Lagian, selalu aja tiap aku lagi santai atau lagi maenin game favoritku, pasti diganggu. Apa aku anak tiri ya? Disuruh-suruh melulu soalnya.

“Dra, mana tisunya? Si Teteh mah kan lagi tidur!”

Tuh kan, tuh kan, padahal udah sekitar 10 menitan suasana aman. Eh, malah nyuruh lagi. Pura-pura ga denger aja ah.

Aku pun fokus memainkan hape lagi.

Tiba-tiba terasa ada belaian lemah di kepalaku. Kudongakkan kepalaku, ah, ternyata ibu. Aku pun menunduk lagi, mataku kembali lagi ke layar hape.

“Ya udah, Ibu ambil sendiri aja tisunya ya, sayang..” bisiknya dengan suara lembut.

Kedua ujung bibirku terangkat. Aku tersenyum. Gitu dong, Bu! Itu baru Ibuku!

Mataku melirik sebentar ke arahnya, Ibuku menggeleng-gelengkan kepala. Tapi ketika dia sadar aku sedang memerhatikannya, dia pun menyunggingkan senyuman. Aneh. Padahal aku tahu dia pasti marah karena perintahnya tak kuturuti.

Kudengar langkah beratnya menjauh. Dia berjalan ke arah tangga yang berada di pojok. Sesampainya di situ, kakinya dia pijakkan di anak tangga. Namun, baru saja dua anak tangga dia pijak, ibuku sudah sempoyongan. Dia pun terjatuh hingga terdengar suara benturan yang lumayan keras.

“IBUUU!!”

Kulempar hapeku yang dari tadi kumainkan. Aku pun berlari menuju arah suara dan mendapati ibuku sudah tergolek tak berdaya. Dia pingsan. Kupeluk tubuhnya erat. Kemudian kurasakan ada sesuatu yang hangat membasahi tanganku. Dengan takut, kuangkat tanganku yang gemetaran. Mataku pun membelalak ketika melihat cairan merah kental menempel di seluruh bagian tanganku.

Ini kan darah! Ya ampun, kepala ibu berdarah!

“TETEEEH! IBUUUU, TEEH!”

Aku hanya bisa berteriak sambil memanggil kakakku yang sedang tertidur. Air mata pun tiba-tiba mengalir deras dari kedua mataku.

“Ibu, bangun, Bu! Jangan dulu tinggalin Indra!” ujarku penuh putus asa. “Indra janji kalau Ibu bangun, Indra bakal nurutin perintah Ibu. Sekarang juga Indra ambilin tisu deh.”

Kupeluk lagi ibuku. Kurasakan tubuhnya semakin kaku. Tak ada nafas menderu lagi dari hidungnya. Suara detak jantungnya pun telah hilang.

“IBUUU!! MAAFIN INDRA, BUU!”

Selesai

#367kata

NB:
Nyoba keluar dari comfort zone alias zona nyaman. Biasanya pan doyannya nulis komedi, sekarang nyobain genre drama. Moga masih bisa dinikmatin ya. Ditunggu saran dan komentarnya.

NB 2:
Btw pas nulis ini, jadi keingetan almarhumah ibu juga. T_T

No comments: